Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
64. Lebah Mungil


"Kalau sudah begini ... apa Iyan boleh melamar Kak Bee?"


Pertanyaan Iyan membuat Echa terkejut bukan main. Dia tidak menyangka bahwa sang adik akan mengatakan hal yang di luar dugaannya.


"Tidak bisa secepat itu," sahut seseorang yang baru saja datang.


Mata Iyan memicing ke arah Abang iparnya yang malah menjawab pertanyaannya. Radit pun duduk di samping sang istri. Menatap Iyan dengan tatapan penuh arti.


"Traumanya sembuhkan dulu. Jangan membuat sebuah keputusan yang nantinya akan mengingatkannya pada traumanya," terang Radit.


Iyan mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang Abang. Pasalnya, dulunya Radit juga seorang psikiater dan pernah menempuh pendidikan psikolog.


"Sentuh hatinya dulu. Jika, dia menyambut kamu barulah kamu boleh melamarnya."


Radit menjelaskan semuanya secara detail. Termasuk bagaimana dia menyembuhkan luka tak kasat mata yang diderita Echa dulu. Setelah itu, barulah dia bisa masuk ke dalam hati Echa.


"Beeya terlalu pandai menyimpan semuanya. Membungkusnya dengan tawa dan senyuman palsu, dan tugas kamu sekarang ini membuat Beeya tertawa dan tersenyum karena sebuah kebahagiaan yang dia rasakan."


Iyan mengangguk mengerti. Untungnya ada sang Abang datang yang membuatnya tidak gegabah dalam bertindak. Kini, Iyan menatap kembali wajah sang kakak.


"Kak, ketika kondisi Kak Bee membaik, apakah Kakak mau melamar Kak Bee untuk Iyan?"


Hati Echa mencelos mendengarnya. Perih sekali ucapan yang dia dengar itu.


"Kamu harus bilang kepada Kak Ri juga Bang Aksa. Keputusan bukan hanya ada pada Kakak dan Bang Radit," jawabnya.


Jawaban itu menjadi lampu hijau untuk Iyan. Dia hanya tinggal berbicara kepada Riana dan juga suaminya. Iyan memang laki-laki satu-satunya dari ketiga anak Rion Juanda. Namun, dia tidak mau mengambil keputusan tanpa berkompromi dengan sang kakak. Dia tidak ingin menjadi manusia yang semena-mena.


Iyan pun pamit ke kamar. Echa menatap punggung Iyan dengan nanar. Radit mengusap lembut pundak sang istri.


"Dari mana Iyan memiliki uang sebanyak itu?" tanya Echa sembari menatap wajah Radit.


"Iyan anak yang cerdas dan sadar akan bisnis dari kecil," jawab Radit. "Dia anak yang selalu menggunakan peluang, dan sekarang bukan dia yang bekerja, tetapi uangnya yang bekerja. Sedangkan Iyan malah seperti seorang pengangguran. Itulah definisi orang kaya yang tidak menunjukkan tahtanya."


.


Iyan membuka surat wasiat dari ayahnya. Dia menarik napas panjang. Dia juga menggenggam cincin yang diberikan ayahnya. Cincin yang terlihat polos. Namun, ketika Iyan melihat lebih teliti lagi ada ukiran lebah kecil di atas cincin itu. Bibir Iyan pun melengkung dengan sempurna.


"Iyan akan melamar lebah mungil ini, Ayah. Doakan supaya lebah mungil itu sembuh dari traumanya dan Iyan bisa segera melamarnya dan menjadikan dia istri Iyan."


.


"Nih orang kok tiba-tiba nyebelin sih," gerutunya.


"Siapa yang nyebelin?" tanya seorang wanita di belakang Beeya. Sontak Beeya pun menoleh dan matanya melebar ketika melihat Pipin ada di belakangnya.


"Miss you."


Beeya memeluk tubuh Pipin dengan begitu eratnya. Pipin merasa terharu karena kondisi sahabatnya sudah mulai membaik.


"Kenapa gak ngabarin gua?" Pipin mengurangi pelukannya.


"Besok juga gua akan balik lagi ke Bali."


Raut bahagia yang Pipin pancarkan harus memudar. Dia menatap sendu ke arah Beeya.


"Gua belum sembuh, Pin," ujarnya lemah. "Gua ke sana ingin sembuh dan membuat laki-laki yang gua sayangi gak minder punya cewek kaya gua," lanjutnya lagi.


"Cowok?" Pipin menyahuti dengan heran. Beeya mengangguk dengan melengkungkan senyum.


"Lu udah move on?" Beeya hanya menjawab dengan senyuman. Ada kelegaan di hati Pipin sekarang. Dia memeluk tubuh Beeya lagi dengan sangat erat.


Banyak hal yang mereka ceritakan. Banyak tawa yang tercipta di sana. Hingga Pipin bertanya satu hal kepada Beeya.


"Oh iya, cowok tinggi yang sering nongkrong sama lu itu udah punya cewek, ya."


Dahi Beeya mengkerut mendengarnya. Dia belum mengerti laki-laki yang mana yang Pipin maksud.


"Siapa?" tanya Beeya bingung.


Pipin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Beeya. Mata Beeya melebar ketika melihat cowok yang dimaksud oleh Pipin.


"Ceweknya juga cantik banget loh. Cocok deh sama dia." Namun, hanya punggung perempuan itu yang terlihat.


Dada Beeya sudah bergemuruh mendengar ucapan dari Pipin. Sakit tak berdarah yang sesungguhnya. Beeya mencoba menghubunginya lagi, dan untuk kesekian kalinya Iyan tidak menjawab panggilan dari Beeya.


"Apa kamu seperti orang yang terdahulu? Suka bermain di belakang aku."


...****************...


Komen atuh ....