Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
119. Mantan Tersabar


Deg.


Perasaan Iyan tiba-tiba tidak enak. Matanya yang tengah tertuju pada layar ponsel sekerika menatap ke arah depan. Dia teringat akan satu nama.


"Chagiya," gumamnya.


"Gak usah lebay, Om." Aleesa yang mendengar gumaman Iyan pun menyahuti. "Belum juga satu jam."


Iyan menatap ke arah sang keponakan yang tengah terpejam di bahunya. Iyan memejamkan matanya sejenak. Bayang Beeya kini berputar di dalam kepalanya.


"Ada apa dengan Beeya?" tanyanya dalam hati.


"Telepon lah." Aleesa bagai cenayang yang tahu isi hati sang paman.


Iyan pun segera menghubungi kekasihnya dengan raut tak terbaca. Aleesa hanya tersenyum tipis. Padahal matanya tengah terpejam.


Panggilan yang Iyan lakukan memang tersambung, tetapi tidak dijawab oleh Beeya. Aleesa dapat mendengar detak jantung Iyan yang berdetak sangat cepat.


"Itu detak jantung udah kaya Abang gendang," kelakarnya di dalam hati. Tanpa Aleesa sangka sang paman sudah menoyor kepala Aleesa.


"Ngapa sih, Om?" Aleesa bersikap layaknya keponakan yang terdzolimi.


"Aku tahu apa yang sedang kamu tertawakan di dalam hati." Aleesa malah tertawa cukup keras mendengar ucapan sang paman yang kocak tersebut.


Tangan Iyan pun sudah menari-nari di atas layar ponsel. Sudah pasti dia mengirimkan pesan pendek kepada sang pujaan hati.


"Bucin amat sih," ejek Aleesa. Mata anak itu sudah terpejam, tapi mulutnya tidak bisa diam.


.


Tubuh Beeya mematung ketika dia melihat pria yang masih mengenalinya itu. Pria itu berdiri dan menyapa sopan Arina yang sedari tadi bingung dengan interaksi dua anak manusia berlainan jenis itu.


"Silahkan duduk."


"Kenzo," batinnya lirih.


Pria itu adalah mantan tersabar yang Beeya miliki. Sikapnya sebelas dua belas dengan Iyan. Bedanya Kenzo terlahir dari keluarga biasa tidak seperti dirinya. Beeya masih memandangi Kenzo yang semakin ke sini semakin tampan.


Beeya menghembuskan napas kasar dan dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Arina memanggil Beeya dan menyuruh Beeya untuk duduk di sampingnya.


"Ini keponakan saya." Arina mengenalkan Beeya kepada Kenzo. "Dia yang sering menggantikan saya jika saya tidak bisa ke toko." Kenzo mengangguk sopan. Dia malah menatap berbeda ke arah Beeya yang sengaja menghindari tatapan Kenzo.


Ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah Kenzo. Selama ini dia belum bisa melupakan sosok Beeya. Gadis yang bar-bar juga menyenangkan. Namun, tetap saja ada kecanggungan yang Kenzo rasakan saat ini. Dia bekerja di toko baju milik Tante dari Beeya. Menandakan kasta mereka itu sangatlah berbeda. Ditambah Beeya semakin dewasa semakin cantik.


Arina terus memperhatikan tingkah laku sang keponakan juga pegawai barunya. Hingga dia bangun dari duduknya diikuti oleh Beeya.


"Loh?" Arina merasa heran kenapa Beeya juga ikut berdiri.


"Bee mau istirahat aja, Bu'de." Arina sangat yakin ada yang pernah terjadi antara Beeya dan juga Kenzo.


"Ya udah, lebih baik kamu istirahat." Arina berujar seraya mengusap lembut pundak sang keponakan. Reaksi Kenzo hanya terdiam dengan terus memandang wajah Beeya. Dia pun tidak berkedip hingga Beeya menghilang dari pandangannya.


.


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Beeya. Mantan terbaiknya hadir di hidupnya kali ini. Sudah pasti dia akan sering bertemu dengan Kenzo


Beeya meraih ponsel yang berada di dalam tasnya. Matanya melebar ketika melihat banyak sekali panggilan dari Iyan.


"Shiit!"


Bukan hanya panggilan, Iyan juga mengirimkan pesan kepada Beeya.


"Jika. kamu belum yakin dengan perasaan kamu kepadaku. Renungilah! Apa akulah yang pantas untuk kamu? Atau orang lain yang berhak atas dirimu."