
Boleh minta komennya gak? Ramein dong ... Gak apa-apa views sedikit yang penting komen banyak. Biar semangat.
...****************...
Beeya terus memandang ponselnya. Sudah satu jam Iyan pergi dan tidak ada kabar. Dia takut pacarnya kenapa-kenapa.
"Tante kenapa?" tanya Ghea.
Anak itu sedari tadi memperhatikan gerak-gerik pacar sang om yang terlihat cemas. Wajah Beeya tidak bisa berdusta. Apalagi Beeya tidak fokus sama sekali.
Mendengar keponakan Iyan bertanya membuatnya menoleh dan tersenyum ke arah sang keponakan cantik itu.
"Gak apa-apa, Sayang.?" Beeya mengusap lembut rambut Ghea sembari menyunggingkan senyum penuh kekhawatiran.
"Tante lagi mikirin Om?" tebak anak itu lagi. Lagi-lagi Beeya tersenyum.
"Bubu emang galak, tapi Bubu sangat sayang kepada Om Iyan." Ghea melanjutkan ucapannya. "Jadi, Tante jangan khawatir. Gak ada harimau yang memakan anaknya 'kan." Beeya malah tertawa mendengarnya.
Kecemasannya pun akhirnya menguap. Mereka berdua akhirnya bercanda kembali. Banyak gelak tawa yang terdengar dari kamar Beeya.
"Kamu dengar sendiri 'kan." Arya dan seorang pria yang berkharisma tengah berjalan menuju kamar Beeya.
"Ghea sangat bahagia berada di sini," tutur Arya lagi.
"Iya, Pah," jawab Aksara. "Waktu untuk liburannya sudah selesai. Ghea harus kembali ke sekolah besok."
Pendidikan tetap nomor satu. Boleh liburan dan bepergian asal tidak meninggalkan pendidikan. Itulah yang ditanamkan oleh Aksara kepada kedua anaknya.
Pintu kamar Beeya pun Arya buka dan terlihat Ghea sedang bercanda dengan putrinya.
"Adek."
Suara sang ayah membuat Ghea terdiam sejenak. Kemudian, dia melihat ke arah di mana ayahnya berada.
"Daddy!"
Anak itu berlari menuju sang ayah dan memeluk tubuh ayahnya dengan begitu erat.
"Apa kamu merindukan Daddy?" tanya sang ayah dengan wajah gembira.
"Tentu."
Aksa pun tersenyum bahagia dan mengecup pipi sang putri dengan sangat gemas. Ghea sudah seperti perangko kepada ayahnya.
"Sudah siap untuk kembali ke Jakarta?" Anggukan kepala menjadi jawaban dari Ghea. Dia segera berlari mengambil koper mini miliknya.
"Nanti Om juga akan pulang," balas Ghea.
"Dalam waktu dekat Om harus kembali ke Jakarta." Pandangan Beeya tertuju pada Aksara sekarang. Apa yang Aksa katakan itu benar? Sedangkan Iyan Tidka berbicara apapun.
Aksa mengerti akan sorot mata yang Beeya tunjukkan. Namun, dia memilih untuk diam.
"Banyak pekerjaan yang menantinya," terang Aksa. "Moeda Cafe pun membutuhkan dia."
Perkataan Aksa seperti kode keras untuk Beeya. Pikirannya tersambung kepada Iyan. Apakah keluarga besar Iyan tidak merestuinya? Apalagi wajah Aksara terlihat sangat datar dan ucapannya terdengar dingin. Tidak seperti biasanya.
"Pah, Abang pulang dulu, ya."
Arya pun mengangguk pelan. Ghea dan Aksa mencium tangan Arya secara bergantian. Sedangkan pikiran Beeya sudah tidak terkendalikan.
Selepas Aksa dan Ghea pergi, Beeya segera menghubungi kekasihnya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari Iyan. Hatinya sudah sungguh ketakutan.
"Iyan, angkatlah," ucap Beeya.
Tiga jam berlalu, Iyan tidak memberi kabar apapun kepada Beeya. Hati perempuan mana yang tidak cemas. Ditambah abang ipar Iyan sudah menunjukkan gelagat kurang sukanya.
"Walaupun gak direstuin kabari aku, Yan. Jangan buat aku khawatir kaya gini," gumamnya lagi.
Beeya terus mencoba menghubungi Iyan walaupun sama sekali tidak ada jawaban. Beeya pun terus mondar-mandir di dalam kamar. Hingga ponselnya berdering dan nama Iyan lah yang memanggilnya.
"Ayang-"
"Ke kafe sekarang, Chagiya."
Suara Iyan terdengar sangat berat dan juga parau. Dada Beeya sudah berdegup sangat kencang.
"Iyan ada apa?"
Tut. Tut.
Sambungan telepon pun terputus dan tanpa pikir panjang Beeya segera menuju kafe yang Iyan maksud. Tanpa berpamitan Beeya pergi begitu saja. Hanya mengenakan sandal jepit dan juga baju rumahan yang biasa Beeya gunakan. Ke kafe pun dia menggunakan ojek online agar bisa lebih cepat sampainya.
Sepanjang perjalanan tak hentinya Beeya merapalkan doa. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Iyan. Sesampainya di kafe tersebut, Beeya segera masuk ke dalam dan tubuhnya menegang ketika melihat apa yang terjadi di sana. Air matanya meluncur begitu saja.
...****************...
Komennya atuhh