Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
7. Belum Siap


Ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Begitulah persahabatan Arya juga Rion. Kini, sudah tiba saatnya Rion pergi. Meninggalkan persahabatannya juga keluarganya.


"Gua belum siap kehilangan lu!" Tangis Arya tumpah dan dia berhambur memeluk jenazah Rion dengan air mata yang mengalir begitu deras.


"Kenapa pergi secepat ini? Kenapa lu pamitan sama gua? Kenapa?"


Sakit, itulah yang Arya rasakan. Sama halnya dengan Echa dan juga Riana.


"Bangunkan aku dari mimpi buruk ini." Hati siapa yang tidak akan sakit mendengar ucapan yang teramat pilu dari bibir Echa. Matanya sudah sangat kosong. Hatinya sudah sangat rapuh dan tubuhnya seperti tak bisa digerakkan.


"Ayah masih hidup. Ayah gak akan pergi tanpa pamit sama aku. Ayah-"


Radit segera memeluk tubuh istrinya. Echa sangat terpukul dengan kepergiaan ayahnya yang tiba-tiba. Baru saja mereka mengadakan sarapan bersama, dan sekarang ayahnya sudah tiada. Bukankah itu terlalu cepat.


"Ayah udah gak sakit lagi sekarang. Ayah udah sembuh," ucap Radit.


"Aku yang sakit sekarang, aku yang terluka sekarang."


Riana yang mendengar ucapan kakaknya semakin terisak. Dia semakin erat memeluk pinggang Aksara.


"Ikhlaskan Ayah, Sayang. Ayah pasti akan sedih melihat anak-anaknya menangis seperti ini." Aksara mengecup ujung kepala Riana.


"Terlalu sakit untuk Ri, Bang. Ini lebih sakit dari kehilangan Bunda." Riana berkata dengan sangat lirih.


Suara seseorang berlari membuat Aksa dan Radit menoleh. "Papah di mana?" Seorang perempuan pendek dengan rambut sebahu dengan wajah polos tanpa riasan sedikitpun terengah-engah.


"Di kamar jenazah."


Beeya segera berlari menghampiri ayahnya, dan kedatangan Beby membuat tangis Echa dan Riana semakin pecah. Beby sangat melihat betapa sedihnya kedua anak ini. Walaupun mereka telah tumbuh menjadi dewasa, tetap saja mereka akan merasa kehilangan ayahnya.


"Sabar ya." Beby pun tak kuasa menahan air matanya, yang dia pikirkan sekarang adalah suaminya. Bagaimana kondisi suaminya sekarang. Pasti dia juga sangat amat terpukul.


Beeya menghampiri tubuh seorang pria dewasa yang bergetar dengan memeluk seseorang yang berada di brankar rumah sakit berselimut putih. Seumur hidupnya dia baru melihat ayahnya seterpukul ini.


"Pah." Beeya mengusap lembut punggung ayahnya dan Arya menoleh dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Jemput Iyan." Di kepala Arya hanya ada Iyan. Dia sangat yakin, anak bungsu dari sahabatnya ini pasti lebih terpukul dari kedua kakaknya.


Kepala Beeya mengangguk dengan cepat. Tak dia pedulikan tubuhnya yang lelah, belum mandi karena baru tiba dari Malang. Untung saja sang kekasih sudah pulang ke rumahnya. Beeya juga sengaja tidak membawa ponsel.


.


"Sayang, hubungi Iyan."


Echa dan Riana melupakan Iyan, adiknya yang pastinya akan sangat terluka akan kepergian ayah tercintanya. Tangan Echa bergetar ketika ponsel itu sudah tersambung kepada Iyan.


.


Perjalan Iyan daei rumah menuju kampus terasa sangat berat. Setiap dia melihat ke arah kaca spion terlihat bayangan ayahnya yang sedang tersenyum. Padahal, dia sedang tidak membonceng siapapun.


Ingin rasanya dia kembali ke rumah, tetapi pintu gerbang kampus sudah terlihat olehnya. Salah satu pesan ayahnya adalah lulus dengan nilai yang terbaik. Itu mampu membuat ayahnya bangga .


Rian Dwiputra Juanda baru saja tiba di kampus. Berjalan melewati lorong kampus menuju kelasnya. Hatinya bergemuruh, seakan ada yang tengah memberi peringatan kepadanya. Iya. tak menghiraukan. Dia terus berjalan. Namun, langkahnya harus terhenti ketika ponsel di sakunya bergetar. Dahinya mengkerut ketika melihat nama si pemanggil.


"Ada apa? Tumben masih pagi telepon." Heran dan bingung Iyan dibuatnya. Namun, dia tetap menjawab panggilan tersebut.


"Halo."


....


Tubuhnya seketika membeku ketika mendengar kalimat demi kalimat yang diutarakan oleh sang kakak dari balik sambungan telepon. Tubuhnya seperti tak memiliki tulang dan ponselnya pun terjatuh ke lantai. Air matanya pun menganak, memaksa untuk terjatuh.


"Enggak! Enggak mungkin." Senyum tipis nan perih terukir di bibirnya. Dia mencoba menolak.


"Ini hanya mimpi." Kepalanya pun menggeleng mencoba untuk tidak percaya. Menolak kenyataan yang ada.


Tubuhnya semakin menegang ketika mendengar suara siapa yang memanggilnya. Iyan ingin berbalik, tapi tubuhnya tak mampu melakukannya. Pelukan hangat dari belakang Iyan terima. Tangan putih dan mungil sudah ada di depan perutnya.


"Yang sabar ya, Yan."


Air mata yang sedari tadi sudah Iyan coba untuk bendung, akhirnya jebol juga. Air matanya mengalir begitu deras di wajah tampannya. Terasa tubuh Iyan bergetar.


Perempuan yang lebih pendek dari Iyan pun membalikkan tubuh Iyan. Dia mendongak menatap wajah Iyan yang sudah bermandikan air mata.


"Kita pergi sekarang." Tangan Iyan sudah digenggam dengan sangat erat. Perempuan itu sangat tahu Iyan tengah menahan kesedihannya.


Mobil yang ditumpangi Iyan pun melaju dengan sangat cepat. Namun, tak Iyan larang. Pikirannya sudah ke mana-mana. Mobil itu pun berbelok ke sebuah rumah sakit.


Tangan perempuan itu terus menggenggam tangan Iyan dan membawa Iyan menuju ruangan paling ujung. Sedari tadi Iyan terus berdoa bahwa ini hanya prank belaka.


Langkahnya terhenti ketika melihat dua wanita tengah menangis histeris di dalam pelukan suaminya masing-masing. Lima keponakannya sudah memanggil-manggil nama ayahnya.


"Ini hanya mimpi 'kan." Suara Iyan sangat lemah dan bergetar.


Mencoba untuk tidak mempercayai semua ini, tapi dia melihat jelas seorang pria yang tak lain adalah sahabat ayahnya menangis sangat keras. Dia terlihat sangat terpukul.


"Tuhan, Engkau tengah bercanda 'kan." Perempuan yang bersama Iyan pun menggeleng. "Ini nyata, Yan."


Tas yang disampirkan di sebelah tangannya pun terjatuh hingga menimbulkan suara. Semua orang yang tengah dirundung duka menoleh, termasuk dua kakak perempuannya.


"Iyan."


"Ini bohong 'kan, Kak. Ini bohong 'kan."


Echa semakin terisak begitu juga Riana. Mereka menghampiri Iyan dan memeluk tubuh adik bungsu mereka.


"Ayah masih hidup 'kan, Kak. Ayah gak mungkin ninggalin kita."


Echa dan Riana semakin erat memeluk tubuh Iyan. Namun, tubuh Iyan luruh ke lantai karena tidak sanggup menopang kesedihannya yang sangat mendalam.


Radit dan Aksa segera menghampiri Iyan dan memapah tubuh lemah Iyan. Air mata Iyan terus mengalir.


Aksa menoleh ke arah Radit. Sebuah anggukan yang menjadi jawaban. Mereka berdua membawa Iyan masuk ke dalam kamar jenazah. Langkah mereka terhenti pada satu brankar yang ada di hadapan mereka.


"Itu bukan Ayah 'kan. Abang berdua hanya bercanda 'kan."


Hati Radit dan Aksa sangat sakit mendengar ucapan Iyan yang sangat frustasi.


"Kamu harus ikhlas, Yan." Radit mengusap lembut punggung adiknya. Sedangkan Aksa sudah mendekat ke brankar yang di atasnya sudah berbaring jasad yang ditutupi kain putih.


"Itu bukan Ayah, Bang. Bukan." Iyan terus menolak kenyataan.


Tangan Aksa perlahan membuka penutup kain putih tersebut.


"Ayah!"


Iyan berteriak histeris dan berhambur memeluk tubuh ayahnya yang sudah terbaring kaku.


"Bangun, Ayah! Bangun! Jangan tinggalkan Iyan!"


Iyan terus memeluk tubuh ayahnya. Dia juga mengguncang tubuh ayahnya agar ayahnya membuka mata.


"Kenapa Ayah tidak menepati janji Ayah untuk melihat Iyan menikah? Kenapa Ayah ingkar janji?"


"Jangan pergi, Ayah. Iyan mohon."


...****************...


Sebenarnya penulisnya masih dirundung duka. Akhirnya, dengan berderai air mata aku mencoba untuk menulisnya. 😭