Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
40. Maafkan Aku


"I love you."


Beeya terkejut mendengarnya, dia juga tak menjawab perkataan Iyan. Hanya bisa menatap wajah Iyan dengan lekat. Bibirnya kembali meloemat bibir merah Iyan dengan sangat lembut. Begitu juga Iyan yang membalasnya tak kalah lembut.


Baru kali ini Beeya merasakan candu mencium bibir seseorang. Dia juga merasa nyaman ketika Iyan membalas kecupan hangatnya. Beda halnya dengan Raffa. Baru saja menempel, sudah Beeya lepaskan. Namun, dengan Iyan dia merasa ingin melakukannya lagi dan lagi.


Mereka pun memundurkan wajahnya mereka karena pasokan udara sudah semakin menipis.


"Jangan pernah lakukan ini dengan yang lain, ya." Ibu jari Iyan mengusap lembut bibir Beeya. Bukannya menjawab, Beeya memeluk erat tubuh Iyan. Membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda yang tengah memangkunya.


"Kamu juga."


Iyan hanya tersenyum dan tangannya membalas erat pelukan Beeya. Perempuan menyebalkan, kini menjadi sosok yang menyenangkan untuknya.


Arya, Beby juga Arina sudah menjemput Beeya. Iyan sudah membawa tas yang berisi pakaian Beeya. Bagai suami siaga, begitulah Iyan di mata kedua orang tua Beeya.


Beeya berada di kursi belakang bersama Arina. Namun, sang Bu'de memilih untuk berada di kursi paling belakang membiarkan Beeya dan Iyan duduk berdua. Tangan Beeya terus merangkul manja lengan Iyan. Tak dia pedulikan keberadaan kedua orang tuanya juga keberadaan sang bu'de. Pria ini sangat membuat dia nyaman.


Tibanya di rumah pun, Beeya menyuruh Iyan untuk menjaganya di kamarnya. Arya dan Beby tidak melarang karena pintu kamar Beeya selalu terbuka. Mereka juga tidak ingin kecolongan. Bagaimanapun pasti akan ada orang ketiga, yakni setan.


Iyan memilih membaringkan tubuhnya di lantai karena terlalu pegal harus tidur di sofa. Tanpa menunggu lama dia pun terlelap. Beeya yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut ketika Iyan dengan nyamannya tidur hanya beralaskan karpet. Beeya iseng mengambil gambar Iyan dan mengirimnya kepada Echa. Tanpa Beeya sangka, kakak dari Iyan itu menghubunginya melalui sambungan video.


"Kakak titip Iyan ya, Bee." Terlihat mata Echa berkaca-kaca ketika melakukan sambungan video.


"Kakak bahagia banget, Iyannya Kakak sudah kembali semenjak bersama kamu. Semenjak kepergian Ayah, Iyan sangat berubah." Echa menyeka ujung matanya


Beeya hanya terdiam, dia hanya mendengarkan apa yang Echa katakan. Sepertinya banyak yang dia tidak tahu perihal Iyan.


"Setiap hari Kakak selalu memikirkan kondisi Iyan. Kakak takut Iyan depresi dan berujung bunuh diri."


Hati Beeya terasa sakit mendengarnya. Dia tidak tahu berapa terpuruknya pemuda yang tengah tertidur di hadapannya ini.


"Iyan tidak bisa mengungkapkan semuanya, hanya sama kamu dia bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Hanya kepada kamu dia bisa menangis keras. Tidak selalu pura-pura kuat."


Air mata Beeya sudah menggenang. Dia benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi pada Iyan.


"Sekuat tenaga Kakak gak nangis di hadapan dia. Kakak pura-pura kuat di depannya, padahal setiap melihat wajah Iyan ada siluet wajah Ayah yang dapat Kakak lihat." Terdengar isakan kecil yang keluar dari bibir Echa. Beeya pun menyeka ujung matanya. Hatinya benar-benar sakit.


"Maafkan, Bee."


Echa menggeleng, bibirnya mencoba untuk tersenyum.


"Kakak tidak menyalahkan siapapun. Ini sudah kehendak yang maha kuasa. Namun, kakak dan juga dua adik Kakak yang belum bisa ikhlas menerima kepergian Ayah."


"Harusnya Bee dampingi Iyan, Kak. Bukan malah-"


"Gak apa-apa, Bee. Jangan salahkan diri kamu sendiri. Mungkin Tuhan menginginkan Iyan kuat dalam menghadapi kenyataan yang pahit ini."


Ingin rasanya Beeya memeluk erat tubuh Echa. Dia benar-benar merasakan kesedihan yang tengah Echa raskan. Sudah setahun berlalu, mereka semua belum bisa menerima kepergian ayah mereka.


"Tolong jaga Iyan ya, Bee. Temani dia, dan tolong kembalikan Iyan Kakak yang dulu." Senyum penuh kepedihan dan penuh permohonan terukir di wajah Echa. Beeya hanya mengangguk dengan air mata yang hampir menetes.


"Apa kamu masih menyimpan rasa sedih itu?" gumamnya pelan.


Beeya tengah berandai-andai mengulang waktu. Jika, pada saat ayah Rion tiada dia berada di samping Iyan, mungkin dirinya tidak akan mengalami trauma. Mungkin dirinya masih bisa tetap tertawa bersama. Namun, kini hanya penyesalan yang Beeya rasakan. Dia merasa menjadi manusia yang tak tahu balas Budi. Dia hanya menginginkan kehadiran Iyan di kala sedih melandanya. Sedangkan ketika Iyan sedih dalam waktu sangat lama, dia tidak bisa menemani Iyan. Dia malah pergi bersama orang lain yang pada akhirnya menyakiti dirinya.


"Maafkan, aku."


Bulir bening menetes mengenai pelipis Iyan. Beeya benar-benar menyesal. Pemuda yang ada di hadapannya masih menunjukkan raut kesedihan yang mendalam. Beeya pun tak segan mencium kening Iyan sangat dalam. Air matanya tak berhenti berlinang.


Merasakan ada yang terisak kecil, Iyan mencoba membuka matanya. Dia terkejut ketika Beeya sudah bermandikan air mata.


"Kenapa?" Iyan segera bangkit dari posisi tidurannya. Dia duduk menghadap wanita berambut sebahu itu dengan penuh tanya.


"Maafkan aku." Iyan tersentak, apalagi Beeya semakin terisak.


"Maaf untuk apa?" tanya Iyan.


"Harusnya ... aku ada di samping kamu ketika kamu sedih karena ditinggal Ayah. Harusnya aku-"


Iyan segera memeluk tubuh Beeya. Dia mengusap rambut wanita itu dengan sangat lembut.


"Gak perlu minta maaf. Aku gak apa-apa," ujar Iyan.


Beeya memundurkan tubuhnya. Menatap Iyan dengan air mata yang membasahi wajah.


"Jangan selalu membohongi diri kamu sendiri, Yan. Aku tahu kamu masih menyimpan duka yang mendalam. Ketika kamu butuh teman, harusnya aku ada di sana. Harusnya aku temani kamu. Memberikan pundakku untuk kamu bersandar sejenak."


Iyan hanya tersenyum perih. Dia mengusap lembut pipi Beeya. "Satu hal yang tidak bisa diulang lagi, yaitu waktu."


"Maafkan aku." Beeya pun menunduk dalam. Iyan menghembuskan napas kasar dan dia menatap lurus ke depan.


"Ketika Ayah pergi, aku juga merasa kamu pergi ninggalin aku sendirian. Tenggelam dalam kesedihan yang mendalam dan tidak berkesudahan."


Perlahan Beeya menegakkan kepalanya. Dia menatap wajah Iyan yang tengah menatap lurus ke arah depan.


"Aku seperti kehilangan arah. Tak tahu ke mana harus melangkah dan mengadu." Suara itu semakin lirih.


"Kedua kakakku ... mereka juga sama seperti aku. Mereka kehilangan arah. Hidup mereka bagai diterpa ombak yang besar. Terombang-ambing dan tidak tahu ke mana lagi mereka harus berlabuh. Aku tidak ingin menambah beban mereka, tidak ingin."


Pertahanan Iyan pun roboh seketika. Air matanya menetes begitu saja.


"Sebenarnya aku butuh kamu. Aku butuh bersandar sejenak. Aku butuh pelukan hangat, tapi itu tidak aku dapatkan. Malah, aku dipaksa menerima kenyataan bahwa kamu memang ingin pergi dari aku dan tidak mau mempertahankan persahabatan kita yang tanpa jarak."


Beeya memeluk tubuh Iyan dan dia pun ikut menangis. "Maafkan aku, aku memang bodoh."


...****************...


Komen dong ....