Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
178. Resepsi (part 2)


Acara resepsi Iyan dan Beeya bukan hanya menghadirkan bahagia, tapi ada juga duka yang menyelimuti beberapa dari mereka. Rangga hanya mengantarkan Aleena sampai depan pintu kamar hotel yang Aleena tempati. Rangga tahu di mana batasannya.


"Kamu istiraht, ya. Takutnya kaki kamu bengkak," ucap Rangga dengan begitu lembut. Aleena hanya tersenyum. Dia mengangguk kecil dan ada sebuah kata terima kasih yang begitu pelan tapi mampu Rangga dengar.


Rangga memastikan Aleena masuk ke kamarnya, barulah dia pergi. Ketika dia membalikkan tubuh, dia terkejut ada Rio di sana. Rio tersenyum dan menatapnya dengan begitu dalam


"Makasih ya udah jagain sepupu gua," ucap Rio dengan begitu tulus.


"Sama-sama, Kak. Aku 'kan ditugasin buat jagain Aleena hari ini," sahut Rangga. Senyum Anak itu tidak pernah pudar seakan tidak ada beban ketika dia menjaga Aleena.


"Aku titip Aleena ya, Kak." Rio mengangguk. Rangga pun pergi kembali ke acara resepsi karena sudah pasti sang adik angkat akan terus mencarinya.


Rio menekan bel kamar hotel Aleena. Tak lama sang sepupu membuka pintu kamar tersebut dengan mata yang sembab. Rio segera masuk dan langsung menutup pintu kamar cepat. Sepupunya langsung berhambur memeluk tubuh Rio. Rio merasakan betapa sedihnya hati sepupunya ini.


"Sabar ya, Na. Hanya kata itu yang mampu Rio ucapkan.


"Iya Kak. Aku ingin cepat lulus SMA dan ingin langsung pergi ke Singapura," ucapnya.


"Kak Iyo tunggu kamu di sana." Aleena pun menggangguk dengan tangan masih melingkar di pinggang sang sepupu.


.


Di acara resepsi ini Aska dan Jingga direpotkan oleh tingkah keempat anak mereka yang sungguh luar biasa. Alhasil tanduk Aska keluar dan keempat anak Aska pun menunduk dalam. Mereka takut ketika Aska marah karena jarang sekali Aska berkata dengan penuh emosi.


"Bisa enggak diam sebentar saja. Jangan berantem. Ini tempa umum, banyak orang. Kalian harus bisa jaga sikap." Sang ayah berkata dengan sangat lebar.


"Lihatlah, Mas Agha dan Kak Ghea." Keempat anak Aska pun masih menunduk dalam, mereka tidak masalah dibandingkan dengan kedua sepupu mereka. Kedua sepupu mereka itu memang menjadi panutan dan contoh untuk mereka berempat. Hanya saja mereka belum bisa seperti Gavin dan juga Gea


"Kalau kalian masih seperti ini terus. Bertengkar terus, rebutan terus dengan terpaksa kalian akan Ayah kirim ke pondok pesantren." Dengan cepat anak keempat anak itu menggeleng.


"Aqis enggak mau ayah, tolak Balqis."


"Apang juga enggak mau, Yah.*


"Iam juga gak mau."


"Mas gak mau," tolak mereka semua dengan sangay kompak.


"Makanya janji sama ayah, kalau kalian tidak akan bertengkar lagi." Keempat anak Aska pun mengangguk pelan. Jingga hanya terdiam di saat dia lelah. Di saat dia sudah menyerah menghadapi keempat anaknya yang luar biasa.


Aleesa terus tertawa ketika melihat tante Pocita sedang melompat-lompat mencari seseorang. Wajah om Poci sudah sangat garang. Menandakan dia cemburu.


"Tuh pocong cewek lagi nyari siapa sih?" tanya Yansen kepada Aleesa yang tengah menikmati makanannya.


"Enggak ngerti juga," sahutnya.


Aleesa menatap ke arah pelaminan di mana sang paman dan juga tantenya tengah berbahagia. Senyum terus merekah di wajah mereka berdua. Ada siluet bayang sang kakek di sana. Aleesa sangat merasakan hal yang berbeda jika dia naik ke pelaminan. Ada aroma tubuh sang kakek yang dapat dia cium.


"Kenapa kok matanya berembun?" tanya Yansen. Ternyata sedari tadi pria itu memperhatikan Aleesa.


"Kamu ngerasain nggak di atas pelaminan sana Ada Engkong yang nemenin Om kecil." Suara Alesa sudah bergetar matanya pun nanar. Nyaris air mata itu terjatuh. Ada kerinduan yang tak bisa dia ungkapkan.


Hanya tetesan air mata yang menjadi ungkapan terdalamnya.


"Kamu pegang deh tangan aku." Yansen berkata dengan begitu lembut


Aleesa pun menuruti apa yang dikatakan Yansen. Seketika air mata itu terjatuh dengan begitu deras sang kakek tengah tersenyum ke arahnya, melambaikan tangannya dengan raut yang begitu bahagia. Rion Juanda mengenakan pakaian yang sama dengan apa yang dikenakan oleh Arya Bhaskara. Aleesa tidak bisa berkata. Dia hanya tersenyum dengan air mata yang terus menetes membasahi wajahnya.n


"Kenapa aku nggak bisa lihat engkong?" ucapnya dengan ada yang begitu berat


"Kamu adalah keluarga inti, dan Engkong tidak ingin memperlihatkan kepada kalian termasuk kepada Om Iyan. Tidak ada yang bisa melihatnya, hanya bisa merasakan kehadirannya. Sekalipun JOJO, Dev,.Om Uwo, ibu, Om poci dan tante pocita. mereka tidak bisa melihat Engkong. Hanya aku yang bisa melihat beliau."


Aleesa pun melingkarkan tangannya ke pinggang Yansen. Di sudut ruang resepsi ada mata yang melihat dengan begitu sendu ke arah dua insan anak remaja tersebut. Dia merasa sudah kalah. Ya, sudah waktunya dia untuk pergi. Tangannya memegang lollipop yang Alyssa berikan. Menatap permen itu dengan bibir yang terangkat sedikit. Bibirnya tersenyum, tapi hatinya meringis kesakitan.


"Be go! Kenapa suka sama bocah?" ucapnya dengan senyum yang begitu miris. Dia pun memilih untuk pergi dari sana. Namun, panggilan dari Rindra membuat langkahnya terhenti.


"Kok balik lagi? Ke sana dulu. Om juga ke belum mengucapkan selamat ke Iyan dan Beeya," ajak Rindra. Ternyata sang ibu angkat pun mengikuti suaminya. Dia sudah merangkul lengan Restu dan berjalan menuju pelaminan.


"Kamu ganteng banget malam ini," puji Nesha. Restu menggunakan kemeja putih dibalik jas hitam dan celana hitam. Sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap. Sungguh mempesona.


"Gantengan Papih apa Restu?" Rindra sudah membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya yang tengah menggandeng sahabat dari anaknya itu.


"Korban drakor," ucap Rindra kepada Restu. Sungguh percakapan kedua orang tua Rio sangat menghiburnya. Melupakan sejenak apa yang tengah dia rasakan.


"Rio di mana?" tanya Restu. Dari tadi dia tidak melihat sahabatnya itu.


"Kayaknya lagi sama Aleena," sahut sang ibu. Restu hanya menganggukkan kepala


Mereka bertiga semakin mendekati Aleesa dan Yansen yang tengah berpelukan. Hatinya terasa sangat teriris. Restu enggan untuk menyapa mereka berdua. Ketika Restu melewati mereka berdua dengan cepat Alisa mengurai pelukannya kepada Yansen. Matanya menatap ke arah Restu yang seolah abai kepadanya. Padahal sebelum acara tadi Restu begitu perhatian


Aleesa terdiam membeku melihat punggung Restu yang mengikuti langkah Rindra dan juga Nesha menuju pelaminan. Terlihat sang ayah memeluk erat tubuh laki-laki yang menjadi sahabat sepupunya itu. Lengkungan senyum sang ayah begitu tulus kepada remaja lelaki tersebut. Beda halnya jika ayahnya bertemu dengan Yansen. Seperti ada dinding pemisah yang tidak akan pernah bisa menyatukan ayahnya dan juga Yansen. Entah itu hanya perasaan Aleesa saja atau memang seperti itu nyatanya.


Aleesa hanya bisa melihat jodoh orang tanpa bisa melihat jodohnya sendiri. Aleesa hanya bisa melihat kematian seseorang. Dia tidak bisa melihat kematian keluarganya dan orang yang dekat dengannya. Itulah yang terkadang membuatnya aneh, membuatnya ingin menghilangkan apa yang dia miliki.


Yansen yang sadar akan perubahan sikap Aleesa hanya tersenyum. Dia tidak marah sedari awal dia memang sudah salah memiliki perasaan kepada wanita yang memang berbeda dengan dirinya. Harusnya dia tidak tenggelam dengan perasaan itu, tapi rasa itu sangat dalam dan dia sulit untuk melepaskan.


"Kamu ke mana aja ganteng?" Beeya mulai petakilan dan membuat mata Iyan hampir terlepas dari tempatnya. Dari sorot matanya terlihat api cemburu yang menggebu. Sedangkan Beeya malah tertawa terbahak-bahak.


"Kamu kenapa sih, Ayang?" ucapnya dengan begitu manja.


"Itu tangan lepasin," sungut Iyan kepada istrinya. Beeya pun melihat tangannya yang tengah memegang Restu. Restu hanya terkikik geli melihat sepasang suami istri di depannya ini namun dia terhibur dengan apa yang pasutri ini lakukan.


"Penyakit lama muncul lagi, Yang."


Restu terus melengkungkan senyum ketika melihat pertengkaran suami istri yang baru beberapa jam yang lalu sah di mata hukum dan agama, tapi dia tahu ini bukan pertengkaran sesungguhnya. Mereka tidak serius. Apalagi Beeya yang terus menggoda sang suami. Restu merasakan kehangatan di keluarga ini. Bukan hanya keluarga Addhitama yang seakan membuka tangan mereka untuk menerima Restu. Keluarga Rion Juanda pun menerimanya dengan tangan yang sangat terbuka. Restu bahagia dia seperti memiliki keluarga yang sesungguhnya


"Nanti minta nomor telepon kami, ya," ucap Beeya dengan nada genit.


"Dikasih, gua kirim pocong ke rumah lu." Restu malah terbahak. Begitu gitu juga dengan Rindra dan Nesha. Inilah yang membuat tiga keluarga itu seperti keluarga besar. Mereka selalu memasang badan kepada salah satu anggota keluarga yang tengah mengalami musibah ataupun masalah.


"Tenang aja, Kak. Aku nggak akan ngerubut Kak Beeya, kok," ujarnya.


"Lu mah sama keponakan gua aja." Semua mata melebar mendengar ucapan Iyan. Begitu juga dengan sang istri.


"Siapa maksud kamu?" sergah Rindra.


"Ya, di antara si triplets. Pilih aja salah satu," jawabnya dengan begitu enteng.


"Abang pasti juga setuju," lanjut Iyan lagi.


Radit menggelengkan kepala dia menatap tajam ke arah sang adik ipar. Sedangkan Eca hanya tertawa di hari bahagia ini. Semuanya seakan berubah. Iyan yang pendiam sekarang lebih sering mengumbar kata. Juga bersikap lucu membuat mereka semua tertawa.


Restu tahu di bawah sana ada yang memperhatikannya dengan lekat. Apalagi ketika dia terus tertawa bersama dua pengantin yang berada di atas pelaminan. Iyan pun memberikan kode kepada Restu, tapi Restu seperti tidak mengerti. Padahal dia tahu apa yang ingin Iyan katakan. Biarlah Restu menyimpannya sendirian. Toh, dia akan pergi jauh. Entah kapan akan kembali.Siapa tahu jodohnya bukan orang sini melainkan orang bule nanti.


Setelah turun dari mengucapkan selamat kepada Iyan dan Beeya. Restu, Rindra dan Nesha pun turun dari pelaminan. Mereka bertiga masih berbincang dan sesekali terlihat Restu tersenyum. Senyum yang begitu tulus. Senyum yang begitu manis di mata Aleesa.


"Kenapa dia berubah?" batin Aleesa. Dia menatap nanar ke arah Restu yang dari tadi mengabaikannya, mengacuhkanya. Hatinya sedikit sakit walaupun tidak banyak.


.


Wajah Kalfa sedari tadi muram. Tidak ada rona bahagia yang dia pancarkan. padahal pasangannya sendiri selalu mengumbar senyum yang begitu manis dan cantik. Aleeya lebih cantik dibandingkan Aleena karena Aleeya bisa merias wajah dibandingkan Aleena yang selalu tampil dengan natural. Sama halnya seperti Aleesa. Itulah terkadang yang membuat seseorang menganggap Aleema tidak seperti adiknya. Dibanding-bandingkan itulah yang sering Elina rasakan. Namun, Aleena memang anak yang lapang dada. Dia tidak marah hatinya seakan sudah di pecut untuk menjadi seperti ini menjadi anak yang begitu kuat.


"Beb kamu kenapa?" Kalfa hanya menggelengkan kepala.


Aksa sedari tadi memperhatikan Kalfa dan juga Aleeya. Dia merasa ada yang berbeda dari anak angkat dari seorang Satria itu. Samar dia mendengar percakapan Aleena dan juga Satria tadi. Hatinya panas tapi dia tidak boleh gegabah. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi


Anak berusia 12 tahun menghampiri Aleeya dan Kalfa. Dia menatap tajam ke arah ke Kalfa yang sudah dari tadi berwajah sendu seperti tak bergairah. seperti tidak ada darah yang mengalir pada tubuhnya.


"Bilang ya sama ayah kakak,x ujar anak itu


"Udah tua tobat," lanjut anak itu. Sepertinya anak itu tahu apa yang tengah terjadi dengan ayahnya juga Aleena.


"Maksud kamu apa?"


"Jangan merendahkan orang hanya dari penampilannya saja. Jangan melihat orang hanya dari sampulnya saja, yang sederhana belum tentu hatinya sederhana. Begitu juga dengan wajah yang cantik belum tentu memiliki hati yang baik."


Gavin sangat benci dengan manusia seperti itu. dia mendengar sendiri perkataan Satria kepada Aleena tadi dia saja geram apalagi Aleena.


Ya ya kini Gavin beralih pada sepupunya adik dari Alina


"Yaya, sekali-kali redam rasa egois, Yaya. Sekali-kali mengalah lah kepada kakak Yaya. Yaya memiliki saudara, jaga perasaannya. Jangan selalu ingin dimengerti, tapi Yaya tidak mengerti kakak Yaya sendiri."