
Alarm dari sang kakak pertama membuat Iyan yang haus akan sebuah kecupan mesra membuat Iyan mengerang sangat kesal. Cekikikan kecil pun terdengar. Ternyata anak perempuan kecil yang sudah mengadu kepada sang bubu.
Ghea menjulurkan lidahnya ke arah sang om dengan wajah lucunya. Tatapan tajam Iyan berikan, tetapi tak membuat Ghea takut padanya. Malah Ghea semakin tertawa.
"O-ow ... Om ketahuan."
Anak itu pun bernyanyi sebagai ejekan untuk sang paman. Ghea lebih jahil dibandingkan sang kakak. Sedangkan Beeya sudah tergelak melihat wajah Iyan juga wajah Ghea. Salutnya, Iyan tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar kepada keponakannya. Terlihat Iyan sangat menyayangi keponakan kecilnya itu.
Ghea malah ikut bergabung bersama Iyan dan juga Beeya. Dia terlihat sangat ceria ketika Beeya selalu menimpali ceritanya. Iyan hanya menggelengkan kepala.
"Om, nanti bawa Adek ke rumah Tante lebah ini, ya."
Iyan tergelak mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Ghea. Beeya pun malah ikut tertawa dipanggil Tante lebah. Dia sangat gemas terhadap anak berusia enam tahun ini.
"Tante besok akan pergi ke Bali."
Wajah ceria Ghea mulai berubah sendu. Ada rasa sedih yang Ghea rasakan. Iyan segera meraih tubuh Ghea dan memangkunya.
"Kenapa Om biarin Tante lebah pergi?" tanya anak itu.
"Tante ada perlu. Makanya, Tante harus ke Bali." Ghea menatap ke arah sang paman dengan mata yang nanar. "Om janji, Om akan bawa Adek ke sana."
Mata Ghea pun berbinar. Senyum pun sedikit melengkung di wajah imut Ghea.
"Serius?" tanya Ghea. Sang paman pun mengangguk.
Kemudian, Ghea mengangkat jari kelingkingnya. Menyuruh sang paman untuk berjanji kepada dirinya. Iyan pun tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking mungil Ghea.
Beeya memangku kedua tangan di dagu. Melihat interaksi antara paman dan keponakan membuat hatinya menghangat. Sejenak dia bisa melupakan kesedihannya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Iyan kepada sang kekasih.
"Aku tengah membayangkan bagaimana jika kita punya anak nanti."
.
Aleesa mengetuk pintu kamar sang paman. Sebuah deheman dari dalam membuat Aleesa menekan gagang pintu dan masuk ke dalam. Iyan tengah fokus pada laptopnya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Om kecil," panggil Aleesa.
"Hem."
Aleesa sudah duduk di pinggiran tempat tidur sang paman. Sedangkan Iyan tengah duduk di meja khusus untuknya bekerja. Tidak ada obrolan dari mereka membuat Iyan memalingkan wajahnya pada sang keponakan.
"Ada apa?" tanya Iyan yang sudah membuka percakapan.
"Om kecil gak suka sama Yansen?"
Dahi Iyan mengkerut mendengar ucapan dari sang keponakan. Kedua alisnya pun ikut menukik tajam.
"Om selalu-"
"Kalau aku gak suka sama Yansen, mungkin kamu tidak akan aku ijinkan berteman dengan Yansen sedari dulu," potong Iyan. Aleesa pun terdiam. Dia menunduk dalam.
"Apa yang dikatakan oleh kedua orang tua kamu?"
Iyan tahu apa yang tengah Aleesa hadapi. Walaupun Aleesa belum bercerita. Aleesa tidak menjawab. Sedangkan Iyan sudah menatap Aleesa dengan sangat dalam.
"Sedari awal kamu udah tahu 'kan."
Iyan sudah tahu permalasahan Aleesa itu apa, yakni perbedaannya dengan Yansen.
"Aku juga udah bilang, jangan terbawa hati."
Aleesa hanya menghela napas kasar. Wajahnya berubah sendu. Iyan beranjak dari duduknya dan duduk di samping sang keponakan.
"Hilangkan perasaan kamu karena sampai kapanpun kamu dan dia tidak akan bersatu," papar Iyan.
"Dia dengan salib di tangannya dan kamu dengan tasbih yang kamu genggam. Apa itu akan mempermudah kalian untuk bersatu?" tanya Iyan.
Melihat tidak ada respon apapun dari sang keponakan, Iyan memeluk tubuh Aleesa. Dia sangat tahu bagiamana perasaan Aleesa sesungguhnya.
"Kakak Sa harus jawab apa, Om? Kakak Sa nyaman sama Sensen."
Sudah Iyan duga bahwa Yansen sudah meminta jawaban Aleesa. Sudah dua tahun ini Aleesa menggantung Yansen. Tak memberikan kepastian kepada laki-laki yang membuatnya nyaman. Selalu bersama tanpa status yang jelas.
Aleesa adalah anak yang selalu berterus terang kepada ibu dan ayahnya. Sudah pasti Radit dan Echa memberikan pengertian kepada Aleesa. Itulah yang membuat Aleesa seperti ini.
"Katakan yang sejujurnya pada Yansen. Jangan tutupi apapun termasuk alasan kedua orang tua kamu."
"Kalau dia marah dan gak terima?" tanya Aleesa pelan.
"Berarti dia gak tulus sama kamu," jawab Iyan. "Jikalau, dia tulus berteman sama kamu dia tidak akan meninggalkan kamu sekalipun jawaban kamu itu menyakiti hatinya," tambah Iyan.
Aleesa membalas pelukan Iyan. Hanya bahu sang om yang membuatnya nyaman.
"Jangan cepat nikah, nanti Kakak Sa gak punya teman curhat."
...****************...