Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
71. Mau Gak?


"Jangan cepat nikah, nanti Kakak Sa gak punya teman curhat."


Iyan tertawa, dia mengurai pelukannya. Dia menatap dalam wajah keponakannya yang memiliki keistimewaan yang sama dengannya.


"Kalau untuk itu aku gak janji," ujarnya. Aleesa merengutkan wajahnya. Sontak Iyan pun mengacak-acak rambut Aleesa.


.


Keesokan paginya, sang kakak menghampiri Iyan yang masih ada di kamar. Iyan sedikit terkejut ketika dia melihat sang kakak sudah ada di dalam kamarnya dan tengah menutup pintu kamar yang dia tempati. Wajah Echa nampak serius dan membuat Iyan mengerutkan dahi.


"Ada apa, Kak?"


Echa tidak menjawab, dia malah duduk di bibir ranjang memperhatikan Iyan yang tengah memasukkan laptopnya ke dalam tas ransel yang sering Iyan bawa.


"Apa kamu serius dengan ucapan kamu tempo hari?" tanya Echa.


Kedua alis Iyan menukik tajam mendengar pertanyaan dari sang kakak. Dia mengingat-ingat ucapan apa yang pernah dia katakan kepada Echa.


"Perihal Beeya," lanjut Echa.


Tatapan Echa sangat serius ketika mengatakan itu. Iyan pun mendekat ke arah sang kakak. Dia melihat ada ketidak relaan yang kakaknya tunjukan. Iyan duduk di samping Echa dan menatapnya dengan sangat dalam.


"Iyan tidak pernah main-main dengan ucapan Iyan, Kak."


Helaan napas kasar keluar dari mulut Echa. Dia menatap tak kalah serius ke arah sang adik.


"Kamu masih sangat muda," tuturnya lagi.


Iyan hanya tersenyum. Dia menggenggam tangan sang kakak. Sorot matanya penuh dengan kehangatan.


"Apa ada larangan menikah di usia muda?" tanya Iyan. Echa pun menggeleng,


"Bukankah kita harus segera menikah, dari pada terus membuat maksiat."


Kata terakhir yang Iyan katakan membuat Echa melebarkan mata. "Kamu sudah melakukan apa saja dengan Beeya?" Mata Echa sudah melotot bagai ibu tiri. Tangannya pun sudah ada di pinggang.


Iyan pun gelagapan dan bingung mau menjawab apa. Bibirnya tiba-tiba kelu.


"Beeya sudah melakukan apa saja sama kamu?"


Tetap saja Beeya yang disalahkan. Padahal Iyan yang sangat agresif. Andai saja kakaknya tahu bagiamana sikap asli Iyan sudah pasti Iyan akan dimutilasi oleh Echa.


"Jawab Iyan!"


"Sayang, kamu mau ke kantor pusat gak?"


Radit menjadi penyelamat bagi Iyan. Akhirnya, dia bisa terbebas dari sang kakak yang akan menjelma menjadi ibunya Shinchan jika sudah murka.


Iyan segera meraih tasnya dan memakai jam tangannya sambil berjalan. Dia menepuk pundak Radit dan mengucapkan terima kasih. Dahi Radit pun mengkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Iyan.


"Makasih untuk apa coba," gumam Radit.


Ting!


Bibir Iyan pun melengkung dengan sempurna. Ada-ada saja kekasih hatinya ini.


"Mau jaket yang dipake kamu hari ini. Kalau aku kangen kamu, aku bisa peluk atau pake jaket kamu."


Lengkungan senyum itu semakin lebar. Iyan segera melajukan motornya menuju kafe. Membiarkan kekasihnya kesal karena pesannya tidak dibalas.


Benar saja, Beeya bersungut-sungut karena sang kekasih tak membalas pesannya.


"Dih, cuma dibaca doang gak dibalas." Mulut Beeya sudah manyun lima Senti.


"Apa susahnya jawab ok atau iya." Wajah cantik Beeya sudah ditekuk.


Teriakan dari Pipin membuat Beeya mendengkus kesal. Pipin dengan sengaja menindih tubuh Beeya yang sedang tengkurap.


"Berat, Pin!" seru Beeya.


Namun, perempuan itu malah tertawa keras. Dia terlihat sangat merindukan momen seperti ini.


"Lu gak gawe?" Pipin pun menggeleng.


"Bolos gua, pengen ngabisin waktu sama Bestie."


Beeya berdecih, tetapi di dalam lubuk hatinya dia sangat bahagia. Ketika semua orang menganggapnya gila, masih ada Pipin yang menganggapnya manusia normal.


Banyak hal yang mereka ceritakan dengan penuh gelak tawa. Pipin tidak ingin membuat Beeya mengingat kenangan buruk. Maka dari itu, Pipin selalu bercerita tentang hal yang menyenangkan yang membuat Beeya tertawa bahagia.


Sang ibu membawakan minuman juga cemilan untuk Pipin juga putrinya. Beby tersenyum bahagia ketika melihat wajah Beeya yang terlihat sangat ceria.


"Makasih, Tante."


Pipin sudah menganggap Beeya seperti keluarganya. Dia juga dekat dengan kedua orang tua Beeya.


"Cewek yang jalan sama Rian itu pacarnya?"


Sepertinya Pipin masih penasaran dengan apa yang dia lihat. Beeya hampir tersedak air yang tengah dia teguk.


Raut wajah Beeya dibuat sedatar mungkin. Dia menatap Pipin dengan penuh tanya.


"Penasaran banget kayaknya," balas Beeya.


"Patah hati aja gua," sahut Pipin.


"Emangnya lu suka sama tuh anak?" Kini, Beeyalah yang penasaran.


Hati Beeya berdegup cepat menunggu jawaban dari Pipin. Apalagi dia melihat wajah Pipin yang datar. Tak bereaksi apapun. Helaan napas kasar yang keluar dari mulut Pipin. Kemudian, dia menatap ke arah Beeya yang tengah menunggu jawabannya.


Anggukan kecil yang Pipin berikan membuat Beeya memegang dadanya yang terasa sesak.


"Mau gak lu comblangin gua sama Rian."


...****************...