
Beeya dan Iyan tidak menyadari bahwa kedua orang tua mereka menyaksikan pergumulan mereka. Pasalnya, Iyan tengah menenangkan Beeya agar istrinya itu merasakan kesakitan lagi ketika Arya dan Beby membuka pintu kamar.
"Kayak ada yang robek di bawah," ucap Beeya dengan air mata yang mengalir.
"Itu tandanya kamu masih tersegel, Chagiya." Tangis Beeya pun berhenti. Kemudian, dia menatap ke arah Iyan yang sudah tersenyum manis.
"Sakitnya akan berubah jadi enak kok."
Perlahan dan pasti, Iyan mulai bergerak dan ringisan Beeya berubah menjadi erangan yang membuatnya enggan untuk mengakhiri.
"Sempit banget, Chagiya."
"Punya kamu juga mentok." Beeya masih mencoba membalas disela-sela kenikmatan yang tengah dia rasakan.
Berdesis, mengerang, mereka lakukan. Hingga Beeya merasakan tubuhnya bergetar hebat dan dia pun berteriak nikmat. Iyan merangsang istrinya kembali dan membuat Beeya mulai on lagi.
"Oh! Ehm! Ayang!"
"Nikmat 'kan." Beeya mengangguk. Kini, Iyan menggulingkan tubuhnya dan menarik tubuh Beeya hingga dia berada di atas tubuh Iyan sekarang.
"Ah, Ayang!" Iyan begitu rakus menikmati pepaya yang menggantung dan bergoyang-goyang yang dihasilkan oleh gerakan tubuh Beeya.
Kulit putih Beeya sudah berubah warna menjadi merah kehitaman. Sama halnya dengan Iyan. Ketika Beeya sudah mencapai puncak dia meng-hisap leher Iyan dengan begitu keras hingga jejak itu sangat kentara. Tubuh Beeya pun terkulai lemah tak berdaya. Sedangkan Iyan terengah-engah menahan kenikmatan goyangan maut sang istri.
"Chagiya, aku belum keluar."
"Aku lelah, Ayang. Susu putihku sudah meluber ke mana-mana." Beeya menunjuk ke arah sprei. Iyan pun tertawa.
"Gak apa-apa, Chagiya. Itu tandanya kamu menikmati." Iyan mengecup bibir Beeya.
Demi memuaskan dahaga sang Baginda yang sudah lama kehausan, Beeya pun mengikuti saja keinginan suaminya. Di gaya guguk, Beeya merasakan kenikmatan yang tak tertandingi. Begitu juga dengan Iyan yang terus memacu kecepatan anacondanya.
"Ayang aku--"
"Aku juga, Chagiya."
Tubuh mereka pun terguling ke samping ketika sudah menuju puncak tertinggi tepat di jam dua belas malam. Permainan yang luar biasa. Iyan mengecup wajah Beeya dengan begitu lembut dan menyesap bibir Beeya dengan begitu mesra.
"Ayang mending tidur, ya." Beeya sudah menyodorkan pepaya mengkal yang sudah berubah warna kulit menjadi merah. Iyan pun tertawa.
"Tapi, enak 'kan." Usapan lembut sudah Iyan berikan. Beeya mengiyakan karena tidak dipungkiri Iyan sangat ahli dalam membuatnya puas dan kelojotan.
.
Iyan sudah rapi dengan pakaian kerjanya sedangkan Beeya masih bergumul di bawah selimut.
"Masih lemas?" Iyan sudah berada di bibir tempat tidur dan mengusap lembut rambut Beeya. Sang istri pun mengangguk pelan.
"Maaf, ya." Kemudian, Iyan mengecup kening Beeya dengan begitu lembut.
"Makan siang pulang, ya. Aku mau makan siang sama Ayang. Mamah akan pergi ke Bogor sama Mommy." Iyan pun mengangguk.
.
Wajah berseri yang Iyan tunjukkan menjadi bulan-bulanan untuk Aksara. Bagaimana tidak, mertua Iyan sudah menyebarkan kabar bahwa Iyan sudah bisa membelah duren. Iyan tak menggubris. Dia malah menodong sang abang.
"Minta cutilah udah unboxing begini mah," ujar Iyan.
"Liat jadwal dulu."
Sedang fokus pada pekerjaan suara anak kecil perempuan terdengar. Siapa lagi jika bukan Ghea.
"Ngapain ke sini?" tanya Iyan.
"Kangen Om." Iyan pun tersenyum. Kebetulan ada Ghea, dia akan membawa Ghea ke rumah untuk menemani Beeya. Tentunya menjadikan Ghea kejutan untuk sang istri.
Setelah membelikan apa yang dipesan sang istri, Iyan melajukan mobilnya kembali menuju rumah. Dia dan Ghea langsung menuju kamar untuk bertemu dengan sang istri tercinta.
Baru saja membuka pintu kamar, mata Iyan melebar karena dikejutkan oleh penampilan Beeya.
"Astaghfirullah," pekik Ghea. "Kenapa Tante centil pakai jaring ikan."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...