
Beeya tersenyum sendiri ketika menatap wajahnya di cermin. Rona bahagia terpancar di wajahnya. Dia menyentuh wajahnya yang memang lebih tirus dari sebelumnya.
"Terlalu lama aku tenggelam dalam lautan luka yang dalam."
Beeya bermonolog sendiri. Dia menatap ke setiap sudut kamar yang dia tempati. Masih banyak ukiran kenangan bersama Raffa. Banyak barang pemberian Raffa yang masih berjejer di sana. Beeya menghela napas kasar. Dia mengambil apa saja barang yang Raffa berikan kepadanya. Membuangnya ke tempat sampah. Dia ingin mengukir kenangan baru. Dia ingin kembali pada sosok Beeya yang ceria.
Tangannya menyentuh sebuah figura yang dia tutup di atas meja. Foto bersama dirinya dan juga Iyan ketika masih di bangku sekolah. Lengkungan senyum terukir indah di wajah Beeya. Dia menyentuh lembut figura tersebut.
"Dari candaan, kini menjadi kekasih sungguhan," gumamnya.
Sedari dulu, Iyan memang memiliki tempat yang spesial di hati Beeya. Siapapun pacar Beeya, tetap saja Iyan yang menjadi prioritas untuknya. Dia juga tidak bisa jauh dari Iyan. Jika, ada masalah Iyanlah yang menjadi tempat untuknya bercerita dan berkeluh kesah. Satu sosok laki-laki yang tak banyak bicara, tetapi sangat setia.
Iyan tak pernah risih ketika dia menangis keras hanya karena seorang laki-laki. Malah, Iyan akan menepuk pundaknya dan menyuruh Beeya untuk meletakkan kepalanya di bahu Iyan. Ya, Iyan menjadi sandaran ternyaman yang Beeya miliki.
Figura itu dia letakkan kembali di atas meja. Sosok Iyan yang dulu jauh berbeda dengan yang sekarang. Beeya juga terkadang heran, kenapa baru sekarang dia merasakan jatuh cinta kepada Iyan.
Tangan Beeya beralih pada figura yang masih terpajang di atas nakas. Foto dirinya yang tengah dipeluk oleh Raffa.
"Kamu memang sosok yang aku cinta, tapi kamu tak bisa membuat aku bahagia."
Figura itu dia buang ke tempat sampah. Dia teringat akan perkataan artis ternama bunda Maia Estianti, buanglah mantan pada tempatnya.
Tempat yang paling bagus untuk sang mantan yakni tempat sampah. Seperti barang yang sudah tidak layak pakai dan harus dibuang. Bukannya kejam, memang harus seperti itu agar semua kenangan manis juga pahit yang ditorehkan masuk ke dalam tong sampah dan akan dibuang ke tempat pembuangan akhir.
"Selesai."
Beeya menatap ke setiap sudut kamarnya. Kini sudah tidak ada kenangan dengan Raffa. Semuanya sudah masuk tempat sampah. Hanya ada foto dirinya dan juga Iyan yang terpajang di beberapa sudut kamar karena memang dia memiliki banyak foto berdua bersama Iyan. Kedekatan ayahnya dengan ayah Iyan membuat mereka menjadi dekat juga.
Beeya segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia juga harus ke bawah lagi karena masih ada Iyan di sana.
.
"Emangnya kamu punya apa berani macarin anak Papa?" Kini Arya menambahkan ucapan dari istrinya.
Iyan menelan ludahnya. Baru kali ini dia merasa takut menghadapi kedua orang tua Beeya. Iyan menarik napas panjang sebelum menjawabnya.
"Aku punya cinta yang tulus untuk anak Papa."
Arya pun berdecih. Dia mulai melangkahkan kaki menuju sofa yang tak jauh dari tempat mereka. Iyan masih berdiri di hadapan Arya. Dadanya sudah berdegup kencang, tetapi dia mampu bersikap biasa saja dan tak menunjukan ketegangan.
"Beeya tidak hanya butuh cinta, dia juga butuh makan." Arya menjelma menjadi ayah yang melindungi putrinya sekarang ini. "Tidak akan kenyang cuma makan cinta doang mah," lanjutnya lagi.
Bukannya ciut Iyan malah tersenyum mendengar ucapan dari sahabat ayahnya ini.
Arya terdiam mendengarnya. Dia baru menyadari jika ucapannya sama seperti mendiang sahabatnya. Inilah yang akan seorang ayah lakukan jika anaknya dekat dengan seorang laki-laki.
Iyan menatap papa dari Beeya dengan intens dan serius. Dia mendekat ke arah Arya dan duduk tepat di hadapannya.
"Aku memang hanya seorang manager kafe yang gajinya tak seberapa. Berbeda dengan mantan tunangan anak Papa," ujarnya. Arya menatap tajam ke arah Iyan begitu juga Beby yang ingin tahu jawaban Iyan selanjutnya.
"Gaji manager kafe cuma cukup buat nyicil ponsel apel kegigit, mobil kecil, sama rumah minimalis."
Mata Arya melebar mendengarnya. Dia penasaran berapa gaji Iyan sesungguhnya di Moeda kafe.
Iyan mengeluarkan ponselnya. Dia baru ingat sang Abang baru saja mentransfer gajinya tadi sore. Dia menunjukkan bukti kiriman dari abangnya. Mata Arya melotot melihat gaji Iyan yang ternyata melebihi gaji pegawai kantor. Dua digit angka di depan yang Iyan terima.
Iyan juga mengeluarkan dompetnya. Dia mengeluarkan black card dari dompetnya tersebut. Hampir saja jantung Arya terlepas dari tempatnya. Kemudian, dia mengeluarkan kartu yang berwarna biru.
"Di dalam sini kurang lebih ada sekitar tiga ratus juta, uang tabungan aku sedari SD." Arya terkesiap mendengar ucapan dari Iyan.
Pemuda itu mengeluarkan kembali kartu yang berwarna gold. "Ini kurang lebih ada lima ratus juta. Jatah bulanan dari Kak Echa dari aku SD sampai SMA."
"Kalau ini, kurang lebih ada satu M. Ini hasil aku ikut tanam modal di kafe Bang Radit juga Kak Aska."
Arya benar-benar tercengang mendengar ucapan pemuda di depannya saat ini. Dia kira Iyan adalah anak yang monoton, ternyata jiwa bisnisnya melebihi ayahnya.
"Sedari SMP aku udah diajarin tanam modal sama Bang Radit. Aku ikutan dengan modal kecil dan Alhamdulillah sekarang menghasilkan uang yang cukup besar. Malah, dari hasil tanam modal itu aku sedang membuat kafe baru yang masih berkerja sama dengan Moeda kafe juga Jomblo's kafe."
Beby tersenyum bangga mendengar penuturan dari Iyan. Sedangkan Arya masih menganga tak percaya dengan perkataan pemuda di depannya.
"Papa jangan khawatir Kak Bee tidak akan kelaparan atau kebutuhannya tidak terpenuhi. Aku akan menjadikan Kak Bee ratu, dan akan menomor satukan Kak Bee dalam hidup aku."
Speechless, Arya benar-benar tak dapat berkata apapun. Iyan tidak hanya bermodal kata-kata manis saja, dia juga bermodalkan materi yang luar biasa. Apalagi ketika Iyan mengatakan pundi-pundi yang dia punya. Niat hati ingin membuat nyali Iyan ciut, malah Arya yang terkena mental. Pemuda di depannya ternyata Sultan.
"Oh iya, satu lagi. Aku udah membeli satu buah rumah masih satu komplek dengan rumah Kak Echa. Rumah yang tidak terlalu besar, tetapi nyaman. Sekarang sedang proses renovasi ulang."
Rumah di komplek perumahan Echa tidak ada rumah yang kecil. Rumah di sana mewah-mewah dan harganya pun fantastis. Sungguh Arya tidak bisa berkata apapun. Jantungnya hampir saja berhenti berdetak mendengar harta yang Iyan miliki. Diam-diam tenyata menghanyutkan.
"Aku tidak akan berani mengungkapkan perasaan aku ketika aku belum memiliki apa-apa, Pa. Abang Aksa pernah bilang, kalau ingin mengajak anak orang untuk berpacaran aku harus memiliki materi yang mempuni karena mengajak anak orang berkencan itu butuh modal. Bukan hanya motoran, nongkrong di pinggir jalan dan jajan gorengan."
...****************...
Komennya mana?