Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
35. Amarah Dan Emosi


Ketika Anggie menyudahi kesaksiannya, Echa yang sedari tadi tengah menahan emosi mendengarkan penuturan Anggie mulai beranjak dari ruang sidang. Dia beralasan unutuk ke kamar mandi. Ternyata diam-diam dia mengikuti Anggie dari belakang. Amarah dan emosinya sudah tidak tertahan. Tidak pernah dia semarah dan seemosi ini. Namun, kali ini hati dan tubuhnya dikuasai oleh api amarah yang sangat berkobar juga besar. Dia ingin membakar sosok Anggie dengan api amarah yang sudah menguasai hatinya.


Langkahnya terhenti ketika dia melihat Anggie masuk ke dalam toilet. Hati yang sudah dipenuhi emosi membuat Echa mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Dadanya turun-naik dengan begitu cepat.


Suara pintu kamar mandi terbuka dan mata Echa sudah melebar dengan sempurna. Menatap ke arah Anggie yang juga sangat terlihat terkejut dengan kehadiran Echa di depannya saat ini.


Plak!


Tangan Echa dengan sangat keras menampar wajah Anggie. Wanita yang selalu menyikapi permasalahan dengan pikiran jernih dan selalu bijak dalam mengambil keputusan, nyatanya dia hanya manusia biasa yang masih memiliki rasa marah di hatinya. Puncaknya sekarang ini. Dia sangat tidak terima dengan apa yang sudah Anggie katakan di depan hakim tadi.


"Apa kamu lupa dengan kebaikan Iyan juga kebaikan keluarga Iyan, hah?"


Suara Echa sudah sangat meninggi dengan penuh emosi. Sedangkan Anggie tidak bisa membalas apapun perkataan dari kakak Iyan tersebut.


"Apa perlu saya mem-flashback ulang bagaimana kehidupan kamu dan ibu kamu ketika kamu masih menjadi anak jalanan?" sentak Echa. "Apa kamu juga lupa siapa yang membiayai kepergian ibu kamu? Dari proses pemandian hingga penguburan, saya yang tanggung! Dan sampai saat ini biaya bulanan serta tahunan makam ibu kamu saya yang bayar!"


Echa mengungkit semuanya. Hatinya sudah terlalu sakit, maka dari itu dia melakukan hal ini. Menolong Anggie seperti menolong seekor anjiing yang terjepit. Setelah ditolong malah menggigit.


Ibu, sosok yang selalu membuat Anggie tak bisa berkata apa-apa. Selama ini dia juga sudah abai kepada makam ibunya. Tidak pernah berziarah walaupun hanya satu tahun sekali.


"Kamu mengatakan bahwa kamu hamil dan secara tidak langsung kamu menjelaskan bahwa anak yang ada di dalam perut kamu adalah anak dari Iyan 'kan." Echa sudah menarik tangan Anggie dengan cukup kasar.


Mata Anggie melebar mendengar ucapan dari Echa. "Bukankah usia kandungan kamu sudah siap untuk dilakukan pengambilan cairan amnion?" Mata Echa sudah memicing dengan sangat tajam.


Tubuh Anggie sudah bergetar hebat mendengar perkataan Echa. Wajahnya pun sudah memucat bak mayat. Pengambilan cairan plasenta tersebut bisa mengakibatkan permasalahan pada janin. Lebih parahnya bisa mengalami keguguran.


"Kalau itu terbukti anak dari adik saya, saya akan menganggap kamu sebagai adik ipar saya, tapi jika itu tidak terbukti." Echa menjeda ucapannya dan masih menatap Anggie dengan sangat tajam dan penuh dendam.


"Bukan hanya kamu yang sengsara, anak kamu pun akan lebih sengsara," tekan Echa. "Saya pastikan, tidak akan pernah ada kebahagiaan yang akan kamu dapatkan," tegasnya.


Echa bagai manusia kesetanan sekarang ini. Manusia yang tak banyak bicara dan selalu legowo dalam menerima cobaan apapun, kini malah sebaliknya. Ini membuktikan bahwa manusia yang selalu berlapang dada, tenyata masih memiliki dendam dan rasa sakit hati karena Echa bukan malaikat.


Terlalu sakit fitnahan yang harus Iyan terima membuat Echa pun harus menjadi wanita yang tangguh dan tak terkalahkan dalam hal ini. Bukan tanpa alasan, dia hanya ingin melindungi adik bungsunya ketika orang yang selalu melindungi mereka sudah tiada.


"Fitnahan kamu ini akan membawa kamu masuk ke dalam jeruji besi. Saya pastikan tidak akan ada orang yang mampu mengeluarkan kamu dari sana."


...****************...


Udah UP lagi, nih.


Coba atuh komen ... Pan sedih, nulis capek-capek gak ada yang komen.🤧