
Baca bab sebelumnya ya ...
Beberapa bulan berlalu ...
"Ayang, stok balon pengaman masih ada gak?"
Iyan yang sedang bergelut dengan pekerjaannya pun menghampiri sang istri. Dia menarik laci yang ada di samping tempat tidur.
"Itu baru Minggu kemarin beli loh, Yang. Masa udah abis aja," ujar Beeya. Iyan pun tertawa dan memeluk tubuh Beeya dari samping.
"Dalam satu malam 'kan kita bisa melakukannya lebih dari satu kali, Chagiya." Beeya malah ikut tertawa.
Dia menatap sang suami dengan tatapan penuh cinta. Merangkulkan tangannya di leher Iyan. Kemudian, mengecup bibir Iyan dengan singkat.
"Kapan ke dokter lagi?"
"Lusa," jawab Beeya. "Kenapa?"
"Gak enak pake balon mah." Beeya pun tertawa.
"Sabar ya, Ayang. Kemarin pas kontrol 'kan lagi abis pil-nya. Itu 'kan khusus." Iyan pun mengangguk.
"Sekarang, apa kita boleh melakukannya?"
"Tentu saja, Ayang. Sampai kamu puas."
Suara setan mulai terdengar. Keringat sudah bercucuran. Mereka terus berpacu hingga puncak tertinggi. Menyelami lautan kenikmatan yang tiada Tara. Walaupun sudah lima bulan menikah, tapi rasanya masih tetap sama seperti Iyan membobol gawang sang istri.
Bagaimana tidak, Beeya melakukan perawatan tubuh juga organ in-timnya dengan budget yang tak sedikit. Dia benar-benar ingin memuaskan sang suami tercinta. Iyan pernah berkata, "jangan melakukan tugas apapun di rumah. Cukup melakukan tugas di kamar bersama denganku dengan baik dan memuaskan."
Beeya jarang keluar kamar karena sehari-hari dia senang memakai baju mini juga celana mini. Apalagi jika mode usilnya hadir. Dia akan mengirimkan fotonya hanya dengan memakai lingerie kepada Iyan di siang bolong. Bagaimana Iyan betah di kantor? Jika, lebah cantik nan rese sering mengganggunya.
.
Undangan makan malam di kediaman Aksara untuk merayakan hari ulang tahun Gavin yang ke-13. Beeya dan Iyan sudah datang dengan memakai baju senada. Semakin hari wajah Beeya semakin berseri dan nampak cantik. Juga, dia tidak segan dan malu memperlihatkan kemesraan di depan keluarga suaminya.
Iyan terus mengusap lembut perut Beeya dan mengejeknya menggendut. Itu membuat Beeya merasa kesal, tapi Iyan malah semakin menjadi.
"Ayang!" Beeya menatap ke arah Iyan dan Iyan langsung memeluk tubuh mungil itu.
"Kalau gitu aku mau diet."
"Apaan? Gak boleh." Iyan mengeratkan pelukannya.
Arya, Aksa, Aska dan juga Radit tersenyum melihat kemesraan pengantin baru tersebut. Aura kebahagiaan mereka terlihat begitu jelas.
"Kok lama ya Beeya belum ngisi juga." Riana sudah membuka suara.
"Waktu Mamah Beby punya Beeya juga harus nunggu dua tahun dulu. Iya 'kan, Pah?" Arya pun mengangguk ketika sang istri berkata. Untuk memiliki Beeya penuh perjuangan. Biasanya hal itu akan menurun kepada anaknya.
"Tante resek mah sengaja nahan." Aleesa berkata sambil membawa es krim dalam cup. Ucapan anak itu membuat semua orang dewasa saling pandang.
"Tuh anak kalau ngomong suka asal, tapi suka bener." Orang dewasa di sana mengangguk setuju dengan ucapan Arya.
Kini, ada pertanyaan baru di kepala Arya. Apa benar Beeya dan Iyan menunda memiliki momongan?
Di lain kesempatan, masih dalam acara keluarga semuanya berkumpul. Mereka berbincang santai hingga ada pertanyaan yang membuat Beeya yang hendak minum tersedak.
"Kok kamu belum ngisi-ngisi sih, Bee?" Pertanyaan itu datang dari Echa, kakak Iyan.
"Pas Kak Echa mah gak nunggu lama langsung isi."
Iyan menggenggam tangan istrinya yang berada di bawah meja. Memberikan ketenangan kepada istrinya. Perihal menunda momongan hanya jadi rahasia Iyan dan Beeya saja. Keluarganya tidak ada yang tahu.
"Jangan ditunda-tunda loh. Anak itu rejeki dari Tuhan." Riana menimpali.
Wajah Beeya nampak berubah. Iyan semakin erat menggenggam tangan istrinya.
"Mungkin, Tuhan belum memberikannya kepada kita, Kak." Iyan membalas ucapan dari kedua kakaknya.
Sesampainya di rumah Beeya terduduk di tepian tempat tidur dengan kepala menunduk dalam. Iyan menghampirinya dan dia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Beeya.
"Chagiya," panggil Iyan. Dia sudah bersimpuh di depan Beeya. Memegang tangan Beeya dengan begitu erat.
"Jangan pikirkan apa yang kedua kakak aku ucapkan. Mereka tidak tahu bagaimana diri kamu. Jangan dengarkan omongan orang lain selagi aku menyetujui apa yang kamu inginkan."
Beeya memeluk tubuh Iyan. Suaminya benar-benar menjaganya dan memberikan kebahagiaan kepadanya.
.
Beeya datang ke kantor dan merengek ingin ikut ke Bandung. Iyan menghela napas kasar. Dia menghampiri sang istri yang sudah melipat kedua tangannya di atas dada.
"Iya, kamu ikut." Bibir Beeya pun melengkung dengan sempurna. Dia merangkulkan lengannya di leher Iyan.
"Aku gak mau bawa balon pengaman. Aku pengen keluarin di dalam." Beeya pun tertawa. Di pikiran Iyan jika tengah berdua bersamanya hanya balon pengaman saja.
"Iya. Setelah ngantor anter aku ke dokter Windi. Aku mau ambil pil KB aku yang katanya udah ada."
"Oke."
Dokter Windi adalah teman Beeya. Dia berptofesi sebagai dokter obgyn di salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Beeya selalu berkonsultasi dengan Windi perihal menunda kehamilan. Dokter muda itupun tak melarang. Dia memang menyarankan untuk menunda dulu sekitar satu tahun. Namun, balik lagi ke pasangan masing-masing.
Beeya terdiam seketika ketika dia melihat status pesan singkat sang ibunda. Rekama video bayi yang tengah mengoceh tak jelas dengan raut yang menggemaskan. Dia sedih ketika membaca caption yang dituliskan di sana.
"Kapan aku bisa menimang cucu seperti ini? Aku sudah tua, aku ingin menggendong cucuku sebelum ajalku tiba."
"Mamah." Beeya pun terisak.
Iyan yang tengah fokus pada pekerjaannya menoleh ke.arah sang istri yang sudah menitikan air mata.
"Chagiya, kamu kenapa?" Iyan segera menghampiri Beeya dan memeluk tubuhnya.
Caption sang ibu seperti menampar keras hati Beeya. Iyan memeluk tubuh istrinya.
"Chagiya,"
"Aku merasa bersalah banget sama Mamah." Iyan tidak mengerti dengan perkataan Beeya. Dia mengurai pelukannya dan Beeya menyerahkan ponselnya kepada Iyan.
Hembusan napas kasar keluar
dari mulut Iyan. Dia megusap lembut kepala Beeya. Dia pun yang hanya menantu sedih membaca caption yang Beby tuliskan.
"Yang menjalani ini semua 'kan kamu. Tidak perlu membahagiakan orang lain dan mengorbankan perasaan kamu demi membahagiakan mereka." Iyan benar-benar bijak. Dia tidak pernah menyudutkan Beeya sekalipun Beeya salah.
Iyan ingin menyembuhkan psikis istrinya secara perlahan. Dia sudah berjanji untuk membahagiakan Beeya bukan menyakitinya.
Setelah pekerjaan selesai, Iyan dan Beeya menuju rumah sakit di mana dokter Windi praktek. Mereka terus bergenggaman tangan. Banyak wanita yang melirik Iyan, dan dengan posesifnya Beeya merangkul lengan sang suami dan itu membuat Iyan tersenyum.
"Jangan senyum!"
"Kenapa?" tanya Iyan bingung.
"Senyum kamu sangat manis, nanti semut-semut nakal mengerumuni kamu." Iyan malah tertawa dan mencium gemas ujung kepala sang istri tercinta.
Dokter Windi sudah menberikan pil KB yang biasa Beeya konsumsi. Sepasang suami-istri pun segera pergi. Dokter Windi menghembuskan napas kasar.
"Maafkan gua, Bee," gumam Windi.
Dokter Windi segera meraih ponselnya yang berada di jas kebesarannya. Dia mencari nomor seseorang dan menghubunginya.
"Sudah diambil oleh Beeya."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...