Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
140. Normal


"Kamu hamilin aku aja."


Iyan tak segan menyentil kening Beeya. Sungguh tunangannya ini sangat gila. Bukan restu yang Iyan kantongi. Melainkan bogem mentah yang akan mengantarkannya ke dalam liang lahat. Sungguh dia tidak mau melihat Beeya menjadi janda kembang. Sudah pasti banyak kumbang jantan yang hinggap.


"Pikiran kamu itu," omel Iyan. Beeya hanya menunjukkan cengiran khasnya.


Terlihat dua anak manusia ini menyandarkan tubuhnya sembari menghembuskan napas penuh kelegaan. Mereka benar-benar dibuat sport jantung.


"Mau dilanjut lagi gak, Yang?" Sungguh Iyan berdecak kesal dan mencubit gemas pipi Beeya.


"Aku mau mandi." Iyan berlalu begitu saja. Beeya pun tergelak. Lucu ternyata mengerjai Iyan. Dia pun hampir kelepasan tadi. Ditambah di balik celana Iyan ada yang mulai mendesak.


"Ternyata tuh anak normal," gumam Beeya seraya tertawa. Wanita itu memilih menikmati makanan yang dia pesan. Namun, rasanya sudah tidak enak dan membuat Beeya meletakkannya kembali. Beeya malah memainkan ponsel milik Iyan. Mencari makanan juga jajanan yang dekat dengan hotel. Dia rindu kulineran malam. Selama Iyan tak ada bersamanya Beeya hanya menghabiskan waktu di dalam rumah.


Iyan mematung di depan cermin kamar mandi. Dia menghela napas kasar melihat sesuatu yang masih sedikit menegang.


"Sabar ya, junior." Tangannya mengusap lembut kepala jamur itu. "Sah-kan dulu. Barulah kamu bisa bermain-main di goa itu."


Benar yang dikatakan oleh Iyan. Dia itu tidak sealim yang orang kira. Dia adalah pria normal. Namun, normalnya hanya pada sosok Beeya. Lebah cantik yang memiliki sengatan yang luar biasa. Mampu membuatnya menjadi pria agresif.


Iyan melihat lehernya. Lipstik yang Beeya berikan tadi pagi masih menempel awet di lehernya. Iyan hanya tersenyum. Jika, itu bekas gigitan nakal Beeya pasti dia akan sangat bahagia. Pikiran kotor memutari kepalanya. Dia pun menyiram kepalanya dengan air dingin. Tidak ingin dia melepas keperjakaannya dengan tangannya. Dia ingin tangan, mulut atau goa sang tunanganlah yang merenggut keperjakaannya.


Iyan terus menggosok lehernya. Namun, lipstik itu tak mau hilang. Malah lehernya yang merah. Iyan pun kesal sendiri. Dia membiarkannya saja dan keluar kamar mandi hanya mengenakan celana boxer hitam.


"Chagiya."


Aroma mint meyengat di hidung. Beeya yang tengah fokus pada benda pipih Iyan menoleh ke asal suara. Dia terpana melihat Iyan bertelan-jang dada. Kulit putih bersih dan berotot membuat mata Beeya tak bisa berkedip. Dia juga menelan salivanya ketika melihat rambut Iyan yang masih basah.


"Chagiya." Iyan memanggilnya lagi. Tangan Iyan pun menyentuh leher putih yang ada lipstiknya.


Beeya terperangah dan dia tidak tahu maksud Iyan apa. Namun, tangan itu terus menyentuh leher. Beeya pun bangkit dari duduknya dan menyuruh Iyan untuk sedikit membungkuk. Beeya malah menghiesap leher Iyan dan membuat pemuda itu menjauhkan kepala Beeya dengan kasar.


"Ih, gimana sih, Yang." Beeya marah-marah sendiri. "Itu coepangannya belum jadi."


"Aku kira apa," jawabnya dengan cengengesan.


"Tolong hapusin." Beeya mengangguk. Dia mengambil dompet kosmetik. Mengambil micellar water untuk menghapus lipstik matte yang menempel di leher Iyan.


"Itu lipstik apa cat tembok?" Dasar para pria buta kosmetik. Lipstik mahal disangka cat tembok.


"Itu lipstik mahal, Ayang." Beeya gemas sendiri sambil menuangkan micellar water ke atas kapas.


Baru saja menempelkan kapas tersebut di leher Iyan, ponsel sang tunangan berdering. Beeya ingin membatalkan penghapusan lipstik itu. Namun, Iyan tidak membolehkannya.


"Kamu abis ngapain?" Suara sang kakak kedua terdengar. Beeya pun ikut menoleh dan mata Riana melebar ketika melihat Iyan bertelan-jang dada juga Beeya yang dekat dengan leher Iyan. Samar terlihat tanda merah di leher adiknya.


"Kalian habis ngapain?" Teriakan terdengar memekik gendang telinga. Iyan dan Beeya saling pandang. Namun, seketika Beeya menutup mulutnya dan berlari mejauhi Iyan.


"Huek!"


Iyan segera berlari ketika mendengar tunangannya muntah-muntah. Masuk ke dalam kamar mandi yang tidak Beeya kunci.


"Kamu kenapa?" tanya Iyan begitu khawatir. Membantu tunangannya dengan memijat tengkuk leher.


Beeya pun segera merubuhkan tubuhnya ke dada bidang Iyan. Iyan mencium puncak kepala Beeya dengan rasa kasihan.


"Ayang, kamu 'kan cuma remhas te-te aku doang yang masih dibungkus beha. Masa iya bisa langsung hamil."


"RIAN DWIPUTRA JUANDA!"


"ABEEYA BHASKARA!"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...