
Sudah seminggu ini Iyan fokus pada pekerjaannya. Dia rela pulang malam demi menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi sang Abang memamerkan foto sang kekasih yang terlihat semakin cantik. Tenyata Radit mampir sebentar ke rumah Arina yang berada di Bali.
"Tiga hari lagi kudu selesai," gumamnya dengan penuh keyakinan.
Sungguh dia tidak bisa menahan rasa rindu yang setiap hari semakin menjadi. Walaupun sudah berbincang melalui sambungan video, tetapi vibes-nya berbeda. Apalagi kekasihnya selalu mengatakan bahwa dia sangat merindukan Iyan. Setiap malam untuk menemani dia tidur, Beeya memeluk ataupun memakai jaket Iyan. Itulah yang membuat Iyan semakin berat.
Jam dua belas malam dia baru pulang dari kafe dan dahinya mengkerut ketika melihat ada sebuah motor yang cukup dia kenali terparkir di depan gerbang rumahnya. Dia mengklakson orang itu yang tengah duduk di trotoar jalan. Laki-laki itupu berdiri dan tersenyum ke arahnya.
"Ngapain di sini?" tanya Iyan.
"Dari tadi aku nunggu Aleesa, Om."
Laki-laki itu adalah Yansen. Iyan melihat ke arah dua makhluk yang tengah duduk bersama Yansen di depan pagar rumah Iyan.
"Jam segini Aleesa udah tidur." Yansen pun mengangguk. Dia menatap penuh harap kepada om dari Aleesa.
"Aku nunggu, Om."
Dahi Iyan mengkerut mendengar ucapan dari Yansen. Dia mengajak Yansen masuk, tetapi laki-laki itu menggeleng. Iyan pun tertawa.
"Dua hantu bungkus permen itu yang larang kamu," tebak Iyan.
Yansen pun mengangguk. Iyan hanya menggelengkan kepala. Dia salut kepada keponakannya itu. Bisa mengendalikan makhluk tak kasat mata hingga menurut kepada ucapan Aleesa. Kedua lontong putih seperti anjieng penjaga.
"Biar aku yang bilang sama mereka berdua."
Sejenak Yansen terdiam. Dia menimbang-nimbang tawaran dari Iyan.
"Ada yang mau aku obrolin juga," ucap Iyan lagi agar teman dari keponakannya itu mau masuk.
Iyan masih berbicara sopan kepada Yansen. Tidak seperti Aksa dan Aska yang akan berbicara bagai teman dekat. Akhirnya, Yansen pun menyetujui tawaran Iyan.
Benar saja, tatapan dua hantu bungkus permen sudah sangat tidak bersahabat. Matanya sudah menunjukkan ketidaksukaan.
"Ini aku yang bawa," ujar Iyan kepada om poci dan anteu pocita. Akhirnya kepala dua hantu bungkus permen itupun mengangguk.
Iyan mengajak Yansen duduk di anak tangga teras rumahnya. Di samping Iyan om poci ikut duduk. Juga anteu pocita yang duduk di samping Yansen.
"Apa kalian ada masalah?" Iyan Tidak ingin berbasa-basi. Yansen hanya menundukkan kepalanya.
"Om pasti udah tahu," jawab lemah Yansen. "Aleesa pasti udah cerita sama Om."
Iyan pun tersenyum dan menepuk lembut pundak Yansen. Dia menatap laki-laki yang semakin hari semakin tampan.
"Apa kamu akan menyatukan perbedaan itu?" tanya Iyan. Yansen hanya terdiam. Dia tidak berani menatap wajah Iyan.
"Aku sangat yakin, pasti kamu juga memiliki pertanyaan yang sama 'kan," tebak Iyan. Dia bisa menebak apa yang hati Yansen katakan.
"Mengubah keyakinan demi cinta kepada seseorang itu bukan jalan yang dibenarkan. Ubahlah keyakinan kamu karena memang kamu mencintai Tuhannya. Bukan karena mencintai makhluk ciptaan-Nya."
Perkataan Iyan sama percis dengan apa yang dikatakan oleh ayah dari Aleesa. Kalimat sederhana, tetapi mengandung arti yang luar biasa.
Iyan menghembuskan napas kasar. Dia menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang juga bulan.
"Aleesa nyaman sama kamu," terang Iyan.
Yansen segera menoleh ke arah Iyan. Dia menatap penuh tanya ke arah pria yang dia akui sangat tampan dan cool.
Yansen pun tersenyum dengan raut sendu. "Aku tahu itu, Om. Tante Echa dan Om Radit sudah bicara langsung sama aku," papar Yansen.
"Sebelum aku meminta jawaban lagi kepada Aleesa, aku bilang semuanya kepada kedua orang tua Aleesa."
Iyan tersenyum bangga kepada laki-laki yang ada di sampingnya itu. Sungguh gentle sekali.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan Aleesa kepadaku," lanjutnya. "Walaupun aku ditolak, aku gak akan meninggalkan dia. Aku akan menjaga dia hingga dia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya."
Anteu pocita sudah menahan ingus mendengar ucapan dari Yansen. Makhluk tak terlihat itupun merasakan ketulusan cinta yang Yansen miliki untuk Aleesa.
"Dari kecil aku sadar, aku emang gak akan pernah bisa bersatu sama Aleesa. Aku hanya ingin terus bersama Aleesa, menjadi teman dalam segala hal. Selalu menemani dia di kala suka maupun duka. Aleesa adalah orang yang tulus, dan aku juga ingin membalas ketulusannya dengan ketulusan yang aku miliki."
Mata Yansen berkaca-kaca ketika mengatakan itu semua. Senyumnya terpaksa dia angkat dan Iyan melihat ada gurat kesedihan yang ada di wajahnya.
"Nanti akan aku bantu sampaikan kepada Aleesa." Yansen pun mengangguk.
"Untuk sekarang biarkan dia sendiri dulu. Aleesa bukan anak yang suka dipaksa."
Iyan sangat tahu bagaimana watak Aleesa sesungguhnya. Dia sangat dekat dengan Aleesa karena mereka berdua memiliki kesamaan. Banyak yang sering mereka bicarakan.
Yansen pun merasa lega. Dia memilih untuk pulang. Dia yakin, Aleesa akan mendengar apa yang dikatakan oleh Iyan.
.
Masih pagi Iyan sudah mengetuk pintu kamar Aleesa. Kamar Aleesa terpisah sendiri sedangkan Aleena dan Aleeya menyatu.
"Ada apa?" tanya Aleesa yang tengah mengeringkan rambut.
"Semalam di Sensen nungguin kamu sampe tengah malam."
Iyan sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Aleesa. Sesungguhnya dia masih mengantuk. Sekarang pun dia tengah melakukan sambungan video bersama Beeya.
Terdengar hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aleesa. Iyan pun menoleh ke arah keponakannya itu.
"Dia hanya ingin meminta jawaban dari kamu," ujar Iyan. Aleesa pun hanya terdiam.
"Apapun jawaban dari kamu, dia tidak akan pernah meninggalkan kamu."
Ada rasa tidak percaya mendengar ucapan dari om kecil itu. Aleesa terdiam sejenak dan tak lama dia memutar tubuhnya menatap sang om tengah menatapnya juga.
"Dia hanya ingin tahu perasaan kamu ke dia seperti apa. Sebelumnya, dia sudah berbicara sama Bubu dan Baba kamu. Dia itu laki-laki gentle," ungkap Iyan.
"Percaya sama aku, dia akan tetap ada di samping kamu dan menemani kamu walaupun kamu menolaknya. Belajarlah jujur dengan perasaan kamu, belajar juga menerima kenyataan pahit yang ada. Benteng itu tidak akan pernah bisa kamu dan Yansen robohkan karena keyakinan kalian berdua amatlah kuat."
Aleesa tidak berkata-kata ketika mendengar omnya berbicara seperti itu. Dia juga melihat jika Iyan memang mengatakan hal yang sebenarnya. Bukan mengada-ada. Iyan dapat melihat bibir keponakannya melengkung sedikit.
"Jawab hari ini juga," titah Iyan yang sudah hendak pergi dari kamar Aleesa.
"Takutnya dia gila doang, semalam dia malah curhat sama hantu budeg dan hantu gagu di depan. Takut kebablasan doang."
...****************...
Komen atuh ...