Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
a


Beeya terbangun dengan wajah yang bingung. Dia terdiam sejenak. Masih memikirkan mimpinya.


"Ada apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Beeya memilih mengirim pesan kepada sang suami. Namun, pesannya belum juga dibalas menandakan bahwa Iyan memang tengah sibuk. Beeya hanya terdiam dengan pikiran yang berkelana.


"Menitipkan kebahagiaan?" Beeya juga mengingat jika di mimpinya sang ayah mengusap lembut perutnya. Mata Beeya pun melebar.


"Ya Tuhan!" pekiknya. "Jangan sampe!" Dia pun berbicara sendiri, dan langsung mencari pil mujarab. Takut-takut dia lupa membawanya. Benar saja, tidak ada pil penunda kehamilan miliknya di sana. Begitu juga dengan balon yang biasa sang suami gunakan.


"Mampoes!"


Tangan Beeya segera mengetikkan sesuatu. Dia meminta sang suami untuk membeli balon pengaman. Dia juga menghubungi dokter Windi untuk dikirimkan pil mujarab tersebut.


"Enggak bisa dadakan begini, Bee. Punya kamu 'kan beda dari yang lain." Beeya frustasi, dia berharap sang suami tidak lupa membelinya.


"Masa iya honeymoon gua gagal." Dia geram sendiri. "Pasti Iyan bakal ngambek empat puluh hari empat puluh malam," gerutunya.


Beeya duduk di tepian tempat tidur. Dia masih mengingat-ingat perihal pil mujarab dan juga balon.


"Udah gua masukin. Balonnya pun udah gua masukin. Masa digondol tuyul," gumamnya. "Eh, sejak kapan tuyul doyan begituan." Beeya bagai orang bodoh.


Pusing memikirkan hal itu membuat Beeya memilih untuk mandi. Air di sana bagai diberi es batu, menusuk tulang. Selesai membersihkan tubuh, dia langsung mengambil ponselnya dan sang suami sudah menghubunginya sebanyak dua kali. Ketika Beeya telepon balik, tidak dijawab oleh Iyan.


Setengah jam berlalu, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


"Aku pulang larut, Chagiya. Kalau belum tutup aku beli, ya. Untuk makan kamu udah aku pesenin. Nanti ada office girl yang akan nganterin makanan ke kamar."


Beeya menghela napas kasar. Dia hanya menjawab satu kata, iya. Tangannya mulai masuk ke mesin pencarian. Dia mencari perihal risiko jika tidak mengkonsumsi pil KB selama satu malam. Semua artikel mengatakan tidak apa-apa. Itu membuat Beeya lega. Dia bisa memuaskan fantasi suaminya.


Ucapan Iyan tidak mengada-ada. Dia benar-benar pulang larut di mana dirinya sudah sangat mengantuk.


"Malam banget." Mata Iyan melebar ketika melihat dirinya disambut oleh istrinya yang sangat seksi. Dia hanya menelan salivanya.


"Aku lelah, Chagiya." Namun, Beeya sudah merangkulkan kedua lengannya ke leher Iyan dan membuat Iyan tidak tahan. Sungguh mereka lupa dengan apa yang belum Iyan pakai dan juga Beeya minum. Udara dingin membuat Iyan dan Beeya merasa haus dan terus mengarungi lautan kenikmatan tanpa jeda. Berkali-kali mereka melenguh panjang, tapi tak membuat bierahie mereka padam. Mereka semakin menjadi dan melakukannya di berbagai tempat hingga susu kental manis berceceran di lantai saking nikmatnya.


Menjelang subuh barulah mereka terlelap. Untungnya meeting Iyan kali ini terjadi di sore hari. Jadi, dia bisa tidur sepuasnya bersama sang istri.


Setelah bangun tidur mereka pun melakukannya lagi dan membuat tempat tidur sangat berantakan. Apalagi Iyan yang tak memberi ampun karena dia merasa kue apem Beeya semakin ke sini semakin legit dan membuatnya tak ingin berhenti.


"Ahh!!"


Sama halnya dengan Beeya, sodokan tongkat baseball mini Iyan pun teraa mengaduk-aduk. Menginginkannya untuk memuntahkan cairan kenikmatannya. Menjelang makan siang mereka baru selesai.


"Makasih, Chagiya." Iyan mengecup kening Beeya dnevan begitu dalam dan lembut.


Sore ini, Beeya ikut bersama Iyan menghadiri meeting. Beeya tidak kan mengganggu karena dia sudah dipesankan tempat private oleh Iyan di restoran di mana Iyan meeting.


Setelah selesai, dia masuk ke ruangan private di mana sang istri sudah duduk manis dengan ponsel di tangan. Iyan memeluk tubuh Beeya dari belakang dan mengecup ujung kepala sang istri.


"Maaf ya, lama." Beeya hanya tersenyum.


Wajah Beeya nampak terlihat murung membuat Iyan sedikit cemas. "Kamu kenapa?" Iyan sudah duduk di samping Beeya dan menggenggam tangannya.


"Ayang, kemarin siang aku mimpi bertemu dengan Ayah."


Iyan terdiam. Rindunya kepada sang ayah hadir kembali. Apalagi mendengar Beeya didatangi mendiang ayahnya membuat rasa iri hadir di hati Iyan.


"Kenapa Ayah tidak datang ke mimpi Iyan?" Begitulah batinnya berkata.


"Ayang, Ayah bilang ke aku kalau Ayah menitipkan kebahagiaan kepada kita." Dahi Iyan lun mengkerut mendengarnya. "Tapi, Ayah hanya mengusap lembut perut aku."


Deg.


"Apa jangan-jangan Beeya hamil?" Begitulah pertanyaan dalam batinnya. Iyan langsung menyentuh perut Beeya dan dia tidak melihat apapun membuat hatinya lega.


"Loh, kenapa kamu juga memegang perut aku?" Iyan hanya tersenyum.


"Ihh!" Beeya kesal sendiri dan menekuk wajahnya hingga Iyan tergelak.


"Bercanda, Chagiya." Iyan memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat. Mencium pipinya berkali-kali.


.


Sebulan setelah pulang dari Bandung, tubuh Beeya bagai tak bertulang. Nafsu makan pun berkurang. Sudah dua hari ini dia seperti ini. Namun, dia tidak bilang kepada suaminya. Dia tidak mau Iyan khawatir dan cemas.


"Non, makan dulu." Asisten rumah tangga sudah mengetuk pintu kamar Beeya.


Terpaksa Beeya turun dari tempat tidur dengan tubuh yang begitu lemas. Wajahnya pun nampak pucat dan membuat asisten rumah tangga itu terkejut.


"Non, sakit?" Beeya hanya tersenyum dan menyuruh asisten rumah tangga itu meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas.


"Saya telepon Mas Iyan, ya."


"Jangan, Mbak," cegah Beeya. "Saya hanya kelelahan."


Asisten rumah tangga itu merasa khawatir dengan Beeya. Dia menawarkan diri untuk memijat Beeya, tapi Beeya menolak. Dia bukanlah orang yang mudah disentuh oleh orang lain, kecuali kedua ornag tuanya dan juga suaminya. Traumanya belum sembuh sepenuhnya.


"Saya mau istirahat saja, Mbak." Begitulah katanya.


Setelah asisten rumah tangga itu keluar, Beeya malah enek melihat makanan yang dihidangkan. Melihat nasi bagai belatung.


"Kenapa dengan aku ini?" gumamnya.


Satu jam.


Dua jam.


Beeya masih bertahan engan rasa lemas yang tidak terkira. Hingga dia mulai menyerah dan memilih mengirimkan pesan saja kepada sang suami tercinta.


"Ayang, aku mau ke rumah Mamah, ya. Badan aku gak enak banget. Aku pengen dipijat dan dikerok sama Mamah. Tangan Mamah biasanya mujarab."


Iyan yang memang benar-benar sibuk baru membaca pesan tersebut satu jam kemudian. Matanya melebar dan ia langsung menghubungi Beeya. Sang istri sudah berada di kursi penumpang dengan wajah yang sangat tak bergairah. Menjawab panggilan telepon pun rasanya dia tidak mampu.


"Iya, Ayang."


"Kamu di mana?" Perkataan Iyan terdengar sanahu cemas.


"Di jalan, sebentar lagi juga sampai."


"Kita ke rumah sakit aja, ya."


"Enggak usah, Ayang. Nanti kamu pulang kerja jemput aku di rumah Mamah, ya. Jangan cemasin aku, aku gak apa-apa kok. Hanya kurang istirahat aja, selalu diganggu kamu." Beeya masih mencoba untuk bercanda.


Tibanya di rumah, Beby sangat terkejut ketika melihat Beeya yang snagat pucat dan hampir pingsan.


"Bee!" Untung saja Beby masih bisa menopang tubuh Beeya.


"Mah, tolong kerokin. Bee gak kuat banget. Sama tolong pijitin."


Beby membawa Beeya ke kamar tamu saja karena dia tahu putrinya pasti tidak akan sanggup naik ke lantai atas. Ketika Beby mengambil minyak angin dan juga baby oil, kebetulan Arya baru datang dari A&R bakery.


"Itu buat apa, Mah?" tanya Arya.


"Anak kita sakit, Pah. Minya dikerok sama dipijit."


"Jangan dipijit, Mah." Larangan Arya membuat Beby terheran-heran.


"Loh, kenapa?"


"Jangan!" Hanya kata itu yang terucap.


***To Be Continue***