Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
145. Pusing 7 Keliling


.... DUA MINGGU LAGI."


Tubuh Iyan menegang mendengar perkataan dari calon ayah mertuanya. Begitu juga dengan Beeya. Dua anak manusia itu hanya saling tatap dengan mimik wajah tak ada bahagianya sama sekali.


"Tapi, Pah-"


"Dua Minggu lagi atau tidak sama sekali." Sangat terkejutlah mereka berdua. Sungguh ucapan Arya sepertI ancaman.


"Kak-" Iyan meminta bantuan kepada kedua kakaknya.


"Semuanya ada di kamu sekarang. Lanjut atau-"


"Gak dua Minggu juga, Kak." Iyan terlihat frustasi.


"Itu udah menjadi keputusan final Papah," sahut Riana.


"Tabungan Iyan belum cukup, Kak. Masa iya istri Iyan cuma makan sama garam setelah menikah."


"Makan pake garam rasanya gimana? Emang enak?" Di saat tegang seperti ini Beeya malah bertanya hal bodoh. Semua orang pun tertawa dibuatnya. Sedangkan Iyan menatap tajam ke arah sang tunangan. Seketika Beeya segera menunduk. Dia seperti anak kucing penurut.


"Itu urusan kamu. Pokonya Papah tunggu dua Minggu lagi." Tegas, jelas dan singkat. Tangan Iyan pun terlepas begitu saja dari genggaman Beeya. Sungguh dia dibuat pusing jadinya.


"Papah tunggu kamu menjabat tangan Papah di depan penghulu." Tepukan di pundak membuat Iyan semakin pusing. Kepalanya seperti tengah menaiki kincir aingin yang berputar dengan sangat cepat.


"Kita pulang, Bee." Arya sudah menarik tangan Beeya.


"Tapi, Pah-" Pelototan dari Arya membuat Beeya akhirnya mau ikut pulang. Dia menatap wajah tunangannya yang terlihat depresi sekali.


"Ayang, aku pulang dulu, ya."


Dalam kondisi seperti ini masih sempatnya Beeya mencuri kecupan di pipi Iyan. Semua orang berdecak kesal terutama si triplets yang berteriak kompak.


Langkah Iyan gontai menghampiri keluarganya yang ternyata sudah berkumpul sedari tadi. Dia manyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan lengan yang menutup mata.


"Apa mau batal saja?".


Iyan segera melepaskan lengannya. Dia menatap tajam ke arah sang kakak yang seperti orang tak bersalah.


"Enggak, Kak. Iyan akan tetap menikahi Beeya."


"Katanya tabungan kamu belum cukup?" sergah Radit.


"Iyan mau nyari duit dengan cara cepat, Bang."


"Caranya?" tantang Aksara.


"Mau nyuruh si kerdil kerja sama bareng si bedul buat modal nikah." Iyan pun beranjak dari sana dan membuat semua orang terbahak.


.


Semalaman ini Iyan tidak dapat memejamkan mata. Dia hanya duduk di depan jendela kamar dengan memandangi langit yang penuh dengan bintang.


"Dua Minggu."


Dua kata itu yang tengah berputar di kepalanya. Waktu yang teramat singkat. Itulah yang membuat Iyan pusing tujuh keliling. Di depannya sudah ada beberapa buku tabungan. Dia melihat isi saldo masing-masing. Walaupun angka nol di belakangnya banyak, tetap saja itu belum cukup.


"Iyan harus bagaimana, Ayah?" Di saat seperti ini dia akan memanggil ayahnya. Ada kesedihan yang menjalar di hati.


"Andai Ayah masih ada, mungkin Iyan akan menemukan jalan keluar. Iyan tidak ingin membebani Kak Echa dan juga Kak Ri." Sebuah keluhan yang keluar dari mulut pemuda berhidung mancung.


Iyan hanya bisa menatap langit malam ini. Bingung, itulah yang tengah Iyan rasakan. Suara pintu terbuka terdengar. Kamar yang memang sengaja dibuat temaram membuat orang yang baru saja masuk menghidupkan lampu. Adiknya tengah duduk di kursi panjang yang ada di depan jendela.


"Kenapa?" Echa menghampiri Iyan. Mengusap lembut rambut hitam sang adik.


"Iyan bingung, Kak."


Baru kali ini Echa mendengar keluhan Iyan. Dia benar-benar merasa pusing dengan pernikahan dadakan yang harus dilaksanakan.


"Kamu jangan khawatir perihal uang." Bukannya senang Iyan malah menggelengkan kepalanya dengan cukup kencang.


Echa tersnyum. Dia menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Iyan. Adiknya pun meras bingung. Dia sama sekali tidak ingin menerimanya.


"Itu ATM Ayah."


Tubuh Iyan membeku mendengarnya. Mata Echa sudah berkaca-kaca. Jika, setiap menyebut ayah mereka, mereka berdua akan menjadi manusia rapuh.


"Simpan aja, Kak." Lagi-lagi Iyan menolaknya. Namun, kali ini Echa memaksa. Dia menarik tangan Iyan dan menyerahkan kartu itu.


"Kak-"


"Tadi siang pengacara Ayah bertemu dengan Kakak juga Kak Ri. Beliau menyerahkan ini kepada Kakak." Echa menyerahkan selembar surat yang ditulis tangan oleh ayahnya sendiri.


Iyan menggelengkan kepala ketika membaca itu. Dia tidak menyangka dengan apa yang ayahnya lakukan selama ini.


"Itu alasan kenapa Ayah jarang menggunakan kartu ATM. Ayah benar-benar menyimpannya. Itu Ayah lakukan untuk kamu terutama."


"Seratus M," ucap Iyan tak percaya.


"Kakak sudah mengeceknya. Memang isi saldo di ATM itu segitu."


"Pakailah uang itu, Yan." Suara kakak kedua terdengar. Riana masuk ke dalam kamar Iyan. Bergabung bersama kakak dan adiknya.


"Tapi, itu bukan cuma buat Iyan. Ada hak Kak Ri juga Kak Echa," tuturnya.


"Kak Ri dan Kak Echa sudah sepakat untuk menyerahkan kartu itu kepada kamu. Bang Aksa juga Kak Radit pun sudah tahu akan hal ini. Mereka berdua tidak mempermasalahkan."


"Kami hanya ingin melihat kamu bahagia. Kebahagiaan kami adalah kebahagiaan Ayah juga. Sekarang, Ayah sudah menyerahkan tugasnya kepada Kak Echa dan Kak Ri untuk menjadi wali kamu." Echa berkata dengan suara yang bergetar. Riana segera memeluk tubuh sang kakak. Iyan pun ikut memeluk tubuh kedua kakaknya. Dua orang yang tulus menjaga Iyan.


.


Pagi harinya Iyan dikejutkan karena sang lebah cantik sudah mengenakan tunik berwarna putih. Juga celana panjang berwarna putih. Tersemat pula kerudung pashmina di atas kepala dengan kedua sisi disampirkan ke bagian kanan dan kiri.


"Bangun dong, Ayang." Beeya sudah memberikan kecupan selamat pagi di kening Iyan. Bukannya bangun, pemuda itu malah memeluk pinggang Beeya.


"Bangun, Yang. Semuanya sudah menunggu kita di bawah." Iyan memundurkan wajahnya. Menatap wajah sang tunangan dengan penuh tanya.


"Kita mau ke makam Ayah." Beeya berkata dnegan teramat pelan. Dia tidak ingin membuat Iyan bersedih. "Meminta ijin kepada Ayah juga meminta restu kepada Ayah yangs sudah bahagia di surga sana." Iyan pun bangkit dari posisi tidurannya. Dia malah ikut terduduk di tepian tempat tidur.


Beeya meraih tangan Iyan. Dia menatap wajah tunangannya dengan teramat dalam. Sebuah kecupan di bibir Beeya berikan. Ditambah senyuman hangat yang Beeya ukirkan.


"Udah gede jangan cengeng," kelakar Beeya. Iyan pun malah tertawa. Dia berbalik mengecup kening Beeya.


"Aku mandi dulu, ya."


Beeya dengan setia menunggu sang tunangan selesai mandi. Membantu Iyan memakai baju Koko yang senada dengan pakaian yang dia gunakan.


"Masha Allah Soleh banget calon imamku." Iyan tersnyum dan memeluk tubuh mungil Beeya.


"Calon ibu dari anak-anakku juga cantik sekali." Beeya tertawa lebar dan membalas pelukan Iyan.


"Woiy! Kagak usah ngebucin Bae!" bentak Aleesa di ambang pintu. "Ditungguin noh di bawah."


.


Iyan ikut bersama calon ayah mertuanya. Mereka berdua duduk di kursi penumpang paling belakang. Terlihat Beeya yang terus bergelayut manja di lengan Iyan. Tibanya di pemakaman, mereka semua berjalan beriringan. Sebuah pemakaman yang teramat terawat bernisankan Rion Juanda sudah ada di depan mereka. Ada hati yang teriris di sana. Setiap kali menapakkan kaki di sana, rasa kehilangan mencuat kembali.


"Assalamualaikum, Ayah."


Tidak ada satu orang pun yang membuka suara. Mereka masih tertunduk dalam dengan kacamata yang mereka gunakan untuk menutupi air mata mereka.


"Engkong." Agha atau Empin nama panggilan orang terdekatnya mengusap lembut nisan sang kakek.


"Mas rindu dengan slogan Engkong. Pelit pangkal tajir."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...