Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
86. Ombak


Iyan tersenyum ketika Beeya memeluk tubuhnya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Beeya, tetapi sikap Beeya ini sudah menjadi jawaban dari perkataannya tadi. Beeya bukanlah orang yang akan menjawab dengan kata ataupun kalimat. Dia menjawab dengan sebuah sikap yang nyata. Tangan Iyan membalas erat pelukan Beeya.


"Aku sangat mencintai kamu."


Kalimat yang selalu membuat Beeya terharu. Kalimat yang datangnya tulus dari dalam hati. Tidak ada kedustaan yang Iyan ucapkan.


Pantai adalah tempat di mana Beeya ingin menghabiskan waktu bersama sang pujaan hati. Beeya sudah mengenakan celana pendek juga kaos oversize. Rambutnya yang dibiarkan tergerai membuat angin meniupnya dengan cukup kencang dan itu terlihat lucu di mata Iyan.


Iyan tertawa ketika melihat Beeya yang sangat ceria. Bermain pasir putih yang sering tersapu oleh ombak.


"Pacar! Sini!"


Beeya tahu Iyan adalah anak yang tidak suka pantai. Namun, karena permintaan sang pacar akhirnya dia mau pergi ke tempat di mana banyak orang yang akan datang ketika menjelang malam untuk melihat senja.


Iyan menghampiri Beeya dan wajah Beeya pun terlihat sangat sumringah. Beeya mengajak Iyan ke tepian pantai untuk merasakan air laut yang menerjang punggung kakinya.


Jika, ke pantai dia teringat akan satu hal. Diabaikan dan ditinggal sendirian. Situlah yang mampu dia ingat. Ketika kakaknya, yakni Riana diajak main pasir sedangkan Iyan ditinggalkan begitu saja di tepian pantai. Ketika Iyan mendekat dan ingin bermain dengan sang kakak. Ibundanya akan marah dan segera mengusir Iyan dengan cara mendorongnya. Iyan masih sangat ingat sekali kejadian itu.


"Ini sangat menyenangkan," ucap Beeya seraya tertawa bahagia. Beda halnya dengan Iyan yang masih terdiam.


Sapuan ombak kecil ini hampir membawanya menuju tengah pantai. Itulah yang kini berputar di kepalanya. Tangan anak itu melambai-lambai. Seakan meminta pertolongan. Jika, tidak ada Jojo dia pasti sudah mati. Sang ibu terlalu sibuk dengan anak perempuannya dan sang ayah tengah melakukan pertemuan di salah satu resort yang berada di dekat pantai.


Nyawa Iyan tertolong, tapi hatinya terluka sangat dalam. Inilah alasan kenapa dia membenci pantai. Banyak luka yang ditorehkan di tempat ini. Sama halnya dengan Jojo yang tidak pernah mau ikut jika pergi ke pantai.


"Aku tidak ingin melihat kamu sedih ketika melihat ombak itu kembali ke tengah."


"Pacar," panggil Beeya. Iyan masih termenung. Sorot matanya terlihat penuh luka.


"Hei!" Beeya sudah menggerakkan lengan Iyan hingga Iyan tersadar. Dia tersenyum hambar.


"Kamu kenapa?" Iyan pun menggeleng pelan.


"Pacar," panggil Beeya. Dia menatap teduh mata Iyan yang masih menatap hamparan pantai yang luas.


Beeya melihat wajah Iyan yang seperti menahan ketakutan juga merasakan kesedihan ketika ombak menerjang kakinya. Beeya pun segera memeluk tubuh Iyan dari samping.


"Ada apa dengan ombak?" Tanpa perlu Iyan bicara, Beeya seakan tahu segalanya.


Iyan masih terdiam. Sedangkan Beeya sudah mendongak menatap wajah Iyan.


"Dia hampir menelanku, dan aku hampir mati." Ucapan itu penuh dengan kepiluan. Beeya semakin mengeratkan pelukannya. Seakan dia menyuruh Iyan untuk melanjutkan ucapannya.


"Aku kira ... ketika di tempat umum ... aku akan diperlakukan baik, tapi sama saja."


Hati Beeya teriris mendengar ucapan Iyan. Dia menatap sendu ke arah sang pacar.


"Dari kejadian di pantai, aku sadar ... kalau aku hanya anak yang memang diabaikan. Aku tidak boleh berharap lebih. Aku harus bisa sendiri. Aku juga harus membuktikan bahwa aku memiliki teman. Tanpa Bunda menemani, aku bisa bermain sendiri."


Dari sinilah awal mula Iyan mulai membuka mata batinnya hingga dia lebih asyik berteman dengan para makhluk tak kasat mata dibandingkan dengan manusia. Iyan tidak berani berteman dengan orang jauh karena orang terdekatnya saja sering menyakiti hatinya. Hanya mereka, para makhluk astral yang mampu mengerti Iyan.


"Pacar," ucap pelan Beeya. Tangannya sudah menggenggam erat tangan Iyan.


Beeya menitikan air mata ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Iyan. Ternyata ucapan dari ayah Rion terjawab sudah perihal Iyan yang rapuh. Banyak beban yang masih dia simpan dan belum dia utarakan.


"Jangan sedih, aku akan ikutan sedih." Beeya memeluk tubuh Iyan dengan sangat erat. Wajah yang tanpa ekspresi menandakan bahwa Iyan benar-benar sedih.


"Sekalipun aku meneteskan darah, tetap saja sedihku tak ada artinya. Aku hanya dianggap cengeng, dan aku disuruh berhenti menangis tanpa ada kata manis untuk membujukku. Hanya umpatan, dan kata kasar. Namun, tidak pernah aku ungkapkan kepada siapapun, termasuk kepada Ayah."


Suara Iyan pun melemah. Air matanya menetes begitu saja. Dadanya bergemuruh dengan cukup kencang.


"Selama lebih dari tujuh belas tahun aku memendamnya sendirian dan bingung harus kepada siapa aku mengatakan."


"Ya Tuhan, anak ini luar biasa. Dia mampu memendam perasaannya tanpa dia merasa trauma dan juga takut."


Tangan Beeya semakin erat memeluk Iyan. "Katakan kepadaku. Aku akan mencari pendengar yang baik untuk kamu. Aku ingin melihat kamu tidak selalu berpura-pura. Tak apa terlihat lemah. Jika, nantinya kelemahan itu akan membuat kita menjadi jauh lebih kuat."


Iyan menoleh ke arah Beeya. Sang kekasih sudah menatap sendu ke arahnya.


"Maaf, aku memang cengeng."


Beeya pun menggeleng. Dia mengusap lembut air mata Iyan.


"Air mata kamu menandakan betapa dalamnya luka yang kamu dapatkan. Luka yang sudah berkarat dan sulit untuk dihilangkan."


Iyan meraih tangan Beeya yang tengah mengusap air matanya. Mereka saling tatap dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Ketika kamu rapuh, aku akan mencoba menguatkan kamu. Tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Tidak ada manusia yang terus hidup bahagia, juga bersedih tanpa ada ujungnya. Semuanya seimbang."


Iyan pun tersenyum. Dia masih menatap Beeya dengan tatapan penuh cinta.


"Kamu selalu bilang kepadaku, bahwa kamu mencintaiku apa adanya. Sama juga denganku, aku mencintai kamu apa adanya," tutur Beeya


"Kita dipertemukan untuk saling menyempurnakan karena kita menang dua insan yang memliki kekurangan."


Iyan menarik tangan Beeya ke dalam pelukannya. Dia mencium lembut ujung kepala Beeya dengan begitu mesra.


"Aku sangat mencintai kamu, Abeeya."


Beeya pun tertawa. Dia melingkarkan tangannya dengan sangat erat di pinggang Iyan.


"Aku juga."


Bersama Beeya terjangan ombak di kakinya tak membuat Iyan merasakan sesuatu. Dia malah mengangkat tubuh Beeya dan memutar-mutar tubuh mungil itu. Mereka malah tertawa bahagia.


"Aku ingin segera cepat-cepat menghalalkan kamu," teriak Iyan. Beeya hanya tertawa dengan memejamkan matanya.


"Semoga malaikat mendengar ucapanmu ini."


...****************...


Komen atuh ...