Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
167. Adat Sunda


"Bhajiengan!!"


Suara Rio mennggema di dalam kamar perawatan salah satu rumah sakit. Dia sudah ditenangkan oleh sang ayah.


"Mau dia apa? Kenapa masih ganggu lu?" Restu hanya tersenyum tipis ketika melihat sahabatnya semurka itu.


"Udah, Yo," ujar Rindra.


"Harusnya dia ngelawan, Pih. Jangan diam aja," geram Rio. Tangannya pun menunjuk ke arah Restu.


"Kakek Addhitama pernah bilang ke gua kalau gua gak boleh ngelawan orang tua gua sendiri, sejahat apapun dia. Kakek Addhitama gak pengen gua jadi anak durhaka. Biarkan bokap gua yang durhaka sama gua." Restu bebicara sangat tenang dengan senyum yang mengembang.


"Brandal Soleh," ejek Rio. Restu pun tertawa.


Mereka pun berbincang santai. Kondisi Restu memang sudah babak belur. Banyak luka lebam di wajahnya. Namun, itu sudah biasa bagi Restu. Anak nakal yang senang tawuran dan tonjok-tonjokkan.


Setelah Rindra pulang karena harus bersiap untuk datang ke acara akad nikah Iyan, Restu pun mengubah topik pembicaraan.


"Yo," panggil Restu. Rio menjawab dengan deheman.


"Aleesa udah tahu." Rio segera menatap ke arah Restu. Kedua alisnya menukik dengan begitu tajam.


"Dia lihat gua digebukin sama bapak durjana," ujar Restu.


Rio nampak terkejut. Matanya masih menatap ke arah Restu dengan penuh tanda tanya besar. Restu menunjukkan ponselnya. Rio mengambil ponsel Restu dan membaca pesan yang dikirimkan oleh sepupunya.


"Bilang sama Aleesa gua gak apa-apa." Restu sudah berucap.


"Dia tahu kalau yang mukulin lu bapak lu?" Restu mengangguk. Wajah Restu nampak sendu.


"Ya udah nanti gua bilang ke Aleesa." Restu pun mengangguk. "Lu balas chat dia, pasti dia nungguin balasan dari lu. Dia itu khawatir."


"Gak usah," ujar Restu. Rio melihat ada kekecewaan di mata Restu.


"Ada apa?" tanya Rio.


"Enggak." Rio menghela napas kasar. "Gua juga akan bilang ke Aleesa jangan bilang ke siapa-siapa perihal ini." Restu pun mengangguk.


.


Beeya meminta ditemani oleh Iyan. Namun, dilarang oleh kedua kakak Iyan juga ibundanya.


"Biar suami kamu terpesona lihat kamu nanti. Kejutan," tutur Echa. Beeya pun menghela napas kasar. Dia mengangguk saja menuruti apa yang dikatakan tiga wanita yang lebih tua darinya.


"Ya udah aku keluar kalau begitu." Iyan pun mencium kening Beeya dan membuat sang kakak berdecak kesal. Riana mendorong tubuh adiknya yang ternyata tidak sealim yang mereka sangka.


Iyan bergabung dengan para groomsmen yang bertugas di akad nikah nant. Mereka akan memakai batik.


"Gimana? Udah hafal belum?" tanya Aksara.


"Kan ada catatannya nanti," sahut santai Iyan. Aksa berdecak kesal dan pada akhirnya Iyan pun diceramahi oleh sang kakak ipar.


Arya, dia menghampiri Iyan dengan mata yang nanar. Iyan menyambutnya dengan senyuman yang teramat teduh.


"Siapkan hati kamu, ya." Arya berkata dengan begitu berat. Iyan pun mengangguk mantab.


Di lain tempat, seorang remaja putri tengah mencari seseorang yang semalam babak belur. Namun, dia tidak menemukan. Ingin bergabung dengan para pria di sana dia enggan. Lebih baik dia menuju ruang make up. Sudah pasti semua orang sedang menunggunya.


"Semoga Kak Restu baik-baik saja."


.


Ruang Make Up.


Beeya malah asyik tertidur ketika wajahnya dirias dengan begitu cantiknya. Sudah satu jam wajahnya bagai kanvas lukis. Dipoles ini dan itu hingga memancarkan kecantikan yang luar biasa.


Echa dan Riana yang datang kembali untuk mengecek hanya menggelengkan kepala mereka dengan kompak.


"Ya Tuhan, berikanlah hamba kesabaran untuk mengahadapi adik ipar seperti ini." Untaian doa yang Echa panjatkan diaminkan oleh Riana. Perias wajah Beeya hanya mengulum senyum menahan tawa.


Baik Echa maupun Riana mereka mendatangkan MUA khusus hanya untuk merias wajah mereka berdua. Dalam waktu satu jam, wajah mereka sudah terlihat cantik jelita. Mengenakan kebaya modern berwarna baby blue membuat penampilan mereka semakin menawan. Malah, mereka dianggap sebagai bridesmaid. Bukan keluarga inti.


Para suami mereka pun berubah penampilan. Biasanya memakai pakaian formal, sekarang diharuskan memakai pakaian adat Sunda. Itu semua permintaan Arya. Namun, bukan semata-mata Arya yang meminta. Itu adalah mimpi Rion yang tengah Arya wujudkan. Rion pernah berkata, jikalau Iyan menikah, dia ingin memakai adat sunda pada pernikahan putra bungsunya. Pasalnya, sang mendiang lahir di Bandung. Dua anaknya yang sudah menikah selalu mengusung konsep modern. Di pernikahan Iyan kali ini, dia ingin merubah konsep. Namun, Tuhan berkata lain. Rion harus berpulang sebelum konsep pernikahan yang dia impikan terealisasi. Maka dari itu, Aryalah yang mewujudkannya.


Di tempat khusus laki-laki, anak dari Aksara sudah merengek. Dia tidak mau memakai baju adat itu.


"Mas 'kan udah disunat. Masa pake beginian." Anak itu mencoba untuk memprotes kepada sang ayah. Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut putranya.


"Mas ingin pakai batik kayak Kak Rangga." Aksa malah tertawa dan dia pun menghubungi istrinya. Tak lama Riana datang dengan penampilan yang luar biasa.


"Aku kira pengantinnya," ujar Wira. Dia juga ikut menghadiri acara Iyan. Riana hanya tersenyum dan menghampiri putra pertamanya.


"Mas mau nunggu gak? Biar pak sopir ambil baju batik yang sama seperti yang dipakai Kak Rangga." Anak itupun mengangguk. Riana menatap ke arah sang suami dan segeralah Aksa menghubungi sopir sekaligus bodyguard dasi Gavin Agha Wiguna.


"Kak, calon istri Iyan udah selesai diriasnya belum?" Suara Iyan membuat Riana menoleh. Dia tersenyum ke arah Iyan yang sudah mengenakan pakaian adat sunda berwarna putih. Lengkap dengan penutup kepala.


Riana menghampiri Iyan dan membenarkan penampilan adiknya. Senyum penuh kebahagiaan Riana lengkungkan.


"Gak nyangka adik Kakak satu-satunya sudah dewasa sekarang." Iyan pun tersenyum mendengarnya.


Tak lama berselang, Echa pun datang karena pihak EO mengatakan bahwa acara sudah akan dimulai. Echa tersenyum ke arah adiknya dan menghampiri Iyan.


"Kamu udah siap?" Iyan pun mengangguk.


Riana dan Echa mengapit Iyan. Merangkul lengan Iyan membawanya menuju acara diadakannya akad. Dari belakang, para groomsmen membawa seserahan yang sudah pihak Iyan siapkan. Sedangkan para bridesmaid menunggu di ruangam make up hingga kata sah diucapkan oleh para saksi. Barulah mereka membawa pengantin wanita.


Kedatangan Iyan yang diapit oleh kedua kakaknya membuat semua orang terpana. Pasalnya, Rian Dwiputra Juanda tidak pernah terekspos sebagai anak dari seorang pengusaha bakery ternama, yakni Rion Juanda. Ditambah Iyan memiliki wajah yang amat mempesona membuat banyak para tamu memujinya.


Di samping pak penghulu sudah ada Arya yang mengenakan baju adat Sunda dengan warna dan model yang berbeda dengan apa yang Iyan kenakan. Tatapan Arya sangatlah sendu. Ada air mata yang tertahan di pelupuk matanya.


Kini, mereka berdua sudah beehadap-hadapan. Tiba-tiba jantung Iyan berdegup tak karuhan.


"Ayah, saksikanlah anakmu ini."


...***To Be Continue***...


komen dong ...