Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
79. Sakit


Iyan tengah fokus pada layar laptop di depannya. Ini sudah hari kesepuluh dia menjalin hubungan jarak jauh dengan Beeya. Ketukan pintu terdengar. Wira sudah membawa nampan di atasnya ada segelas teh hangat.


"Ini, Pak."


Iyan hanya mengangguk pelan dan masih fokus dengan layar segiempat di hadapannya.


"Pak, istirahatlah dulu. Kalau Bapak sakit, saya yang akan diceramahin tujuh hari tujuh malam sama ibu boss."


Ibu boss yang Wira maksud adalah Echa, kakak Iyan. Selama sepuluh hari ini Echa selalu memperhatikan Iyan yang pulang larut malam dan berangkat lebih awal. Saking penasarannya, dia bertanya kepada sang suami. Ternyata banyak pekerjaan yang harus Iyan handle. Belum lagi bisnisnya yang lain yang minta diperhatikan.


"Kamu gak usah lapor ke Kakak. Gampang 'kan."


Iyan menyahut dengan sangat santai. Sedangkan Wira sudah sedikit panik karena wajah Iyan sudah terlihat pucat.


"Bapak mau makan siang apa? Biar saya buatkan," tawar Wira.


"Saya belum ingin dan kamu lebih baik kembali ke dapur. Saya tidak suka diajak berbincang di saat bekerja."


Masih saja dalam keadaan seperti ini mulut managernya pedas sekali. Wira pun hanya menganggukkan kepala dan meninggalkan Iyan sendirian.


Dua jam berlalu, lengkungan senyum terukir di wajah Iyan. Namun, tak berselang lama dia memijat keningnya yang mulai terasa pusing. Teh hangat sudah berubah menjadi dingin karena sama sekali tak dia sentuh. Iyan meraih cangkir yang berisi teh yang sudah dingin dan meneguknya.


"Aku harus pesan tiket sekarang," gumamnya.


Iyan benar-benar melewatkan makan siangnya hingga jam menunjukkan pukul lima sore. Perutnya terasa perih dan dia meminta Wira untuk membuatkan makanan untuknya. Menu yang sederhana, yakni nasi goreng dan telur dadar.


Suapan pertama perutnya masih bisa menerima. Suapan kedua masih aman. Di suapan kelima Iyan sudah tidak tahan dan memuntahkan apa yang dia makan. Tubuhnya benar-benar lemas. Untungnya Wira datang karena Iyan meminta teh manis hangat.


"Kita berobat, Pak." Iyan pun menggeleng. "Tapi, Pak-"


"Jam sepuluh malam saya harus terbang ke Bali. Pekerjaan saya sudah selesai dan pacar saya sudah menunggu saya di sana."


Wira tercengang dengan apa yang dia dengar. Terlihat betapa Iyan sangat mencintai Beeya hingga dia rela mengorbankan kesehatannya demi segera bertemu dengan pujaan hatinya.


"Ambilkan saya obat maag." Wira pun segera mengambil apa yang disuruh oleh Iyan. Dia juga membiarkan Iyan beristirahat sejenak.


Jam tujuh malam Iyan pulang ke rumah. Dia harus menyiapkan apa saja yang harus dia bawa. Setelah semua baju dia masukkan ke tas ransel. Dia membuka laci yang ada di samping tempat tidur. Kotak persegi berwarna merah hati yang berisi sepasang cincin. Iyan masih ragu, apa cincin pemberian dari ayahnya pas di jarinya dan Beeya.


Iyan tersenyum dan memasukkannya ke dalam tas ransel yang akan dia bawa. Akankah ada momen bahagia ketika di Bali nanti?


Pintu kamarnya terbuka, seorang wanita yang sudah mengenakan pakaian tidur menghampirinya. Duduk di tepian tempat tidur.


"Besok aja, Yan."


"Sayang uangnya, Kak." Iyan masih memasukkan yang lain.


"Biar Kakak yang beliin tiketnya buat besok."


Iyan pun terdiam. Dia menatap ke arah sang kakak yang tengah duduk di samping tempat tidurnya. Dia menghampiri Kakaknya dan tersenyum lebar ke arah Echa.


"Iyan masih mampu membeli tiket pesawat, Kak. Jangan gunakan uang Kakak untuk memberi Iyan. Sudah waktunya Iyan yang memberi kepada Kakak."


Sebenarnya Echa ingin melarang Iyan pergi malam ini. Namun, malah momen haru seperti ini yang tercipta. Iyan membuka lacinya kembali. Ada satu buah buku tabungan berwarna biru dan dia berikan kepada sang kakak.


"Ini, hasil print out terbaru," ujar Iyan. Echa meraihnya tanpa mau membuka nominal yang ada di sana.


"Itu adalah tabungan Iyan sedari Iyan SD. Kakak yang selalu mengajarkan Iyan untuk menyisihkan uang jajan. Sampai sekarang Iyan masih melakukannya, dan tabungan itu sama sekali tidak pernah Iyan ambil."


Mata Echa melebar mendengar penuturan dari Iyan. Dia segera membuka buku tabungan yang ada di tangannya, dan matanya melebar ketika melihat nominal yang sangat luar biasa.


"Iyan ... ini-"


"Itu Iyan serahin kepada Kakak. Suatu saat nanti, pasti Iyan akan menikah. Uang itu sebagai modal untuk Iyan menikah nanti. Jadi, Iyan tidak perlu merepotkan Kakak juga Kak Ri. Kekurangannya, Iyan tengah bekerja keras."


Hati Echa terenyuh mendengarnya. Padahal, biaya nikah dari sang ayah sudah ada di tangan Echa. Jumlahnya pun tak main-main. Namun, tanpa dia ketahui adiknya ini sudah memikirkan hal untuk masa depan sedari dia kecil.


"Apa kamu seserius ini sama Beeya?" tanya Echa. "Sampai kamu rela terbang malam begini."


Iyan hanya tersenyum. Dia meraih tangan kakaknya dan menatap lembut manik mata sang kakak dengan penuh kehangatan.


"Iyan mencintai Beeya, Kak. Ketika Iyan cinta sama seseorang, pasti akan terus Iyan perjuangkan."


Echa pun tersenyum. Dia memeluk tubuh adiknya yang ternyata sudah tumbuh menjadi dewasa.


"Kenapa kamu cepat tumbuh menjadi dewasa?" Iyan hanya tersenyum dan dia membalas pelukan dari kakaknya.


-


"Seriusan kamu mau naik ojek online?" tanya sang kakak.


Abang ojol yang Iyan pesan sudah datang. Dia pun pamit kepada sang kakak.


"Hati-hati, ya."


Jam sepuluh lewat dua puluh malam pesawat take off menuju Bali. Iyan memejamkan matanya barang sejenak. Di perjalanan menuju bandara hujan rintik-rintik dan Iyan meminta kepada sang driver untuk terus melanjutkan perjalannya. Hingga tubuhnya sedikit basah.


Pukul setengah tiga pagi waktu Bali, Iyan baru tiba di rumah Arina. Sebelumnya Iyan sudah menghubungi Arya jikalau dia ingin memberikan kejutan kepada Beeya.


"Masuk, Yan."


Tiga orang dewasa itu menyambut kedatangan Iyan. Ada Arya, Arina juga Beby. Namun, mereka bertiga sedikit menukikkan dahi mereka.


"Kamu sakit?" taya Arina.


"Wajah kamu pucat banget," timpal Beby.


"Enggak, Bu'de," jawab Iyan. "Iyan hanya kelelahan, Mah. Selesai dari kafe langsung ke sini."


"Ya udah kamu mending masuk ke kamar Beeya. Kamu tidur di sana," perintah Arya.


"Tapi, Pah-"


"Papah yakin kamu adalah anak baik."


Kalimat itu sebagai kalimat tuntutan agar Iyan menjadi anak yang baik. Di saat dua insan manusia berlainan jenis tertidur dalam satu ranjang yang sama. Ini adalah uji syahwat namanya.


"Ayo, Papah antar."


Iyan hanya mengikutinya saja. Ketika pintu kamar Beeya terbuka, hanya lampu tidur yang Beeya hidupkan. Terlihat seorang perempuan cantik tengah bergumul di bawah selimut.


"Kamu istirahat, ya. Pasti kamu capek banget." Iyan pun mengangguk. Arya segera meninggalkan Iyan dan menutup pintu kamar putrinya.


Iyan melangkah menghampiri Beeya yang tengah terlelap dengan begitu nyamannya. Iyan duduk di tepian tempat tidur. Menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah imut sang kekasih.


"Aku datang, CHAGIYA."


Ingin rasanya Iyan mencium kening Beeya. Namun, kepalanya tiba-tiba pusing. Iyan memegang kepalanya dan menjauhi Beeya. Dia tidak ingin mengganggu sang kekasih. Dia melihat ada sofa panjang sudut kamar Beeya. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut. Memijat lembut keningnya. Tak berapa lama Iyan pun tertidur tanpa selimut yang menutupi tubuhnya.


Bias cahaya matahari sudah masuk ke dalam llljendela kamar Beeya. Sang perempuan yang ada di bawah selimut pun mulai mencoba membuka matanya. Dia perlahan duduk dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Namun, dia mendengar suara orang yang menggigil. Dia pun mencari asal suara tersebut. Ketika dia menoleh ke arah sudut kanan kamarnya, dia melihat ada seseorang yang tengah meringkuk dengan tubuh yang bergetar.


Beeya mulai turun dari tempat tidur. Dia juga mulai menghampiri laki-laki yang tengah meringkuk di atas sofa. Dari jarak beberapa meter, indera penciumannya mengendus wangi yang tak asing di hidungnya. Wangi parfum yang dia rindukan.


"Iyan!"


Beeya segera menghampiri laki-laki itu. Dia mencoba menepuk punggung Iyan dengan pelan.


"Pacar," panggil Beeya.


Perlahan Iyan membalikkan tubuhnya. Wajah pucat dengan mata memerah terlihat jelas di mata Beeya.


"Pacar kamu kenapa?" Punggung tangan Beeya sudah dia letakkan di atas dahi Iyan. Matanya melebar ketika dia merasakan suhu tubuh Iyan di atas normal.


"Pacar, kamu demam," ucap Beeya dengan panik.


Namun, Iyan masih mampu menyunggingkan senyum ke arah sang kekasih yang nampak cemas.


"Aku ambil kompresan dulu."


Beeya hendak pergi, tetapi tangannya Iyan cekal dan Iyan tarik hingga dia terjerembab di atas tubuh Iyan.


"Jangan pergi, temani aku di sini," ucap lemah Iyan.


Beeya memundurkan tubuhnya. Dia menatap wajah Iyan yang memucat. Iyan mengusap lembut pipi putih Beeya.


"Hug me, please."


Beeya segera memeluk tubuh Iyan yang tengah terbaring di atas sofa. Bibir Iyan melengkung dengan sempurna. Tangannya pun mengusap lembut rambut Beeya.


"Jangan sakit," pinta Beeya dengan suara yang bergetar.


Iyan memundurkan tubuh Beeya yang tengah memeluknya. Dia tahu Beeya sudah menahan air mata.


"Kamu jangan sedih," ucap Iyan. "Sudah beberapa hari ini aku menahan sakit karena aku ingin merasakan dirawat oleh pacar aku, calon istri dan calon ibu dari anak-anak aku kelak."


...****************...


Jangan lupa komennya.