
Pagi hari yang cerah seindah senyuman cerah dari seorang Rian Dwiputra Juanda. Tubuhnya sudah terasa membaik. Obat mujarab yang Beeya berikan sangatlah ampuh menyembuhkan sakitnya itu. Lengkungan senyum pun terus terukir di wajahnya.
Langkah kakinya sudah membawanya menuju halaman samping. Di mana dia tidak pernah menemukan sawah ketika berada di ibukota. Hanya bising suara kendaraan bermotor yang menjadi alunan melodi di setiap hari.
Menikmati udara yang sangat segar membuat Iyan menggerakkan tubuhnya untuk berolahraga ringan. Ingin sekali dia berlari atau berjalan santai di pagi ini. Namun, sang kekasih hati nampaknya masih terlelap di kamar tamu. Dia tidak ingin sendiri, melainkan berolahraga bersama Beeya.
Suara kicauan burung menjadi lagu pembuka yang membuat hati dan pikiran Iyan tenang seketika. Namun, dia teringat pada satu sosok perempuan yang sedari kecil sudah Iyan anggap seperti ibundanya sendiri.
"Yan, kalau kamu ingin serius dengan Beeya. Mantapkan dulu hati kamu. Bagaimanapun ada darah ayah yang mengalir di tubuh kamu. Kakak takut, kalau keinginan kamu serius hanya karena kamu baru merasakan indahnya jatuh cinta. Pada nyatanya, cinta itu tak hanya manis saja. Kakak tidak ingin kamu menyakiti hati Beeya. Kakak juga tidak ingin kamu gagal dalam membina biduk rumah tangga seperti ayah. Kakak tidak mau. Pikirkan lagi, Yan."
"Menikah itu bukan hanya perkara
cinta juga harta, tapi ada dua kepala yang harus kalian satukan agar tercipta pondasi yang kuat dan kokoh. Apakah kamu sudah mampu? Akankah kamu bisa jika melakukan itu sekarang?"
Iyan masih ingat jelas bagaimana wajah kakaknya tersebut. Sangat serius juga berkaca-kaca dalam mengungkapkan itu semua. Iyan juga tahu bagaimana ayahnya di masa lalu. Dia tahu kakaknya hanya ketakutan dan juga khawatir jikalau ada sikap buruk ayahnya yang menurun kepadanya. Dia juga tahu kakaknya tidak melarangnya. Hanya saja menyuruhnya untuk menunda hingga usianya sedikit lebih matang.
Keinginan kakaknya hanya satu, ingin melihat dia bahagia karena bagaimanapun kakak pertamanyalah yang mengemban amanat yang begitu berat perihal dirinya. Bertanggung jawab penuh atas Iyan.
Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Iyan menatap hamparan sawah yang begitu indah.
"Apa keberengsekan Ayah menurun kepadaku? Kenapa Kakak seolah sangat takut?"
Suara seseorang membuat Iyan membalikkan tubuhnya ke belakang. Sahabat dari ayahnya sudah berjalan menghampirinya. Meskipun sudah tak muda lagi, tetapi wajahnya masih terlihat sangat tampan. Jika, melihat ayah dari Beeya, Iyan seperti melihat ada diri ayahnya di dalam diri Arya. Ayahnya seperti tengah bersembunyi di balik tubuh Arya. Pria paruh baya itupun menepuk pundak Iyan. Dia menatap hamparan sawah yang begitu luas dan berdiri di samping Iyan.
"Kamu adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga ayahmu. Echa hanya takut jika sifat buruk ayah kamu menurun kepada kamu. Hati wanita itu lebih sensitif dibandingkan pria."
"Iyan tidak seperti itu, Pah," elak Iyan.
Arya tersenyum dan kini dia menatap wajah Iyan dengan serius.
"Benarkah? Apa tampang polosmu sama seperti sikapmu terhadap anak Papah?" hardiknya. Iyan pun terdiam. Dadanya sudah berdegup sangat kencang. Dari ucapan yang terlontar dari mulut Arya, ada sesuatu yang akan membuat Iya. terkejut.
Arya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan perilaku Iyan dan putrinya ketika di kamar, dan sontak membuat mata Iyan melebar.
"Kalau Papah menuntut kamu untuk menikahi putri Papah hari ini juga gimana?" tanya Arya. "Apa kamu bersedia?"
...****************...
Lagi gak?