Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
44. Licik


"Jangan selalu menjual anak di dalam kandungan kamu untuk mencari simpati orang lain."


Ucapan Iyan kali ini sangat tajam dan mampu membuat Anggie terkejut. Dia kira Iyan adanya pria lembut yang tak memiliki amarah. Pada nyatanya, mulutnya sangat berbisa.


Iyan melangkahkan kaki menuju pintu keluar bukan pintu kamar membuat Echa memanggilnya sehingga langkahnya terhenti.


"Lebih baik Iyan tidur di rumah Kak Ri."


Kalimat yang penuh ketegasan juga emosi yang menggebu. Ketiga anak Echa pun kini menatap ibunya dengan sorot kecewa.


"Kakak Sa bilang apa, Bu. Dia ini cuma ingin menghancurkan kedamaian keluarga kita." Aleesa sudah emosi jiwa. Dia benar-benar muak terhadap wanita di hadapannya .


Tiba-tiba Anggie meringis kesakitan, bukannya iba ketiga anak Echa malah meninggalakan Anggie dan juga ibunya.


"Terus aja lu pura-pura. Gua sumpahin tuh anak wajahnya kayak kura-kura," seru Aleesa.


Echa tidak mengerti kenapa Aleesa bisa sangat membenci Anggie. Ada rahasia besar yang Anggie atau Aleesa simpan. Begitu juga dengan Iyan yang bersikap kasar kepada perempuan.


Echa yang berniat membantu malah mengikuti ketiga anaknya. Meninggalakan Anggie seorang diri. Dia pun merasa terabaikan saat ini.


.


Motor Iyan sudah memasuki halaman rumah Aksara. Rumah yang tak kalah besar dari rumah kakaknya. Riana sangat senang ketika melihat adiknya datang ke rumahnya.


"Iyan boleh numpang tidur di sini gak?" Riana tersenyum dan merangkul lengan sang adik. "Gak apa-apa tidur di sofa juga," lanjutnya lagi.


Riana pun tertawa dia mencubit gemas pipi sang adik yang semakin tampan.


"Kamu memiliki kamar tersendiri di sini. Ini juga rumah kamu."


Iyan tersenyum mendengar ucapan dari kakak keduanya. Riana membawa Iyan ke dapur. Dia tahu adiknya pasti lapar.


"Mau makan apa? Biar Kak Ri masakin."


"Gak usah, Kak Ri."


Riana mengusap lembut pundak sang adik tercinta. Dia tahu Iyan tengah menahan marah.


"Ada apa?"


"Kak Ri tahu kalau di rumah ada Anggie." Riana mengangguk, dia beranjak dari duduknya menuju lemari pendingin. Mengambilkan Iyan minuman dingin yang selalu tersedia di sana.


"Mas Agha marah besar ketika datang ke sana ada Anggie," terangnya.


"Kenapa?" tanya Iyan sambil membuka tutup botol teh dingin yang kakaknya berikan.


"Dia tidak bilang, kepada Daddy-nya pun tidak berkata apa-apa. Parahnya dia mampu menarik tangan Anggie dan berhasil menyeret Anggie keluar."


Mata Iyan membelalak. Dia melihat ke sekeliling rumah ini. Dia mencium aroma yang tak asing baginya.


"Jojo."


Ya, Jojo sangat menyukai Agha. Dia akan mengikuti ke manapun Agha pergi. Sudah pasti yang marah itu bukan Agha, melainkan Jojo yang masuk ke dalam raga Agha.


"Kamar Iyan juga dipakai, makanya Iyan ke sini." Riana mengusap lembut pundak Iyan.


"Jangan pernah salahkan Kak Echa atas hal ini," ujar Riana. "Niat Kak Echa itu tulus ingin membantu Anggie. Bagaimanapun Kak Echa memiliki hati yang lembut dan baik. Pasti dia tidak tega meninggalakan Anggie sendirian."


Iyan pun menghembuskan napas kasar mendengar penuturan dari kakak keduanya.


"Kalau kamu merasa terganggu di sana, kamu bisa tinggal di sini sesuka hati kamu," tutur Riana. "Setelah Ayah pergi, Kak Ri dan Abang mengubah satu kamar tamu untuk menjadi kamar kamu. Kakak tidak ingin kamu ngekos kayak kemarin. Lebih baik kamu tinggal di sini." Iyan pun tersenyum dan memeluk erat pinggang Riana.


.


Echa menujukamarnya karena Aleesa sedari tadi mengunci pintu kamar. Dia melihat sang suami tengah duduk di sofa sambil memangku laptop.


"Ay," panggil Echa. Kefokusan Radit pun kini terbagi. Dia menoleh ke arah istrinya. Radit menyunggingkan senyum dan menyuruh istrinya mendekat ke arahnya.


"Ada masalah?" Echa sudah duduk di samping Radit dan menatap lekat ke arah sang suami.


Radit tidak berkata, dia menyerahkan lembaran kertas kepada Istrinya. Echa yang notabene pemilik sekaligus direktur utama A&R bakery pasti mengerti.


"Sepuluh M?" Radit mengangguk.


"Kenapa?"


"Anggie?" Tidak ada reaksi dari Radit, hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Radit.


"Tujuannya apa?"


"Aku sudah curiga ketika Anggie meminta kamar Iyan," terangnya. Otak Echa sudah tersambung dan mengerti maksud dari suaminya.


"Apa ini alasan Aleesa sangat tidak menyukai Anggie?"


"Bisa jadi, harusnya kita peka akan kemampuan yang Aleesa miliki. Mata batinnya sangat tajam," terang Radit.


"Apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana dengan kerugian itu?" Echa tahu, sang suami tidak akan


tinggal diam.


"Untuk kerugian pasti akan aku ganti, tetapi harus melalui rapat besar terlebih dahulu."


"Kalau gak ada uang, pakailah uangku." Echa menawarkan bantuan kepada Radit. Namun, sang suami menolaknya.


"Uang kamu adalah uang kamu. Aku tidak akan pernah mengganggu uang kamu," ucapnya lembut.


"Tapi-"


"Perihal uang aku tidak masalah, aku masih bisa menutupnya. Hanya saja, aku ingin menyingkirkan manusia yang ingin merusak suasana rumah ini."


"Maaf," sesal Echa. "Aku hanya tidak tega. Mengandung tanpa suami seperti mengingatkan aku kepada Mamah yang tengah mengandung aku dulu."


Radit menarik tangan Echa dan memeluknya. "Kamu tidak salah, hanya dia yang terlalu memanfaatkan kebaikan kamu."


.


Anggie tengah duduk di tepian tempat tidur. Baru seminggu mendapat perhatian dari Echa, kini dia menjelma menjadi manusia yang tak tahu diri. Menginginkan perhatian Iyan juga. Namun, keinginannya hanya sebatas angan. Pemuda itu malah marah dan sekarang tidak tidur di rumah ini.


"Aku hanya ingin anak ini mendapat pengakuan dari seorang pria," lirihnya.


Anggie sangat yakin dengan cara sedikit licik ini, Iyan mau bertanggung jawab atas anak yang dikandung olehnya. Iyan bukanlah pria jahat. Dia adalah pria berhati lembut.


Ide liciknya kini muncul, dia tersenyum kecil dan segera mengambil ponselnya. Dia mengambil gamabr kamar Iyan. Kemudian di post di akun media sosial miliknya dan menandai Iyan di sana.


"Bermalam di kamar calon suami." Begitulah


-nya.


Bersamaan dengan postingan tersebut, seorang perempuan dengan mengisi kegabutannya dengan menscroll akun media sosial baru miliknya. Matanya melebar ketika melihat postingan seseorang yang menandai Iyan.


"Calon suami?" gumamnya.


Kini, Beeya melihat profil dari akun yang menandai Iyan. Dia pun berdecih kesal. Sudah tidak ada lagi kesedihan. Melainkan kemarahan juga dendam yang ingin segera Beeya balaskan.


Beeya mengirim pesan kepada Echa. Ternyata Iyan tidur di rumah Riana. Namun, Echa tidak memberitahukan perihal wanita licik itu yang ada di rumahnya. Beeya pun tidak akan menanyakan.


Pagi harinya, Beeya mengirimkan pesan gambar kepada Iyan. Dia menangkap gambar postingan perempuan itu dari akun media sosial. Beeya hanya membubuhkan tanda tanya besar di sana.


Iyan yang baru mencabut kabel pengisi daya pun terkejut ketika Beeya mengirimkan pesan aneh itu. Matanya melebar dan dia pun segera menghubungi wanita yang sangat dia rindukan. Namun, Beeya tak kunjung menjawab sambungan telepon tersebut.


"Angkat dong," erangnya.


Namun, Iyan harus segera menuju perusahaan Radit karena akan ada rapat besar antara manager Moeda kafe di seluruh cabang yang ada di pulau Jawa, akan membahas kerugian serta dendaan yang harus dibayar oleh Moeda kafe.


.


"Kamus serius, Bee?"


Beeya yang tengah sibuk memasukkan barang bawaannya ke ransel kecil pun mengangguk.


"Ada hal yang harus Bee balaskan, Pah," jawabnya serius. "Bee, bukan wanita lemah. Bee akan buktikan itu."


...****************...


Komen atuhh ih ...