Janitra

Janitra
Bab 67


Sinar mentari pagi masuk melalui kisi-kisi jendela kamar. Rupanya terlalu nyenyak aku tertidur kali ini hingga tak mendengar alarm di gawaiku berbunyi.


Perlahan aku turun dari kasur agar tidak membangunkan Dewa yang masih terlelap dan segera menuju dapur untuk membuatkan sarapan pangeran kecilku. Karena masih ada sisa nasi semalam, pagi ini rencana aku akan memasak nasi goreng kornet dengan telur mata sapi dan kerupuk sebagai pelengkapnya.


"Wa, banguuunnn yuk.. Bunda udah masak nasi goreng kesukaanmu."


"Hah? Nasi goreng? Aku mau, Bunda."


"Berdoa dulu, mandi lalu sarapan bareng bunda."


"Bunda mau kerja ya? Aku disini saja boleh?"


"Hari ini Bunda ijin nggak masuk kerja. Tapi besok kalau Bunda kerja, kamu di rumah sama Budhe Marni, tetangga depan rumah. Nggak apa-apa kan?"


"Oke Bunda."


Pagi ini Dewa menghabiskan sarapan dengan sangat lahap.


"Tambah lagi nggak?" tawarku setelah dia menghabiskan nasi goreng dua piring.


"Kenyang, Bunda. Nanti siang makan apa kita?"


"Mau masak sop sama ayam goreng. Suka kan?"


"Semua masakan Bunda, pasti aku suka dong."


"Ya sudah sana cuci tangan lalu nonton tv."


"Sini piring Bunda, aku cuci sekalian."


"Ini, hati-hati ya nyucinya. Bunda ke kamar ambil ponsel dulu. Takut ada telepon penting."


Benar saja, belasan panggilan tak terjawab tertera di layar ponselku.


[Maaf baru bisa pegang ponsel. Ada apa a'?] kuketikkan sebuah pesan.


Tak perlu menunggu lama, sebuah balasan langsung masuk.


[Sibuk sama siapa? Sekarang bisa angkat teleponku??]


Belum juga kubalas, sebuah panggilan sudah masuk.


"Dimana adek? Sulit sekali dihubungi."


"Baru selesai sarapan."


"Santai sekali jam segini sarapan."


"Hari ini aku ijin kerja, pengen habisin waktu sama Dewa."


"Ya sudah. A'a lanjut kerja dulu. Bawa Dewa ke rumah ya Dek."


"Met kerja, a'..."


Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan a'Ardan, kususul Dewa yang sepertinya sudah asyik menonton acara tv.


"Wah nonton apa itu? Bunda temani boleh?"


"Boleh, Bunda. Sini."


Dewa menggeser tubuh mungilnya untuk memberiku tempat.


"Hari ini kita di rumah saja Bun?"


"Memangnya mau kemana?"


"Pengen main di mall, boleh Bun?"


"Boleh. Bunda siap-siap dulu ya."


"Berdua saja Bun?"


"Memangnya Dewa mau sama siapa?"


"Om Adit sama Ocha, Bun?"


"Hmm..ini kan jam sekolah, Ocha pasti sekolah. Lain kali saja gimana? Sekarang kita pergi berdua dulu."


"Oke Bun."


Malioboro masih selalu menjadi tujuanku bersama Dewa untuk menghabiskan waktu.


"Laper nggak?"


"Iya nih Bun. Makan apa?"


"Ayam crispy, mau?"


"Maaaauuu..."


Kugandeng tangan kecilnya menuju sebuah restoran siap saji kesukaannya untuk memesan nasi, ayam, dan kentang goreng. Baru berjalan beberapa langkah, seseorang memanggil Dewa.


"Dewa..."


"Om Rio..."


Dewa melepaskan pegangan tanganku untuk menghambur ke pelukan Mas Rio. Melihatnya, tiba-tiba kepalaku terasa berat.


"Jalan-jalan kok nggak ajak Om?"


"Kata Bunda, hari ini pengen jalan berdua aja sama Dewa."


"Wah berarti ini Om ganggu dong?"


"Engga Om, aku suka ada Om Rio."


"Mau pesen makan ya? Ayo, kebetulan Om juga belum makan nih."


Adegan selanjutnya, aku hanya menjadi penonton dan pendengar mereka yang asyik bercerita. Dewa yang memang kehilangan figur seorang bapak tampak senang mendapat perhatian dari Mas Rio.


"Bunda, main lagi ya habis ini?" pertanyaan Dewa membuyarkan lamunanku.


"Kok main lagi?"


"Tadi kan sama Bunda, sekarang sama Om Rio. Boleh ya Bun?"


"Ya sudah tapi jangan lama-lama ya."


Kubiarkan mereka menghabiskan waktu berdua sementara aku mengawasi dari kejauhan.


Entah sudah berapa lama mereka bermain, akhirnya dari kejauhan tampak Dewa berlari-lari kecil menghampiriku.


"Sudah selesai. Terima kasih, Bunda."


"Sama-sama. Dewa senang?"


"Senang. Om Rio janji ajak main lagi besok Minggu."


Kulirik Mas Rio yang tampak mengulum senyum penuh kemenangan.


***


Mas Rio memarkirkan mobilnya di halaman kontrakanku.


"Makasih ya Mas, dianterin sampai rumah."


"Jangan dibangunkan, biar kugendong saja..." pinta Mas Rio sambil melihat Dewa yang tertidur lelap.


Sementara Mas Rio menggendong Dewa, aku membukakan pintu rumah.


"Taruh di ruang tamu saja, Mas."


"Kasihan, dek. Biar kubawa ke kamar."


Aku mengangguk menyetujuinya. Kususul Mas Rio yang membawa Dewa ke kamar.


"Makasih, Mas..."


"Sama-sama, Mas."


Mas Rio menahan tanganku saat hendak berdiri hingga aku duduk kembali.


"Ada apa, Mas?"


"Dek, masihkah ada satu kesempatan lagi untukku?"


Aku menggeleng pelan.


"Aku mohon, dek. Aku akan melupakan dia dan memulai lembaran baru bersamamu dan Dewa."


"Aku sudah dilamar a'Ardan, Mas."


"Lalu kamu menerimanya?"


Kuhela nafas dalam.


"Kita ngobrol di ruang tamu saja yuk. Kubuatkan teh dulu."


Tanpa menunggu jawaban, kutinggalkannya sendiri di kamar untuk memanaskan air yang akan kugunakan menjerang teh manis.


Dua cangkir teh manis dan setoples kue kering kutata rapih di baki. Namun tak kudapati keberadaan Mas Rio di ruang tamu. Mobilnyapun sudah tidak terparkir di halaman rumah. Baru hendak membawa baki kembali masuk ke dapur, pundakku ditepuk dari arah belakang.


"Rio sudah pulang."


"Lho, a'a kapan sampai?"


"Sejak kalian asyik di kamar."


"Mas Rio hanya menggendong Dewa, nggak lebih."


Kudenguskan nafas lalu segera berlalu ke dapur.


"Itu apa?" tanya a'a yang ternyata menyusul langkahku.


"Teh."


"Nggak nawarin ke aku? Atau memang spesial untuk Rio?"


"Bukan gitu, a'a nggak suka teh yang gini. Sebentar aku buatkan kopi."


"Jadi itu teh spesial untuk Rio, sesuai seleranya ya? Wah hafal sekali."


Kuambil secangkir teh lalu kusodorkan pada a'Ardan yang lalu diambilnya dan dicecapnya sedikit.


"Spesial untuk pria lain, karena tidak diterima lalu diberikan ke aku. Hmm, lumayan sih untuk rasanya."


"Mau a'a apa sih?"


"Wah sudah lupa kesukaanku ya?"


"Masih hafal sekali. Maksudku, a'a kesini hanya ingin mengajakku berantem?"


Kuambil cangkir berisi teh yang masih digenggamnya, kugantikan dengan kopi sesuai seleranya.


"Aku tau a'a kangen, tapi nggak dengan cara ngajak berantem. Segala macam hal dijadikan alasan buat ribut. Kita udah dewasa lho."


A'a memelukku erat, kusandarkan kepala pada dadanya yang bidang. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang selalu membuatku nyaman. Dalam hati kuharap, ini takkan lagi usai.


"Bunda..."


A'Ardan melerai pelukannya.


"Halo jagoan..."


Dewa menghambur ke pelukan a'Ardan.


"Bunda, aku lapar."


"Mau makan apa? Yuk kita makan sekalian pulang ke rumah Oma."


"Bunda tadi masak, Om."


"Ohya, masak apa? Kalau gitu, kita makan dulu saja sekarang. Om juga lapar."


"Sebentar bunda siapkan ya. Kalian tunggu ya."


"Ayo kita tunggu sambil mainan yuk Om. Tadi aku dibeliin Om Rio."


Kuhela napas panjang mendengar celoteh Dewa. Untunglah a'Ardan tidak merespon berlebih dan segera mengikuti Dewa menuju ruang tengah untuk menemaninya bermain. Gegas kusiapkan nasi, sop dan menggoreng ayam yang sudah kuungkep tadi pagi.


Selesai makan, a'Ardan memintaku mengemasi beberapa pakaian dan kebutuhan Dewa untuk dibawa ke rumahnya.


Sepanjang jalan, Dewa terus bercerita pada a'Ardan tentang kesehariannya selama kutitipkan di panti asuhan dan a'a terus meresponnya dengan antusias.


Seperti biasa, a'Ardan membukakan pintu Dewa dan langsung menggendongnya.


Mama Euis menyambut kedatangan kami dengan senyum lebar.


"Ini cucu Oma? Ganteng banget. Persis a'a waktu kecil. Sini turun, gendong Oma aja. Oma masih kuat kok."


Layaknya nenek yang kedatangan cucu, kami diabaikan begitu saja.


Pukul sepuluh malam setelah asyik bercengkrama, Dewa tampak menguap beberapa kali.


"Cucu Oma sudah mengantuk? Yuk cuci kaki, tangan lalu tidur sama Oma ya."


Dewa melirikku meminta persetujuan.


"Biar sama Nala, Ma. Nanti mengganggu waktu tidur Mama."


"Eh udah nggak apa-apa. Mama seneng tidur sama Dewa. Mama udah lama nunggu waktu ini."


"Ya sudah, Dewa sekarang bersih-bersih dulu ya? Nanti tidur sama Oma. Bunda buatkan susu dulu."


***


Hampir pukul satu dini hari, namun mataku belum terpejam. Banyak hal yang berkecamuk di pikiranku. Perlahan kubuka pintu kamar untuk mengambil air minum di dapur. Ternyata bukan hanya aku yang tidak bisa tidur, a'Ardan nampak masih terjaga menatap laptopnya. Secangkir kopi masih mengepulkan uap panas tergeletak di sampingnya.


"Dek, kenapa bangun?" tanya a'Ardan tampak terkejut saat menyadari kehadiranku.


"Haus." jawabku singkat.


"Sudah lama disitu?" tanyanya lagi.


"Kenapa sih a' kok tampak terkejut gitu? Tenang aja, aku nggak peduli kok misal a'a lagi asyik chat dengan wanita lain." jawabku kesal sambil berlalu.


Kuteguk segelas penuh air putih lalu bersiap kembali ke kamar.


Kulewati begitu saja a'a yang tampak serius menatap layar laptopnya.


"Dek, mau tidur?"


"Iya."


"Adek marah?"


"Marah untuk apa?"


"Huft.."


Aku tersenyum masam melihat tingkahnya.


"Selesaikan dulu, baru memulai denganku."


"Dek maksudmu apa?"


"Aku males berantem. Mau tidur dulu. Kapan-kapan saja kita bahas, kalau masih penting."


Kutinggalkan a'a yang tampak hendak menahanku lebih lama.


Kurapatkan selimut hingga ke dada, kupeluk guling lalu berusaha terlelap walau pikiranku semakin kacau, dan keraguanku padanya semakin meraja.