
Aku hampir terlelap saat gawaiku berdering. Biasanya aku selalu mematikan nada dering saat tidur, namun kali ini aku lupa karena lelah yang mendera. Tanpa melihat si penelepon, segera kuangkat karena takut Dewa terbangun.
"Halo selamat malam..."
"....."
"Selamat malam..." Kuulangi lagi karena tidak ada jawaban.
Klik
Panggilan diakhiri tanpa ada percakapan.
Aku terhenyak saat melihat nomor si pemanggil. Nomor ponsel yang berasal dari daerah Sumatera. Bayangan Bang Rico lalu memenuhi pikiranku. Kutimang ponselku beberapa saat. Tidak ada panggilan lagi, untuk menghubunginya pun aku tak ada keberanian. Kuputuskan untuk mematikan nada dering, lalu menyimpan ponselku di bawah bantal. Kucoba pejamkan mataku lagi walau sulit karena bayangan Bang Rico terus menggangguku.
Entah berapa jam aku terjaga, sebelum akhirnya aku terlelap setelah lelah berandai.
***
Sejak aku meminta cerai, Danang semakin berulah. Berbagai cara dia lakukan agar aku tidak jadi meminta untuk bercerai. Seperti pagi itu, dia mendekatiku saat aku bersiap berangkat kerja.
"Sekarang suka dandan ya. Mau nemuin pacarmu yang mana?"
Kudiamkan saja daripada berujung ribut. Namun bukan Danang namanya jika tidak berusaha terus berulah.
"Mau jual diri dimana?"
Lagi-lagi aku hanya melengos lalu kutinggalkan dia di kamar. Kusiapkan beberapa dagangan yang sudah kutata rapi di dalam tas besar. Sudah siap berangkat, Danang menarik paksa tasku lalu mendorongku hingga aku jatuh terduduk.
"Mau jual diri dimana kamu?!"
"Jangan samakan aku dengan perempuan-perempuanmu!!"
Kupeluk Dewa yang menangis kencang.
Mendengar keributan, Ibu mertuaku datang.
"Ada apa ini pagi-pagi kok sudah ribut?"
"Tanya saja apa yang Nala lakukan di luar sana..."
"Aku ngapain emang? Kerja untuk ngasih makan banyak orang, apa salahnya?"
"Kerja haram!!!"
"Apa buktinya?"
"Oke!! Secepatnya aku akan cari bukti-buktinya!!!"
Aku melengos meninggalkan Danang yang masih berteriak penuh emosi.
Di jalan, aku berusaha menenangkan Dewa yang masih sesenggukan.
***
Sejak saat itu hampir setiap hari Danang terus mengataiku perempuan murahan, bahkan di depan Dewa. Setiap malam dia bangunkan aku hanya untuk memaksaku mengaku. Berkali-kali kujelaskan bahwa aku bekerja dan berjualan makanan ringan. Namun dia terus meracau tidak jelas. Waktu tidurku semakin berkurang sementara beban mentalku semakin berat.
Suatu hari, Danang mendatangiku ke rumah Mbak Ika saat aku sedang membantu melayani pelanggannya.
"Disini nggak sekedar jual gorengan tapi sambil nyari pelanggan esek-esek ya?" Danang berkata dengan keras saat aku sedang melayani pembeli yang mengantri.
Aku hanya melirik saja tanpa menjawab. Kuteruskan aktivitasku tanpa mempedulikan Danang. Sementara dari depan wajan besarnya, Mbak Ika mulai memperhatikan karena tahu Danang tak segan mencari masalah dimanapun dia berada.
"Ini semua disini selain beli gorengan, juga pernah icip yang jualin gorengan ya? Berapaan harganya?" Danang semakin memancing emosiku, terus berceloteh tidak jelas.
"Mas, hati-hati lho kalau ngomong, nanti bisa kena pasal pencemaran nama baik." Seorang pelanggan yang juga kesal dengan kelakuan Danang akhirnya buka suara.
"Saya suaminya, saya tahu gimana murahannya istri saya hanya demi mendapatkan uang."
"Apa pantas disebut suami jika tidak pernah menafkahi dan membiarkan istrinya bekerja sambil berjualan makanan ringan. Yang dia tahu hanya rumah bersih, ada makanan, ada kopi, rokok. Pergi entah kemana dan pulang dalam keadaan mabuk. Saat diajak cerai justru playing victim menuduh selingkuh, menuduh jual diri namun semua tanpa bukti."
Aku berteriak menunjuk muka Danang. Kurang istrirahat, lelah lahir bathin membuatku mulai tidak bisa mengendalikan emosi. Mbak Ika segera mengangkat gorengannya yang sudah matang, mematikan kompor lalu mencoba menenangkanku. Beberapa pelanggan wanita juga membantu menenangkanku yang mulai kalut berteriak melepaskan semua uneg-uneg dan emosiku pada Danang. Airmataku terus berderai tanpa tertahan. Danang tanpa segan menarik rambutku, dan memukuliku. Beberapa orang coba melerai namun Danang seperti kesetanan. Sampai sebuah pukulan mengenai kepalaku lalu semua terasa gelap.
***
Aku terbangun dengan kepala dan tubuhku yang terasa sakit. Kulihat sekeliling, ada Mbak Ika sedang duduk di kursi dekat tempatku berbaring.
"Mbak..."
"Eh Nda, sudah bangun?"
Mbak Ika mengambilkan aku segelas air putih dan membantuku meminumnya.
"Dewa mana?"
"Makasih ya Mbak.. Maaf aku ngerepotin."
"Nggak ngerepotin sama sekali kok Nda. Bunda makan dulu ya, kuambilin. Atau mau ganti baju dulu? Kuambilin dasterku ya?"
"Aku belum lapar, Mbak.. Malam ini aku boleh nginap disini Mbak?"
"Boleh Nda... Kuambilkan pakaian ganti dulu ya? Nanti setelah itu makan."
Malam itu aku tidak bisa memejamkan mata. Seluruh tubuh terasa sangat sakit. Beruntung, Mbak Ika terbangun tengah malam dan masuk ke kamarku.
"Nda, kenapa? Aku dengar kamu merintih. Apa yang sakit?"
"Mbak badanku sakit semua."
"Sebentar kuambilkan obat pereda nyeri sama obat gosok ya."
Tak berapa lama Mbak Ika kembali lagi dengan obat, air putih dan sebotol minyak gosok.
"Diminum dulu Nda."
Aku menerima obat dam langsung meminumnya.
"Nda, badanmu panas. Kuantar periksa sekarang ya?"
"Nggak usah, Mbak. Obat saja cukup."
"Ya sudah, tapi kalau nanti nggak membaik, kita langsung ke rumah sakit ya? Sekarang kugosok dulu tubuhmu yang memar."
Aku mengangguk dan membiarkan Mbak Ika menggosok tubuhku yang memar.
Paginya aku terbangun karena mendengar suara Dewa. Tertatih aku keluar kamar. Kulihat Dewa sedang menonton acara televisi sambil disuapi oleh Mbak Ika.
"Mbak...sini biar Dewa kusuapi."
"Nggak usah Nda. Ini tinggal dikit kok. Bunda sarapan terus kita ke dokter aja ya."
"Udah enakan kok, Mbak."
Kuterima sepiring nasi soto buatan Mbak Ika. Kupaksa makan pelan-pelan walau sebenarnya mulutku terasa pahit.
"Mbak, maaf kemarin aku bikin keributan. Padahal kemarin lagi banyak yang beli dan daganganmu masih banyak juga."
"Nggak apa-apa Nda. Kemarin habis kok. Langsung diborong semua sama masnya yang belain kamu."
"Ohya? Besok kapan-kapan kalau ketemu, aku mau ucapin terima kasih."
"Iya Nda... Kemarin Danang juga kena pukul. Hampir saja dikeroyok. Sayangnya nggak jadi. Laki-laki kok kelakuan kayak banci ya Nda. Beraninya mukul perempuan."
"Amit-amit ya Mbak. Semoga kelak Dewa nggak kayak dia."
"Aamiin Nda. Danang nggak hubungi kamu Nda? Tadi pagi aku sempet lihat dia di warung makan dekat pasar. Tapi dia nggak lihat aku. Aku malas basa basi sama dia."
"Ada beberapa kali, tapi nggak kurespon. Dia bilang, aku tidur di rumah selingkuhanku." aku tertawa terbahak.
"Duh aneh banget sih. Kan sini sama rumahmu cuma beda gang. Kenapa dia nggak cek kesini ya Nda? Hahahaha." Mbak Ika ikut tertawa terbahak.
Kadang, cara terbaik menghadapi pahitnya hidup adalah dengan mentertawakannya.
Ponselku berbunyi nyaring tanda panggilan masuk. Ternyata Budhe Ratih. Dengan hati berdebar kuangkat panggilan teleponnya.
"Halo..."
"Nala, besok Sabtu kamu ulang tahun kan? Hari Minggu kalian kesini ya. Budhe masakin nasi kuning untuk acara ulangtahunmu."
"Ya Budhe, besok Minggu aku dan Dewa kesana."
"Sama Danang juga dong."
"Sepertinya tidak, Budhe. Ada yang mau kubicarakan dengan Budhe tanpa ada Danang."
"Ya sudah besok Minggu, Budhe tunggu."
Budhe Ratih mematikan panggilannya. Aku menghela napas lega karena sebelumnya kukira Budhe menghubungiku karena Danang yang mengadu.
"Nda, kamu mau bilang ke keluargamu?"
"Iya Mbak. Aku sudah lelah."
Mbak Ika memeluk menguatkanku.