Janitra

Janitra
Bab 60


Hari ketiga tanpa Dewa di pelukku. Agar tak terasa sepi, malam hari aku mengambil job nyanyi di sebuah cafe. Tentu tanpa sepengetahuan Mas Rio. Tak hanya itu, akupun mulai memasukkan lamaran ke beberapa tempat. Saat ini yang ada di pikiranku ada kerja, cari uang yang banyak agar bisa segera menjemput Dewa.


Tring...


Sebuah pesan teks masuk tepat saat aku hendak bersiap pulang.


[Dek, ke ruanganku bentar.]


[Ya, Mas...]


"Aku duluan ya," pamitku pada Sita.


"Tumben buru-buru."


"Dipanggil boss ke ruangannya."


"Semoga ga berantem lagi. Coba deh jangan keras kepalamu dikurangin dikit. Egonya laki-laki kan dia ga suka dibantah."


"Tapi kalau emang ga sesuai keinginanku, apa aku harus nurut?"


"Nah ini masalahnya. Kamu terbiasa hidup sendiri, ga tergantung laki-laki. Padahal namanya udah berpasangan, mau nggak mau kita harus nurunin ego dan belajar menuruti dia."


"Semudah itu? Hahaha. Dia kan nggak tau posisiku, kalau aku nurut, nanti konsekuensinya apa dia mau ikut nanggung? Belum tentu kan? Kebanyakan laki-laki cuci tanggan lalu minggat gitu aja."


"Sembuhin traumamu dulu deh, Na."


Sita berdiri untuk memelukku.


"Nggak semua laki-laki seperti itu, Na. Banyak yang tetap bertanggung jawab penuh atas wanitanya."


"Halah... Semua sama, manis di depan, giliran jatah tanggung jawab ya ngilang."


Tok tok...


Wajah Mas Rio muncul di balik pintu membuatku dan Sita segera mengurai pelukan kami.


"Maaf saya ganggu ya?"


"Enggak, Pak. Ini saya mau pulang." Sita tergagap.


"Nala saya tunggu di mobil."


"Baik..." lirihku.


"Ya sudah ayo pulang, daripada kamu kena marah lagi. Ingat pesanku, coba sedikit melunak." ucap Sita setengah berbisik setelah Mas Rio menjauh dari kami.


"Kamu kalau malam nggak bisa keluar ya? Ada yang pengen aku ceritain."


"Nanti malam, jemput aku jam setengah tujuh. Gimana?"


"Boleh. Aku jemput ya?"


Kami berjalan beriringan dalam diam dan berpisah di parkiran. Sita menuju motornya sementara aku menuju mobil Mas Rio.


"Sudah curhatnya? Rasanya kok seperti nggak berguna ya jadi pasanganmu, kalau lihat kamu masih curhat ke orang lain apalagi ke mantan terindahmu."


"Aku capek, Mas. Nggak usah ngajak berantem deh."


"Aku nggak ngajak berantem. Aku kan cuma nanya." tanyanya dengan pandangan lurus ke depan.


"Pertanyaan berbau tuduhan. Aku nggak curhat tadi tuh. Sita tau aku lagi kangen sama Dewa makanya meluk aku. Aku nggak pernah curhat sama a'Ardan juga. Terus aja nuduh aneh-aneh."


Mas Rio melirikku sinis.


"Aku capek, mau pulang." ucapku lirih.


"Ke rumahku, mandi, ganti baju lalu temani aku ada undangan pernikahan."


"Hah?? Kok nggak bilang dulu sih? Lagian kenapa harus aku??"


"Aku calon suamimu lho. Wajar kan aku minta kamu temaniku ke undangan pernikahan?"


Kuhembuskan nafas kasar, "Mas, plis deh. Kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Nggak lebih."


"Putus itu dua pihak, kalau sepihak nggak bisa, dek."


"Terserah maumu."


Segera kuketik pesan untuk Sita, mengabarkan bahwa aku tidak jadi menjemputnya pergi karena malam ini harus menemani Mas Rio menghadiri undangan pernikahan relasinya.


Mas Rio membawaku ke rumahnya, ternyata sudah disiapkannya gaun dengan warna yang senada.


"Mandi dulu, sayang." Mas Rio menarikku ke pelukannya.


"Hmm...iya. Lepasin."


Aku berusaha melepaskan pelukannya, namun Mas Rio justru semakin erat memelukku.


"Peluk dulu sebentar."


"Mas, udah tho. Maumu apa sih?"


"Mauku kamu jadi milikku selamanya."


"Oke kutunggu sampai kamu bosan dan membuangku."


Mas Rio mengurai pelukannya, dan berjalan keluar kamar. Kupandangi punggungnya.


"Andai di hatimu hanya ada aku, Mas. Tanpa kamu paksa, aku akan sukarela menerima lamaranmu." ucapku lirih.


Selesai mandi, segera kukenakan gaun yang sudah disiapkan Mas Rio.


Tok tok tok.


"Masuk, Mas..." jawabku.


"Permisi Bu Nala, perkenalkan saya Poppy, saya diminta Pak Rio untuk membantu ibu merias wajah dan rambut."


Ternyata orang suruhan Mas Rio. Aku hanya mengangguk mempersilakan.


"Diminum, kamu haus kan?"


"Terima kasih, Mas."


Kuterima gelas berisi air putih yang disodorkan Mas Rio, segera kuteguk hingga tandas.


Mas Rio mengambil gelas kosong dari tanganku, meletakkannya di atas nakas lalu memelukku dari belakang.


"Cantik. Terima kasih ya, Poppy."


"Mas, jangan gini, malu ah."


"Nggak apa-apa Bu. Senang ya Bu, punya suami romantis seperti bapak." Ucap Poppy seraya membereskan peralatan makeupnya.


Kulirik Mas Rio yang masih memelukku. Seulas senyum kemenangan terukir di bibirnya.


"Iya, saya kan sayang sama istri. Iya kan istriku?"


Dengan terpaksa kutarik bibirku sehingga membentuk senyuman.


"Saya permisi dulu ya Pak, Bu. Semoga acaranya menyenangkan."


"Terima kasih, Mbak."


"Terima kasih, Poppy."


Setelah kupastikan Poppy cukup jauh dari kamar, segera kuminta mas Rio melepaskan pelukannya.


"Yuk berangkat sekarang..."


Sebuah acara pernikahan megah yang digelar di sebuah gedung mewah yang letaknya tak jauh dari sekolah swasta homogen khusus laki-laki.


Tak sekalipun Mas Rio melepaskan pegangannya pada tanganku sejak turun dari mobil hingga memasuki gedung. Sepintas kulihat sosok perempuan yang tak asing. Kutajamkan penglihatanku. Riska. Segera kulirik Mas Rio yang sedang bertegur sapa dengan beberapa relasinya yang juga kukenal.


"Ya Tuhan, drama apalagi yang harus kulakonkan." bisikku dalam hati.


"Pak Rio... Terima kasih kehadirannya di pernikahan adik saya."


Seorang pria bertubuh tegap, berambut cepak yang kuketahui bernama Surya menjabat tangan Mas Rio dengan erat. Lalu pandangannya mengarah ke aku.


"Ini...siapa Pak Rio?" tanyanya tanpa melepas pandangan dari wajahku.


"Istri saya."


Mas Rio tersenyum penuh arti.


"Wah, senang berkenalan dengan wanita secantik anda." tangannya menjabat tanganku dengan erat.


"Terima kasih, Pak..."


"Surya, panggil saja saya Mas Surya biar lebih akrab. Bukan begitu, Pak Rio? Hahaha."


Mas Rio hanya tersenyum tipis. Aku tahu, dia tidak suka dengan perlakuan laki-laki di hadapanku ini.


"Pantas selama ini tidak pernah terdengar isu-isu miring tentang Pak Rio padahal selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Sekarang saya tahu jawabannya, karena hatinya sudah tertambat pada satu wanita yang cantik dan sempurna. Laki-laki kalau sudah ketemu pawangnya nih, biasanya tidak akan berpaling. Ya kan Pak Rio? Hahahaha."


Kulirik rahang Mas Rio mengeras. Segera kutarik tangan kananku lalu memegang lengan kiri mas Rio.


"Saya yang sangat beruntung dan bersyukur memiliki Mas Rio."


"Ya ya ya. Semoga bahagia selalu ya Pak Rio dan mbak...."


"Nala..."


"Semoga bahagia selalu Pak Rio dan Mbak Nala. Jaga baik-baik Mbak Nala, Pak Rio. Karena terkadang, rumput tetangga yang tampak lebih hijau tidak jauh lebih baik daripada mutiara yang sudah kita miliki."


Pak Surya menepuk pundak Mas Rio lalu mempersilakan kami.


Sepanjang acara, aku terus memasang topeng senyumku. Beramah tamah dengan teman-teman Mas Rio yang beberapa sudah kukenal. Aku juga harus merelakan tanganku terus digenggam erat olehnya untuk menyempurnakan akting kami sebagai pasangan paling harmonis abad ini. Kusadari ada sepasang mata yang terus mengawasi kami dengan hati teriris.


***


"Aku langsung pulang saja ya. Besok pakaian ini kubawakan ke kantor saja."


"Menginaplah di rumah malam ini, Na."


"Aku nggak bisa, Mas."


Seolah tak mendengar ucapanku, Mas Rio menjalankan mobilnya ke arah rumah bukan kosku. Protesku dianggap sekedar angin lalu.


"Turun..."


"Kan aku bilang, aku mau pulang."


"Ini rumahmu juga."


"Tapi..."


Telunjuk Mas Rio mendarat di bibirku, pertanda ia memintaku diam tak meneruskan perkataanku.


"Kamar tadi bisa kamu tempati. Di lemari ada beberapa baju yang kurasa cukup untukmu."


"Aku minta tolong temanku jemput ya Mas. Aku nggak bisa tidur disini."


"Nggak mau tidur disini? Apa alasanmu? Kita belum menikah? Bagaimana dengan kamu dan Ardan dulu? Kamu pernah tinggal di rumahnya kan?"


"Bisa tolong stop bahas aku dan dia? Aku capek mas, setiap kita ada masalah, kamu selalu sangkut pautkan dengan hubunganku dan dia. Aku dan dia sudah usai lama. Sudahlah Mas, kamu butuh aku hanya untuk melancarkan perselingkuhanmu dengan Riska. Aku tau, tadi kamu sengaja ajak aku agar Pak Surya tau bahwa kamu sudah terikat sehingga kecurigaannya padamu luntur. Begitu kan? Kamu pikir aku nggak sakit hati mas? Sedari tadi aku menahan emosi hanya untuk menjaga nama baikmu tapi apa yang kudapatkan?? Bukan ucapan terima kasih karena aku sudah bersedia menjadi bonekamu, justru tuduhan demi tuduhan yang sudah tidak masuk akal lagi. Capek aku mas. Capek!!!"


"Siapa yang menjadikanmu boneka? Kan memang kita akan segera menikah, kan? Lalu tuduhan apa? Benar kan kamu pernah tinggal di rumah kekasih terindahmu itu?"


"Iya. Puas?? Apalagi Mas? Kalau kamu benar mau menjadikanku istri seharusnya kamu berhenti membahas masalaluku dengannya!!"


"Apakah aku juga harus berhenti mencari tahu, siapa bapak biologis Dewa? Mantan suamimu atau mantan kekasih terindahmu."


Mas Rio berbisik tepat di telingaku sebelum meninggalkanku sendiri di ruang tamu.