
"Kalau nanti malam aku yang mengajakmu ngopi, kamu mau?"
"Mau, Mas."
"Ajak dia. Kita bicara bertiga. Kujemput jam sembilan, kamu berangkat bersamaku."
"Tapi mas, kenapa harus sama dia. Apa nggak sebaiknya..."
Belum selesai aku bicara, Mas Rio sudah memutusnya.
"Aku sedang tidak ingin dibantah."
"Baik, Mas. Nanti kuminta tolong Nadya untuk memintanya datang."
Mas Rio menjalankan mobilnya kembali ke kantor, setelah sebelumnya membeli dua bungkus nasi padang untuk kami makan di kantor.
Sepanjang perjalanan kami sama-sama terdiam. Namun dalam diamku, aku mulai memikirkan semua tentang ucapan a'Ardan semalam, ucapan Nadya, ucapan Mas Rio dan mencoba menelaah kembali perasaanku. Benarkah sebenarnya aku terlalu gegabah dalam memulai hubungan baru sementara perasaanku pada a'Ardan belum sepenuhnya selesai.
Kutarik nafas panjang, mencoba melepaskan himpitan dalam dada yang terasa sesak.
***
Tok tok tok
"Masuk..."
"Saya barusan dapat kabar dari Nadya, katanya a'Ardan bisanya sore ini. Saya ijin jemput anak saya dulu, nanti saya susul kesana."
"Duduk. Nanti kita berangkat bareng. Aku selesaikan ini dulu."
"Tapi anak saya..."
"Apa selama menjadi kekasihmu, aku tidak bertanggung jawab pada Dewa?"
Kutarik nafas panjang. Di situasi seperti ini memang pasti semua menjadi serba salah.
"Sita sudah pulang?"
"Belum. Mau saya panggilkan?"
"Ya."
Untung saja Sita masih berada di kantor.
"Ya Pak?"
"Tolong jemput Dewa ya. Ini uang untuk belikan dia dan anakmu jajan. Maaf saya merepotkan.
Sita melirik ke arahku, meminta persetujuan.
"Gimana Sita? Ini saya sudah hubungi gurunya bahwa kamu yang menjemput Dewa."
Mas Rio memang punya akses ke sekolahan Dewa karena selama ini dia yang sering mengantar dan menjemput Dewa.
"Baik, Pak."
"Terima kasih. Yuk Nala, kita berangkat sekarang. Sepertinya kamu sudah tidak sabar."
"Mas..." tegurku pada Mas Rio namun dia tidak peduli.
Setengah jam kemudian kami sudah sampai di rumah Mas Rio. Sengaja Mas Rio memilih bertemu di rumahnya, antisipasi jika obrolan memanas.
Tak lama setelah kami sampai, a'Ardan datang bersama Nadya.
"Mari silahkan masuk." Mas Rio menyambut dengan ramah.
A'Ardan duduk di sebelah Nadya yang berhadapan dengan aku dan Mas Rio. Seorang asisten rumah tangga menyuguhkan empat gelas es syrup berwarna hijau dan sepiring lapis legit yang tadi sengaja dibeli oleh Mas Rio sebagai kudapan.
"Silahkan diminum dan dimakan dulu." Mas Rio masih mempersilahkan dengan ramah.
Kami meminum sedikit untuk mendinginkan pikiran, karena walau tampak ramah, sebenarnya Mas Rio sedang emosi.
"Langsung saja ya. Saya mau bertanya dulu dengan Mbak Nadya. Kata Nala, kemarin malam, Mbak Nadya mengajak Nala keluar, apa benar?"
"Benar, Mas. Saya ajak ngopi ke Bukit Bintang."
"Dengan siapa saja?"
"Sama a'Ardan, Mas." Nadya tertunduk, menjawab lirih.
"Lalu tanpa izin saya, Nala menerima ajakan mbak Nadya untuk ngopi bersama mantan kekasihnya. Begitu ya?"
"Mas, bukan gitu."
"Aku ngobrol dulu sama Nadya, boleh sayang?"
"Saat itu Nala nggak tau kalau saya datang bersama a'Ardan."
"Ohya? Benar begitu, sayang? Kamu nggak tau kalau ada mantanmu?"
"Iya, Mas. Aku nggak tau." jawabku lirih.
"Liat mata mas dong, sayang."
"Aku nggak tau ada.....dia, Mas." kuulangi jawabanku seraya menatap matanya.
"Mas..." kusentuh tangannya, berharap emosinya mereda.
"Sudah nggak usah basa-basi. Maksud anda mengundang saya kesini, apa?"
"Apa pantas malam-malam menjebak kekasih orang lain untuk pergi dengan anda?"
"Baru kekasih kan? Belum istri? Lagipula saya dan dia masih saling mencintai. Benar begitu kan, Nala? Anda itu hanya tempat pelariannya karena kami ada kesalahpahaman."
"Aa, jangan ngomong aneh-aneh!!"
Mas Rio mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
"Yakin sekali anda?"
"Saya mengamati gesture tubuhnya jika bertemu dengan saya."
"Ada yang mau kamu jelaskan, sayang?"
"Kemarin dia menanyakan tentang perasaanku. Sudah kujawab bahwa kami sudah selesai lama. Tapi..."
"Sudah cukup, aku sudah tahu semua percakapan kalian kok."
"Maksud mas gimana?" tanyaku spontan.
"Kamu nggak perlu tahu, yang jelas aku tahu semua percakapan kalian. Disini saya mau menegaskan. Nala saat ini sudah menjadi calon istri saya. Tolong hargai saya dan hargai keputusan Nala untuk melepas anda."
"Nala hanya akan bahagia dengan saya. Saya tidak akan membiarkannya jatuh ke pria yang salah kedua kalinya. Terlebih pada anda yang track recordnya seperti itu."
"Apakah anda sudah merasa baik?"
nada suara Mas Rio meninggi. Sementara itu a'Ardan bersiap memberikan jawabannya namun segera kuserobot.
"Nad, tolong bawa a'Ardan keluar dari sini. A'a, tolong cukup. Aku udah mau menikah sama Mas Rio."
"Dia bukan orang yang tepat buat kamu, Na!!!"
"Biarkan aku bahagia, a'."
"Tapi bukan dengan laki-laki ini, Na. Percaya a'a!"
"Cukup! Keluar dari rumah saya dan jangan pernah usik Nala lagi. Atau..."
"Atau apa? Ingin membongkar tentang diri sendiri di depan Nala?"
"Keluar!"
"Tidak perlu diusir, saya juga akan pergi! Suatu saat, Nala akan tahu kebusukanmu!!!"
A'Ardan keluar dengan penuh emosi sementara Nadya menyusul di belakangnya.
Kusodorkan segelas es syrup pada Mas Rio dan langsung diteguknya hingga habis.
"Mas, sudah jangan diperpanjang lagi. Aku malu, Mas. Seperti barang saja diperebutkan."
"Tau apa yang bikin aku marah??"
"Aku tidak izin."
"Dan kamu tetap pergi saat tahu ada dia."
"Maaf, aku mengaku salah."
"Kesalahan yang berkali-kali dan semua selalu berhubungan dengan mantan kekasihmu itu. Lihat aku! Masih secinta itukah kamu pada dia?"
Segera aku menggeleng.
"Nggak Mas, bukan gitu."
"Ya sudah lah. Aku capek dengar alasanmu. Kamu salah kalau berpikir dengan berbuat kesalahan-kesalahan kecil, aku akan melepaskanmu. Kecuali..."
"Kecuali apa, Mas?"
"Kecuali kamu ditiduri oleh laki-laki lain atas dasar suka sama suka dan dengan kesadaran penuh!" Mas Rio berbisik.
"Aku nggak seperti itu, Mas."
"Bagus! Semoga kamu bisa membuktikannya." Mas Rio mengusap lembut kepalaku.
Mas Rio mendekatkan wajahnya pada wajahku. ******* bibirku dengan lembut.
"Mmh, kita jemput Dewa." ucap Mas Rio dengan nafas tersengal setelah menyudahi ciuman panasnya padaku sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
**
"Mas, benar kamu cinta aku?" tanyaku hati-hati sesaat setelah mobil Mas Rio meninggalkan rumahnya.
"Kamu ragu setelah bertemu dia lagi?"
"Bukan begitu, Mas. Sementara mas kan ganteng, kaya, agak aneh aja mau sama aku yang seperti ini. Nggak cantik, nggak kaya, janda lagi."
"Cinta nggak perlu alasan. Kalau ada alasan, namanya bukan cinta."
Kutatap wajah mas Rio dari samping. Berharap ada kejujuran dari setiap jawabannya walau sesungguhnya aku mulai meragu.