
Baru saja hendak berdiri, tanganku ditarik sampai duduk kembali.
"Dimana kamu titipkan Dewa? Kalau kamu tidak sanggup mengurusnya, biar dia sama aku," Mas Rio menatapku tajam.
"Dia sedang bersama saudaraku. Aku nggak akan berikan Dewa pada siapapun," tukasku.
"Pintar berbohong kamu sekarang ya? Aku tau Dewa kamu titipkan di Panti Asuhan. Aku juga tau lokasinya, dan siapa yang kamu temui disana."
"Mau sampai kapan kamu memata-matai aku? Kamu saja nggak pernah percaya aku, untuk apa hubungan ini dilanjutkan, Mas?"
Bukan menjawab pertanyaanku, Mas Rio justru mendekatkan wajahnya lalu memeluk dan ******* bibirku.
Kudorong tubuh Mas Rio hingga ia mundur.
"Munafik!!"
"Apa Mas? Kamu bilang apa??"
Mas Rio mendekatkan mulutnya ke telingaku,"Kamu munafik! Menolak denganku namun dengan rela menyerahkan tubuh pada mantanmu. Siapa namanya? Ardan?" ucapnya dengan senyum sinis terukir di wajahnya.
"Jaga ucapanmu, Mas!! Aku nggak serendah itu."
"Ohya? Lalu apa yang kalian lakukan di lantai dua kostmu tengah malam sesaat setelah dia mengantarkanmu pulang dari kelab malam?"
"Kami hanya ngobrol. Nggak lebih, Mas."
"Tengah malam, berdua di lobby kos yang sepi. Obrolan macam apa?"
Kuhembuskan nafas dengan kasar. Kutatap mas Rio yang masih menatapku tajam.
"Jawab, Na!!"
"Aku mau jawab apa? Kujawabpun mas nggak akan percaya."
"Jawab!"
"Aku sama dia nggak ngapa-ngapain."
"Bohong!!" Mas Rio membentakku.
"Mas berharap aku menjawab, ya mas aku bercinta sama dia semalam suntuk berkali-kali. Begitu? Baik, anggap saja itu jawabanku. Puas??"
Mas Rio mengusap wajahnya frustasi.
"Aku pengen percaya kamu tapi berkali-kali kulihat kamu masih berhubungan dengan dia. Seistimewa apa dia di hidupmu sampai kamu nggak bisa mengabaikannya?"
"Mas, saat ini rasa percayaku ke kamu juga hilang tak berbekas. Berarti kita sama kan? Lalu untuk apa dilanjutkan?"
"Aku akan tetap menikahimu. Keluargaku akan segera melamarmu," tukas Mas Rio.
"Nggak baik kita memaksakan hubungan di atas rapuhnya kepercayaan."
Lama kami terdiam dalam lamunan masing-masing. Tanpa mendung, hujan turun dengan derasnya seolah mewakili perasaanku saat ini. Aroma petrikor menusuk hidung. Pelan aku berjalan keluar, menikmati aroma hujan yang selalu kusuka. Andai tidak sedang berada disini, pasti aku akan berkeliling menggunakan motor di bawah derasnya hujan hanya agar tak seorangpun tau, aku menangis.
Hujan semakin deras, dengan angin yang cukup kencang sehingga butiran-butiran air hujan menerpa, membasahi wajahku.
Kurasakan tangan Mas Rio melingkar di pinggangku. Entah sudah berapa lama dia juga menikmati hujan.
"Apa nggak bisa kita perbaiki dan memulainya dari awal?" Mas Rio berkata lirih.
"Lalu bagaimana kamu dengan a'a mu?"
"Aku dan dia sudah selesai lama. Bukan hubungan yang kujalin diam-diam."
Mas Rio membuang nafasnya kasar.
"Pembicaraan kita nggak akan pernah selesai karena masing-masing dari kita sama-sama tidak bisa percaya. Lalu apa harus dilanjutkan? Coba telaah lagi perasaan mas. Benar ada cinta untukku atau sekedar memenuhi ambisimu semata? Kalau benar cinta, seharusnya mas bisa melepas dia. Toh dia sudah menikah kan?"
"Aku nggak mau kehilangan kamu," ucapnya sambil mengeratkan pelukan.
"Nah ambisi kan? Bukan cinta. Kamu nggak akan kehilangan aku. Kita masih bisa berteman, segera setelah luka yang kamu torehkan sudah kering dan sembuh sekalipun tetap akan berbekas."
"Kamu cinta aku?"
"Kemarin iya. Saat ini, entah. Yang kurasa saat ini hanya luka dan ketidak percayaan yang bertahta mengalahkan rasa cinta yang kemarin pernah ada. Kukira kamu berselingkuh, ternyata aku selingkuhanmu. Hahaha," tawa getir menutup kalimat jawabanku.
"Maaf..."
"Tenang saja, selalu ada maaf kok untuk laki-laki peselingkuh sepertimu. Tapi untuk membuka hati lagi sepertinya aku kali ini takkan mampu. Kalian bahagia kan menjalani ini? Jalani saja terus. Membangun sebuah hubungan di atas hubungan lain yang masih berdiri kokoh, fondasinya nggak kuat. Lihat saja sampai kapan kalian bertahan."
"Semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Na."
"Beri aku penjelasan kalau aku salah, Mas."
"Belum saatnya kamu tau semua."
"Dan setelah kamu merasa waktunya tepat, aku sudah pergi jauh dari hidupmu. Saat itu, kesempatanmu untuk menjelaskan sudah percuma karena tidak akan bisa mengubah keputusanku."
Lalu kami terdiam lagi. Sama-sama menikmati hujan yang masih tercurah dengan derasnya. Kusilangkan kedua tangan untuk mengurangi rasa dingin yang mulai menusuk.
"Dewa dimana?" tanyanya tiba-tiba.
"Kamu sudah tahu kan? Kenapa harus bertanya?"
"Aku butuh jawaban dari mulutmu."
"Dia kutitipkan sementara waktu sampai aku mendapat tempat tinggal yang layak untuknya."
"Menikahlah denganku, tinggallah disini bersamaku dan Dewa."
Kututup mulut rapat-rapat, enggan menjawab karena hanya akan menjadi perdebatan tak berujung.
Langit semakin gelap, sebentar lagi malam kan menyapa. Biasanya jam segini aku sudah bersama Dewa. Mendengarnya berkisah tentang guru dan teman-temannya, atau menemaninya bermain lego sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut mungilnya. Belum juga sehari, rasa rindu sudah menggebu. Kulirik mas Rio di sampingku, hampir saja kuiyakan permintaannya hanya agar Dewa mendapat tempat tinggal yang layak dan segera kujemput untuk kembali ke pelukanku. Namun segera kuusir pikiranku tadi. Merebut hati yang sudah terlanjur penuh oleh cinta perempuan lain tentu akan sulit bagiku.
Kuputar tubuhku, kulewati mas Rio yang masih termenung menatap hujan.
"Mau kemana?" tanya Mas Rio saat melihatku mengambil tas, bersiap pulang.
"Pulang."
"Malam ini, aku ingin sama kamu."
Aku menggeleng pelan.
Mas Rio mendekatiku, memeluk pinggangku dengan satu tangannya dan berbisik,"Siapa ayah biologis Dewa? Ardan atau mantan suamimu? Jangan bohongi aku."
Buliran bening lolos mengalir dari kedua mataku saat mendengar ucapannya.