
Hari minggu kali ini aku tidak memiliki rencana bepergian. Kebetulan Dewa juga tidak mengajakku kemana-mana. Jadilah sehabis sarapan dan mencuci baju, aku berdua Dewa menghabiskan waktu menonton acara anak-anak yang biasanya di hari minggu diputar seharian di televisi.
Jam menunjukkan angka sembilan saat terdengar ketukan di pintu kamar kost. Dengan malas, kubuka pintu. Sesosok gadis kecil menerobos masuk saat pintu baru terbuka sedikit.
"Dewa, ikut ke pantai yuk."
Dewa yang sedang tiduran sambil menonton televisi langsung bergegas bangun.
"Wah aku mau. Boleh kan Bunda?"
Aku melirik Mas Adit yang duduk di kursi depan kamarku.
"Udah ayo ikut aja. Ngapain sih hari minggu di kost doang?"
"Ngerepotin nggak?"
"Enggak lah. Sudah sana siap-siap."
Aku segera menyiapkan keperluanku dan Dewa sementara Ocha duduk manis di depan televisi menikmati pisang goreng yang tadi kubuat untuk kudapan hari ini. Sisa pisang goreng lalu kumasukkan dalam sebuah kotak makan plastik, kuambil juga beberapa makanan ringan yang memang selalu kusiapkan untuk Dewa.
Tak terasa senja menggantikan siang. Semburat jingga diatas hamparan laut luas selalu menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan bagiku.
"Anak-anak, ayo mandi yuk. Sudah hampir gelap nih. Pada laper juga kan?" Mas Adit memanggil Ocha dan Dewa untuk segera menyudahi kegiatannya bermain pasir.
Dewa dan Ocha menuruti ajakan Mas Adit tanpa banyak protes. Sepertinya mereka sudah mulai lapar walau siang tadi kami mengisi perut dengan bekal kami dan beberapa cemilan berat seperti jagung bakar, roti cokelat juga masuk ke perut mereka di sela-sela bermain pasir.
Aku memandikan Ocha dan Dewa bergantian, sementara Mas Adit yang mengeringkan dan menggantikan baju mereka.
"Mau makan apa nih sekarang?" tanya Mas Adit pada kami.
Ocha dan Dewa saling berpandangan lalu berbisik-bisik.
"Ayam bakar boleh nggak?" tanya Ocha pada Mas Adit.
"Boleh. Tapi Dewa mau nggak?"
Dewa mengangguk antusias.
"Mau Om, mau..."
"Oke, sekarang bantu bawa barang-barang ke mobil ya?"
Mas Adit menyerahkan plastik berisi makanan ringan yang tidak kami makan pada Ocha dan Dewa sementara tas berisi baju bersih dan plastik kresek berisi baju basah dibawanya sendiri.
"Sini kubawa satu, Mas." pintaku saat melihatnya tampak kerepotan.
"Nggak usah, kamu tolong gandeng anak-anak saja." tolaknya.
Aku segera meraih tangan Ocha dan Dewa, kugandeng sampai ke mobil sambil kuajak mereka menyanyikan lagu anak-anak.
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul delapan saat kami keluar dari warung makan ayam bakar langganan Mas Adit. Ocha dan Dewa tampak sudah sangat mengantuk. Mungkin karena lelah bermain, lalu sekarang perut mereka kekenyangan.
"Kalian ngantuk?" tanya Mas Adit.
"Iya." jawab Dewa lirih sementara Ocha mengangguk dengan mata sayu.
"Kalian berdua di jok tengah saja ya, biar Bundanya Dewa duduk di jok depan."
"Enggak. Aku pengen bobok di pangku Bundanya Dewa." Ocha merengek.
"Ya sudah, aku di tengah juga aja ya Mas?"
"Aku di depan aja Bun. Biar nemenin Om Adit." putus Dewa. Padahal biasanya dia selalu minta kupangku saat tidur. Entah kenapa kali ini dia mau duduk sendiri.
"Oke." kata Mas Adit seraya mengelus rambut Dewa.
Jadilah aku di tengah memangku Ocha yang langsung terlelap, bahkan sebelum mobil berjalan keluar dari tempat parkir. Sementara Dewa juga lelap tak lama setelah Mas Adit menjalankan mobil menuju kosku.
"Mas, makasih ya. Dewa hari ini tampak senang."
"Sama-sama. Aku juga makasih, kalian mau ikut jadi Ocha ada teman bermain."
Lalu kami terdiam. Mas Adit fokus menelusuri jalan gelap dan sepi di depannya, dan aku memilih menatap suasana malam dari jendela sampingku.
Tak terasa sudah hampir sampai di kostku. Namun Mas Adit malah menghentikan laju kendaraannya di sebuah warung tenda.
"Kita minum susu jahe sebentar ya untuk menghangatkan badan biar besok fit lagi." ucap Mas Adit sebelum aku sempat bertanya.
"Oke..." jawabku singkat. Sepertinya susu jahe minuman yang tepat untuk menjaga tubuhku tetap fit setelah seharian terkena dinginnya air dan angin laut yang cukup kencang hari ini.
"Original saja Mas."
Lalu Mas Adit turun untuk memesan dua gelas susu jahe. Tak lama dia kembali lagi.
"Sebentar ya, nanti diantar."
"Iya."
"Na, kamu ada rencana apa ke depannya?"
"Belum tahu, Mas. Sepertinya aku pengen cari kerja tambahan. Tapi apa ya."
"Nyanyi di cafe, mau?"
"Duh, bisa nggak ya aku..." aku menjawab ragu. Sebenarnya berminat sih, tapi aku ragu dengan kemampuanku sendiri.
"Bisa. Yakin aja."
"Boleh deh."
"Besok Kamis siang, ikut aku ya? Kukenalkan dulu sama teman aku."
"Ya mas. Atau kamis sore gimana? Setelah aku pulang kerja?"
"Gitu juga boleh. Kamu berangkatnya kuantar saja, jadi nanti pulangnya kujemput lalu kita menemui temanku."
"Ya. Makasih ya Mas."
Seorang pemuda yang kutaksir berusia sekitar dua puluhan tahun mengetuk jendela sampingku untuk mengantar pesanan kami. Ternyata Mas Adit memesan dua susu jahe original, satu pisang bakar cokelat keju susu, satu roti bakar cokelat keju.
"Kamu masih lapar, Mas?" tanyaku setelah melihat apa saja yang Mas Adit pesan.
"Minum susu jahe tuh rasanya kurang kalau tanpa roti bakar dan pisang bakar." jawabnya sambil tertawa pelan karena takut membangunkan Dewa dan Ocha yang tampak lelap.
Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan. Rencana Mas Adit mengantarkan aku dan Dewa dulu ke kost sebelum pulang ke rumahnya. Kebetulan memang rumahnya dan kosku tidak jauh. Jika berjalan kaki, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja.
Sesampainya di depan kost, Mas Adit menurunkan beberapa barangku dulu dan membawanya ke dalam. Tak lama dia keluar lagi, untuk menggendong Dewa dan juga mengantarnya ke dalam.
"Dewa sudah kutidurkan di kamar, kusuruh Mega menemaninya dulu."
Perlahan kuletakan Ocha di jok, kepalanya kualasi bantal kecil yang tersedia di mobil. Lalu masih dengan pelan-pelan, aku turun dari mobil dan menutup pintunya. Kuucapkan terima kasih sekali lagi pada Mas Adit. Lalu bergegas masuk ke kos, takut Dewa terbangun dan rewel mencariku. Mas Adit tampak menungguku sampai aku masuk ke kos dan berlalu setelah memastikan aku aman.
"Makasih ya. Maaf ngerepotin."
"Nggak ngerepotin kok." jawab Mega dengan tersenyum.
"Mau minum teh dulu nggak?" tawarku pada Mega.
"Enggak mbak. Aku mau tidur aja. Lagi datang bulan nih, badan nggak enak banget." Mega berkata sambil berlalu dari kamarku.
Segera kubersihkan diri, berganti pakaian, lalu perlahan kulap wajah, tangan dan kaki Dewa juga kugantikan baju. Untung Dewa tidak terbangun. Tampaknya dia teramat lelah bermain hari ini.
Kurebahkan tubuhku di sebelah Dewa. Kupandangi wajah tampannya. Seperti biasa, kulangitkan sejuta doa baik untuknya, untuk kehidupannya, untuk masa depannya, lalu terakhir kucium keningnya dan kubisikkan afirmasi positive di telinganya. Tampak Dewa tersenyum, entah hal indah apa yang sedang ia alami dalam mimpinya.
Mataku sudah sangat berat, namun entah mengapa rasanya ingin mengecek ponselku.
Ada beberapa pesan masuk di antaranya, Bang Rico, a'Ardan dan satu nomor baru yang tidak kukenal namun isinya membuatku mengernyitkan dahi.
[Hey perempuan murahan! Temui aku besok pagi!!!]
[Jangan pernah kamu bermimpi bisa merebut kekasihku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mendekati apalagi merebutnya.]
[Kenapa tidak menjawab?? Merasa bersalah? Atau justru berencana untuk lebih menggoda??]
[Ingat! Besok pagi temui aku di taman kota.]
[Heh!! Kamu sedang bersenang-senang bersama pacarku rupanya? Dimana kalian? Kenapa kalian tidak ada yang menjawab pesanku?]
Kuhembuskan nafas kasar. Hampir seharian aku tidak sempat memegang ponsel karena Ocha dan Dewa memonopoli waktu dan perhatianku. Sekalinya bisa memegang ponsel justru mendapat pesan yang bernada kasar dan penuh dengan umpatan yang entah siapa pengirimnya.
Segera kuketikkan pesan untuk membalasnya.
[Jika tahu etika, seharusnya anda memperkenalkan diri terlebih dahulu, menanyakan baik-baik dulu karena bukan tidak mungkin anda mengirim pesan pada nomor yang salah. Selamat malam dan terima kasih sudah mengganggu waktu saya.]
Setelah kupastikan pesan terkirim, kumatikan ponselku, lalu menyambungkannya pada kabel pengisi daya agar besok tidak ada drama kehabisan baterai ponsel.
Kutepis semua pikiran-pikiran tentang si pengirim pesan tadi. Kupejamkan mataku dan mencoba terlelap, berharap mendapat mimpi indah karena jalan hidupku belum indah.