
PoV Aditya
Aku mengenalnya saat Nala berusia lima belas tahun di sebuah cafe tempatku bekerja. Beberapa kali dia berkunjung namun hanya duduk diam. Agak aneh, memang. Tapi dari tarikan napasnya, aku yakin dia hanya sekedar mencari suasana lain. Tapi, seberat apa sih beban seorang anak berseragam abu-abu putih? Paling sebatas pelajaran sekolah atau pacar, pikirku saat itu.
Suatu hari, aku sudah bersiap pulang dan sedang berjalan ke tempat mobilku terparkir dengan manis. Aku melihat seorang gadis tergopoh turun dari sebuah armada taksi yang berhenti tepat depan cafe. Lalu dia berlari masuk namun pandangannya tidak lurus ke depan sehingga ia menabrakku.
"Eh maaf...maaf..."
Aku memindainya, melihat dari atas ke bawah, bawah ke atas dengan tatapan heran. Karena tidak kujawab, gadis itu akhirnya mendongak menatapku.
"Mas, maaf ya.. eh, mas kerja di cafe ini ya?" dia melontarkan pertanyaan yang sebenarnya lebih ke tebakan karena aku yakin, sebelum hari ini dia tidak pernah melihatku.
"Iya, tapi ini sudah tutup. Lagipula kamu mau ke cafe dengan pakaian seperti ini?"
Ya, dia mengenakan daster putih bergambar tedy bear selutut dan cardigan rajut tipis berwarna hitam dengan sepasang sandal jepit lusuh, tidak lupa rambutnya digulung sekenanya tanpa sisiran. Belum lagi obat jerawat di beberapa spot.
"Mau jemput temenku, mas. Di jackpot."
"Tapi di dalam udah nggak ada orang lho."
Karena kasihan aku membantu mencari temannya yang ternyata berada di dekat mobilku.
"Kamu naik taksi lagi? Atau mau kuantar?"
"Tadi temanku kesini bawa mobil, makanya aku kesini untuk jemput."
Aku membantu membopong temannya masuk ke dalam mobil.
"Kalian kost?"
Dia tampak akan mejawab namun segera mengurungkannya dan terdiam beberapa saat seolah mencari jawaban yang tepat.
"Tenang, aku orang baik, kok. Maksudku, kukawal kalian sampai kost. Ini sudah terlalu larut untuk seorang gadis berdaster mengendari mobil sendirian."
"Kami tinggal bersama di sebuah rumah, mas. Tapi agak jauh dari sini. Mas rumahnya mana? Kalau nggak searah ya kasihan masnya."
"Ya sudah ayo, aku ikutin kalian dari belakang. Kupastikan kalian sampai rumah baik-baik saja."
"Mas, tapi maaf sebelumnya, nanti mas nggak usah turun ya... Nggak enak sama tetangga."
Aku mengangguk mengiyakan. Aku paham alasannya. Takut juga kalau tiba-tiba kami digrebek lalu dipaksa kawin, eh, nikah.
Gadis itu tampak sedikit ragu, namun tetap membiarkan aku mengikuti mobilnya dari belakang.
Sesuai janji, aku hanya memastikan mereka sampai rumah dengan selamat, lalu aku melajukan mobil untuk pulang ke rumahku. Lelah sebenarnya, karena rumahku dan rumahnya berlawanan arah. Namun entah ada dorongan untuk mengawalnya tadi - seorang gadis yang bahkan aku lupa menanyakan namanya tadi.
Namaku Aditya, lelaki tampan dan baik hati. Memiliki seorang anak, tapi tolong jangan tanyakan kemana istriku karena statusku masih lajang saat ini. Kegiatanku sehari-hari selain bekerja adalah mengurus gadis kecilku yang sejak lahir kuurus dan kurawat sendiri. Aku sudah lama mengakrabi dunia malam, namun baru kali ini aku peduli dengan salah satu pengunjung cafe tempatku bekerja. Seperti ada rasa ingin melindunginya. Mungkin, karena dia masih tampak muda sekali jadi jiwa kekakakanku muncul.
Seminggu kemudian, kami bertemu lagi. Kali ini dia yang menyapaku terlebih dahulu.
"Mas, terima kasih ya waktu itu. Gara-gara mbak Ida mabuk, aku jadi bikin repot Mas."
"Nggak apa-apa kok. Ohya namaku Aditya. Kalau butuh apa-apa, boleh cari aku."
"Aku Nala, Mas. Ini temanku Mbak Ida."
"Oke. Aku kerja dulu ya."
Tolong jangan bayangkan kami berbicara dengan normal layaknya perkenalan biasa. Untuk mendengar dan memahami ucapan masing-masing, kami perlu saling berteriak dan mengamati gerak bibir agar tidak salah tangkap.
Sejak malam itu, kami mulai akrab. Terkadang aku mengajak mereka jalan sekedar makan atau ikut aku ke beberapa acara.
Hanya berteman, tidak lebih. Karena saat ini fokusku hanya untuk anakku.
Namun pertemanan kami tidak berlangsung lama. Nala dan Ida lama menghilang tanpa kabar. Sementara aku juga pindah kerja ke cafe lain.
Hari-hari kulalui seperti biasa karena kehadiran Nala dan Ida tidak pernah mengubah kehidupanku dan kebiasaanku. Sepulang kerja aku tidur, bangun jam 6 untuk memandikan bayiku, menyuapinya, mengajaknya bermain sambil mencuci baju, lalu saat dia tidur, aku juga ikut tidur. Setelah memandikannya sore hari, kutitipkan pada ibu dan adikku sementara aku berangkat kerja. Namun tidak selalu begitu sih, kadang aku harus menemui orang dulu jadi tidak sempat memandikan sore.
***
Hari berganti tahun, aku mulai melupakan Nala dan Ida. Sampai suatu hari saat aku mengantarkan putriku ke sekolahnya, seorang ibu muda senyum-senyum manis melihatku dari kejauhan. Awalnya kupikir hanya sebuah bentuk keramahan maka kubalas senyum lalu aku pergi begitu saja. Namun ternyata setiap melihatku, si ibu muda selalu tersenyum manis. Mungkin karena kesal selalu kuabaikan, dia memanggilku sebelum berlari-lari kecil menghampiriku.
"Sombongnyaaaaa mas...dari kemarin kusenyumin, eh aku malah ditinggal pergi."
Aku mengernyitkan kening, menatap heran ibu muda di depanku namun tetap memasang senyum manis.
"Maaf kita pernah kenal?"
"Mas Adit yang dulu di cafe mumet kan?"
"Tahu lah...kan aku dulu pernah mas anter sampai rumah pas mbak Ida mabuk."
Aku masih mencoba mengingat dengan keras. Ya, untuk urusan ingat mengingat, aku memang lemah. Apalagi kejadiannya sudah beberapa waktu lampau.
"Aku Nala, Mas." sambungnya lagi tampak kesal karena aku tak juga mengingatnya.
"Oh iya... Kamu yang ke cafe pake daster itu kan ya? Hahahaha." tawaku membahana mengingat wajahnya yang penuh obat jerawat, menggunakan daster, bersandal jepit dan rambut acak-acakan.
"Ah Mas Adit yang diingat pas aku jelek deh." Nala memanyunkan mulutnya.
Aku mengacak rambutnya.
"Hahaha. Maaf deh maaf. Eh kamu antar siapa? Keponakan?"
"Anakku. Mas antar siapa?"
"Anakku juga."
"Udah sarapan belum? Kutraktir makan soto disitu, yuk." aku menunjuk warung yang letaknya di depan sekolah anak-anak. Bukan karena enaknya, namun karena lokasinya paling dekat.
"Boleh deh. Lama juga kita nggak ngobrol." Nala mengiyakan.
Lalu kami berdua jalan ke warung soto seberang sekolah.
"Jadi kamu sudah menikah ya. Wah selamat."
"Makasih mas. Mas juga udah nikah ya."
Aku hanya tertawa, enggan menjawab.
Sambil makan, kami bernostalgia menceritakan kejadian-kejadian lucu yang dulu kami lalui.
"Mas, aku ke kantor dulu ya. Lain kali gantian aku traktir kamu kalau pas kamu yang antar sekolah."
"Oke. Kutunggu ya."
Lalu hampir setiap hari kami bertemu saat mengantar, walau kadang kami hanya saling senyum atau melambaikan tangan. Walau sudah menjadi seorang ibu, cerianya tidak pernah pudar. Sepertinya dia bahagia dengan pernikahannya. Akupun ikut senang, teman kecilku sekarang sudah bahagia.
Sampai suatu hari dugaanku terpatahkan saat melihat matanya sembab dan ada lebam di wajah dan tangannya. Sebenarnya aku ingin menanyakannya, namun tidak enak karena sudah masuk ranah pribadi. Tapi Nala tidak berubah, dia menyapaku dan juga beberapa orangtua murid lainnya dengan senyum tak pudar dari bibir tipisnya.
Kukira hanya hari itu aku melihatnya seperti itu, ternyata hari-hari berikutnya juga beberapa kali kupergoki matanya sembap dan lebam di beberapa bagian tubuhnya.
Untunglah orangtua murid di sekolah anakku bukan tipe yang suka bergosip, jadi keadaan Nala tidak dijadikan bahan gunjingan. Walau mungkin ada beberapa yang bertanya dalam hati.
Semua kecurigaanku terjawab saat aku dan beberapa orangtua murid merencanakan makan-makan di rumah Nala. Sebenarnya aku ingin menolak tapi tak kuasa melihat tatapan putriku yang seolah memohon ikut. Sayangnya keberadaanku disana justru menimbulkan masalah. Suami Nala pulang saat aku sedang asyik bermain bersama anak-anak di halaman depan, sementara para ibu memasak di dapur. Dia hanya melihatku sepintas, kusapa namun diam saja. Firasatku sudah tidak enak melihat raut mukanya.
Benar saja, tak menunggu lama, keributan terjadi. Aku berinisiatif mengamankan anak-anak. Kuajak mereka semua naik ke mobilku untuk kuajak keliling. Entah kemana tujuannya, yang penting mereka tidak melihat aksi bar-bar suami Nala yang mungkin bisa menjadikan mereka trauma.
Setelah semua kondusif, aku membawa anak-anak kembali ke rumah Nala. Suami Nala sudah tidak tampak. Entah pergi ke neraka mana dia. Sebenarnya posisiku tadi serba salah. Di satu sisi aku ingin membela Nala, namun di sisi lain aku harus segera menyelamatkan anak-anak karena para ibunya terjebak di dalam rumah dan tidak mungkin melewati suaminya yang tampak kesetanan.
Setelah mengobrol sesaat, kami memutuskan tetap melanjutkan acara agar anak-anak tidak terlalu kecewa dan menghibur Dewa namun dipindahkan ke rumah teman lainnya. Namun Nala menolak ikut. Kami menghormati keputusannya. Pasti dia merasa malu dan tidak enak pada kami. Atau mungkin sedang butuh waktu untuk sendiri.
"Anak-anak biar naik mobilku saja." usulku pada Wanti.
"Oh oke... Nggak ngerepotin kan?"
"Enggak. Manis-manis kok."
Malam itu tujuan kami menghibur Dewa. Pasti tetap ada trauma yang membayanginya karena kami yakin, bukan hanya sekali ini saja kejadian itu terjadi. Dan kami sepakat untuk tidak menanyakan apapun dulu pada Nala.
Malamnya sebelum aku tidur, sebuah pesan teks masuk ke ponselku. Nala.
[Mas, maaf aku merusak acara kalian. Aku malu.]
Kuhela napas panjang.
[Sudah tidak usah dipikir. Semua baik-baik saja. Dewa sudah tidur?]
[Sudah, Mas. Sekali lagi aku minta maaf.]
[Kamu sekarang tidur saja dulu. Semoga hari esok lebih baik. Tetap semangat demi Dewa.]
[Makasih mas. Selamat malam. Selamat beristirahat.]
[Selamat malam dan selamat beristirahat juga.]
Kuletakkan ponselku ke meja samping tempat tidur. Kutatap langit-langit kamarku. Kukira selama ini hidup Nala sudah bahagia bersama suami dan anaknya, namun ternyata aku salah. Keceriaannya bukan karena dia bahagia, namun karena menutupi luka. Luka fisik dan batinnya. Semoga Tuhan selalu melindungimu, teman kecilku, doaku dalam hati sesaat sebelum rasa kantuk menyerangku tanpa ampun.