Janitra

Janitra
Bab 52


"Na, tumben siang. Dicari pak boss tuh daritadi."


Baru meletakkan tas, Sita langsung menyambutku.


Tanpa menjawab, aku segera menemui atasan sekaligus kekasihku.


"Permisi, Pak. Tadi mencari saya?"


"Ya. Saya kira tidak masuk."


"Maaf saya terlambat, Pak."


Kutatap airmuka Mas Rio yang agak keruh sedari aku masuk tadi.


"Apa alasanmu terlambat?"


"Karena saya menunggu kekasih saya yang biasa menjemput dari kost dan mengantar saya kerja, namun tak jua datang. Saya hubungi juga tidak direspon."


"Kekasih yang mana? Yang semalam diam-diam mengajak pergi hingga larut malam?"


"Mas, aku semalam pergi sama Nadya juga."


"Nadya hanya sebagai tameng agar tidak tampak kalian pergi berdua? Ya kan?? Aku bebasin kamu berteman dengan siapa saja, Dek. Tapi tolong hargai aku! Pamitlah kalau mau pergi dengan teman, apalagi dengan mantan kekasihmu."


"Aku bisa jelaskan, Mas."


Mas Rio mengangkat tangannya pertanda aku harus menghentikan ucapanku.


"Jelaskan nanti saat istirahat. Sepertinya tidak etis kita membicarakan ini saat jam kerja."


"Ya, Pak. Saya permisi dulu."


"Ya, tolong besok jangan terlambat lagi. Saya tidak suka ada karyawan saya yang tidak disiplin."


"Baik, Pak."


Kubalikkan tubuhku seiring luruhnya airmataku. Ah aku benci pada diri ini. Terlalu mudah mengeluarkan airmata. Aku terlalu lemah.


"Na, habis dimarahin pak boss? Dari pagi dia emang marah-marah terus. Nggak kayak biasanya."


"Iya karena aku telat."


"Bukan biasanya kamu dijemput ya?"


"Sit, aku bikin salah ke dia."


Sita menarik napas panjang.


"Pantes. Moodnya langsung buruk."


"Aku semalam pergi dengan temanku, tapi ternyata ada mantanku juga. Ada beberapa hal yang memang kami bicarakan. Kesalahanku adalah, aku tidak berpamitan, dan ponselku nonaktif."


"Mantanmu yang kamu panggil a'a?"


Aku mengangguk pelan.


"Kamu masih sayang dia?"


"Enggak."


"Aku nggak yakin, Na. Dari caramu menjawab, ada keraguan. Kalau boleh kasih saran, selesaikan dulu, yakinkan hatimu, beri waktu untuk luka hatimu sembuh dengan sendirinya baru kamu membuka hati untuk cinta yang baru. Cinta baru, orang baru, kisah yang baru."


"Iya, itu kesalahanku."


Kusandarkan punggungku pada kursi.


"Ya sudah, nanti kamu jelaskan saja. Jangan lupa minta maaf. Semoga apapun keputusan Pak Rio nanti merupakan jalan yang terbaik bukan karena emosi sesaat."


"Makasih..." lirihku.


"Minum dulu. Biar bisa mikir. Banyak kerjaan kan hari ini?"


Sita menyodorkan segelas air putih yang segera kuteguk hingga tandas.


***


Tepat jam makan siang, Mas Rio menemuiku.


"Sudah bisa ditinggal pekerjaanmu?"


"Sudah, Pak."


"Ikut saya ya."


"Baik, Pak."


Tidak ada yang berubah, Mas Rio tetap membukakan pintu mobil untukku.


"Kamu mau makan apa?"


"Mas mau makan apa?"


"Kata lain dari terserah ya?"


Mas Rio tampak memaksakan senyumnya.


"Aku belum lapar, Mas."


Mas Rio melirikku, sebelum mengemudikan mobilnya keluar dari pelataran parkir kantor dan menghentikannya di sebuah jalan yang sepi.


"Dek, mau memberikan pembelaan diri?"


"Semalam setelah Mas kirim pesan, ponsel sengaja kunonaktifkan. Karena jujur aku kesal dengan Mas. Tapi ternyata aku nggak bisa tidur. Saat aku mau buka pintu kamar, Nadya ternyata datang. Dia mengajakku ke Bukit Bintang untuk ngopi. Kuiyakan karena kupikir kan perginya dengan Nadya, Mas nggak akan marah. Sampai depan kos, ternyata ada a'Ardan. Karena nggak enak kalau dilihat orang teralu lama berdiri di pinggir jalan apalagi sudah malam, aku memutuskan naik. Sampai disana, kami cuma ngopi dan ngobrol biasa."


"Obrolan biasa?? Seperti apa obrolan biasa yang kamu maksud?"


Mati-matian kuatur nafas agar tidak tampak bahwa aku sedang gugup walau tampaknya percuma.


"Jawab, dek. Jangan sembunyikan apapun dari aku. Sekalipun aku sudah tahu, tapi aku ingin mendengar sendiri darimu. Semuanya, lengkap, tanpa ada yang ditutupi. Jawab sekarang, aku nggak akan marah."


"A'Ardan masih membahas tentang hubungan kami yang dulu. Tapi sudah selesai kok, Mas."


"Kamu masih sangat menghargainya ya? Memanggilnya dengan panggilan itu, dan masih menutupinya. Jawab, dek. Semalam ada pembicaraan penting apa antara kalian? Rencana berselingkuh di belakangku mungkin?"


"Mana ponselmu?"


Segera kuambil dari tas dan kuberikan padanya.


"Hubungi Nadya, speaker tapi bicara senatural mungkin. Tanyakan kenapa semalam ada dia. Ingat! Senatural mungkin dan jangan memberi kode apapun kalau panggilan ini di speaker dan sedang kupantau. Paham, dek?"


"Ya, Mas."


Aku tarik nafas dalam, berusaha menenangkan diri sebelum kutekan nomor Nadya.


Panggilan kedua, Nadya baru mengangkatnya.


"Hai Na. Ada apa?


"Nad, ganggu ya? Lagi apa?"


"Enggak, baru selesai makan. Ada apa?"


"Semalem kenapa kamu bisa datang sama a'a?"


"Oh itu. Jujur, aku sama a'Ardan emang masih sering komunikasi, Na. Nah beberapa hari yang lalu, aku cerita kangen sama kamu. Lalu dia mengajakku kesini. Dia minta tolong untuk ngajak kamu ngopi. Kenapa Na? Jangan cemburu. Aku sama a'Ardan cuma berteman."


"Lain kali, jangan ya Nad. Aku sudah mau menutup lembaran lamaku dengannya."


"Na, bukannya semalam sudah jelas kalau sebenarnya kamu sama dia masih saling cinta? Kalian hanya salah paham satu sama lain."


"Nad, kamu salah paham. Cinta untuk a'Ardan sudah nggak ada. Sekarang aku udah milik Mas Rio, Nad."


Kulirik Mas Rio yang tampak menahan emosi.


"Na, dimiliki Mas Rio bukan berarti kamu mencintainya kan?"


"Nad, nanti kuhubungi lagi. Aku mau makan siang dulu."


Segera kuputuskan panggilan sebelum Nadya berbicara macam-macam yang semakin membuat Mas Rio salah paham.


"Mas..."


"Dimiliki bukan berarti mencintai."


"Mas, apa sikapku selama ini nggak menunjukkan kalau aku juga cinta kamu? Biarin orang lain ngomong apa tapi yang jalani kan kita, Mas."


"Sikapmu selama ini? Entah... Benar mencintai atau sedang belajar mencintaiku. Atau bahkan kamu sedang mengenakan topeng, seolah benar mencintaiku tapi di hatimu ada yang lain."


Nada bicara Mas Rio semakin meninggi. Aku hanya diam dan menunduk. Ada rasa takut untuk menatapnya apalagi menjawab ucapannya.


"Pantas selama ini setiap aku membahas tentang pernikahan, selalu saja kamu mengalihkannya. Sekarang aku tau, bukan karena kamu trauma dengan pernikahanmu sebelumnya, namun karena ada Ardan di hatimu!!! Masih ada dia yang merajai hatimu. Menguasai pikiran dan hidupmu juga! Ya kan?! Jawab, Dek!!! Atau jangan-jangan selama ini kamu jalan sama aku, aku meluk kamu, aku cium kamu, yang di pikiranmu adalah dia. Yang di imajinasimu adalah dia. Yang kamu bayangkan menciumnya, memeluknya.. iya dek??!!!"


Emosi Mas Rio semakin tidak terkontrol.


"Mas, cukup!!! Cukup, Mas!!! Aku nggak serendah itu!!! Aku nggak seperti itu! Tuduhanmu berlebihan, Mas!!!"


Airmataku tumpah. Rasa sakit terasa sangat menyayat mendengar setiap ucapan Mas Rio.


"Apa? Mau membela diri??? Tadi aku sudah suruh kamu untuk cerita semuanya! Tapi kamu masih menutupi. Sampai aku dengar juga dari Nadya. Kalian masih saling mencinta!!!"


"Aku nutupi apa, Mas?? Siapa yang saling cinta?!"


"Kamu menutupi bahwa kamu juga mencintainya!"


"Nggak, Mas! Nggak benar!!!"


"Bisa kamu buktikan?"


"Bisa."


"Kapan kamu terima lamaranku?"


Aku tergagap mendengar pertanyaannya. Entah mengapa, aku masih meragu menerima lamarannya. Bukan karena a'Ardan namun ada hal lain yang tidak dapat kuutarakan.


"Kok langsung diam? Padahal tadi kamu tadi lantang! Mau jawab belom siap? Ya jelas belum siap, karena kamu masih mencintai lelaki itu!!!"


Kutarik nafas panjang, berusaha tetap tenang walau emosi Mas Rio masih tampak meletup tak karuan.


"Aku siap jadi istri Mas. Kapan mas mau melamarku secara resmi ke keluargaku? Aku pribadi saat ini menerima lamaran Mas untuk menjadi istri Mas."


"Menjadi istriku namun diam-diam menyimpan cinta laki-laki lain di hati dan imajinasinya?"


"Aku nggak serendah itu, Mas."


Buliran airmata kembali menyeruak. Aku memalingkan wajah, berusaha menghapusnya namun terlambat, Mas Rio sudah melihat airmataku. Direngkuhnya kepalaku ke pelukannya.


"Maaf aku terlalu kasar. Aku cinta kamu sejak pertama kamu masuk kantor. Tapi saat itu kamu masih menyandang status istri orang. Aku bahagia saat aku bisa memilikimu, namun saat ini aku terlalu takut kehilanganmu. Hapus airmatamu, dek."


"Aku tau alasanmu bersikap seperti tadi, Mas. Aku bisa memaklumi. Tapi tolong berpikir realistis, Mas. Aku nggak sebodoh itu kembali pada seorang laki-laki di masa laluku. Kisahku dan dia sudah lama berakhir. Kuyakin sudah ada wanita lain yang pernah mengukir kenangan lain di hati dan hidupnya. Ini bukan hanya tentang cinta, bisa jadi itu obsesi. Ayolah Mas, kita udah jalani ini. Mas seharusnya bisa menilai gimana sikapku. Kalau aku terkadang nakal, keras kepala, susah nurut, ya memang begitulah aku. Sejak dulu sebelum kita menjalin hubungan ini, mas kan sudah tau bagaimana aku saat menjadi karyawan mas. Kalau mas menganggap aku kurang bisa menghargaimu selama ini, aku minta maaf. Akan kuperbaiki lagi."


Kucoba bicara sebaik mungkin agar emosinya mereda dan bisa menerima ucapanku.


"Mau kembali ke kantor atau melanjutkan ini, Dek?"


"Ke kantor, Mas. Ada beberapa pekerjaan yang belum kuselesaikan."


"Kalau nanti malam aku yang mengajakmu ngopi, kamu mau?"


"Mau, Mas."


"Ajak dia. Kita bicara bertiga. Kujemput jam sembilan, kamu berangkat bersamaku."


"Tapi mas, kenapa harus sama dia. Apa nggak sebaiknya..."


Belum selesai aku bicara, Mas Rio sudah memutusnya.


"Aku sedang tidak ingin dibantah."


"Baik, Mas. Nanti kuminta tolong Nadya untuk memintanya datang."


Mas Rio menjalankan mobilnya kembali ke kantor, setelah sebelumnya membeli dua bungkus nasi padang untuk kami makan di kantor.


Sepanjang perjalanan kami sama-sama terdiam. Namun dalam diamku, aku mulai memikirkan semua tentang ucapan a'Ardan semalam, ucapan Nadya, ucapan Mas Rio dan mencoba menelaah kembali perasaanku. Benarkah sebenarnya aku terlalu gegabah dalam memulai hubungan baru sementara perasaanku pada a'Ardan belum sepenuhnya selesai.


Kutarik nafas panjang, mencoba melepaskan himpitan dalam dada yang terasa sesak.