Janitra

Janitra
Bab 28


"Bu, sudah sampai. Kamarnya yang mana Bu?" Suara Pak Pardi membuyarkan lamunanku.


"Sudah sampai, Bu. Kamarnya yang mana? Biar saya dan teman-teman bereskan dulu, Ibu tunggu di mobil saja." Pak Pardi mengulangi ucapannya.


Belum sempat kujawab, kaca jendela disampingku diketuk. Ternyata Mas Aditya.


Hampir adzan subuh saat Mas Aditya, Pak Pardi dan teman-temannya selesai. Setelah menyelesaikan pembayaran dan mengucapkan banyak terima kasih, aku dan Dewa yang masih terlelap ditemani Mas Aditya masuk ke kost baruku.


Setelah memastikan aku dan Dewa nyaman dan tidak membutuhkan apa-apa lagi, Mas Aditya berpamitan.


Kurebahkan tubuhku yang terasa amat sangat lelah sekali. Bukan hanya fisik, namun juga psikisku digempur habis-habisan akhir-akhir ini. Kupeluk erat Dewa yang masih terlelap. Ada rasa sesak di dada. Seharusnya di usianya saat ini, dia hidup bahagia dalam sebuah keluarga yang lengkap. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kupandangi terus wajahnya, entah berapa lama hingga matakupun mulai terasa berat dan menyusulnya ke alam mimpi.


Rasanya baru saja tertidur, namun kecupan hangat berkali-kali mendarat di pipiku. Sudah kebiasaannya membangunkanku dengan jurus seribu ciuman sampai aku terbangun dan membalas ciumannya.


"Mmhh, jagoannya Bunda sudah bangun ya? Maaf ya, Bunda kesiangan."


"Dimana ini Bun?"


"Mulai sekarang kita tinggal disini ya? Berdua saja dengan Bunda. Nggak apa-apa kan?"


Dewa mengangguk paham. Matanya menjelajah ruangan berukuran 3.5 x 3.5 yang akan menjadi tempat tinggalnya. Entah sampai kapan.


Hari ini rencanaku adalah membereskan barang-barang agar Dewa nyaman tinggal disini bersamaku. Seperti paham dengan kondisiku saat ini, Dewa sama sekali tidak rewel. Dia memilih duduk menonton acara anak-anak di televisi sambil menikmati cemilan kesukaannya.


Hampir malam, Mas Aditya datang membawakan makan malam untuk kami. Selain itu, tujuannya datang kesini untuk mengenalkan kami pada teman-temannya yang juga berada di kost ini. Ternyata mereka semua ramah dan menerimaku dengan baik. Kami mengobrol sampai larut malam, dan saat aku berpamitan untuk kembali ke kamar, mereka masih asyik mengobrol. Kutinggalkan mereka untuk kembali ke kamarku, menyusul Dewa yang sudah di alam mimpi.


Aku merebahkan diri di samping Dewa yang sudah terlelap lagi setelah menghabiskan sebotol susu. Kubiarkan pikiranku berkelana ke masa lalu, hingga rasa kantuk menyerang tanpa ampun dan membawaku ke dalam alam mimpi.


Mentari sudah menunjukkan wajahnya cerahnya, masuk ke kamar melalui sela-sela jendela. Kulihat Dewa masih terlelap padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Sebelum dia terbangun, aku berencana membuat sarapan nasi goreng margarin kesukaannya. Pelan-pelan aku keluar kamar agar Dewa tidak terbangun.


Aroma harum margarin dan bawang menguar, membuat Dewa terbangun dan langsung mencariku.


"Bunda masak apa?"


"Nasi goreng kesukaanmu. Tunggu sebentar ya. Sebentar lagi selesai, kita mandi lalu sarapan bersama."


Dewa mengangguk, dengan sabar menungguku di kursi yang kuletakkan di depan kamar.


Selesai mandi, kupakaikan seragam sekolahnya dan kusuapi. Hari ini rencananya mulai masuk sekolah lagi setelah beberapa hari ijin. Karena aku juga harus menemui klien. Sejak kecil, Dewa memang kutitipkan di full day school selama aku harus bekerja.


Setelah mengantarkan dan memastikan Dewa aman berada di sekolah tanpa gangguan Danang, aku segera berangkat kerja dengan diantar Mas Aditya karena hari itu aku tidak membawa kendaraan. Kurang tidur membuat kepalaku sering pusing. Selama di kantor, beberapa kali perasaan tidak enak menyergapku namun segera kutepis, kuanggap hanya ketakutanku saja setelah beberapa lama mendapat perlakuan buruk dari Danang. Aku mencoba mengatur napas, menenangkan diri dan pikiran, memberi afirmasi positive pada diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, terutama pada Dewa. Aku tetap bekerja seperti biasa.


Jam makan siang, entah ada angin apa, Pak Rio atasanku mentraktir kami makan di restoran langganannya.


Saat itulah semua kekhawatiranku terjawab. Mas Adit mengirimiku sebuah pesan teks.


Seketika pikiranku langsung kacau. Aku takut Dewa tidak terurus, aku takut Dewa diambil paksa olehnya. Kulirik jam di pergelangan tanganku, selesai makan siang aku masih ada meeting. Kucoba menenangkan diri dan pikiranku. Bagaimanapun juga, Danang adalah ayah kandungnya Dewa.


Kebetulan saat itu Mas Adit juga berada disitu. Namun Mas Adit tidak dapat berbuat apa-apa karena berada di posisi yang sulit. Salah-salah langkah justru akan memperkeruh suasana dan mempersulit proses perpisahanku, atau bahkan malah membahayakanku dan Dewa. Aku tetap berusaha tenang walau sebenarnya hatiku sangat kalut.


Sepulang kerja aku berusaha mencari tahu keberadaan Dewa. Namun tampaknya mereka tidak berada di rumah. Aku menunggu mereka di rumah Mbak Ika hingga malam menjelang.


Dari kejauhan aku melihat motor Danang menuju arah rumah mbak Ika. Bergegas aku berdiri menghampirinya. Dewa berlari memelukku.


"Laper aku, Bun..."


Kugendong Dewa yang masih menggunakan seragam sekolahnya. Kusodorkan sepotong tempe mendoan dan langsung dilahapnya seperti sangat kelaparan.


"Kamu laper banget?"


"Iya, aku belum makan. Tadi cuma makan yang Bunda bawain."


Kutitipkan Dewa pada Yola, anak mbak Ika. Sementara aku mendekati Danang yang masih merokok di atas motornya.


Bukan Danang namanya jika tidak terus membuat masalah. Malam itu kami menjadi tontonan banyak orang. Namun pertolongan Tuhan selalu tepat waktu. Seorang bapak pengemudi becak menolongku terlepas dari Danang. Sebuah perlakuan yang selalu kurindukan namun tidak pernah kudapatkannya dari Papa.


Tidak hanya membelaku, beliau juga membelikan aku dan Dewa makan malam bahkan mengantarkanku ke kost dan meyakinkanku semua akan baik-baik saja. Tatapan teduhnya, cara bicaranya benar-benar membuatku seperti berhadapan dengan sosok seorang bapak yang selalu kurindukan selama ini.


Seperti biasa, sebelum tidur aku dan Dewa selalu sediakan waktu untuk mengobrol.


"Bunda, aku besok nggak mau sekolah lagi..."


"Bunda janji nggak akan ninggalin Dewa. Udah, sekarang tidur yuk. Biar besok semangat lagi kita."


"Bunda, boleh nanya?"


"Apa sayang?"


"Apa Eyangkung seperti simbah tadi? Baik, dan sayang sama Dewa."


Kugigit bibirku keras namun airmata tetap luruh tak tertahan.


"Yaaa Bunda nangis. Maafin aku ya Bunda. Aku tidur ya Bunda. Aku sayang Bunda."


Kupeluk Dewa. Anak lelaki semata wayangku, tumpuan harapanku.


Setelah menidurkan Dewa, berkali-kali aku mengucap syukur pada Tuhan atas orang-orang baik yang selalu menolongku selama ini. Aku yakin, jika tanpa campur tangan Tuhan, malam ini tadi aku dan Dewa tidak akan kembali ke kost ini. Pasti aku akan dipaksa kembali hidup bersama dengan Danang dan tersiksa batin entah sampai kapan.


Kuciumi Dewa berkali-kali. Wajah tampannya tampak lelah dan menyimpan rasa sedih yang mendalam.


Kubenamkan kepalaku di bantal, untuk meredam tangisku yang terlanjur pecah agar Dewa tidak terganggu. Entah berapa jam, sampai akhirnya aku tertidur karena lelah menangis. Dalam tidurku aku bermimpi Mama memelukku dengan sangat hangat. Satu pelukan yang selalu kurindukan.