
Ketukan semakin keras, Dewa tampak mulai sedikit terganggu. Terpaksa aku membukakan pintu.
"Maaf kemaleman ya?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
"Terlalu dini hari sih untuk bertamu. Masuk. Atau mau ke kamar mandi dulu?"
"Mmh..aku udah dari kamar mandi, udah ganti daster juga nih. Aku numpang tidur ya?" ujarnya dengan cengengesan.
Aku membiarkannya masuk, meletakkan tasnya lalu berbaring di sebelah Dewa. Kukunci pintu dan menyusulnya berbaring. Dewa berada di antara kami.
"Tau aku disini dari siapa?" tanyaku pelan.
"Besok kuceritain. Aku ngantuk banget." Selesai bicara, dia memejamkan matanya. Akupun juga melanjutkan tidurku yang tertunda.
Sebuah kecupan mendarat di pipiku berkali-kali. Walau mata masih terasa berat, namun kupaksa membukanya.
"Pagi Bunda. Bunda lihat ada Mama. Mama tidur sama aku juga, Bunda." Dewa tampak girang bercerita.
"Iya, Mama tadi datang, katanya kangen Dewa. Tolong bangunin Mama ya. Bunda mau masak untuk sarapan."
Tanpa kuminta dua kali, Dewa langsung melakukan yang kupinta.
Pagi itu, kami sarapan sambil mendengar celotehan Dewa yang asyik bercerita tentang apa saja pada sang Mama.
Setelah mengantar Dewa, kuarahkan motorku ke sebuah warung makan tak jauh dari kantor. Bukan untuk sarapan, namun menumpang ngobrol berkedok memesan kopi.
"Jadi, siapa yang memberitahu aku kost disitu?"
"Masa nggak bisa nebak? Hahaha."
"Paling a' Ardan." tebakku dengan pasti.
"Bukan."
"Bukan? Trus siapa?"
"Mas Adit."
"Lho, kamu masih komunikasi sama Mas Adit?" tanyaku heran.
"Iya. Hahaha. Mantan terindah."
"Hah? Kalian pacaran? Kapan?"
"Sudah berakhir, Nala."
"Tapi nggak menutup kemungkinan suatu saat akan kembali pacaran lagi kan?"
"Kamu cemburu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
Aku menggeleng cepat.
"Aku sama Mas Adit cuma berteman. Nggak akan lebih."
"Jangan suka mendahului takdir."
"Maksudnya?"
"Ya, nggak perlu bilang 'nggak akan lebih', karena kita kan nggak tahu ke depannya. Bukan nggak mungkin ternyata dia adalah jodohmu." ucapnya sungguh-sungguh.
"Lalu apa yang membawamu kembali ke kota ini lagi? Kangen aku?"
"Aku ada sedikit urusan disini. Mungkin dua atau tiga hari, aku numpang tidur di kosmu boleh?"
"Boleh banget, Mbak. Dewa pasti senang sekali. Habis ini tolong aku diantar ke kantor ya? Nanti motorku kamu pakai saja."
Bukan hanya Dewa, akupun senang dengan kehadiran Mbak Ida. Ya, walau hanya untuk beberapa hari.
Sorenya aku sengaja pulang menumpang teman kantor.
"Bundaaaaaa pulaaaaang..." Dewa menyambutku dengan riang.
Kugendong Dewa, kuciumi pipinya. Aroma minyak telon yang menguar membuatku semakin gemas untuk menciuminya.
"Mama masak enak lho." celotehnya riang.
"Ohya? Wah yuk kita lihat, Mama masak apa ya?"
Sambil tetap menggendong Dewa, aku mempercepat langkahku.
"Nala, sini deh." Mega memanggilku.
"Kenapa?" kuhentikan langkahku di depan kamar Mega.
"Itu istri Mas Adit juga? Hebat ya kalian bisa rukun." Mega bertanya dengan suara lirih.
Aku tertawa sambil berlalu, membiarkan Mega berasumsi sendiri.
Sesampainya di depan kamar, kulihat Mas Adit dan Mbak Ida sedang berbincang berdua.
"Mama, Bunda pulang..." Dewa meronta meminta turun dari gendonganku, lalu berlari ke Mbak Ida, namun meminta pangku pada Mas Adit. Aku menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
Aku menarik sebuah kursi kayu lalu menempatkannya dekat mereka.
Dering ponsel menganggu obrolan kami. Melihat nama yang tertera sebenarnya enggan aku mengangkat. Namun rasa penasaran mengalahkan rasa malasku.
"Ya, halo. Ada apa?"
"Halo. Aku pengen ketemu."
"Ya ada hal penting yang harus kubicarakan."
"Hmm.. ya sudah, nanti malam di rumah makan dekat rumah eyang." putusku kemudian, lagi-lagi karena rasa penasaran.
"Siapa dek?" tanya Mbak Ida tanpa basa-basi.
"Danang. Ngajak ketemu. Yuk, ikut."
"Boleh deh. Penasaran aku, dia mau ngapain lagi." jawabnya antusias.
"Dewa biar sama aku saja." Mas Adit memberi usul.
Aku dan Mbak Ida segera menyetujuinya. Karena aku tidak ingin menambah daftar trauma bagi Dewa.
Satu jam kemudian, aku dan Mbak Ida sudah berada di tempat janjian. Mbak Ida sengaja memilih tempat terpisah namun tak jauh dariku agar masih bisa mendengar dengan jelas percakapan aku dan Danang. Tak lama kemudian Danang datang menghampiri. Setelah memesan makan dan minuman, aku segera menanyakan perihal apa yang membuat Danang memintaku menemuinya.
"Jadi, ada apa?"
"Langsung aja nih ya Na. Kita ini kan suami istri."
"Mantan suami dan mantan istri." aku segera meralatnya.
"Belum ada putusan hakim, jadi sebenarnya kita masih suami istri."
Aku menghembuskan nafas, enggan menanggapinya. Karena menanggapi Danang itu hanya membuang energi dan waktu.
"Jadi sudah sepantasnya suami dan istri itu saling membantu, saling mendukung, saling mensupport."
"Lalu?" tanyaku tak sabar menunggu kalimat kelanjutannya.
"Saat ini aku sedang butuh uang, aku minta lima ratus ribu saja." ucap Danang tidak tahu malu.
Aku menganga mendengarnya.
"Eh, gimana gimana? Minta? Bukan pinjam?"
"Ya nggak dong. Masa suami istri pinjam. Perhitungan sekali kamu."
"Aku nggak ada. Kalaupun ada, aku nggak akan kasih ke kamu."
"Nggak tahu terima kasih kamu tu Nala. Lupa kamu, dulu berapa kali kukasih uang. Sekarang aku sedang kesusahan, kamu nggak mau memberinya."
"Kamu ngasih aku uang tuh berapa sih? Buat makan aja nggak cukup. Lagian itu namanya nafkah. Kewajibanmu. Itupun kayaknya nggak sebanding deh dengan apa yang kuberi ke kamu."
"Kok kamu perhitungan sekali. Kalau kamu bisa berhemat pasti tetap cukup. Dasar kamunya saja yang boros." Nada suara Danang mulai meninggi.
"Perhari kamu kasih lima ribu paling banyak sepuluh ribu. Kamu minta setiap pagi dan sore ada kopi, sayur, lauk, kerupuk dan cemilan. Untuk nasi juga kamu maunya yang pulen, bersih, putih, wangi. Kamu pikir cukup?"
"Kamu tuh benar-benar tidak bersyukur ya."
Aku memijit pelipisku yang tiba-tiba terasa sakit.
"Ya sudahlah, aku minta kamu usahakan uang itu ada dalam minggu ini." Danang masih bersikeras.
"Aku nggak ada, dan nggak mau mencarikan."
"Anggap saja aku meminta kembali uang yang sudah kukeluarkan untukmu dulu."
"Oh, gitu? Oke."
Pembicaraan kami terhenti saat seorang pelayan mengantar pesanan kami.
"Mbak, tolong minta selembar kertas HVS dan bolpoin bisa? Eh, dua lembar atau tiga lembar lebih baik. Nanti saya bayar." pintaku pada pelayan sebelum dia berlalu.
Tak lama kemudian, dia kembali untuk mengantarkan tiga lembar kertas HVS ukuran A4 beserta bolpoinnya.
"Jadi kamu minta aku kembalikan semua uang yang sudah kamu keluarkan untukku?"
Danang mengangguk bersemangat namun mulutnya tak henti mengunyah makanan yang terhidang di depannya.
"Hmm.. oke. Kalau begitu, aku juga akan meminta ganti uang yang kukeluarkan untukmu, dan keluargamu. Perhari aku menyediakan rokok satu bungkus, beras satu kilo, sayur juga lauk. Hitung saja sehari aku mengeluarkan seratus ribu rupiah dikali berapa hari ya kita bersama? Lalu untuk listrik, gas dan pam. Bisa tolong bantu aku menghitungnya?"
"Kok kamu perhitungan sekali, Nala? Aku ini suamimu lho."
"Pertanyaan yang sama juga bisa kutanyakan padamu. Aku ini istrimu, lho." jawabku seraya tersenyum manis.
"Menyesal aku dulu menikahimu."
"Sama. Akupun demikian. Lagipula yang dulu memaksa menikah kan kamu. Ya sudah ya, aku rasa pembahasan kita sudah selesai. Aku mau pulang dulu."
"Tunggu, Nala. Ini makanan semua kamu yang bayar kan?"
"Kamu lah. Aku hanya pesan air putih saja kok. Setahuku itu gratis disini. Sementara kamu? Nasi goreng, udang goreng, capcay dan jus alpokat."
Aku segera melangkah keluar rumah makan menuju parkiran meninggalkan Danang yang masih berusaha memaksaku untuk membayar makanan yang dia pesan. Mbak Ida setengah berlari menyusulku sambil tertawa.
"Gila tuh orang." umpatnya setelah dekat denganku.
"Ya begitulah. Aku pernah hidup bersamanya. Kebayang kan stressnya?" aku tertawa miris.
"Ya sudah yuk kita pulang."
Kulajukan motorku menuju kos, dibawah temaram lampu jalan. Malam semakin larut. Entah malam kesekian dalam hidupku yang kulalui dengan pilu. Namun kuyakin, suatu hari nanti, aku dan Dewa akan menemukan kebahagiaan. Entah kapan, dimana dan bersama siapa. Kuyakin Tuhan t'lah sediakan.
Hai, selamat malam teman-teman semua. Seharusnya saya update setiap hari. Namun batuk dan asma menjadi kendala. Doakan saya segera pulih ya teman-teman. Terima kasih juga atas supportnya baik via FB, IG, komen dan juga WA. Tuhan berkati selalu.