Janitra

Janitra
Bab 48


"Na..."


Sebuah tangan menahanku. Kututup lagi pintu mobil yang sudah kubuka, dan membalikkan badan. Mas Rio berdiri tepat di belakangku, bersama gadis manis yang berdiri di sampingnya.


"Na, kamu disini juga?"


"Iya Pak, tapi kami sudah mau pulang kok. Silahkan dilanjutkan, Pak..."


Kulihat tatapannya meredup, tampak kecewa kupanggil 'Pak'. Namun apa peduliku.


"Dengar penjelasanku dulu, Na..."


"Sudah malam, saya mau pulang, Pak."


"Kenalkan ini Berlin, adikku."


Gadis manis dengan wajah full senyum itu mengulurkan tangannya. Kuulurkan tangan kananku menyambutnya.


"Hai, aku Nala, karyawannya Pak Rio. Salam kenal."


"Lho kata Mas Rio, Mbak Nala kekasihnya." Berlin menatapku dan Mas Rio bergantian. "Oh aku tau! Mbak Nala pasti mengira aku ada hubungan spesial dengan Mas Rio. Iya mbak, ada. Aku adiknya. Adik kandung. Masa kami nggak mirip sih? Hehehe."


Berlin tampak mencari sesuatu di tasnya, tak lama gadis ceria itu mengeluarkan sebuah dompet berwarna maroon lalu diambilnya sebuah foto dan kartu identitasnya dan mengulurkannya padaku.


"Namaku dan Mas mirip kan? Alamat kami di KTP juga sama. Lalu ini foto keluarga kami. Jangan cemburu padaku, Mbak. Aku memang paling dekat dengan Mas Rio, maaf kalau dianggap terlalu berlebihan."


"Maaf kalau aku salah prasangka, Mas."


"Nggak apa-apa."


"Aku pamit dulu ya Mas. Sudah larut malam. Kasihan Mas Adit dan Mbak Ida juga." aku melirik ke dalam mobil dimana Mas Adit dan Mbak Ida sudah menunggu daritadi.


Mas Rio dan Berlin menunggu mobil yang kutumpangi hingga tak tampak pandangan.


Kusandarkan tubuhku yang terasa lelah.


"Pacar baru?" Mbak Ida membalikkan tubuhnya untuk melihatku.


"Hmm... Bisa dikatakan begitu."


"Haseeeekkk..."


Suara tawa dan candaan memenuhi mobil Mas Adit yang terus melaju membelah suasana malam menuju kost.


***


Sebulan berlalu. Jika sebelumnya hariku hanya ada aku dan Dewa, kini ada Mas Rio juga. Hubungan kami semakin dekat. Riak-riak kecil yang mewarnai hubungan, masih sanggup kami atasi tanpa pertengkaran yang berarti. Mungkin karena Mas Rio lebih dewasa, sementara aku sendiri juga malas meributkan hal-hal kecil karena sudah ada banyak masalah yang perlu diurai. Mas Rio juga bukan tipe pencemburu walau sesekali tetap ada cemburu yang meraja. Namun selagi cemburunya di ambang batas wajar, tidak sampai ribut besar atau mendiamkanku berhari-hari, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Lagi-lagi kuakui kedewasaan dalam sebuah hubungan memang sangat diperlukan.


Aku tetap menyanyi di cafe setiap malamnya karena kebutuhan Dewa setiap harinya pasti akan semakin besar. Mas Rio belum mengetahuinya. Bukan karena aku menutupinya, namun belum ada kesempatan untuk menceritakannya.


"Sst... Lagi apa?"


Mas Adit memunculkan kepalanya melalui jendela kamarku yang terbuka.


"Kamu tu ya ngagetin! Kenapa lewat jendela sih??"


"Hahaha. Takut ganggu. Makanya ngintip dulu."


"Itu pintu kebuka lho yaaa."


"Hahaha. Nggak liat aku."


"Masuk sini, aku lagi nyetrika."


"Ada kopi? Aku bikin kopi dulu deh ya."


"Ada. Mau kubikinin?"


"Aku bikin sendiri aja. Kamu mau?"


"Boleh deh. Jangan manis ya."


Mas Adit menyodorkan secangkir kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan uap panasnya.


"Na, ada acara nggak nanti sore?"


"Nggak sih. Habis nyetrika paling mau tidur siang sama Dewa. Nanti sore belum ada rencana mau kemana. Kenapa?"


"Nanti sore Ocha pentas, dan dia minta kamu sama Dewa ikut. Gimana Na?"


"Boleh deh. Jam berapa acaranya?"


"Jam 7 malam. Tapi standby disana jam 5."


Kulirik jam di dinding kamarku, masih pukul 10. Masih ada kesempatan untuk menyelesaikan setrika, lalu tidur siang bersama Dewa biar dia tidak rewel nanti disana.


"Oke. Nanti kita ketemu disana jam 5 berarti ya?"


"Kujemput aja nanti jam sekitar jam 4 biar bisa beli makan dulu. Gimana?"


"Ok mas."


"Yaudah aku sekarang pulang dulu ya?" Baru saja membalikkan tubuhnya, Mas Adit berbalik lagi. "Eh ada plastik nggak?"


"Ada. Ambil deh di bawah kompor."


Diambilnya satu plastik tahan panas ukuran satu kilo yang selalu kusediakan di dapur lalu kembali masuk ke kamar dan mengambil cangkir berisi kopi miliknya.


"Sayang kalau nggak diminum. Kubungkus aja ya. Hahaha." lalu menuangkannya dengan hati-hati. "Eh nanggung segini doang. Punyamu sekalian deh ya. Kamu nggak usah ngopi, habis ini tidur aja."


"Ih, iseng amat sih." Kugelengkan kepala melihat kelakuannya. "Tolong panggilin Dewa ya. Dia lagi main di depan. Mau kuajak tidur siang."


Mas Adit mengacungkan ibu jari sebelah kanannya sambil terus berjalan menjauhi kamarku.


***


"Bundaaaaaaa... Bunda bisa ikut kan Bunda?" Ocha menerobos masuk pintu yang belum terbuka sepenuhnya lalu memelukku erat.


"Ikut dong. Anak cantik mau pentas ya?"


Gadis kecil itu mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhku.


Aku berjalan dengan Dewa dan Ocha di kanan kiriku sementara Mas Adit membawa barang-barang.


"Aku daftar ulang dulu, kalian tunggu aja disini ya." Mas Adit memintaku duduk di tempat yang strategis dan berada di depan dekat panggung.


Acara berlangsung lancar, akupun merasa ikut lega. Sambil menunggu pengumuman pemenang, kami memesan beberapa makanan ringan dan minuman. Sesekali aku menyuapi Ocha dan Dewa bergantian.


Tiba saatnya pengumuman pemenang lomba, Ocha mendapat juara 1. Diiringi tatapan bangga Mas Adit, Ocha berjalan menuju panggung. Setelah pembagian piala dan hadiah, percakapan singkatpun terjadi.


"Ocha hebat ya sering juara." Seorang pembawa acara yang juga penyiar radio di kotaku membuka percakapan.


"Terima kasih, Om."


"Kalau boleh tahu, siapa sih yang selalu dukung Ocha?"


"Papa."


"Papa? Oh mana nih Papanya?"


Mas Adit berdiri dan melambaikan tangannya.


"Wah ternyata Ocha didukung Papa ya. Mau ucapin sesuatu nggak untuk Papanya?"


"Terima kasih Papa selalu dukung aku. Hari ini aku senang, Bunda sama adikku juga ikut kesini."


"Wah ada Bunda sama adiknya Ocha juga?"


"Iya. Itu adikku dan bundaku yang duduk di samping Papa." Tangan kecilnya menunjuk ke arahku dan Dewa.


Spontan aku dan Mas Adit saling menatap. Namun tak lama karena sebuah tangan kecil segera melingkari leherku, menciumi pipiku dari belakang.


"Bunda, aku juara. Bunda bangga nggak?"


"Bangga banget dong."


Kutarik tubuhnya, kududukkan di pangkuanku.


"Yuk dihabisin terus kita pulang."


"Bunda, marah nggak tadi aku bilang kalau bunda tu bundaku?"


"Memang kenapa kok Ocha tadi bilang gitu?"


"Aku pengen kayak temanku lainnya punya bunda, punya ayah, punya adik." Matanya menatapku berkaca-kaca.


Kupeluk tubuh kecilnya, kepalanya kuletakkan di dadaku. Mas Adit menggeleng, dengan maksud agar aku tidak menjawab ucapannya tadi. Kubiarkan Ocha dalam pelukanku sampai aku tenang.


"Kamu kenapa Cha?" Dewa mendekati kami dan menatap heran.


"Punya Bunda enak ya Wa?"


"Enak dong. Kamu mau? Kita bisa berbagi Bunda."


"Boleh?" Ocha menegakkan tubuhnya mendengar ucapan Dewa.


"Boleh banget dong." Dewa meyakinkan Ocha.


"Yeaaaayyy sekarang aku punya Bunda."


Ocha lantas memberiku ciuman bertubi-tubi sementara Dewa tertawa melihat tingkah Ocha yang terus menciumiku.


"Sudah malam, kita pulang yuk."


"Iya Papa."


Tak biasanya, Ocha langsung mengiyakan ajakan Mas Adit. Aku menggandeng Ocha dan Dewa di kanan kiriku, sementara Mas Adit membawa barang-barang kami.


Perjalanan lebih lama karena arus lalu lintas yang padat, untungnya Dewa dan Ocha sama sekali tidak rewel.


Malam sudah cukup larut saat Mas Adit menghentikan mobilnya di depan kosku.


"Kita tidur disini Pa?" tanya Ocha.


"Enggak, sayang."


"Lho tapi kan Bunda udah jadi Bundaku. Berarti kita tinggal serumah kan Pa?" lagi-lagi Ocha menuntut jawaban.


"Bukan sekarang. Nanti ada waktunya. Sekarang biar Bunda sama Dewa disini dulu."


"Ocha, kan papa sama bunda belum nikah jadi harus nikah dulu biar kita bisa barengan rumahnya." Dewa dengan bahasa khas anak-anak mencoba membantu Mas Adit untuk menjelaskan.


"Kapan nikah?" Ocha masih menuntut jawaban.


Kali ini Dewa membisiki sesuatu di telinganya. Ocha mengangguk paham lalu berdua melakukan 'tos' sambil tertawa kecil. Kucium Ocha sekali lagi sebelum turun.


"Na, kopi biasa ya."


Mas Adit memanggil saat langkah sudah hampir memasuki gerbang kos. Aku mengernyitkan kening mendengar permintaannya.


"Mau kesini lagi?"


"Menurutmu, ada yang perlu kita bahas nggak?"


Kuhela nafas panjang. Permintaan Ocha cukup berat memang. Dia pasti akan terus menuntut sebelum semua benar-benar kami kabulkan.


"Ok..."


Mobil Mas Adit mulai menjauh setelah kuberi jawaban. Pergi sebentar untuk kembali lagi kesini. Membahas satu hal yang mungkin tak berujung karena ada hati yang menunggu kami masing-masing di tempat lain.