
Kupijat lembut pelipis yang terasa tegang karena sedari tadi menatap layar komputer. Jam sudah menunjukkan angka 4 lebih. Seharusnya aku sudah pulang, namun hari ini tampaknya aku dan beberapa teman harus lembur karena tuntutan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
"Na, ada yang nyari tuh di depan." kata Sony.
"Duh, siapa? Nanggung nih." keluhku.
"Nggak tau, dua orang cowok."
Aku tersentak dan segera berjalan ke depan untuk menemui mereka. Benar saja tebakanku, a'a dan Mas Rio yang datang.
"Kenapa pada kesini sih? Nggak ada kerjaan lain apa?"
"Sudah waktunya pulang, dek. Yuk." a'a menjawab.
"Aku mau jemput kamu, ada hal yang harus kubicarakan." Kali ini Mas Rio yang berbicara.
"Aku lembur hari ini, belum tau pulang jam berapa. Lagipula, aku bisa pulang sendiri. A'a sama Mas Rio pulang aja dulu. Kalau ada yang mau dibicarakan, nanti malam kutelpon ya."
"Ya sudah, nanti malam saja aku ke rumahmu. Ini ada makanan, tadi sengaja kubelikan untukmu." Mas Rio menyodorkan plastik putih dan segera kuterima.
"Terima kasih."
Setelah Mas Rio berlalu, kuarahkan pandanganku pada a'Ardan.
"Oke, oke, aku pergi. Aku tunggu di depan sampai kamu pulang. Kamu harus pulang sama a'a."
"Terserah." ucapku ketus sambil membalikkan badan.
"Eh, dek."
"Apa?" Langkahku tertahan.
"Makanannya jangan dimakan, takutnya bikin kamu nggak bisa lepas dari dia."
"Auk ah." dengusku kesal, namun a' Ardan justru tertawa terbahak.
***
"Dek..."
"Hmm..." jawabku singkat sambil terus meniup bakmi jawa goreng super pedas dengan uritan dan kulit ayam kampung yang berlimpah.
"Pengen ngobrol serius."
Kuhentikan kegiatanku,"Apa a'?"
"Adek ada hubungan apa sama mantan boss adek?"
"Saat ini sudah tidak ada apa-apa lagi. Dulu memang kami pernah dekat."
"Tapi adek masih baik ke dia."
"Nggak nyadar? Aku juga masih baik ke a'a padahal kita udah putus lama. Putus kan bukan berarti harus musuhan. Cuma mau bahas itu?"
"Ada hal lain yang mau kubahas, dek."
"Apa?"
"Adek pernah nggak, sayang a'a? Bukan sebagai bayang-bayang almarhum."
"Jujur, pernah. Sayang banget malah. Aku nggak pernah bandingkan a'a dengan almarhum sama sekali. Aku dulu jalani hubungan kita dengan kesadaran penuh, bukan menjadikan a'a sebagai pelarian atas rasa kehilanganku pada almarhum."
"Adek serius?"
"Apa aku tampak becanda, a'?"
A'Ardan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Argh."
"Kenapa?" tanyaku hati-hati.
"Dulu, kukira aku hanya pelarianmu, dek. Setiap rasa cinta hadir dengan kuat, segera kutepis dan kualihkan dengan mendekati wanita lain. Namun aku nggak bisa pergi dari adek karena pesan dari almarhum untuk menjaga adek."
Kutatap wajah lelaki yang pernah mengisi hidupku di masa lalu dengan terkejut.
"Maafin a'a dek. Saat itu a'a kira, adek selalu membayangkan almarhum saat bersama a'a."
"Ya sudahlah, toh sudah berlalu lama. Makasih atas kejujuran a'a." kucoba memberikan senyum untuknya.
"Makan yuk, udah dingin." katanya sembari menyuapkan nasi goreng magelangan pedas ke mulutnya.
Kami menikmati makan dalam diam.
"Masih seperti dulu ya, dek." ucapnya membuka pembicaraan setelah menghabiskan suapan terakhir.
"Iya, mungkin yang masak juga masih sama." jawabku seadanya.
"Nggak cuma makanannya, tapi perasaan a'a."
"Oh bahas perasaan? Kukira tentang makanan."
"Entah... Aku lagi pengen jalani hidup sama Dewa saja. Tanpa drama."
"Jemput Dewa yuk, dek?"
"Belum waktunya, a'. Adek sebenarnya juga pengen banget tapi belum waktunya."
"Nunggu apa? Masalah uang kan? Aa sanggup hidupi kalian, dek."
"Aku nggak mau merepotkan siapapun. Biarkan aku berjuang sendiri untuk Dewa. Aku bisa kok, Mas."
"Keras kepala."
"Membicarakan diri sendiri?"
"Jangan egois, dek. Pikirkan juga perkembangan dan mental Dewa saat kamu titipkan di panti seperti saat ini."
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, Mas."
"Mas? Setelah jadi bayang-bayang almarhum, sekarang jadi bayang-bayang mantan bossmu ya."
"Bukan gitu a', maaf. Tadi aku mau panggil masnya itu nambah minum, karena nggak fokus malah jadi salah ke a'a. Maafin aku, a'."
"Kita pulang. Sudah selesai kan makannya?"
Tanpa menunggu jawabanku, a'Ardan sudah berdiri dari kursinya lalu mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri dan tidak dilepas lagi sampai aku duduk di kursi penumpang mobilnya.
"Fiuh..."
"Maafin aku..."
"Kapan ya aku bisa memilikimu seutuhnya?"
"Pernah kan, tapi a'a menyia-nyiakannya."
"Bukannya di hatimu hanya ada a'Bayu, lalu Rico, sekarang Rio. Entah besok siapa lagi."
"Terserah a'a saja lah. Sepertinya juga percuma, berkali-kali menjelaskan toh a'a hanya percaya pada keyakinan a'a."
"Dek, boleh a'a minta kesempatan sekali lagi untuk mengulang kisah lama kita? A'a janji nggak akan sia-siakan adek lagi."
Kutatap mata a'Ardan yang juga sedang menatapku. Kucari kejujuran dalam sorot matanya di bawah temaram lampu jalan.
"Cinta atau ambisi?" tanyaku lirih.
"Cinta." jawabnya tegas.
"Sejujurnya, aku sedang menikmati kesendirianku. Tanpa harus ada drama, cemburu atau apapun..."
Kulirik a'Ardan yang tampak membuang pandangan jauh lurus ke depan sambil menggenggam erat setir di depannya.
"Pasang safety beltnya dek, a'a antar pulang sekarang. Sudah larut malam."
"Adek belom selesai bicara, a'." kupegang lembut lengan kirinya.
"Apalagi?" jawabnya datar.
"Kita mulai lagi, bukan mengulang kisah lama, tapi memulainya di lembaran baru ya. Sebuah hubungan dua manusia dewasa tanpa banyak drama. Komunikasikan dengan adek kalau ada hal yang membuat a'a ragu. Cari solusi bersama bukan mengambil keputusan sepihak."
Tak terduga, a'Ardan memelukku dengan erat.
"Adek serius?"
"Iya a'. Adek serius."
"Sudah adek pikirkan matang-matang?"
"Sudah. Bukan karena a'Bayu. Tapi karena adek juga masih sayang a'a."
Kubalas pelukannya, masih terasa sama seperti dulu. Kupejamkan kedua mataku. Lirih batinku berkata,"Ijinkan aku mencintai a'Ardan, istirahatlah dengan tenang di keabadian a'Bayu."
"Adek nangis?"
"Engg, adek seneng bisa dipeluk a'a lagi."
"Kita pulang ya dek. Sampai rumah nanti kita telepon Mama."
"Maaf a', adek pulang ke kontrakan saja ya a'?" pintaku lirih takut memancing emosinya.
"Ya sudah. Tapi tolong, jangan ada yang datang selain a'a."
"Adek akan kabari a'a kalau ada yang datang ke kontrakan. Siapapun itu."
"Makasih dek." A'Ardan mengelus lembut rambutku dengan tangan kirinya.
Sepanjang jalan, berkali-kali a'Ardan menggenggam tanganku. Mulutnya tak henti menyanyikan senandung lagu cinta yang memang sedari dulu sering dia nyanyikan untukku.
Mobil a'Ardan terus berjalan, membelah keheningan malam kota Jogja yang semakin larut.