
Hari ini adalah jadwal mediasi, namun ternyata gagal karena Danang tidak hadir.
"Mbak, surat panggilan untuk tergugat tidak dapat terkirim karena alamat tersebut ternyata kosong. Apakah bisa mencari tahu alamat jelas tergugat?"
Aku menggeleng lemah. Karena yang kutahu, hanya alamat rumah Eyangku yang terakhir dia tempati. Sementara alamat rumah orangtuanya berada di luar kota. Jika menggunakan alamat orangtuanya, berarti aku harus memasukkan berkas gugatan disana.
"Jika tidak tahu, berarti harus diumumkan di radio atau media cetak, mbak."
"Beri saya waktu, saya akan cari alamatnya sesegera mungkin."
"Iya, lebih baik begitu."
"Baik. Terima kasih. Saya permisi dulu."
Aku keluar dari Pengadilan Negeri dengan lunglai.
"Ya Tuhan, aku tahu seharusnya tidak boleh ada perceraian. Namun ada masa depan seorang anak yang bergantung pada keputusanku ini. Ampuni aku, Tuhan. Beri aku jalan." lirihku dalam hati.
Kukendarai motorku menuju kantor, namun kusempatkan berhenti di sebuah warung bakso yang tampak ramai tak jauh dari Pengadilan. Setelah memesan semangkuk bakso kuah dan segelas es lemontea, aku memilih duduk di ujung belakang warung bakso.
Kulihat sekeliling, rata-rata pengunjungnya adalah mahasiswa dan mahasiswi. Lalu tatapanku terpaku pada satu sosok yang tampak tak asing. Kutajamkan penglihatanku, mencoba meyakinkan diri bahwa aku tidak salah orang. Setelah benar-benar yakin, aku mencoba memanggilnya dengan suara lirih agar tidak memancing perhatian di warung tersebut.
"Nisa..."
Beruntung, dia langsung mendengarku karena memang posisi kami tidak terlampau jauh.
"Mbak Nala...?"
"Iya.. sini sebentar deh dek..." panggilku sambil tersenyum.
Kulihat dia tampak ragu untuk mendekatiku, namun akhirnya tetap menghampiriku dan duduk di kursi sebelahku.
"Apa kabar?"
"Baik mbak."
"Kamu ngapain disini?"
"Ada tugas kuliah, Mbak."
"Ooh... Aku tadi habis dari Pengadilan Negeri. Seharusnya mediasi, namun gagal karena surat panggilan yang seharusnya diterima Danang tidak sampai. Danang sudah tidak tinggal di rumah itu lagi."
Kuhirup es lemontea di hadapanku. Selain untuk menenangkan pikiran, aku juga menunggu reaksi gadis di hadapanku.
"Danang sekarang kos mbak. Walau masih sesekali pulang ke rumah eyangnya mbak. Tapi jarang sekali."
"Oh. Kalau boleh tahu, kos dimana sekarang dia dek?"
Kulihat Nisa diam menunduk seperti sedang berpikir. Kupegang tangannya.
"Aku hanya ingin segera selesai. Kamu juga ingin statusmu jelas kan Nis?"
"Aku tulis alamatnya, Mbak. Tapi jangan bilang ketemu sama aku ya mbak?"
Aku mengangguk meyakinkan. Setelah menulis dan menyerahkan sepotong kertas berisi alamat tinggal Danang, Nisa berpamitan karena masih ada urusan. Akupun segera menghabiskan bakso yang sudah mulai dingin di hadapanku karena setelah ini aku akan kembali ke Pengadilan untuk memberikan alamat yang tadi kudapatkan dari Nisa. Satu hal yang kuyakini, untuk segala apapun yang terjadi atas hidupku, pasti ada campur tangan Tuhan. Pertemuanku dengan Nisa tadi juga pasti bukanlah sebuah kebetulan.
***
Karena mediasi tertunda, aku harus menunggu beberapa waktu lagi. Menyabarkan diri walau hampir setiap hari Danang menghubungiku, namun tak menyurutkan langkahku untuk tetap bercerai.
Bang Rico dan a'Ardan masih sering menghubungiku, namun selalu kuabaikan. Tidak sekalipun kuangkat panggilannya. Aku ingin fokus menyelesaikan proses ceraiku dan selanjutnya memikirkan kehidupanku bersama Dewa. Karena tidak mungkin juga aku akan selamanya menumpang di kos ini.
Pak Rio masih berusaha mendekatiku, untuk yang satu ini aku tidak mungkin terlalu frontal mengambil jarak karena bagaimanapun Pak Rio adalah atasanku.
Satu-satunya pria yang masih dekat dan sering berkomunikasi adalah mas Adit. Tidak ada alasanku untuk menghindarinya. Aku dan Mas Adit hanya berteman biasa. Kadang jika tidak sibuk, Mas Adit mendatangiku sekedar mengobrol sambil minum kopi di teras depan kamarku.
Selain karena statusku yang masih menggantung, aku juga masih trauma atas pernikahan. Jika pada akhirnya harus saling menyakiti, untuk apa ada pernikahan?
***
Malam sudah larut, namun mataku tetap enggan terpejam. Perlahan aku turun dari kasur menuju teras. Kubuat secangkir kopi hitam tanpa gula untuk menemaniku malam ini.
"Belum tidur?"
"Belum bisa. Mau kopi?"
"Boleh deh." Mas Adit menjatuhkan tubuhnya di kursi.
"Capek banget kayaknya?"
"Sebenarnya masih mau antar barang ke satu tempat lagi, tapi kok...." Mas Adit menggantung ucapannya.
"Kok apa? Takut? Mau kutemani? Tapi Dewa diajak ya?"
"Nggak jauh sih. Kalau Dewa ditinggal aja gimana? Biar Santi jagain. Soalnya ini bukan orang biasa yang mau kudatangi."
"Cuma drop barang aja kan mas?"
"Iya. Gimana?"
"Ya, aku ke depan dulu bilang Santi untuk jagain Dewa ya?"
"Ya... Nanti kalau sudah selesai aku kesana."
Setengah jam kemudian, aku dan Mas Dewa sudah berada di sebuah rumah berbentuk joglo dengan halaman sangat luas dan beberapa pepohonan besar dan tinggi yang membuat suasana semakin terasa berbeda dengan hunian lain. Kami menunggu di pendoponya karena pemilik rumah katanya sedang menemui tamu lain.
"Mas, ini rumah siapa sih?" tanyaku pada Mas Adit namun mataku terus mengitari setiap sudut ruangan.
"Pakdhenya temenku. Aku diminta tolong anter barang."
"Giliran ke tempat gini aja ngajak aku. Takut ya?"
"Bukan takut. Aku sering kok kesini. Nggak tau, kali ini pengen aja ajakin kamu."
Aku mencebikkan bibir mendengar jawaban Mas Adit. Kalau kupikir-pikir sih, potongan seperti Mas Adit mana mungkin takut kesini sendiri. Wajah sangar, tubuh bertattoo. Siapapun yang berniat jahat sepertinya sudah akan merasa takut duluan, mungkin termasuk penghuni alam lain juga berpikir demikian.
Sekitar setengah jam kami menunggu, si tuan rumah keluar menemui kami.
"Dit, maaf ya menunggu lama."
"Nggak apa-apa, Pakdhe."
Mas Adit berdiri menyalami beliau, akupun mengikutinya.
"Oh ini nyonyamu Dit? Kenalkan saya Pakdhe Broto."
Pakdhe Broto mengulurkan tangannya. Matanya memindaiku dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.
"Saya Nala, temannya Mas Adit, Pakdhe."
Aku berusaha meluruskan kesalahpahaman ini. Sementara Mas Adit hanya tertawa.
"Hahaha. Ini Nala, temanku, Pakdhe. Ohya ini titipannya."
Mas Adit mengulurkan sebuah barang yang dibungkus plastik berwarna hitam. Pakdhe Broto menerima, lalu melihat ke dalam bungkusan itu.
"Ya ya ya. Makasih ya Dit."
"Siap Pakdhe."
"Sudah lama kalian berhubungan?"
"Kenal sejak saya SMA, Pakdhe. Tapi kami hanya berteman." aku buru-buru menjawab.
"Kayak adekku sendiri, Pakdhe."
Kali ini Mas Adit membantu menjawab.
"Ya, saat ini berteman kan? Besok-besok jadi teman hidup. Hahaha." Suara tawa Pakdhe Broto menggema ke seluruh ruangan membuatku sedikit bergidik ngeri dan mendekatkan tubuhku pada Mas Adit.
"Namamu siapa tadi? Nala? Hmm... Boleh Pakdhe beritahu sesuatu?"
Aku mengangguk ragu. Lebih tepatnya penasaran namun juga ragu.
"Hmm... Kamu itu suka menyalakan pelita. Walau mungkin kamu tidak sadar, namun orang lain menganggapnya itu sebagai sebuah kode."
"Maksudnya gimana sih Pakdhe?" tanyaku tidak paham.
"Ya, pokoknya sepanjang hidupmu banyak pelita yang menemani. Hahaha."
Aku menyenggol bahu Mas Adit.
"Nala masih bingung maksudnya, Pakdhe." Mas Adit membantuku bertanya.
"Nggak usah dipikir. Dijalani aja. Tapi ya kalau bisa, Mbak Nala jangan terlalu banyak menyalakan pelita. Satu aja yang disampingmu itu sudah cukup, kok."
Pakdhe Broto tersenyum penuh arti, sementara aku dan Mas Adit mengernyitkan dahi berusaha memahami kalimat Pakdhe Broto.
Setelah mengobrol sebentar, kami memutuskan pulang karena sudah larut malam. Aku takut Dewa bangun dan mencariku, Mas Adit memahami itu.
Di mobil
"Mas, maksudnya Pakdhe tadi apa sih? Dia orang pintar ya?"
"Hahaha. Nggak tahu aku juga. Wong kesana cuma anter pesenan aja."
"Lagian maksudmu ajak aku kesana tuh apa Mas?"
"Iseng aja, kamu kesurupan nggak disana. Hahaha."
"Sial..."
Aku cemberut mendengar jawabannya.
Lalu kami sama-sama terdiam menatap jalan gelap di depan yang tak berujung. Seperti hidupku yang entah berada dimana ujung kebahagiaan itu kan kutemukan.
Sebelum ada yang bertanya, saya jelaskan lebih dulu ya. Nala memasukkan gugatan cerai di Pengadilan Negeri karena mereka beragama Kristen.