
Sebulan berlalu. Hubunganku dengan Danang semakin memburuk, namun aku tidak peduli. Dia pulang ke kost sesekali saja dan hanya meminta haknya sebagai suami yang kuberikan dengan tidak ikhlas. Rajin meminta hak, lupa pada kewajibannya. Sebenarnya aku lebih nyaman saat dia tidak berada di kost. Hidupku jauh lebih damai.
Minggu siang, aku baru saja selesai mencuci baju, piring, membersihkan kamar, niatku bersantai di kamar sambil menikmati sepiring pisang goreng hangat yang baru saja kugoreng. Biasanya, hari Minggu Danang tidak pulang ke kost.
Namun rencanaku buyar saat tiba-tiba Danang masuk kamar lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang lebih pantas disebut kain tipis.
"Bikinin kopi."
"Nggak punya." sahutku santai sambil terus mengunyah pisang goreng buatanku.
"Belilah. Kamu makan apa? Nggak nawarin suamimu?"
"Mana uangnya?"
"Pake uangmulah. Perhitungan banget."
"Selama aku jadi istrimu, kamu nggak pernah sekalipun kasih aku uang. Bahkan sekedar untuk makan sekali sehari."
"Kamu kan juga kerja, kalau kukasih kamu, uangmu untuk apa? Lagian kamu juga nggak kayak istri lainnya, siapkan kopi, dan makanan kalau suami di rumah."
"Kamu aja nggak kasih uang, mau beli kopi sama bahan makanan darimana?"
"Ah, pusing ngomong sama kamu. Istri durhaka!!!"
Danang keluar lalu membanting pintu kamar kami. Untung pintu kamar kos kami juga setangguh aku, tidak rapuh dan mudah rusak walau sering jadi korban amarah Danang.
Tak lama Danang kembali ke kamar. Wajahnya masih sekusut tadi. Dia mulai mendekatiku.
"Aku capek." kataku sebelum dia meminta lebih.
"Nggak ada penolakan." Nafasnya mulai berat.
"Biasanya kamu sama pacarmu kan. Kemana dia?" aku masih berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
"Aku pengen sama kamu sekarang!!"
"Aku nggak mau!! Lepasin!!" aku semakin memberontak.
Namun tenaga Danang yang sedang tinggi-tingginya jauh lebih kuat. Plak...sebuah tamparan mendarat lagi di pipiku. Rambutku ditariknya. Wajahku diarahkan tepat depan senjata kebanggaannya. Ditariknya rambutku lebih keras agar aku teriak dan di leluasa memasukkan senjatanya ke mulutku. Setelah puas memainkan senjatanya di mulutku, dia menindihku namun tetap tidak melepas pegangannya pada rambut dan tanganku. Tanpa ampun dia hunjamkan berkali-kali senjatanya ke dalam tubuhku. Bukan nikmat yang kurasakan, namun rasa sakit bertubi-tubi. Semakin aku memberontak, semakin dia kesetanan. Semakin aku tampak kesakitan, dia semakin bersemangat memompa.
Hari itu menjadi hari terpanjang bagiku. Danang seperti tidak memiliki rasa puas. Berkali-kali dia melakukannya.
Sudah jam sebelas malam saat Danang menyudahinya. Dengan wajah puas yang memuakkan, dia keluar kost, menyalakan motornya lalu pergi entah kemana.
Dengan menahan sakit, tertatih aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Kugosok tubuhku berkali-kali hingga aku mulai menggigil kedinginan. Segera kusudahi mandi malamku. Kuambil handuk yang tergantung di kapstok.
Aku menelungkupkan wajahku, menangis sampai aku ketiduran.
***
Sudah dua minggu sejak kejadian hari minggu itu Danang sama sekali tidak pulang ke kost. Akupun enggan menanyakannya.
Beberapa hari ini badanku terasa tidak enak, namun tetap kupaksakan masuk kerja daripada di kost sendirian pikirku.
"Na, kamu sakit? Pucet gitu." Mbak Hani memegang keningku.
"Agak pusing, Mbak..." Kujatuhkan diri ke sofa di ruangan Mbak Hani.
"Sudah makan kan?"
"Nggak pengen makan, mbak. Mulutku pahit."
"Kamu pengen makan apa? Biar kusuruh orang untuk belikan."
Lagi-lagi aku menggeleng.
"Aku ke ruanganku dulu mbak. Disini dingin banget."
Tanpa menunggu jawaban Mbak Hani, aku keluar dari ruangannya menuju ruanganku.
Jam istirahat tiba, kusandarkan kepalaku tertelungkup di meja. Kepalaku terasa semakin sakit, sendi-sendiku juga terasa linu.
"Na, kita ke dokter sekarang." Mbak Hani memaksaku.
"Apapun itu, yang penting kamu dapat obat dulu."
Dengan dipapah Mbak Hani dan Rina, aku masuk mobil kantor yang ternyat sudah disiapkan untuk mengantarkanku ke dokter. Namun karena kondisiku di sepanjang perjalanan semakin lemas, mereka memutuskan untuk membawaku langsung ke IGD agar segera tertangani. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan dan cek laboratorium, malam itu aku harus opname karena terkena demam berdarah dengue.
"Na, aku hubungi Danang ya..."
"Nggak usah mbak. Sepertinya sendiri jauh lebih baik."
"Tapi kalau dia nyariin gimana Na?"
"Dia aja nggak pernah pulang. Biarin aja, Mbak. Kalau dia nyari kan pasti nanti telepon aku."
Mbak Hani tidak memaksaku lagi. Rina masuk ke ruanganku membawa beberapa tas kresek berisi minuman, makanan dan buah-buahan.
"Maaf, aku selalu ngerepotin kalian ya..."
"Nggak ada yang ngerasa kamu repotin, Nala. Sekarang kamu istirahat aja dulu. Aku mau pulang sebentar ambil baju sama bubur. Ibuku masakin bubur untuk kamu. Nanti aku yang jagain kamu. Sekarang kamu sama Mbak Hani dulu, ya."
"Rin, kamu jagain aku? Kasihan kamu... Aku sendiri saja nggak apa-apa. Duh ibu jangan direpotin, Rin..."
"Sudah nggak apa-apa. Ibu sendiri yang mau bikin bubur untuk kamu."
Aku terharu melihat kebaikan mereka. Tuhan memang sangat baik. Selalu mengirimkan orang-orang baik di sekitarku.
Hari kedua aku di rawat, Danang barulah menghubungiku. Dengan sangat terpaksa kuberitahu bahwa aku rawat inap di rumah sakit. Sorenya dia mendatangiku dengan membawa sebungkus makanan yang kukira untukku ternyata dimakannya sendiri.
"Kok bisa kena demam berdarah?"
"Lagi apes..."
"Makanya rajin bersihin kost, biar nggak jadi sarang nyamuk."
"Nggak lihat itu kost bersih banget? Eh lupa, emang nggak ada apa-apanya ding."
"Ya diisi peralatan lah, dibikin nyaman biar suami juga betah pulang ke kost."
"Sini uangnya, kubikin nyaman kosnya."
"Duit lagi. Di otakmu itu cuma ada duit, duit, duit. Ohya, ini nanti rumah sakit siapa yang bayar?"
"Kamu lah. Kamu suamiku."
Tok tok tok.
Pintu ruangan diketuk. Kukira perawat, ternyata Budhe Ratih dan Pakdhe Nug.
"Kok tahu kalau aku dirawat, Budhe, Pakdhe?"
"Iya tadi Danang menghubungi kami, panik, katanya kamu kena demam berdarah."
"Maaf ngerepotin ya Pakdhe, Budhe."
"Enggak. Kamu kan sudah kuanggap anakku sendiri."
Hanya sebentar mereka disini, lalu berpamitan karena ada acara lain yang harus mereka hadiri. Setelah menyelipkan amplop saat bersalaman denganku, mereka lalu keluar dari ruangan diantar Danang. Tak lama Danang masuk lagi, tidak sendiri. Beberapa teman kerjanya ternyata menjengukku. Sore itu aku mendapat kunjungan dari beberapa teman-teman Danang bergantian sampai jam kunjungan rumah sakit selesai.
"Na, sini mana lihat amplop-amplopnya. Kuhitung dulu total dapat berapa."
Danang sibuk menghitung isi amplop tanpa pedulikan aku yang meminta tolong diantar ke toilet.
"Wah Na, lumayan nih." katanya sambil memasukkan sebagian besar uang ke dalam dompetnya.
"Kok kamu ambil?" protesku.
"Ya kusimpan saja untuk biaya rumah sakit. Ini sisanya kutaruh tasmu. Kalau kamu mau beli makan di depan, bisa minta tolong temanmu kan."
"Bener lho ya untuk nambah biaya rumah sakit. Eh, kok temanku? Lha kamu yang jagain aku kan?"
"Aku nggak bawa baju ganti, Na. Lagian aku nggak biasa tidur di rumah sakit. Nggak suka aroma obat-obatan. Aku pulang dulu ya. Kalau kamu udah mau pulang, kabari!"
Kutatap kepergian Danang dari jendela. Rasa benciku padanya semakin besar. Niatku untuk berpisah semakin bulat. Aku tidak mungkin menghabiskan sisa usiaku dengan laki-laki sebrengsek Danang. Tanpa terasa airmataku menganak sungai. Lagi-lagi, aku merindukan sosoknya, Bang Rico.