
"Bu, sudah sampai. Kamarnya yang mana Bu?" Suara Pak Pardi membuyarkan lamunanku.
"Sudah sampai, Bu. Kamarnya yang mana? Biar saya dan teman-teman bereskan dulu, Ibu tunggu di mobil saja." Pak Pardi mengulangi ucapannya.
Belum sempat kujawab, kaca jendela disampingku diketuk. Ternyata Mas Aditya. Aku mengenalnya saat duduk di bangku SMA. Lalu kami sama-sama kehilangan kontak. Baru bertemu lagi setelah sekian tahun. Ternyata Riska juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Dewa.
"Kamu mau nunggu di mobil dulu atau di kamar temanku? Kebetula dia juga kost disini."
"Di mobil saja, Mas. Nggak enak, baru pindah kok sudah merepotkan."
"Ya sudah. Tunggu dulu ya."
Mas Aditya memang cuek dan irit dalam berbicara. Tidak pernah berubah dari dulu. Sebenarnya aku tidak enak merepotkannya, namun aku tidak ada pilihan lain. Karena mencari kost mendadak begini juga bukan perkara yang mudah.
Hampir adzan subuh saat Mas Aditya, Pak Pardi dan teman-temannya selesai. Setelah menyelesaikan pembayaran dan mengucapkan banyak terima kasih, aku dan Dewa yang masih terlelap ditemani Mas Aditya masuk ke kost baruku.
"Makasih ya, Mas. Maaf aku ngerepotin terus."
"Santai aja." jawabnya singkat sambil terus berjalan di belakangku sambil menggendong Dewa.
Kosan ini berbentuk memanjang, kebetulan kamarku berada di belakang. Untuk sampai kesana, kami harus melalui lorong panjang yang hanya cukup satu motor saja.
Tidak terbayang bagaimana tadi repotnya Mas Adit, Pak Pardi dan teman-temannya mengangkut kasur, lemari dan barang-barangku.
Mas Adit menidurkan Dewa pelan-pelan di atas kasur. Ternyata mereka tadi sekalian merapihkan kamarku.
"Mas, makasih banyak ya. Malah sekalian diberesin begini."
"Iya. Tidak apa-apa. Biar kamu sama Dewa bisa langsung istirahat. Ohya, kamar mandinya disana. Kalau butuh apa-apa bisa sms aku. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini. Kamu bisa juga minta tolong ke temen-temen kost disini. Mereka semua kenal aku. Ini lorong paling belakang, paling nyaman menurutku. Rata-rata pekerja kantoran yang punya jam hidup normal. Yang tengah, rata-rata penghuninya kerja d cafe dan karaoke. Subuh biasanya mereka baru sampai kost dan pasti sangat berisik. Kasihan Dewa.
Yang lorong paling depan, kita masuk tadi mayoritas dihuni suami istri. Biasanya juga banyak ibu-ibu suka gosip. Tapi karena posisinya di depan, pasti berisik karena banyak lalu lalang kendaraan."
Mas Adit menjelaskan singkat tentang kost ini.
"Ya Mas. Makasih banyak ya Mas. Mau kubikinin kopi?"
"Hahaha. Nggak usah repot, barang-barangmu aja belum diberesin. Aku pulang saja. Hati-hati di kost. Kunci pintunya. Aku sudah bilang ke anak-anak sini, biar nggak ada yang kurang ajar ke kamu."
Selepas Mas Aditya pulang, aku membersihkan diri dan mengganti pakaianku dengan daster. Kurebahkan diri di samping Dewa yang masih nyenyak dalam tidurnya. Kuciumi pipi dan keningnya. Ada rasa sesak di dada. Seharusnya di usianya saat ini, dia hidup bahagia dalam sebuah keluarga yang lengkap. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Kecupan hangat berkali-kali mendarat di pipiku. Sudah kebiasaannya membangunkanku dengan jurus seribu ciuman sampai aku terbangun dan membalas ciumannya.
"Mmhh, jagoannya Bunda sudah bangun ya? Maaf ya, Bunda kesiangan."
"Dimana ini Bun?"
"Mulai sekarang kita tinggal disini ya? Berdua saja dengan Bunda. Nggak apa-apa kan?"
Dewa mengangguk paham. Matanya menjelajah ruangan berukuran 3.5 x 3.5 yang akan menjadi tempat tinggalnya. Entah sampai kapan.
Hari ini rencanaku adalah membereskan barang-barang agar Dewa nyaman tinggal disini bersamaku. Seperti paham dengan kondisiku saat ini, Dewa sama sekali tidak rewel. Dia memilih duduk menonton acara anak-anak di televisi sambil menikmati cemilan kesukaannya. Tidak terasa sudah maghrib. Beberapa penghuni kost di lorong yang kutempati sudah pulang dari tempat kerjanya. Beberapa berhenti di depan kamar untuk basa basi menyapaku dan Dewa. Dari kejauhan aku melihat mas Aditya berjalan menuju kamar kostku.
"Gimana disini? Nyaman? Ini kubawakan sate ayam dan lontong untuk makan malam. Kalian pasti belum makan malam kan?"
Dewa antusias mengambil bungkusan yang dibawakan mas Aditya. Kubukakan bungkus dan membiarkannya menikmati lontong sate kesukaannya.
"Aku merepotkanmu terus ya Mas?"
"Santai aja. Habis ini kukenalin ke teman-teman disini ya? Baik-baik kok walau ya pekerja malam sih mayoritas. Kecuali di lorongmu ini. Seperti ceritaku semalam."
Aku mengangguk mengiyakan.
Setelah menyelesaikan makan malam, aku mengajak Dewa untuk mengikuti Mas Aditya ke beberapa kamar di lorong bagian tengah. Sambutan mereka tidak mengecewakan. Dan yang membuatku sedikit tenang adalah mereka tidak ada yang menanyakan kenapa aku dan Dewa berada di kost itu.
Jam sembilan malam, Dewa sudah mulai menguap. Aku berpamitan pada Mas Dewa dan teman-teman baruku.
"Kalau belum bisa tidur, kesini aja Mbak.." kata Santi.
"Ya.. kamu nggak kerja malam ini?"
"Enggak, lagi males. Hahaha. Nanti kesini aja, Mbak. Mas Adit juga biasanya sampai subuh disini."
Perlahan aku keluar kamar agar Dewa tidak terbangun. Tujuanku adalah kamar Santi. Ternyata Santi, Mas Adit dan beberapa teman lainnya sedang mengobrol santai di teras depan kamar Santi. Kulihat ada beberapa botol minuman yang dulu sempat kuakrabi, beberapa gelas berukuran kecil dan juga cemilan. Aku hanya tersenyum melihatnya. Kurapatkan jaketku. Bukan karena aku kedinginan, namun aku saat ini sudah mengenakan daster.
"Duduk sini Mbak." Santi menggeser tubuhnya memberiku tempat untuk duduk di sebelahnya.
"Jangan kaget ya, Mbak. Lagian Mas Adit aneh, mbak Nala kalem begini kok taruhnya di kost ini. Hahaha." Kulihat Santi, Mas Adit dan beberapa temannya tertawa. Aku juga sebenarnya ingin tertawa. Kalem katanya?
"Sudah lama menikah? Kok baru dikenalin ke kita sekarang lho?" tanya Yusak pada Mas Adit.
"Eh? Nikah? Bukan istriku ini. Hahaha."
"Bukan, aku bukan istrinya Mas Adit. Kami berteman sejak beberapa tahun yang lalu. Kebetulan saja bertemu lagi, lalu kemarin Mas Adit yang kuminta tolong untuk mencarikan kost untukku dan Dewa."
Obrolan kami semakin malam semakin seru. Beberapa teman juga ikutan bergabung. Kulirik jam yang tergantung di dinding depan salah satu kamar. Sudah pukul dua belas malam. Biasanya Dewa jam segini meminta susu. Aku segera berpamitan. Tanpa kusangka, Mas Adit mengantarkanku sampai ke kamar.
"Besok kalau kamu mau masuk sekolah, biar diantar jemput Santi saja."
"Duh nggak enak baru kenal kok sudah merepotkan."
"Nggak apa-apa. Aku tadi sudah bilang, dan dia nggak keberatan. Dia single parent juga. Tapi anaknya di desa, diurus orangtuanya. Jadi dia tahu gimana rasanya repot mengurus anak sendirian."
Aku mengangguk dan tanpa basa basi lagi, Mas Aditya membalikkan tubuhnya berjalan ke kamar Santi lagi.
Aku merebahkan diri di samping Dewa yang sudah terlelap lagi setelah menghabiskan sebotol susu.
Tubuhku rasanya lelah, sangat lelah. Namun mata rasanya sulit terpejam. Kupandangi langit-langit kamarku. Rasanya aku seperti tertarik ke beberapa waktu yang lalu. Masa dimana aku masih sendiri, tak terikat oleh apapun dan siapapun.
[FLASHBACK ON]
Jarum jam di dinding baru menunjukkan pukul lima. Gawaiku bergetar tanda panggilan masuk.
"Sudah bangun? Setengah jam lagi aku sampai rumah sakit."
"Ya Bang. Aku tunggu di depan rumah sakit?"
"Malu kalau jalan sama aku sepanjang lorong rumah sakit? Atau takut ketahuan aa mu?"
"Engga, Bang. Maksudku bukan gitu. Ya aku tunggu di kamar eyang. Abang jemput disini ya?" buru-buru kuralat ucapanku sebelum Bang Rico menutup panggilan teleponnya.
Tepat setengah jam, Bang Rico sudah sampai di depan kamar rawat inap Eyang. Aku dan Siti sedang mengobrol di depan ruangan karena Eyang sedang dimandikan oleh perawat.
"Eyang gimana kondisinya?"tanya Bang Rico berbasa basi dengan Siti.
"Sudah membaik, Bang. Ini sekarang sedang dimandikan oleh perawat. Abang tumben jam segini sudah menjemput Mbak Nala?"
"Iya, katanya ada kerjaan yang harus dia selesaikan. Pamitkan pada Eyang ya. Aku sama Nala berangkat dulu."
Kusambut uluran tangan Bang Rico. Tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada obrolan yang tercipta. Akupun enggan memulainya. Takut jika salah kata dan membuat hubungan kami semakin runyam.
Bang Rico memarkirkan motornya di sebuah warung soto langganannya lalu menyuruhku mencari tempat duduk yang nyaman untuk kami mengobrol sementara dia memesan makan dan minum.
"Semalam ada telepon atau pesan dari a'a mu?"
Kusodorkan gawaiku, namun ditolaknya.
"Aku tidak mau melihat. Mendengar jawabanmu saja cukup."
"Ada, Bang... Tapi nggak kuangkat, nggak kubalas juga." jawabku lirih, menunduk untuk menghindar dari tatapannya. Bukan karena aku berbohong, namun aku masih dihantui rasa bersalah sehingga tidak sanggup melihat sorot tajam tatapan mata Bang Rico.
"Kenapa lihat bawah. Lihat aku lalu ulangi jawabanmu." Bang Rico memegang daguku, memaksaku menatap matanya.
"Ada, Bang. Tapi nggak kuangkat, nggak kubalas juga." kuulangi sekali lagi jawabanku.
"Kenapa?"
"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia, Bang."
"Tapi sepertinya dulu hubungan kalian sangat istimewa sekali ya? Tinggal serumah, sampai Mamanya pun peduli denganmu."
"Aku bisa jelaskan, Bang."
"Ya sudah jelaskan. Aku mengajakmu kesini memang membutuhkan penjelasan dari kamu."
"Itu rumah keluarganya, Bang. Aku tinggal disana bersama dua sahabatku. Selama ini dia tinggal di Bandung bersama keluarganya. Hanya sesekali saja berkunjung kesini."
Pembicaraan terhenti karena soto pesanan kami sudah datang.
"Makanlah dulu, setelah itu aku mau dengar semua kisahmu dengan si aa tanpa ada yang kamu tutupi."
Sebenarnya rasa laparku menghilang entah kemana. Namun melihat Bang Rico terus menatapku tajam, mau tidak mau aku mulai memasukkan sesuap demi sesuap nasi soto yang biasanya menjadi favoritku dan Bang Rico hingga tandas.
"Ya sudah lanjutkan."
"Aku dan a' Ardan berpacaran sejak SMA. Sebelumnya aku berpacaran dengan a' Andri, kakaknya a' Ardan saat aku SMP. Namun a' Andri meninggal. Sejak saat itu, a' Ardan mendekatiku karena sebelum meninggal, a'Andri memintanya untuk menjagaku. Keluarganyapun juga sayang sama aku. Mungkin karena tahu sejak Mama meninggal, hubunganku dengan Papa memburuk hingga aku harus hidup sendiri dan bekerja di wartel dekat SMP ku dulu. Jujur aku nyaman karena aku merasa memiliki keluarga dan seperti mendapatkan lagi kasih sayang dari Mama. Namun saat kelulusan SMP, Papa memintaku untuk bersekolah di kota gudeg ini. Awalnya semua baik-baik saja. Sampai masalah hadir lagi. Papa mengusirku untuk kesalahan yang tidak pernah kulakukan. Papa tidak mau mendengarkan penjelasanku. Entah tahu darimana karena aku tidak pernah cerita pada a' Ardan, Mama a' Ardan menawariku untuk tinggal di rumah mereka di kota ini. Awalnya aku berat menerimanya, tapi setelah mempertimbangkan lagi aku meminta agar sahabatku juga ikut tinggal disitu. Ternyata Mama a' Ardan menggiyakan. Sejak saat itu, aku, mbak Freya dan mbak Linda tinggal disitu. Sampai beberapa waktu yang lalu, a' Ardan menghilang. Aku berkali-kali menanyakan pada Mama namun mereka seolah menutupinya. Lalu aku, Mbak Freya dan Mbak Linda memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Lagipula, Mbak Freya dan Mbak Linda sudah lulus juga mendapatkan pekerjaan di luar kota."
"Sudah?"
"Sudah, Bang."
"Bagaimana perasaanmu terhadap a'a mu?"
"Kenapa sih abang nanyain itu?"protesku.
"Aku hanya butuh jawaban. Bukan pertanyaan balik."
"Sudah tidak ada perasaan apapun."
"Bagus. Sayangnya aku lihat ada keraguan."
"Aku harus gimana lagi, Bang?"
"Kuantar kamu ke tempat kerja. Nanti seperti biasa kujemput dan kuantar ke rumah sakit. Tunggu sebentar, aku bayar makan dulu."
"Tapi kita belum selesai ngobrolnya, Bang."
"Membicarakan masalah hati memang tidak akan pernah ada selesainya. Apalagi yang sudah bertahun-tahun menemani dan ada kontribusinya di hidupmu. Mau dibahas sampai kapan? Yang kutahu, saat ini kamu milikku dan aku tidak akan melepaskan begitu saja kecuali kamu menginginkannya. Paham?"
Aku mengangguk. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami sifat keras dan tidak suka dibantah yang dimiliki oleh Bang Rico.
Sesampainya di depan kios, Bang Rico menahan tanganku.
"Jaga kepercayaan yang masih kuberi untukmu. Kalau sudah hilang, kamu akan sulit bernafas lega. Mungkin kamu akan kunikahi lalu kubawa ke kota asalku. Diam saja kamu di rumah setidaknya sampai aku yakin bahwa kamu pantas kupercayai lagi. Paham?"
"Tapi aku memang nggak pernah ngapa-ngapain, Bang."
"Aku nggak butuh jawaban panjang. Jawab saja pertanyaanku tadi. Paham?"
"Iya Bang, aku paham."
"Nanti siang, kamu nggak usah kemana-mana. Kuantarkan makan siang."
Belum saja aku menjawab, Bang Rico melanjutkan omongannya,"Aku sedang tidak ingin dibantah atau didebat."
"Ya, Bang."
"Sana kamu masuk."
Setelah memastikanku sudah membuka kios dan menyalakan beberapa komputer, kulihat Bang Rico menjalankan kendaraanya menjauhi kiosku.
Ada sedikit rasa sesal. Seharusnya, dulu aku memulainya dengan kejujuran. Menceritakan semua tentang a' Ardan pada Bang Rico. Memang selain komunikasi, kejujuran adalah kunci sebuah hubungan yang baik.