Janitra

Janitra
Bab 50


Duniaku seakan berhenti. Seandainya ada doraemon, kan kupinta mengeluarkan alat agar aku bisa menghilang saat ini juga. Kupejamkan mata sebelum membalikkan tubuhku, menghadap dua laki-laki yang berada di belakangku.


Kupijit keningku, mendadak kepalaku terasa berat.


"Dek, kamu kenapa?"


"Na, kamu sakit? Ayo kuantar pulang."


Mas Rio dan a' Ardan berbicara bersamaan, membuat kepalaku semakin terasa sakit. Baru saja aku akan menjawab, seorang wanita menghampiri kami dan langsung mendekati Mas Rio.


"Mas, belum jadi pulang? Atau mau nemenin aku jaga Papi? Eh, ada Nala disini. Lho ada a'Ardan juga."


"Iya, Mamaku sakit dan dirawat disini."


"Wah Nala dan a'Ardan masih berhubungan baik ya. Sudah malam lho ini, tapi mau repot-repot menjenguk Mama a' Ardan."


"Nala tadi kesini sama aku. Ini sekarang kami mau pulang." Mas Rio melepaskan pegangan tangan Karin pada lengannya lalu memegang tanganku.


"Oh, Mas tau? Kukira Nala diam-diam kesininya." Karin tersenyum kecut mendengar jawaban Mas Rio.


"Nala nggak mungkin pergi tanpa ijinku. Dia tau cara menghargai calon suaminya." Mas Rio merengkuhku. Sementara a'Ardan hanya terdiam turut melancarkan sandiwara kecil ini.


"A'a, aku pulang dulu ya. Semoga Mama lekas sembuh."


"Oke. Kami pulang dulu ya. Besok aku ajak Nala jenguk Mamamu lagi." Mas Rio melepasku lalu menjabat erat tangan a'Ardan sambil menepuk punggungnya seolah mereka sudah akrab.


"Oke. Makasih banyak mau antar Nala menjenguk Mama."


Karin menatap kepergian kami dengan tatapan benci. Dari dulu dia memang selalu menganggapku dan mbak Ida sebagai rivalnya. Padahal kami tidak pernah mencari masalah dengannya.


"Aaarrrrgh..."


Mas Rio memukul setir di depannya.


"Maaf Mas..."


"Seberapa sulitnya kamu mengirim pesan?"


"Maaf Mas..." kuulang lagi permintaan maafku. Kali ini aku benar-benar merasa bersalah.


"Mana ponselmu?"


Kuambil ponsel dalam tasku yang sedari tadi belum sempat kupegang lalu kuberikan pada Mas Rio.


"Ada pembelaan diri?" tanya Mas Rio sementara tangannya sibuk mengutak atik ponselku.


"Bukan pembelaan diri, tapi aku mau sedikit cerita. Tadi aku sama Dewa sudah tidur. Lalu jam sembilan lewat, teman kostku mengetuk pintu. Ternyata ada a'Ardan. Dia mohon aku untuk jenguk Mama Euis malam ini karena Mama selalu memanggil namaku. Aku udah bilang, besok saja, namun dia terus memohon."


"Lalu kamu luluh dan ikut ke rumah sakit tanpa meminta ijin atau sekedar mengabariku? Bagus, Na!!"


"Maaf. Aku tau, aku salah. Seharusnya aku minta ijin Mas dulu. Aku terima konsekuensinya." lirihku.


"Yakin mau terima konsekuensinya?"


"Iya, Mas." jawabku lirih.


"Setiap pagi dan sore kamu kuantar jemput. Sebelum sampai kost, kita beli makan malam dan kebutuhan kalian jadi kamu tidak ada alasan keluar beli makan atau apapun itu. Besok kamu jenguk Mama mantanmu itu, kuantar sampai depan ruangannya. Tapi selanjutnya tidak ada lagi komunikasi dengannya. Kalau dia datang atau menghubungimu, segera kabari aku. Berlaku juga untuk mantanmu yang bernama Rico."


"Mas tau darimana tentang bang Rico?"


"Bukan urusanmu, aku tau darimana. Itu semua tadi yang kusebutkan, paham ya Na?"


"Apa nggak terlalu berlebihan, Mas?"


"Na, lihat aku! Sekarang jawab, kamu serius nggak sama hubungan kita? Aku serius mau menikahimu, apa itu berlebihan Na?"


"Aku serius, Mas. Tapi untuk saat ini kurasa berlebihan."


"Susah diatur kamu, Na."


"Ya sudah, kuturuti maumu, Mas. Aku sekarang mau pulang. Kalau mas capek, biar aku pulang sendiri."


"Secapek apapun aku, aku akan mengantarkanmu pulang. Ini ponselmu. Ohya, kenapa teleponku dan pesanku tidak kamu buka?"


"Aku tadi menidurkan Dewa lalu ketiduran, Mas. Maaf. Mas tadi kirim pesan apa memangnya?"


"Aku tadinya minta kamu temani ke rumah sakit antar parcel buah dari Mamaku untuk Papinya Karin karena saat ini Mama sedang di luar kota, tidak bisa menjenguk."


"Maaf."


"Nggak apa, toh kita juga tetap bertemu di rumah sakit ini, kan?"


Kubuang pandanganku ke luar, enggan menjawab pertanyaan Mas Rio. Mobil perlahan berjalan meninggalkan pelataran parkir rumah sakit menuju kosku yang tak jauh dari sini. Kami sama-sama diam membisu. Hanya suara dari siaran radio Geronimo, yang menemani perjalanan kami malam itu.


***


Hari demi hari kulalui di bawah pengawasan ketat Mas Rio. Jika dulu masa mudaku justru bebas, sekarang aku harus membiasakan diri dengan aturan-aturan yang dibuat oleh Mas Rio. Bagiku yang terbiasa bebas, jujur ini terasa memberatkan. Namun protespun percuma, hanya akan dianggap seperti angin lalu oleh Mas Rio.


Karin semakin gencar mendekati Mas Rio. Beberapa kali dia datang ke kantor untuk mengajak Mas Rio makan siang atau membawakan makan siang yang diakui sebagai masakannya. Jelas semua ditolak oleh Mas Rio.


"Na, ada yang nyari kamu. Dia nunggu di lobby." Ghani memberitahuku.


"Oke. Makasih."


[Mas, ada yang nyari aku. Sekarang di lobby. Aku temui dulu.]


Kukirimkan pesan pada Mas Rio yang sebenarnya sedang di ruangannya. Tanpa menunggu balasan pesan, aku bergegas menuju lobby.


Seorang wanita dengan pakaian tertutup segera berdiri saat melihatku.


"Nala, apa kabar?"


"Baik, mbak." kupaksakan senyum. "Silahkan duduk, mbak."


"Maaf langsung saja ya, Nala. Apa Nala sudah ada jawaban atas permintaan saya waktu itu?"


"Permintaan yang mana ya Mbak? Bukankah pembicaraan di cafe waktu itu sudah selesai?"


"Mas Jhoni masih berharap Nala mau menjadi istrinya."


"Maaf, saya sudah menerima pinangan dari kekasih saya. Dalam waktu dekat, kemungkinan saya akan segera menikah. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak menerima pinangan dari Pak Jhoni, Mbak. Cari saja perempuan lain."


Selesai aku menjawab, Pak Jhoni menghampiri kami.


"Saya mencintaimu, dek Nala."


Aku membelalakkan mata mendengar ucapan Pak Jhoni barusan.


"Pak, tega sekali berkata begitu di depan istri bapak? Nggak mikir gimana perasaan istri?"


"Tapi saya berkata sejujurnya, Nala. Kami menikah bukan karena cinta, kami menikah karena dijodohkan. Sampai sekarang, tidak ada cinta sedikitpun yang tumbuh di hati saya untuknya. Berbeda yang saya rasakan saat pertama mengenalmu, Nala. Lagipula kamu adalah tipe wanita idaman saya. Putih, mulus, manis, lembut."


Kulihat istri Pak Jhoni tertunduk. Ada setitik iba melihatnya. Jika aku menjadi dia, sudah sedari dulu kutinggalkan laki-laki macam ini. Bagiku lebih baik bekerja mati-matian untuk menghidupi anak-anak dibandingkan bertahan dengan seorang suami yang selalu membuat sakit hati.


"Mbak, maaf, masih mau bertahan dengan laki-laki seperti ini? Nggak pengen bahagia hanya dengan anak-anak saja? Untuk apa mempertahankan rumah tangga dengan suami yang tidak bisa menghargai mbak?"


Kuabaikan Pak Jhoni, aku justru bertanya pada istrinya.


"Maaf pak, mbak karena ini masih jam kerja, dan kerjaan saya banyak yang belum selesai, saya pamit dulu. Jawaban saya sudah jelas dan sampai kapanpun tidak akan berubah. Pesan saya untuk bapak, hargai istri anda, jangan terus mengedepankan nafsu untuk mengejar keinginan dan kebahagiaan pribadi. Saya permisi. Selamat siang."


Lalu aku berjalan cepat menuju ruanganku. Berharap semoga mereka segera pergi sebelum jam makan siang tiba.


***


Malam itu seperti biasa, setelah menyuapi Dewa, aku bersiap untuk ke cafe. Dewa kutitipkan pada penjaga kost. Untung Dewa tidak pernah rewel, seolah mengerti kondisiku yang harus bekerja keras untuk menghidupinya.


Kebetulan hari ini Mas Rio ada acara dengan keluarga besarnya, jadi ponselku tidak akan sering berbunyi menerima pesan darinya.


Setelah aku menyelesaikan lagu ke lima permintaan pengunjung, seorang wanita yang akhir-akhir ini selalu mengganggu hidupku menghampiri.


"Yaampun Nala. Kamu nyanyi disini?"


"Iya Karin. Ada masalah?"


"Mmhh enggak sih. Tapi gimana ya kalau Mama mas Rio tau kalau calon menantunya selain memiliki masa lalu yang buruk, ternyata sekarang juga masih bekerja di cafe?" Karin berbisik di telingaku.


"Sudahlah Karin, urusi saja hidupmu, nggak perlu urusin hidupku."


"Oke, aku akan duduk lagi dan melihat sebuah adegan dimana kamu pasti akan ditolak oleh keluarga Mas Rio. Lihat disana itu Mama Mas Rio. Sementara kekasihmu sedang menjemput tantenya."


Kuhela nafas lega saat Karin menjauhiku dan kembali bergabung dengan pengunjung lain yang katanya adalah keluarga Mas Rio.


"Kamu kenapa? Bisa lanjut kan Na?" Tegur Akbar, yang melihatku masih terpaku.


"Mmhh, bisa kok. Lanjut aja." Kupaksakan tersenyum walau sebenarnya hati dan pikiranku tidak karuan.


Akbar menyodorkan sebuah minuman berkarbonasi berwarna biru. Kuambil dan kuteguk sedikit lalu kuletakkan di atas meja.


"Nih request pengunjung." Lukman memberi sepotong kertas berisi judul lagu yang harus kunyanyikan.


Di pertengahan lagu, kulihat Mas Rio masuk bersama Berlin dan seorang perempuan paruh baya yang kutaksir merupakan tantenya. Mas Rio terus menatapku dengan tatapan tidak suka terlebih saat aku harus duet dengan Lukman.


Lagu berakhir, Berlin menghampiriku.


"Mbak, kamu nyanyi disini? Ayok kesana, kenalan sama Mama dan yang lainnya."


Setengah hati aku mengikuti langkah Berlin untuk berkenalan dengan keluarganya.


"Ma, kenalin ini Mbak Nala, pacar Mas Rio."


Kuulurkan tangan, lalu kucium punggung tangannya.


"Nala, tante."


Bibirnya tersenyum, namun matanya memindaiku dari atas ke bawah.


"Saya Yunia. Silahkan duduk."


"Terima kasih, tante."


"Ini tante Herma, adiknya Mama, kalau ini Om Hendrik dan istrinya, Tante Fera, sahabat keluarga kami. Nah ini Budhe Lusy, kakaknya Mama." Berlin mengenalkanku satu satu pada keluarganya.


Setelah berkenalan, Mas Rio menyuruhku duduk di sebelahnya.


"Nala kerja atau kuliah?"


"Kerja, tante." Tante Yunia, Mama Mas Rio dan Berlin menanyaiku tanpa basa basi.


"Dimana?"


"Di kantornya Mas Rio."


"Begitulah." Kali ini Mas Rio yang menjawab.


"Tapi selain kerja di kantor, Nala ini juga kerja disini, jadi penyanyi cafe. Kalau dulu dia kerja di salah satu bisnisnya Pak Baroto yang sekarang sudah tutup." Karin tiba-tiba menyahut.


Sepertinya tadi saat aku datang dia sedang di toilet. Tante Yunia dan semua yang hadir disitu tampak terkejut.


"Nala bekerja disini hanya untuk menyalurkan hobi nyanyinya. Itu juga sudah ijin aku. Tentang masa lalunya, dulu dia hanya sebagai operator telepon, tidak lebih." Mas Rio menggenggam tanganku.


Ada setitik rasa bersalah. Aku sudah membohonginya, namun Mas Rio tetap membelaku.


"Ya sudah, ini kan lagi ulangtahun mbak Yunia, kita nyanyi saja yuk Nala. Boleh nggak tante nyanyi di depan juga? Lama nih nggak tes vocal." Tante Herma berusaha mencairkan suasana.


"Boleh tante, sebentar Nala bilang ke teman-teman dulu."


Aku kembali berjalan mendekati Akbar dan Lukman meminta untuk mengiringku dan Tante Herma yang akan bernyanyi.


Acara selesai hampir tengah malam bertepatan dengan jam tutup cafe.


Mas Rio mengantar keluarganya sampai tempat parkir lalu masuk kembali menungguku.


"Mas, kukira sudah pulang."


Mas Rio tidak menjawab namun berdiri dan berjalan menuju mobilnya. Tanpa menunggu perintah, aku mengikutinya.


"Pegang, Na... Pakai untuk kebutuhanmu dan Dewa. Itu isi gajiku. Kalau kurang, kamu boleh minta aku."


Mas Rio mengulurkan sebuah kartu ATM.


"Untuk apa Mas? Aku masih bisa hidupi Dewa."


"Dengan cara?"


"Mas nggak suka aku nyanyi di cafe?" tanyaku lirih.


"Menurutmu, ada nggak orang yang suka dibohongi?"


"Aku nggak bermaksud membohongimu, Mas."


"Sudah lama kamu kerja disini?"


"Beberapa bulan ini."


"Dan kamu tidak memberitahuku."


"Aku salah."


"Iya, sangat salah. Aku capek, Na."


"Mas langsung pulang saja, aku bisa pulang sendiri."


"Aku capek kayak gini terus, Na. Aku pengen hubungan kita tu tenang, aku nggak selalu was-was tentangmu."


"Mas, tolong kasih kepercayaanmu ke aku seperti dulu lagi. Kenapa setelah Karin cerita semua, mas justru bersikap begini?"


"Nggak bisa kupungkiri, masa lalumu yang membuatku seperti ini."


Mas Rio mulai menjalankan mobilnya pelan keluar dari pelataran parkir.


"Nggak bisa kita melangkah tanpa pedulikan masa laluku?"


"Nyatanya sulit, Na."


"Lepaskan aku, Mas. Akan sulit kita lanjutkan hubungan ini jika sudah tidak ada kepercayaan lagi."


"Selalu itu yang kamu ucapkan!!!"


Mas Rio kembali menghentikan kendaraannya tak jauh dari cafe.


"Aku hanya ingin kamu turuti aku dulu, setidaknya sampai aku tenang. Tapi saat kepercayaan itu mulai hadir lagi, kamu justru berulah seperti ini, Na!!"


Aku tau emosi Mas Rio sedang memuncak, makanya aku tidak berani menjawab apalagi menatap matanya.


"Aku cuma minta kamu nurut! Pagi kujemput, sore kita pulang bareng, jemput Dewa, beli makan malam dan keperluan kalian lalu kuminta kamu diam di kos sampai besoknya kujemput lagi."


Aku masih terdiam, kubiarkan Mas Rio mengeluarkan semua emosinya.


"Kemana aku harus melamarmu, Na?"


"Me-la-mar? Maksud mas?"


"Aku akan menikahimu secepatnya dan bertanggung jawab penuh atas kamu dan Dewa."


"Mas, apa nggak terlalu cepat?"


"Maumu kapan?"


"Biarkan aku sembuhkan trauma atas pernikahan dulu, Mas. Lagipula, apa keluargamu merestui? Kamu dari kalangan orang berada sementara aku..."


"Aku sudah mencari tau banyak tentangmu, Nala. Oke, kuberi waktu untuk kamu sembuhkan traumamu. Tapi jangan lama-lama. Ini atm kamu pegang. Ambil untuk kebutuhanmu dan Dewa."


"Tapi mas..."


"Kenapa kamu selalu menolak, Nala? Karena traumamu?"


"Aku terima, mas. Terima kasih." putusku kemudian karena tak ingin


Mas Rio melajukan kembali kendaraannya untuk mengantarkanku pulang. Kali ini tak seperti biasanya, Mas Rio mengantarkanku sampai depan kamar dan memastikanku tidak pergi lagi tanpa sepengetahuannya.


***


[Nanti jam makan siang, aku makan di luar sama Sita, boleh?] Kukirimkan sebuah pesan untuk Mas Rio.


[Ya.]


Hanya sebuah balasan singkat, padat, jelas. Ya sudahlah yang penting aku sudah diijinkan pergi makan siang berdua dengan Sita.


"Nanti maksi berdua ya Sit?" bisikku pada Sita yang mejanya di sebelahku.


"Boleh sama pak boss?"


"Boleh, aku udah ijin kok."


Jam makan siangpun tiba tak mau menunda, aku dan Sita segera membereskan meja dan menuju ruang Mas Rio untuk berpamitan.


Kali ini tujuan kami adalah sebuah cafe yang menyediakan kopi dan berbagai makanan ringan.


"Ada apa Na? Kalian lagi ada masalah ya?"


Kuceritakan kejadian semalam tanpa kututupi. Sita mendengarkannya tanpa menyela sedikitpun.


"Jadi aku harus gimana Sit?" tanyaku di penghujung curhat.


"Perasaanmu ke Pak Rio gimana Na?"


"Jujur, aku sayang sama dia. Tapi untuk ke pernikahan, aku merasa terlalu cepat."


"Kenapa?"


"Banyak ketakutan yang ada di diriku. Takut keluarganya nggak menerima Dewa, takut dia ternyata seperti Danang dulu."


"Itu semua cuma di pikiranmu, dan pikiran yang seperti itu justru membuatmu selalu bermasalah dengan Pak Rio. Coba deh kamu jalani dulu layaknya sebuah hubungan yang serius. Atau kamu masih mengharapkan seseorang?"


"Nggak ada, Sit. Cuma dia saat ini. Tapi entah, ada rasa takut untuk selalu menurutinya. Takut suatu hari nanti, dia akan semena-mena karena berhasil membuatku selalu patuh."


"Astaga Nala!! Hapus pikiran seperti itu. Kamu nggak akan bisa bahagia sama pasanganmu kalau selalu mikir kayak gitu. Lagipula permintaan dia masih masuk akal kan Na? Dia minta kamu bilang setiap mau pergi, biar dia tau kamu kemana. Misal amit-amit nih ya, kamu nggak bisa dihubungi kan dia bisa mencari kamu ke tempat yang kamu bilang sebelumnya."


"Jadi aku sekarang harus gimana?"


"Minta maaf dan berubah, Na."


"Makasih ya Sit, setelah ini aku coba perbaiki. Semoga belum terlambat. Balik ke kantor, yuk?"


"Hmm, udah lega? Mau ketemu Pak boss nih sekarang? Masih ada waktu sisa istirahat sedikit."


Sita menggodaku dan hanya kubalas dengan senyuman.


Tok tok...


Ketukku pelan.


"Masuk." Suara Mas Rio mempersilahkanku masuk.


Pintu kubuka, tampak Karin bersama Tante Yunia dan Mas Rio sedang makan siang bersama di ruangan Mas Rio. Bahkan kulihat Mas Rio sudah menyelesaikan makannya tanpa sisa sedikitpun.


"Maaf mengganggu."


"Oh, enggak kok. Kebetulan kami sudah selesai makan. Ini Karin tadi masak, lalu mengajak tante kesini, katanya biar Rio icip masakannya. Ternyata Rio doyan, makan sampai habis ini. Sini masuk, Nala. Icip masakan Karin."


"Saya baru selesai makan, tante. Ini tadi saya mau kasih puding untuk Mas Rio. Tapi kalau sudah makan, ya sudah."


"Mana sini?" Mas Rio berjalan mendekatiku lalu mengambil bungkusan yang berada di tanganku.


"Katanya kekasih, kok makan siang sendiri?"


Seperti biasa, Karin selalu memojokkanku.


"Berhenti urusi urusan kami, Karin." tegur Mas Rio pada Karin.


"Saya permisi dulu." pamitku sebelum emosiku memuncak jika terus berada di ruangan ini.


Gegas aku kembali ke mejaku dan berpapasan dengan Sita yang hendak mengambil air putih.


"Mau kemana?"


"Ambil air."


"Nitip dong, yang dingin." Kusodorkan botol minumku pada Sita lalu kusibukkan diri.


"Nih, minum dulu biar tenang. Ternyata tadi ada mak lampir ya di ruangan Pak Rio?"


"Kamu tadi ke ruangannya?"


"Enggak. Barusan papasan waktu dia sama mamanya Pak Rio pulang."


"Aku nggak yakin, hubunganku sama Mas Rio bakal berlanjut, Sit."


"Jangan gampang nyerah ah. Inget yang kita bahas tadi."


Sita menepuk pundakku seolah memberi semangat baru.