Janitra

Janitra
Bab 46


Jarum jam di dinding masih menunjukkan pukul 1 dini hari saat ponselku berbunyi nyaring berkali-kali. Sesal terbersit karena lelah yang mendera sehingga aku lupa mematikan ponselku. Sebuah panggilan dari nomor baru. Takut ada hal yang penting, terpaksa kuangkat.


"Selamat malam." jawabku lirih takut mengganggu tidur nyenyaknya Dewa.


"Mbak Nala?"


Suara perempuan lembut mengalun menyapa gendang telingaku.


"Ya. Maaf ini dengan siapa?"


"Besok apakah kita bisa bertemu?"


"Ada apa ya?"


"Besok saja saya sampaikan saat bertemu. Bisa kan mbak?"


"Besok saya kabari lagi saja."


"Baik Mbak Nala, saya tunggu kabar baiknya. Terima kasih. Maaf mengganggu waktu istirahatnya."


"Oh, sadar tho kalau sekarang waktu tidur."


Kumatikan panggilan sepihak tanpa menunggu jawabannya lagi. Segera kumatikan ponselku, kusimpan di tasku lalu berjingkat aku keluar kamar untuk menuntaskan panggilan alam sebelum melanjutkan tidurku lagi nanti.


"Na, belum tidur?" sebuah suara yang familiar di telinga memanggilku.


"Sudah, kebangun saja karena pengen ke toilet."


"Mau tidur lagi atau mau ngopi?" Fadli menawarkan sebuah pilihan.


"Tidur lagi, ngantuk banget aku."


"Kapan ya bisa ngopi bareng kamu?" lirih Fadli.


"Nanti lah kita atur waktu ya kalau pas sama-sama nggak sibuk saja."


"Oke. Kutunggu. Met tidur ya Na. Mimpiin aku, eh mimpi indah maksudku."


Kuulas sebuah senyum karena sebenarnya enggan menanggapi lebih lanjut.


***


"Mbak Nala, ada yang nyariin. Sekarang nunggu di lobby." Ade staff OB menghampiriku.


"Siapa ya?"


"Katanya suami Mbak Nala." suaranya terdengar ragu.


"Suami? Ya sebentar lagi aku kesana. Makasih ya Mas."


"Sama-sama Mbak. Mau dibuatkan minuman nggak tamunya?"


"Nggak usah Mas."


"Baik, saya permisi."


Setelah Ade berlalu, kubereskan beberapa barang di meja agar tidak terlalu berantakan.


"Kamu udah nikah lagi Na?" Sita berbisik.


"Belum. Makanya aku bingung, siapa yang ngaku jadi suamiku."


"Ya sudah sana cepat temui. Nanti jangan lupa cerita ya."


Kuganti sandal jepit dengan sepatu lalu segera menuju lobby dengan penasaran.


"Nala..."


Kutepuk dahiku spontan setelah melihat Danang yang sedang menungguku di sofa lobby.


"Kamu ngapain disini?" tanyaku tanpa basa basi.


"Gimana kabarmu?"


"Baik. Baik banget malah."


"Dewa gimana?"


"Sehat, bahagia, ceria. Sudah kan? Silahkan pergi. Aku masih banyak kerjaan."


"Kamu kok sombong sekali."


"Lho kamu kan cuma mau tau kabarku sama Dewa. Sudah kujawab, mau apa lagi?"


"Bisa kan kita bicara baik-baik?"


"Aku nggak enak. Ini masih jam kerja."


"Lebih penting hubungan kita daripada sekedar pekerjaanmu."


"Maaf, bagiku lebih penting pekerjaanku daripada tentang kita yang sudah selesai. Lagipula kamu kan sudah mau menikah."


"Aku ingin kita rujuk. Kasihan Dewa jika harus hidup tanpa aku. Kalaupun kamu menikah lagi, bapak tiri pasti nggak akan bisa menyayanginya."


"Rujuk? Untuk apa? Aku sudah nyaman juga begini. Masa aku harus menukar kenyamanan dan kebahagiaanku demi sesosok masa lalu yang hanya bisa memberiku luka?" aku tertawa miris.


"Aku nyesel kita pisah."


"Aku bahagia setelah kita pisah. Sudahlah Mas. Aku udah malas bahas ini. Kamu pulang aja toh percuma nggak akan ada habisnya bahas ini."


"Tolong Na, kita rujuk ya? Demi Dewa."


"Demi Dewa atau demi dirimu sendiri? Susah kan cari uang?"


"Susah sekali ngomong sama wanita keras kepala sepertimu."


"Susah sekali ngomong sama laki-laki pemalas, dan nggak tahu malu seperti kamu."


Tangannya tiba-tiba menahanku yang hendak berdiri. Di saat bersamaan, Pak Rio yang baru datang melihat adegan ini.


"Ada apa Nala?"


"Maaf Pak. Ini bapaknya Dewa tiba-tiba datang."


"Oh. Tolong kalau bukan urusan kerjaan, jangan datang di saat jam kerja ya. Kamu sudah persiapkan materi untuk presentasi nanti?"


"Sudah pak namun ada beberapa yang mau saya tanyakan pada Bapak."


Kutarik paksa tanganku dari genggaman Danang.


"Cuih...dasar perempuan murahan. Pantas saja minta cerai dan nggak mau rujuk, pasti karena sudah jadi istri simpanan bossnya. Hahaha."


"Maksud anda apa ya? Anda menuduh tanpa bukti bisa saya perkarakan." Pak Rio yang sebenarnya sudah berjalan menuju ruangannya, kembali berbalik badan setelah mendengar ucapan Danang.


"Mana ada maling ngaku, saya juga tahu semurah apa Nala. Hahaha. Hati-hati saja Pak. Bisa jadi korban Nala selanjutnya setelah saya."


"Pak, saya minta maaf atas kelakuan mantan suami saya." lirihku pada Pak Rio setelah Danang menjauh.


"Tidak perlu meminta maaf untuk hal yang tidak kamu lakukan. Kamu yang sabar ya Na. Keputusanmu untuk bercerai sudah tepat."


"Terima kasih, Pak."


"Ya sudah, kamu tenangkan diri dulu saja nggak apa-apa. Biar bisa kerja lagi dengan maksimal."


"Baik Pak. Terima kasih." lirihku sesaat sebelum Pak Rio membalikkan tubuh berjalan menuju ruangannya.


***


Baru saja hendak terlelap, ponselku berdering nyaring. Lagi-lagi aku lupa mematikan ponselku.


"Selamat malam."


"Malam Mbak Nala. Bagaimana kabarnya? Apakah masih sibuk dan belum ada waktu untuk bertemu?" suara wanita di ujung telepon sana mengingatkanku akan janji bertemu yang belum juga kutepati beberapa waktu silam. Sebenarnya bukan karena kesibukanku, namun karena aku enggan bertemu.


"Oh iya, maaf sedang banyak pekerjaan."


"Tolong sediakan waktu ya, Mbak. Saya berharap bisa segera bertemu."


"Ya. Secepatnya saya beri kabar."


"Terima kasih Mbak."


Kumatikan panggilan sepihak tanpa basa basi. Kalau boleh jujur sebenarnya aku penasaran. Apakah dia adalah orang yang sama, yang juga mengirimiku pesan? Tapi si pengirim pesan kan bahasanya cukup kasar, sementara si penelepon ini memiliki tata bahasa dan etika yang cukup baik. Kuambil gawaiku, kutekan aplikasi pesan, kutekan nomor milik Mas Adit.


[Mas, besok bisa nggak jemput Dewa? Aku tiba-tiba ada urusan penting.]


[Y]


[Makasih mas.]


[Y]


Setelah memastikan Mas Adit dapat menggantikanku menjemput Dewa, segera kutekan nomor si penelepon tadi.


[Besok sore jam 5 temui aku di cafe Rinai. Jangan terlambat karena saya tidak bisa lama-lama. Terima kasih.]


Setelah memastikan pesanku terkirim, kumatikan ponselku dan menyambungkannya pada kabel pengisi daya dan bersiap menjemput mimpi yang tertunda tadi.


***


Sesuai rencana, selepas jam kerja kukendarai motor menuju cafe Rinai. Aku memilih tempat di sudut cafe yang agak tersembunyi namun dari situ aku bisa mengawasi pengunjung yang datang dan pergi di cafe ini.


Kuambil ponselku untuk mengirim pesan.


[Saya sudah di cafe Rinai, duduk di sudut cafe yang agak tersembunyi. Saya pakai baju warna lilac.]


[Saya sudah dekat, Mbak. Saya tahu kok wajah mbak Nala. Tidak akan salah orang.]


Aku mengernyitkan dahi membaca balasan pesannya, ingin bertanya namun kuurungkan. Nanti saja saat bertemu, pikirku.


Tak sampai sepuluh menit, sebuah sapaan halus menyapa gendang telingaku yang sedang asyik menatap rinai hujan dari balik kaca.


"Mbak Nala..."


"Oh, silahkan duduk." aku tersenyum demi menutup keterkejutanku.


"Maaf menunggu lama ya Mbak."


Wanita bergamis hitam dengan jilbab lebar dan juga cadar berwarna sama tersenyum. Aku mengetahui dari matanya.


"Saya yang datang terlalu cepat. Mau pesan apa Mbak? Wafflenya enak lho. Atau mau minum? Hot chocolate disini juga rekomen." aku sengaja mengusulkan dua menu andalanku untuk mencairkan suasana. Karena sikapnya santun, akupun juga harus demikian kan?


"Boleh mbak. Kebetulan saya suka hot chocolate." Lagi-lagi dia tersenyum.


Setelah memesan dua menu andalanku tadi untukku dan dia, kami melanjutkan obrolan.


"Mbak Nala pasti bingung siapa saya dan kenapa saya ngotot minta bertemu dengan Mbak Nala."


"Sejujurnya iya."


"Saya Yuni, Mbak. Istri dari Mas Jhoni."


Kutarik nafas panjang, tiba-tiba aku merasa cafe ini memiliki stok oksigen yang tidak memadai untukku.


"Mbak Nala baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Baik mbak. Boleh dilanjutkan."


"Maksud saya mengajak Mbak Nala bertemu adalah berkenalan lebih dekat dan menanyakan keseriusan Mbak Nala untuk menjadi istri kedua dari Mas Jhoni."


Lagi-lagi kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Mbak Yuni, saya dan Pak Jhoni hanya sebatas rekan kerja. Tepatnya kantor pak Jhoni adalah klien dari kantor saya. Tidak lebih. Tidak akan lebih. Jadi sepertinya Mbak Yuni salah orang."


"Tapi Mas Jhoni jatuh cinta pada Mbak Nala dan menginginkan Mbak Nala menjadi istrinya. Maaf untuk melindungi Mbak Nala dari fitnah juga."


"Mbak, saya memang janda namun saya pastikan, saya janda terhormat. Saya mencari uang dengan cara halal. Ohya, dan sebelum saya tahu Pak Jhoni sudah memiliki istri, saya sudah menolak berkali-kali."


Pembicaraan kami terhenti saat seorang pelayan mengantarkan pesanan kami.


"Mungkin mbak Nala bisa memikirkan lagi lamaran dari Mas Jhoni. Saya akan menjadi kakak madu yang baik untuk Mbak Nala."


"Tidak mbak. Saya tetap pada keputusan saya. Saya menolak menjadi istri Pak Jhoni. Apalagi istri kedua." lirihku.


Kami menikmati suapan demi suapan dalam diam. Aku memilih mengamati lalu lalang kendaraan di luar.


"Mbak Nala, saya pamit dulu karena sudah terlalu lama meninggalkan anak-anak saya."


"Anaknya umur berapa Mbak?"


"10 tahun, 7 tahun, 5 tahun, 3 tahun dan 3 minggu."


Aku tersedak mendengar jawabannya. Dalam hati merutuki pertanyaan yang sebenarnya hanya untuk basa basi namun justru membuatku tersedak.


"Mbak..." Mbak Yuni tampak panik melihatku tersedak. Kuangkat dua tangan untuk memberi tanda bahwa aku baik-baik saja.


"Aku nggak apa-apa Mbak. Hati-hati di jalan ya Mbak. Saya masih ingin disini dulu."


"Terima kasih, Mbak. Saya permisi."


"Ohya, biar saya saja yang membayar." ucapku sebelum dia berlalu.


"Sekali lagi terima kasih."


Aku hanya mengangguk. Lalu kupijat lembut keningku setelah memastikan dia sudah berlalu.


'Pak Jhoni lagi..lagi lagi Pak Jhoni.' keluhku dalam hati.