Janitra

Janitra
Bab 33


Sejak kejadian malam itu, sikap teman-teman kost berbeda. Tampak lebih segan padaku. Walau di kesempatan tertentu, kami tetap mengobrol dan bercanda seperti biasa.


Minggu sore aku berencana menemui Papa untuk membahas perceraianku dengan Danang. Bagaimanapun aku tetap membutuhkan dukungannya. Atau hanya sekedar satu pelukan saja untuk meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak berlebihan bukan?


"Pa, makasih mau luangkan waktu untuk ketemu aku. Aku sudah mantap pisah dengan Danang. Untuk masa depan anakku juga, Pa. Kasihan dia trauma melihat pertengkaranku dan bapaknya."


"Ya sudah terserah kamu tapi jangan ngerepotin Papa."


Aku menarik napas panjang, menenangkan diri. Bukan, bukan ini yang kuharapkan. Satu pelukan saja, Pa. Aku mohon. Aku bermonolog dalam hati. Lidahku terlalu kelu untuk mengungkapkannya - atau mungkin aku juga terlalu takut mendapat penolakan dari Papa.


Setengah jam pertemuan yang justru membuatku rapuh. Papa bukan seperti yang dulu. Aku merasa asing dengan Papaku sendiri. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman, apalagi kalimat yang membuatku tenang.


Pukul delapan malam aku kembali ke kos dengan hati yang kacau, namun harus tetap tampak bahagia di depan Dewa.


"Nala, sini mampir ada gorengan nih masih hangat." Santi memanggilku dari depan kamarnya.


Aku menuruti ajakannya untuk mampir sementara Dewa langsung bermain bersama anak teman kost yang sebaya.


"Dari mana? Kok mukanya sendu?"


"Habis ketemu Papa..." jawabku lirih.


"Harusnya seneng dong."


"Biasalah berubah kalau udah punya nyonya baru. Hahaha."


"Oh pantes. Eh Nala, kenapa sih kamu nggak bilang kalau kamu istri sirinya Bang Adit?" kali ini Mega bertanya.


"Pas malam itu Bang Adit marah lho tau kamu ikutan minum." Jaka menimpali.


Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba suara Mas Adit terdengar jelas dari arah belakang kami - karena kami duduk membelakangi pintu masuk.


"Nggak harus semua hal harus diceritakan kan? Nala, masuk. Ajak Dewa istirahat."


"Tapi..."


Belum aku menyelesaikan jawabanku, aku lihat sorot mata Mas Adit tajam menatapku.


"Iya...aku masuk dulu." jawabku buru-buru.


"Nanti aku susul. Tolong siapkan teh ya."


Bergegas aku memanggil Dewa untuk mengajaknya pulang ke kamar kami. Setelah membersihkan tubuh, kutidurkan Dewa karena besok kami harus beraktivitas lagi.


Tok tok..


Suara ketukan pintu terdengar lirih. Perlahan aku turun dari kasur untuk membukakan pintu.


"Udah tidur?"


"Belum. Tehnya kubikin dulu ya?"


"Nggak usah. Itu tadi kan aku nyuruh istriku. Tapi kamu kan bukan istriku. Hahahaha."


"Rese. Lagian mas ngapain sih ngaku-ngaku gitu segala."


"Kenapa? Matiin pasaranmu ya? Hahaha"


"Mas ngeselin. Jawab ih."


"Statusmu tu rentan terkena isu negative. Dan ini kos isinya orang nggak bener. Waktu itu nyari kos tengah malam mendadak ya cuma disini yang bisa nerima. Fadli tu punya niat jelek ke kamu. Tapi setelah dia tahu kamu milikku, dia nggak bakal berani macem-macem."


"Ya tapi kamu ga bilang dulu ke aku."


"Mendadak aku punya ide gitu, kan gara-gara kamu juga. Mabuk segala malem-malem."


"Aku nggak mabuk itu ya." aku berusaha membela diri.


"Haha. Otw mabuk? Dah ah aku mau ada urusan dulu. Masuk kamar, kunci pintu. Jangan bukakan pintu untuk siapapun ya, adek kecil."


Aku mencebik namun tak urung tetap menuruti ucapannya.


Selepas Mas Adit pergi, aku menyalakan laptopku. Menyalin file berisi surat gugaan cerai yang rencananya esok akan kumasukkan.


Aku tahu, Tuhan melarang perceraian. Namun apakah Tuhan akan rela umatNya mati konyol di tangan sang suami sementara aku masih bisa menyelamatkan diri.


***


Keesokan harinya, sesuai rencana setelah mengantarkan Dewa aku segera melajukan kendaraanku ke pengadilan untuk memasukkan gugatan ceraiku. Untungnya Pak Rio berbaik hati dan mengijinkanku masuk setelah memasukkan gugatan cerai. Bukan hanya mengijinkan, bahkan tadi pagi mengirimkan kalimat penyemangat.


Selesai urusan, aku kembali melajukan motorku ke kantor.


"Na, disuruh menghadap pak Boss" Sita menyampaikan pesan Pak Rio.


"Oke.. makasih ya."


Tok tok


"Masuk, Nala."


"Bapak kok tahu kalau saya yang mengetuk?"


"Saya bisa mendeteksi keberadaanmu bahkan dari jarak 5 kilometer."


"Duh Pak sebegitunya. Emang saya sebau itu ya sampai aromanya bisa terdeteksi dari jarak jauh?"


"Hahaha. Karena ada getaran asmara di dada yang otomatis terasa jika ada kamu di sekitar saya."


"Eh Nala. Tunggu. Duduk dulu."


Dengan enggan aku kembali duduk.


"Gimana tadi? Kapan sidang pertama?"


"Tunggu panggilan, Pak. Doakan saja semoga lancar jadi saya nggak perlu sering-sering ijin untuk menghadiri sidang perceraian saya."


"Pasti saya doakan. Yang kuat ya Na."


"Terima kasih, Pak."


"Ohya, nanti siang ada presentasi, kamu bisa kan?"


"Bisa pak. Sudah saya siapkan kok. Tenang pak, emosi saya stabil, kok."


"Saya percaya sama kamu, Nala. Semangat ya."


"Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu."


Hari itu semua berjalan dengan lancar walau harus pulang sedikit terlambat, namun masih bisa teratasi.


"Maaf ya, Bunda terlambat."


"Nggak apa Bunda."


"Kita makan es krim dulu, yuk. Mau?"


Dewa mengangguk dengan senang. Bayangan eskrim cokelat kesukaannya mungkin sudah menari-nari di benaknya.


Senja kali ini kuhabiskan bersama pangeran kecilku, tertawa dan bernyanyi bersama. Tanpa kusadari ada sepasang mata yang terus mengawasi kami sejak masuk dalam kedai es krim ini.


"Nala... Boleh aku gabung?"


Sebuah suara yang sangat kukenal menyapa gendang telingaku.


"Silahkan." terpaksa aku mempersilahkannya.


"Anak ganteng siapa namanya?"


"Dewa, Om. Om siapa?"


"Om namanya Rico."


"Temannya Bunda ya?"


"Iya. Temannya Bunda."


Kukeluarkan buku gambar dan pensil warna dari tas Dewa agar kami bisa sedikit berbincang tanpa membuat Dewa merasa jenuh menunggu.


"Jadi ini alasanmu menghindari aku? Bahkan untuk sekedar angkat telepon dan balas pesanku. Kenapa kamu nggak bilang, dek?"


"Abang saja bisa menghilang tiba-tiba dari kehidupanku. Lantas saat aku menghilang, abang menuntut jawabanku?"


"Dek, aku sudah menjelaskan. Aku sudah minta maaf."


"Iya, tapi sejak itu aku sadar bahwa aku tidak cukup berharga untuk sekedar dipamiti."


"Dek, maaf."


Kuhembuskan nafas dengan kasar. Bang Rico mengusap wajahnya gusar.


"Dimana suamimu, dek?"


"Entah. Aku nggak peduli dia dimana."


"Kalian cerai?"


"Ya."


"Semudah itu kamu memutuskan cerai?"


"Semudah itu abang menilaiku seperti itu tanpa tahu masalah yang aku hadapi? Abang pikir selemah itu aku menyerah pada sebuah hubungan apalagi pernikahan adalah hal sakral."


"Maaf. Lalu kenapa, Dek?"


"Banyak hal namun aku malas membahasnya. Yang jelas saat ini hidupku hanya untuk Dewa."


Bang Rico membuang pandangan ke jalanan. Gelap mulai menyapa, menggantikan semburat senja yang menawan. Kutatap wajahnya dari samping. Tidak banyak berubah sejak terakhir bertemu dengannya dulu, bertahun yang lalu.


"Dek, aku boleh jujur?"


"Silahkan."


"Masih ada cinta untukmu, di hatiku."


Lidahku terasa begitu kelu, entah harus menjawab apa. Benar kata orang, menjadi janda itu sulit. Harus tetap menjaga kehormatan diri walau ada satu atau dua pria yang datang mendekat. Karena mungkin saja itu bukan cinta.


"Aku pamit dulu, Bang..."


Bergegas aku membereskan buku dan pensil warna Dewa lalu berlalu dari hadapan Bang Rico sebelum ia menahanku lebih lama lagi.


...Ada yang bisa nebak nggak, Bang Rico kira-kira beneran masih cinta Nala atau nggak? ...