
Karena belum menemukan tempat yang tepat untuk menitipkan Dewa selama aku bekerja, terpaksa aku mengajak Dewa ke kantor. Untung Pak Rio dan teman-teman kantor tidak keberatan, bahkan mereka sering membantuku menjaga Dewa saat pekerjaanku tidak bisa kutinggalkan. Namun demi menghindari diantar jemput oleh Pak Rio, aku sengaja berangkat lebih pagi menggunakan sepeda motorku. Untung Dewa terbiasa bangun pagi.
Beberapa hari aku berhasil menghindari Pak Rio. Namun di hari ketiga, Pak Rio memanggilku ke ruangannya.
"Duduk Nala..." Pak Rio mempersilahkan aku sebelum aku bertanya.
"Terima kasih, Pak."
"Sebenarnya ini bukan tengang pekerjaan. Tapi cukup mengganggu saya."
"Maaf, ada apa ya Pak?"
"Kamu menghindar dari saya kan?"
"Tidak, Pak. Kan bapak atasan saya, gimana saya bisa menghindar."
"Nanti sore, pulanglah denganku. Aku ingin mengajak Dewa makan malam lagi."
"Maaf Pak, saya bawa kendaraan."
"Taruh saja di kantor, biar nanti diantarkan ke kosmu."
"Pak, maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak bisa. Status saya masih istri orang. Sebaiknya kita sama-sama menjaga jarak agar tidak ada kesalahpahaman yang bisa mempersulit proses cerai saya."
"Mau saya bantu prosesnya, Na?"
"Nggak usah, Pak. Saya bisa kok sendiri."
"Baiklah. Tapi tolong segera ya. Kalau kamu mau urus, saya beri ijin kok pasti."
Aku menatap heran Pak Rio yang terkesan memaksaku.
"Baik Pak, kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya kembali ke ruangan saya."
Sejak hari itu, Pak Rio tidak lagi memaksa mengantar jemputku. Namun tetap mendekati Dewa selama di kantor. Bahkan Pak Rio menyediakan sebuah tempat tidur kecil di ruangannya untuk digunakan Dewa tidur siang.
***
Dewa sudah menemukan keceriaannya lagi tatkala Danang mendatangiku dan Dewa yang tengah menikmati makan siang kami di sebuah restoran ayam goreng.
"Dewa kangen Bapak nggak?"
Spontan Dewa memelukku dan membenamkan wajahnya di lenganku.
"Ada apa lagi, Mas?"
"Dewa kamu racuni apa sampai dia tampak ketakutan melihatku?" tanya Danang mengabaikan pertanyaanku.
"Dewa takut kamu pukuli aku, mungkin." jawabku seraya menggedikkan bahu.
"Kamu kapan mau pulang ke rumah? Kita bisa memulai lagi dan hidup bahagia bersama membesarkan Dewa."
Kutatap pria di hadapanku. Mulutnya selalu mengucapkan janji-janji manis namun tak satupun yang dia penuhi. Berkali-kali dia berjanji memulai rumah tangga lebih baik lagi, namun berkali-kali juga dia mengingkarinya. Tetap malas bekerja, tetap mabuk-mabukan, tetap bersama pacarnya.
"Sudahlah Mas. Lagipula pernah kan kita coba kembali bersama, namun nyatanya tidak pernah bisa. Selalu aku yang kamu salahkan tanpa kamu pernah introspeksi diri. Kita sudah selesai. Sekarang waktunya membenahi diri masing-masing. Menjalani takdir hidup masing-masing."
"Sok bijak kamu." Danang menggebrak meja hingga Dewa terkejut dan semakin memelukku dengan erat. Beberapa pengunjung juga tampak melirik ke arah kami namun Danang tampak tidak peduli.
"Bukan sok bijak, tapi kenyataannya seperti ini."
"Aku nggak mau tahu. Pokoknya kita tidak akan cerai."
Danang menggebrak meja sekali lagi, lalu segera berlalu entah kemana.
"Dewa, sudah jangan takut." bisikku menenangkannya.
"Bunda, kita nggak kembali ke rumah itu lagi kan?"
"Enggak. Kita ke kos kok."
"Di kos aman kan Bunda? Bapak nggak akan datang?"
"Iya, aman kok. Kan banyak teman-teman Bunda yang pasti bantu jaga kita."
Dewa mengangguk-angguk paham namun matanya mengitari sekitar, memastikan Danang sudah tidak berada di sekitar kami lagi.
"Kita makan lagi yuk." ajakku.
"Bunda, itu Om Rio. Om Rioooo, Dewa disini!"
Dewa berteriak tanpa sempat kucegah. Mendengar teriakan Dewa, Pak Rio langsung mendatangi kami.
"Hai jagoan, lagi makan juga ya?"
"Om juga mau makan?"
"Iya nih. Mau temani Om pesan? Nanti kita makan bareng lagi kayak waktu itu."
Aku melotot ke Pak Rio yang kebetulan juga sedang menatapku. Seolah kami sedang berkomunikasi melalui tatapan mata. Sepersekian detik, akhirnya aku mengalah membiarkan Dewa dan Pak Rio makan bersama siang itu.
"Bapak kenapa ada disini? Pasti sengaja kan?" tanyaku mendesak setengah menuduh.
"Hish, ini kan tempat umum, Na. Siapapun boleh makan disini. Kebetulan saja kita ketemu. Atau mungkin Tuhan yang sudah merencanakan ya?" jawabnya sambil tersenyum jenaka dan terus mengunyah makanannya.
"Bapak tau kan status saya?"
"Saya hanya mengajakmu makan, Nala. Bukan mengajakmu menikah."
"Kasar, pemabuk, pengangguran." Pak Rio melanjutkan ucapanku yang terputus.
"Pak...bukan gitu maksud saya."
"Saya tahu banyak tentang kamu, Nala. Dan jika kamu ijinkan, saya bisa memberi pelajaran pada dia."
Aku melongo menatap Pak Rio, seolah aku sedang berhadapan dengan a' Ardan yang selalu tahu dan berani pasang badan untuk membelaku.
"Heh..makan itu jangan terpesona dengan saya. Ingat, masih istri orang. Besok kalau sudah resmi cerai, kamu bebas memandangi saya."
Aku mendengus kesal yang lalu disambut dengan derai tawanya.
Selesai makan, aku bergegas mengajak Dewa pulang sebelum Pak Rio mengajak Dewa pergi.
"Bunda, boleh nggak sih kita milih punya bapak yang mana?" Dewa bertanya setelah terdiam sekian lama di atas motor.
"Kenapa Dewa nanya gitu?"
"Aku mau rajin berdoa, biar dikasi Bapak yang sayang sama aku dan Bunda."
Tak terasa airmataku mengalir menganak sungai.
Sesampainya di kost, Dewa langsung lari bergabung bermain bersama teman-temannya. Kebetulan ada beberapa teman kost yang juga membawa anaknya, jadi Dewa bisa bermain bersama mereka di dalam halaman kost.
Aku sedang memarkirkan motorku di tempat parkir yang sudah disediakan saat tepukan lembut mendarat di pundakku.
"Dari mana Na?"
"Eh Mas Adit.. ini habis makan siang. Mas apa kabar? Lama ya nggak ketemu?"
"Kabar baik. Iya kamu kan sibuk terus. Padahal aku hampir setiap hari disini lho."
Kami mengobrol sampai Dewa mendatangiku dan mengajakku masuk karena sudah mengantuk. Aku berpamitan pada Mas Adit yang tampaknya masih betah berada di kost ini.
Kurebahkan tubuhku di samping Dewa yang sudah terbuai ke alam mimpi. Tepat saat aku akan terpejam, ponselku berbunyi pertanda sebuah panggilan telepon masuk. Segera kuangkat agar tidak mengganggu tidur Dewa.
"Halo selamat siang." ucapku ramah.
"Dek...apa kabar?"
Spontan kugigit erat bibir bawahku. Entah aku harus bahagia atau sedih mendengar suaranya lagi. Suara yang berbulan-bulan pernah kurindukan, kini hadir lagi dan ternyata masih menghadirkan rasa yang sama di hatiku.
"Dek, apa kabar?" ulangnya lagi.
"Kabar baik."
"Syukurlah. Kamu masih di kotamu?"
"Masih. Kamu kan yang pergi jauh dari sini tanpa kabar." lirihku dengan nada sinis.
"Maaf. Apa aku masih diijinkan memberi alasan?"
"Untuk apa?"
"Temui aku di cafe langganan kita dulu jam 4 sore ini. Aku tunggu."
Tanpa menunggu jawabanku, panggilan ditutup sepihak. Kulirik jam dinding, masih ada waktu satu jam. Setelah menimbang beberapa saat, kuputuskan untuk menemuinya. Aku segera berganti pakaian, memoles bibirku dengan lipstik berwarna nude lalu mengendap keluar kamar agar Dewa tidak terbangun.
"Mas Adit masih lama nggak disini?"
"Kenapa? Kamu mau dianter?"
"Enggak Mas. Aku mau pergi sebentar. Maksudku mau nitip Dewa. Sekarang masih tidur sih."
"Oh, ya udah nggak apa. Aku sampai malam kok disini."
"Makasih banyak ya, Mas."
Aku melajukan motorku menuju cafe yang dia maksud tadi di telepon. Untung jalanan lancar sehingga aku bisa sampai sana sebelum jam yang sudah ditentukan tadi.
Saat aku berjalan menuju sudut favoritku, ternyata sosok itu sudah berada disana dengan dua buah minuman yang masih utuh. Dia berdiri saat melihatku. Mati-matian aku menahan diri untuk tidak menghambur ke dalam pelukannya.
"Maaf aku terlambat."
"Aku yang sengaja datang cepat." jawabnya sembari tersenyum.
Ah, senyumnya masih sama seperti dahulu.
"Maaf aku nggak bisa terlalu lama. Apa yang mau dibicarakan?"
"Minumlah dulu. Sudah kupesankan. Minuman favoritmu masih sama kan?"
Aku menyeruput minuman di hadapanku. Masih sama rasanya, dengan orang yang sama pula. Yang berbeda hanyalah statusku.
Dadaku terasa nyeri saat mengingat kembali statusku saat ini.
"Terima kasih. Jadi, apa yang akan kita bicarakan lagi?"
Kulihat dia menarik napas dalam sebelum akhirnya mengalir cerita dari mulutnya dan aku mendengarkannya dengan seksama tanpa berniat menyelanya sedikitpun.
Senja kali itu terasa sangat indah karena kulalui bersama secangkir kopi hitam, dan dia. Seseorang yang namanya pernah kukubur paksa dalam hatiku namun ternyata kisah kami belum sepenuhnya usai, sehingga saat sosoknya hadir kembali, dengan mudahnya aku hanyut dalam kenangannya.
"Ya Tuhan, ampuni dosaku." lirihku dalam hati.