Janitra

Janitra
Bab 58


Terkadang, tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan kita. Adakalanya kita terpaksa mengambil keputusan yang menyakitkan dengan berbagai pertimbangan sebelumnya. Ketika Tuhan ijinkan onak duri menyapa kehidupan kita, sebenarnya Tuhan menginginkan kita untuk menjadi lebih kuat lagi. Begitupula yang saat ini harus kujalani.


Setelah melalui banyak pertimbangan, aku putuskan menitipkan Dewa di sebuah panti asuhan yang terletak di jantung kotaku. Berat memang, tapi aku tidak punya pilihan lain.


Kondisi kosku saat ini, tidak memungkinkan untuk ditinggali dalam jangka waktu lama. Selain karena keterbatasan ruang, juga beberapa penghuninya yang menurutku akan tetap berdampak buruk bagi jagoan kecilku. Sementara untuk menitipkannya pada keluarga, juga sangat tidak mungkin karena sejak aku memutuskan berpisah dengan Danang, hubunganku dengan keluarga memburuk, bahkan bisa dikatakan kami tidak ada komunikasi lagi.


Kupandangi wajah polos yang terlelap di sampingku. Beberapa hari ini sudah kucoba untuk menyampaikan pada Dewa bahwa sementara ini kami akan berpisah. Dia akan berada di sebuah tempat, bersama banyak teman sementara aku akan bekerja dulu sampai bisa menyediakan sebuah tempat yang layak untuk kami berdua tinggali.


Tok tok


Belum kujawab, Mas Adit sudah menampakkan wajahnya dari balik pintu.


"Bentar aku keluar.. " lirihku.


"Nih..." Mas Adit menyodorkan sebuah plastik besar berisi makanan kesukaan Dewa.


"Makasih, Mas."


"Pikirkan lagi. Yakin mau titipkan Dewa di panti asuhan?"


"Yakin, Mas. Walau sebenarnya berat. Berat banget."


"Bukan karena kamu ada masalah dengan bossmu di kantor?"


"Enggak. Aku nggak peduli sama dia."


"Ya udah. Semoga keputusanmu benar. Besok berangkat jam berapa?"


"Sepertinya agak siang, Mas."


Kusandarkan kepalaku ke bahu Mas Adit. Nyaman. Kutarik nafas panjang. Saat ada kekosongan, hal sekecil apapun ternyata bisa menjadi alasan untuk mengisinya.


***


Keesokan harinya, Dewa kumandikan, kusuapi makanan kesukaannya. Tidak hanya itu, ayam kecap favoritnya juga kubungkus untuk makan siang dan malamnya nanti disana. Tak ada perpisahan tanpa airmata, begitupula saat ini mati-matian aku menahan agar tak ada airmata yang luruh.


Lama kutatap sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh di hadapanku. Kembali ragu merajai diri. Kupandang wajah tanpa dosa yang kugendong dengan tangan kiriku sementara tangan kananku memegang tas berisi pakaian, beberapa mainan, makanan, susu beserta botolnya juga beberapa kebutuhan Dewa selama berada disini.


"Bunda, nanti aku disini dulu? Bunda mau kerja dulu?"


Suara Dewa membuyarkan lamunanku.


"Iya, Dewa yang manis ya disini. Jangan rewel ya. Nanti kalau Bunda sudah ada rumah untuk kita tinggali, Bunda jemput kamu."


"Nanti sore, Bunda?"


"Bukan, bukan nanti sore," lirihku seraya menahan tangis.


"Ayo masuk Bunda, disini panas."


Kulangkahkan kakiku dengan gontai. Kupeluk Dewa semakin erat. Belum sempat kutekan bel, seorang perempuan paruh baya yang kuketahui bernama Bu Margareth membuka pintu dan tampak sedikit terkejut melihatku.


"Mbak Nala?" tanyanya ragu.


"Iya, Bu dan ini putera saya yang tempo hari saya ceritakan."


Bu Margareth memandang kami dengan tatapan yang sulit kutebak.


"Mari, silahkan masuk," ucapnya seraya mempersilakan kami masuk.


Kududukkan Dewa di kursi sampingku.


"Sudah dipikirkan matang-matang? Bagaimana psikologisnya kelak."


"Sudah, Bu. Saya tidak memiliki pilihan lain, Bu."


Bu Margareth memegang tanganku lalu membelai dengan lembut seolah menguatkanku.


"Di dalam tas ini ada susu dan botolnya, ada mainan dia, ada cemilan dan makanan kesukaannya yang tadi pagi saya masak. Pakaian dan keperluan lainnya ada di tas yang ini, Bu. Setiap bulan saya akan mengirimkan susu dan kebutuhan dia. Saya mohon dengan sangat, jangan biarkan dia di adopsi, Bu. Saya akan membawanya pulang lagi dan tetap akan memeluknya sampai kelak dia mandiri."


Selesai berucap, airmataku luruh tak terbendung. Bu Margareth mendekapku erat. Setelah agak tenang, kuurai pelukan Bu Margareth, kuhapus airmataku lalu kuangkat Dewa ke pangkuanku.


"Dewa, disini dulu ya? Bunda janji secepatnya jemput Dewa lagi. Nanti kita tinggal di rumah yang luas."


"Asal sama Bunda, tinggal dimana aja aku mau."


Kudekap erat Dewa, kutumpahkan segala rasaku lewat airmata yang menganak sungai.


"Bunda janji akan jemput Dewa. Maafin Bunda ya..."


Kuciumi Dewa berkali-kali sebelum akhirnya aku berpamitan.


Kupandangi sekali lagi Dewa yang tengah melambaikan tangan di sebelah Bu Margareth sebelum kujalankan motorku menuju kantor.


***


"Dari mana kamu?" hardik Mas Rio sesaat setelah aku meletakkan tasku.


"Maaf Pak, tapi saya tadi sudah ijin."


"Ijin lalu menonaktifkan ponselmu sebelum mendapat jawaban? Ikut saya sekarang!!"


Aku berjalan mengikuti Mas Rio yang sudah mendahuluiku dengan langkah lebarnya diiringi tatapan Sinta.


Mas Rio berjalan menuju mobilnya di parkiran. Beberapa karyawan menyapanya namun diabaikan.


"Masuk..." titahnya.


Kulihat parkiran semakin ramai karena sudah jam makan siang. Segera kunaiki mobil Mas Rio tanpa banyak membantah.


"Kenapa kesini?" tanyaku sesaat setelah Mas Rio menghentikan mobil di halaman rumahnya.


Tanpa menjawab pertanyaan, Mas Rio turun, memutari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untukku.


"Turun, dek!"


"Mau ngapain sih kesini?" gerutuku seraya turun dari mobilnya.


"Kita harus bicara," kata Mas Rio menarik tanganku masuk ke rumahnya.


"Sebenarnya nggak harus disini juga kan?"


"Mau dimana? Ini jam makan siang, cafe dan rumah makan pasti penuh. Sudah, ayo masuk!"


Kuhempaskan tubuhku ke sofa putih di ruang tamu milik Mas Rio.


"Dimana Dewa? Kemana kamu tadi pagi?"


"Aku ada urusan keluarga. Dewa mmhh... Dewa diajak saudaraku pergi tadi."


Mas Rio mendekatiku, duduk di sebelahku tak berjarak, daguku dipegang lalu diangkatnya sehingga mataku terpaksa bersirobok dengan matanya yang sedang menatap penuh selidik.


"Semakin fasih berbohong ya? Lihat aku! Jawab pertanyaanku. Dimana Dewa? Kemana kamu tadi pagi?"


Kutepis tangannya, namun tanganku dicekal.


"Lepasin!"


"Jawab!!"


"Bukan urusan Mas."


"Oh, bukan urusanku??"


"Yang mas cintai itu hanya Riska, bukan aku," kugigit bibirku selesai mengucapkan kalimat itu.


"Stop bicara tentang dia!"


"Jam istirahat sudah hampir berakhir, saya mau kembali ke kantor."


Baru saja hendak berdiri, tanganku ditarik sampai duduk kembali.


"Dimana kamu titipkan Dewa? Kalau kamu tidak sanggup mengurusnya, biar dia sama aku," Mas Rio menatapku tajam.


"Dia sedang bersama saudaraku. Aku nggak akan berikan Dewa pada siapapun," tukasku.


"Pintar berbohong kamu sekarang ya? Aku tau Dewa kamu titipkan di Panti Asuhan. Aku juga tau lokasinya, dan siapa yang kamu temui disana."


"Mau sampai kapan kamu memata-matai aku? Kamu saja nggak pernah percaya aku, untuk apa hubungan ini dilanjutkan, Mas?"


Bukan menjawab pertanyaanku, Mas Rio justru mendekatkan wajahnya lalu memeluk dan ******* bibirku.