
Tak terasa, hari ini jadwal sidang lagi. Itu artinya aku akan bertemu dengan Nisa. Aku berangkat ke pengadilan mengendarai motor sendiri walau sebenarnya bisa bersama dengan Mas Adit namun aku memilih berangkat sendiri untuk menghindari masalah.
Sesampai di Pengadilan, kulihat Nisa sudah menunggu di tempat parkir.
"Lho Nis, kok nggak masuk? Malah disini." sapaku ramah.
"Masuknya bareng mbak aja deh."
"Sudah sarapan?"
"Nanti saja mbak, setelah sidang."
"Sarapan dulu saja yuk. Nanti setelah sidang makan siang namanya."
Kugandeng tangan kanan Nisa, kuajak ke penjual soto gerobak yang mangkal di depan Pengadilan.
"Beberapa waktu yang lalu, Danang menghubungiku. Kamu tahu?"
"Enggak mbak. Ada apa memangnya? Minta rujuk?"
"Minta uang. Hahaha. Awalnya dia telepon, minta kami bertemu di rumah makan, aku menemuinya. Ternyata dia minta uang yang selama pernikahan dia berikan padaku."
"Hah? Serius mbak? Terus terus...??" Nisa tampak antusias mendengarnya.
"Ya kuajak hitung-hitungan sekalian lah. Berapa biaya yang kukeluarkan selama dia dan keluarganya tinggal di rumahku. Ngomel lah dia. Lalu kutinggal begitu saja."
"Oh, atau pas waktu motor dia rusak ya. Dia waktu itu pinjam motorku sih, katanya mau cari uang untuk benerin motornya. Ternyata nemuin mbak tho."
"Lucu ya pacarmu tuh. Kamu sudah lama pacaran sama dia?"
Uhuukk..
Nisa tersedak mendengar pertanyaanku. Segera kuambil es teh yang dia pesan tadi.
"Minum dulu. Ati-ati Nis. Mana kuahnya pedas kan?" Aku bergidik membayangkan rasanya tersedak kuah soto pedas. Pasti pedasnya sampai menusuk hidung.
Nisa mengambil gelas es teh dari tanganku dan bergegas meminumnya, hingga habis setengah gelas.
"Makasih mbak." Ucapnya setelah batuknya mereda.
"Iya. Maaf ya karena pertanyaanku tadi, kamu tersedak."
"Mmhh... nggak apa-apa, mbak."
Kulanjutkan suapan sotoku yang sempat tertunda tadi.
"Mbak, kamu nggak ada rasa dendam ke aku?" Nisa bertanya dengan lirih dan ada rasa takut pada suaranya.
"Enggak lah. Untuk apa?" jawabku seraya tersenyum.
"Aku kan dulu selingkuhan suamimu, Mbak." ujarnya dengan suara lirih.
"Yang udah ya biarin aja. Ke depannya semoga kita sama-sama bisa membenahi diri. Kesalahan di masa lalu, jadikan pelajaran berharga."
"Dulu aku sempat membayangkan, mbak akan melabrakku, memakiku, menjambak lalu aku viral deh." Nisa tertawa gamang.
"Mau? Hahaha. Enggak lah, nggak elegan. Aku ikhlas kok melepas Danang. Hahaha. Tapi, apa kamu yakin akan terus melanjutkan hubunganmu dengan Danang?" tanyaku hati-hati takut Nisa tersinggung.
Nisa meletakkan mangkok kosongnya, lalu menghabiskan sisa es teh miliknya hingga tandas sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.
"Mbak pikir aku akan sanggup dengan laki-laki pemalas dan tempramental seperti dia?" tanyanya balik sambil tersenyum.
"Tapi kamu masih bersamanya..." aku menggantung kalimatku.
"Iya. Sudah yang penting mbak bisa cerai dulu sama Danang. Setelahnya biar aku yang selesaikan hubunganku sama dia."
Aku menarik nafas lega. Ternyata gadis manis di hadapanku ini bisa berpikir nalar juga. Kukira dia sudah cinta mati dengan calon mantan suamiku.
"Eh sebentar, tempramental? Kamu juga mengalaminya? Atau berdasar ceritaku?"
"Pernah diludahi, pernah ditendang, dipukul. Hampir sama kan mbak?" ucapnya lirih dengan tatapan menerawang.
Kupegang tangannya dengan lembut.
"Lepaskan dia segera, dek. Kamu berhak bahagia. Dan kamu nggak akan pernah dapatkan kebahagiaan dari laki-laki seperti itu."
"Iya mbak. Seperti yang kubilang tadi. Setelah mbak resmi cerai, perlahan aku akan pergi darinya. Kalau sekarang atau dari kemarin aku pergi, dia tidak akan dengan mudah menerima gugatan cerai dari mbak."
Kupeluk gadis yang duduk di sampingku ini. Ada rasa haru menyeruak. Terlepas dari kesalahannya berpacaran dengan suami orang, setidaknya dia sudah mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi pada siapapun.
"Yuk mbak, masuk. Lanjut ngobrol di dalam saja."
Setelah membayar makanan kami, aku dan Nisa berjalan beriringan sambil sesekali bercanda tentang hal-hal ringan.
Sidang berjalan dengan lancar. Mas Adit dan Nisa memberi kesaksian sesuai apa yang mereka ketahui. Aku bersyukur selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Yang tidak baik hanya dia.
Selesai sidang, kami memutuskan untuk makan siang bersama. Selain karena memang sudah jam makan siang, juga sebagai ucapan terima kasihku pada mereka berdua yang mau menyempatkan untuk hadir sebagai saksi pada sidang cerai aku dan Danang.
***
Langkahku terasa ringan, satu beban dalam hidupku berkurang satu walau dengan menyandang status baru, janda - status yang selalu memiliki konotasi negative dan membuat siapapun yang menyandangnya menjadi serba salah. Ramah dikira genit. Acuh dianggap sombong. Lalu biasanya para ibu-ibu rumpi sibuk mengamankan suaminya masing-masing sembari matanya melirik tajam seakan semua janda adalah musuhnya yang siap menerkam suami mereka. Padahal tidak semua janda seburuk itu. Banyak yang berjuang mati-matian demi masa depan putra putrinya dengan cara yang halal bukan dengan memacari suami orang.
Sengaja aku menjemput Dewa lebih cepat dari biasanya. Aku berencana mengajaknya pergi ke pusat perbelanjaan untuk bermain dan makan di restoran ayam goreng kesukaannya. Semacam syukuran kecil-kecilan karena aku dan Dewa sudah terbebas dari Danang.
Saat kami sedang asyik bermain, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang. Spontan aku membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang menepukku.
"Boleh ikut bermain, jagoan?"
Bukannya menyapaku, dia justru menyapa Dewa yang juga terkejut saat pundakku ditepuk tadi.
Aku berharap Dewa menolakknya, namun sayang, Dewa justru mengangguk senang lalu menarik tangannya untuk bermain tembak-tembakan. Terpaksa aku mengikuti mereka. Tampak Dewa sangat bersemangat bermain dengannya. Karena mungkin saat denganku tadi, hanya beberapa permainan saja yang bisa dia mainkan.
Entah sudah berapa jam kami disana, hingga akhirnya Dewa mengajak makan.
"Om, ayo kita makan. Aku lapar."
"Oke. Mau makan apa?"
"Ayam sama burger. Nanti habis itu beli es krim ya Om?"
"Oke jagoan. Sini gendong Om."
Dia mengangkat Dewa ke pundaknya. Dewa tampak kegirangan. Aku memilih berjalan di belakang mereka. Kubiarkan mereka menikmati makan malamnya dengan sesekali bercanda. Selesai makan ternyata dia masih mengajak Dewa ke toko mainan. Sudah kutolak namun dia mengacuhkanku dan tetap membelikan beberapa mainan yang Dewa pinta.
Menjelang mall tutup, kami berjalan keluar. Raut lelah namun bahagia terpancar dari wajah Dewa.
"Kesini naik motor?"
"Iya." jawabku singkat.
"Mana kunci motornya?"
"Untuk apa? Aku bisa kok berdua sama Dewa saja."
"Mana kuncinya? Biar dibawa temanku ke kosmu. Kamu sama Dewa ikut mobilku saja."
"Nggak usah. Aku sama Dewa naik motor saja."
"Belanjaan kalian banyak lho ini. Dewa juga mengantuk. Beresiko tinggi."
Aku membuang nafas kasar. Dengan sangat terpaksa kuberikan kunci motorku. Entah temannya yang mana yang akan membawakan motorku. Lalu aku membuntutinya masuk ke mobil. Dewa duduk di depan sementara aku duduk di jok tengah bersama beberapa plastik berisi mainan Dewa, dan makanan ringan. Semua dibelikannya untuk Dewa. Aku hanya bisa tersenyum sinis melihatnya.
Dilajukannya dengan pelan ke arah kosku. Dewa tampaknya sangat kelelahan karena sudah terlelap sesaat setelah kami keluar dari parkiran.
"Mau makan dulu?"
"Enggak. Sudah kenyang. Langsung pulang saja."
"Baik, nyonya. Hahaha."
Lagi-lagi aku mendengus kesal.
"Ohya, selamat ya atas status barunya."
"Tau darimana?"
"Apa sih yang aku nggak tau tentang kamu?"
"Ada. Kamu nggak tau seberapa sakit hatinya aku saat kamu membahas statusku waktu itu."
Tanpa aba-aba dia menghentikan kendaraannya. Lalu membalikkan tubuhnya menghadapku.
"Masih boleh aku menebusnya?"
"Percuma. Toh kita tidak akan berlanjut. Hanya berjalan di tempaf tanpa ada kepastian. Ohya, satu hal lagi, tolong jangan dekati Dewa lagi. Aku takut dia akan kecewa, terlebih jika ternyata karena kebaikanmu padanya, dia menggantungkan harapan padamu. Padahal mungkin itu bukan kasih sayang tulus, hanya rasa iba mu pada Dewa."
Selepas berkata itu, aku membuang pandanganku ke luar jendela. Memandangi suasana malam di kotaku.
"Sadis sekali ucapanmu. Apa aku tampak sejahat itu?"
"Enggak. Justru karena kamu tampak tidak jahat, makanya aku takut Dewa akan terjebak dalam pesona kebaikanmu. Padahal itu semua semu."
"Seperti itu kamu menilaiku?"
"Kamu yang membuatku menilaimu seperti itu. Atas dasar ucapanmu waktu itu juga kan. Pergilah jauh dari hidupku. Carilah perempuan yang mungkin akan direstui oleh keluargamu."
Dia mengatupkan rahangnya menahan emosi, tangannya terkepal erat. Lalu tanpa berkata lagi, dia melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti karena perdebatan tadi.
Untungnya saat sampai di depan kos, ada Santi dan Mega yang segera kupanggil untuk membantuku membawa beberapa barang, sementara aku menggendong Dewa. Jadi dia tidak perlu mengantarkanku masuk ke dalam kos.
"Besok pagi motormu biar dibawakan kesini. Selamat beristirahat."
"Terima kasih. Maaf merepotkan." ucapku berbasa basi.
"Dek, kalau aku boleh jujur, aku tidak ikhlas jika kamu bersama pria lain."
"Aneh. Tidak ikhlas, tapi juga tidak mau memperjuangkan. Sudahlah Bang, jalani takdir masing-masing."
Lagi-lagi dia mengeratkan rahangnya. Tanpa berpamitan, dia segera menaiki mobilnya dan melajukan dengan kencang membelah malam. Menyisakan sebentuk hati yang terluka dalam, dan setitik airmata yang tertahan di sudut netra.