Janitra

Janitra
Bab 12


Tidak ada yang berubah setelah penolakan Eyang. Aku dan Bang Rico masih sering bertemu. Sampai suatu hari Bang Rico tidak dapat kuhubungi sama sekali selama dua hari. Panggilanku diabaikan, pesan tekspun tidak dibalas. Tidak seperti biasanya. Aku coba mendatangi kontrakannya, namun nihil. Kata tetangga, Bang Rico dua hari yang lalu tergesa-gesa meninggalkan kontrakannya membawa koper besar. Rasa kecewaku membuncah. Ternyata janjinya selama ini hanyalah bualan belaka.


Aku segera berpamitan sebelum airmataku jatuh.


Hingga malam tiba, belum ada satu pesanku yang berbalas. Akupun memutuskan untuk berhenti menghubunginya.


***


Sabtu malam biasanya sepulang kerja, Bang Rico sudah menungguku. Kutepis rasa rinduku pada Bang Rico. Sudah hari keempat dan dia tetap tidak mengabariku.


Sesaat setelah menutup kios rental komputer, gawaiku berbunyi tanda panggilan masuk.


"NADYA"


"Hai, tumben telepon..."


"Hahaha. Aku lagi di Jogja, nih. Sibuk nggak? Temenin dong acara ulang tahun temanku. Tapi jangan bilang a'amu."


Nadya memang teman lamaku, lama pula kami tidak saling berkabar. Jadi wajar saja jika dia tidak tahu bahwa aku sudah berpisah dengan a' Ardan.


"Aku udah nggak sama a'Ardan tau. Hahaha. Acara ulang tahun kapan?"


"Sekarang lah. Kujemput ya? Dimana?"


"Aku sekarang kost. Jam segini acaranya?"


"Hahaha. Iya, paham kan? Masih punya baju? Kubawakan sekalian ya?"


Tanpa pikir panjang, kuiyakan saja. Daripada aku larut dalam rasa kecewa pada Bang Rico.


Setengah jam kemudian, Nadya dengan mobil merah kesayangannya sampai depan kosku. Aku langsung menaiki mobilnya.


"Nalaaaaa...huhuhu...kangeeeeennn deh. Nih, ganti baju dimana?"


"Jangan disini deh. Kamu nginep dimana?"


"Yaudah ayok ke hotelku dulu ya."


Sesampainya di hotel, tanpa membuang waktu aku langsung berganti baju. Layaknya teman lama yang lama tak jumpa, kami mengobrol tak henti-henti. Semua hal dia tanyakan, dan aku tanpa keberatan menjawab semuanya.


Pesta berlangsung meriah, sesaat aku melupakan rasa kecewaku juga gawaiku. Aku hanyut dalam kemeriahan pesta tanpa kusadari ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerikku sedari tadi.


Sudah dini hari, Nadya mengajakku pulang. Kembali ke hotel tentunya, karena tidak mungkin aku pulang ke kost di jam segini.


Baru saja akan masuk ke mobilnya, tanganku ditarik oleh seseorang.


"Oh ternyata kelakuanmu sekarang begini?"


"Apa urusanmu?"


"Masih menjadi urusanku karena aku masih sayang kamu! Kukira pacarmu bisa menjagamu jauh lebih baik daripada aku. Ternyata kamu sekarang jauh lebih buruk."


"Maumu apa a?"


"Pulang sama aku!"


"Nggak!"


Kusentakkan tanganku sampai pegangannya di tanganku terlepas. Segera aku masuk ke mobil Nadya. Tanpa menunggu lama, Nadya menginjak pedal gas mobil kesayangannya agar segera menjauhi laki-laki itu.


"Kok dia bisa disitu sih?" gerutuku pada Nadya.


"Maaf... Aku lupa, dia kan kakak sepupunya Cindy yang tadi ulang tahun." Nadya menjawab sambil cengengesan tanpa dosa.


"Haduuuuhhh kenapa nggak bilang?"


"Aku juga baru inget.. Lagian katamu kan kalian sudah putus. Cuekin aja lah."


"Iya sih."


"Atau ada rasa yang masih belum selesai?" Nadya melirikku. Aku tahu sebenarnya dia hanya menggodaku.


Sesampai di hotel, kami segera membersihkan wajah dan mengganti pakaian dengan baju tidur.


Kepalaku terasa agak sedikit pening.


"Nad, bahagia tu apa sih?"


"Sama seperti perasaan yang lain. Absurd dan tidak abadi. Standar bahagiaku sama kamu pasti beda kan? Hari ini kita bahagia, belum tentu besok kita masih bisa tertawa."


"Berarti kamu jalani hidup gini-gini aja?"


"Yaa mau gimana Na? Meratapi nasib juga ga akan mengubahnya jadi lebih baik lagi kan? Jalani aja Na, sepanjang kebahagiaan kita nggak berada di atas kesedihan orang lain. Jangan berat-berat ah mikirnya. Hahaha."


Lama kami terdiam dalam pikiran masing-masing sampai rasa kantuk menjemput dan membawa kami ke dalam alam mimpi yang mungkin jauh lebih baik daripada kehidupan nyata yang kami jalani saat ini.


***


Seminggu lebih Bang Rico tidak ada kabar. Akupun sudah enggan berusaha menghubunginya. Kuambil banyak job ketikan dengan maksud semakin banyak kerjaan, aku tidak memikirkan Bang Rico lagi.


Seperti malam ini, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat aku menutup kios rental komputer.


"Kok sampai jam segini?"


"Kamu ngapain disini??" Bentakku padanya.


"Nunggu kamu."


"Mau sampai kapan kamu ganggu aku?"


"Sampai kamu bisa kuajak bicara baik-baik. Tolong jelaskan kenapa kamu pergi dari rumah itu?"


"Untuk apa aku bertahan di rumah itu? Itu rumahmu, sementara aku bukan siapa-siapamu."


"Maksudmu apa dek? Kamu pergi dari rumah itu, kamu memutuskan hubungan kita sepihak."


"Aku??? Bukannya kamu yang menghilang???"


"Aku sudah memberitahumu.."


"Hanya pemberitahuan tanpa memberi aku kesempatan bertanya?"


Sebuah mobil merah mendekati kami yang masih bersitegang.


"Masuk Na.." Nadya membuka kaca mobil.


"Dek, tolong selesaikan dulu kesalahpahaman kita. Aku masih berharap kita bisa bersama lagi."


Kulirik spion, kulihat a'Ardan masih diam di depan kios.


"Ngapain lagi dia?"


"Entah..." Aku mengedikkan bahu.


"Na, kalau misal suruh memilih, kamu bakal pilih Rico atau Ardan?"


"Hmmm....ga dua-duanya. Hahaha."


"Serius ih Na..."


"Serius Nad... Keluargaku nggak setuju aku sama mereka berdua."


"Tapi keluargamu kan juga bukan support system terbaik untukmu. Kenapa masih harus nurut mereka? Sementara mereka sendiri nggak peduli sama kamu."


Nadya mengarahkan mobilnya ke sebuah kost eksklusif.


"Aku sekarang kost disini."


"Jadi kuliah lagi?"


"Jadi dong. Kan katamu, wanita harus cerdas. Hahaha."


"Belajar yang bener ya Nak.. Hahaha."


"Yuk turun. Daripada galau di kos sendiri kan mending kamu nginep disini."


***


Dua minggu berlalu, aku mulai terbiasa tanpa kehadiran Bang Rico. Aku juga sudah tidak bekerja di rental komputer. Beberapa hari yang lalu aku diterima bekerja menjadi tenaga administrasi di sebuah perusahaan


"Na, pulang kerja ikut nonton yuk?" Mbak Hani mendatangiku.


"Boleh deh. Siapa aja mbak?"


"Rencana banyakan sih. Ijin pacar dulu sana. Hahaha."


"Hahaha. Apaan sih mbak? Nggak punya pacar akutu."


"Ya udah nanti pulang kerja langsung aja ya? Kamu bonceng aku aja."


"Oke mbak."


Setelah pergi bersama, hubungan kami jadi lebih dekat. Tidak hanya dengan mbak Hani, namun juga dengan Silvi, Roni, Fani, Dito, Lola, dan Danang. Di akhir minggu, kami sering menghabiskan waktu bersama sekedar untuk nonton bioskop atau makan malam.


Tanpa terasa aku sudah memasuki bulan kedua bekerja disitu.


Suatu hari, saat kami sedang menikmati makan siang di warung makan dekat kantor, gawaiku berbunyi.


Siti yang menelepon. Dengan enggan aku mengangkatnya.


"Kenapa?"


"Mbak, bisa ke rumah sakit? Eyang sakit. Manggilin mbak Nala terus."


"Nanti pulang kerja aku mampir. Salam buat eyang."


Aku langsung memutus percakapan. Rasa khawatirku tertutup trauma atas tuduhan-tuduhan mereka. Jika dulu ada Bang Rico yang siap membelaku, saat ini aku kembali sendiri.


"Na, kenapa?" Danang membuyarkan lamunanku.


"Eyangku sakit, katanya manggil aku terus. Sekarang di rumah sakit, barusan pembantunya telepon."


"Kamu mau ijin sekarang?"


"Enggak. Nanti aja pulang kerja."


"Kuantar ya biar cepat. Jam pulang kantor kan udah sulit cari bis." Danang menawarkan diri yang langsung kuiyakan tanpa pikir panjang.


Sepulang kerja aku langsung diantar Danang ke rumah sakit tempat eyang dirawat. Disana sudah berkumpul Pakdhe Nug dan Budhe Ratih beserta anak dan menantunya.


"Eyang gimana kondisinya?" tanyaku pada Siti.


"Udah beberapa hari nyariin mbak terus."


"Kamu kok nggak pernah sowan eyang? Sesibuk-sibuknya ya harus tetep inget orangtua." Budhe Ratih menasihatiku.


"Ya, maaf." jawabku singkat.


"Ini siapa? Pacarmu?"


"Bukan. Temen kantor."


"Nggak mungkin kan cuma temen diajak kesini?" Budhe Ratih terus mendesakku.


Malas menjawab, aku memilih menarik kursi mendekati brankar eyang.


"Nala disini eyang, lekas sembuh ya." ucapku lirih sambil mengelus tangan eyang.


Kubiarkan saja Pakdhe Nug dan Budhe Ratih terus mengobrol dengan Danang. Entah apa yang mereka bicarakan.


Setelah menyuapi makan malam eyang, aku dan Danang berpamitan.


Lelah dan kantuk mendera, kami memutuskan untuk membungkus makanan dari lesehan depan rumah sakit saja.


Keesokan harinya dan beberapa hari ke depan, Danang selalu menawarkan diri untuk mengantarku menjenguk eyang bahkan ikut mengantar eyang setelah diijinkan pulang oleh dokter yang merawatnya.


"Nala, Danang..Eyang mau ngobrol sebentar."


Aku, Danang, Eyang, Pakdhe Nug dan Budhe Ratih berkumpul di ruang tamu rumah eyang. Aku sepertinya tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Kalian tahu kan Eyang sudah tua, Eyang cuma pengen lihat Nala menikah. Lagipula usia Nala kan sudah pantas untuk menikah. Jadi Danang kapan mau melamar Nala?"


"Eyang, aku sama Danang hanya berteman. Tidak lebih." Aku melirik Danang, berharap dia juga menolak namun dia justru tampak sangat tenang.


"Saya dan Nala belum ada pembicaraan mengarah kesana eyang, tapi secepatnya kami akan membahasnya. Sekarang eyang fokus ke kesehatan eyang dulu saja ya."


Setelah banyaknya wejangan dari Eyang, Pakdhe dan Budhe, kami berpamitan. Sepanjang jalan aku sengaja mendiamkan Danang walau berkali-kali dia mengajakku bicara. Sampai depan kost, aku hanya mengucapkan terima kasih dan langsung masuk tanpa basa-basi lagi.


Entahlah, saat ini aku sedang tidak memikirkan pernikahan. Apalagi jika pernikahan itu dilakukan demi kebahagiaan pihak lain.


Ada rindu menyelinap ke relung hati. Iya, tak dapat kupungkiri, aku rindu Bang Rico. Sekian lama aku berusaha menepisnya, malam ini kubiarkan perasaan itu. Kubenamkan wajahku ke bantal dan menangis sampai tertidur.