
Sebulan kulalui tanpa Dewa di pelukanku. Saat ini aku sudah melepaskan statusku di kantor Mas Rio dan memulai lembar baru di kantor baru bersama teman-teman baru dan suasana baru yang bagiku lebih nyaman. Walau Mas Rio masih sering menemuiku setiap jam pulang kerja, namun hatiku jauh lebih tenang.
Siang ini aku janjian dengan Mas Adit. Aku meminta tolong padanya untuk mengantarkan susu, cemilan, perlengkapan mandi dan sedikit uang untuk Dewa, dititipkan pada Bu Margareth tentunya.
"Sory Na, nunggu lama ya?" Maa Adit datang setelah setengah jam aku menunggunya.
"Biasa kan Mas ngaret? Hahaha."
"Hahaha. Ini jadi nanti aku yang ke panti? Kamu nggak pengen nemuin Dewa?"
"Kalau aku kesana dan ketemu, aku takut dia malah akan rewel."
"Ya sudah mana saja yang akan kubawa?"
Kuangkat tiga buah tas kresek putih masing-masing berisi stok susu, cemilan dan perlengkapa mandi milik Dewa.
"Sama ini, Mas, nitip uang tolong kasihkan ke Bu Margareth."
Kusodorkan amplop putih pada Mas Adit.
"Ya nanti kusampaikan. Aku berangkat sekarang ya?"
"Nggak makan dulu, Mas? Kuorderkan ya?"
"Nggak usah, nanti saja aku makan setelah dari Panti."
"Makasih banyak ya, Mas. Hati-hati di jalan."
Kulepas kepergian Mas Adit dengan mata menerawang. Kubayangkan Dewa memakan semua cemilan kesukaannya dengan riang. Ah, aku rindu tawanya, aku rindu celotehnya, aku rindu pelukannya. Kususut airmata yang mengalir di pipiku, lalu kubalikkan tubuh berniat masuk kembali untuk menghabiskan waktu di hari liburku ini.
Cangkir kopi kedua masih mengepulkan uap panasnya saat seorang wanita mendekatiku.
"Nala, boleh saya duduk disini?"
Kubuang pandanganku ke luar jendela, berharap dia mengerti penolakanku lalu beranjak pergi.
"Nala, tolong beri saya waktu untuk sedikit bercerita." pintanya mengiba.
Kualihkan tatapanku padanya, seorang perempuan cantik dengan make up yang semakin menyempurnakan kecantikannya. Jika dibandingkan dengan aku yang hanya memoles lipstik tipis tentu aku tak ada apa-apanya.
"Oh, mau curhat. Silahkan duduk, Mbak," ucapku dengan ramah.
Wanita itu menarik kursi dan duduk di hadapanku.
"Saya yakin, kamu pasti kenal saya."
"Sayangnya, saya nggak kenal. Langsung saja, mau cerita apa, Mbak?"
"Rio mencintaimu..."
"Hanya kamu yang dia cintai. Nggak usah mengarang cerita. Aku sama dia sudah berakhir. Aku udah pergi dari hidupnya juga. Jadi jangan khawatir aku akan merebutnya dari hidupmu dan...........anakmu."
"Nala, aku serius. Beberapa kali dia menyebutmu di bawah sadarnya. Bagiku itu cukup membuktikan bahwa hanya ada kamu di hatinya. Tolong jangan pergi darinya, Nala."
"Skenario apa yang sedang kalian ciptakan? Disuruh dia untuk cerita gini biar aku luluh? Aku salut dengan kekompakan kalian. Menciptakan skenario demi keamanan dan kenyamanan hubungan kalian. Wah hebat."
"Apa nggak bisa kamu berhenti berpikiran negative pada kami?"
"Setelah perselingkuhan kalian bertahun-tahun di belakang Pak Surya, yang kalian lakukan dengan sadar dan tidak tahu diri, sekarang kamu berharap aku masih bisa berpikir positive tentangmu? Kamu lucu deh."
"Nala, dulu kami saling mencintai, saat aku dipaksa menikah, kami juga masih saling mencinta. Tapi seiring berjalannya waktu, Mas Rio bertemu dan jatuh cinta padamu. Tolong percaya ini."
"Kalau Mas Rio mencintaiku, seharusnya dia menyudahi hubungannya denganmu. Tapi kenyataannya apa? Waktunya jauh lebih banyak dihabiskan bersamamu."
"Tapi saat bersamaku, yang dia ceritakan hanyalah tentangmu. Semua tentangmu. Apapun yang dia lihat, selalu mengingatkannya padamu. Aku yakin, saat bersamu dia tidak akan menceritakan apapun tentangku karena dia menjaga perasaanmu, Nala."
"Mbak, sudah? Apapun yang mbak ceritakan tidak akan mengubah keputusan saya untuk pergi dari Mas Rio. Silahkan pergi dan terima kasih atas dongeng siang ini."
"Semoga kamu nggak menyesal menyia-nyiakan cinta Mas Rio, Nala. Saya permisi."
"Ohya mbak, sampaikan salam saya padanya. Skenarionya bagus, sayangnya kurang meyakinkan."
Tanpa menjawab ucapanku, dia berjalan menjauh.
***
"Nala..."
Aku melihat ke arah sumber suara yang memanggilku. Huft, lagi-lagi penampakan Mas Rio yang kutemui di depan kantor. Sirna sudah rencanaku untuk membaca novel sambil menikmati secangkir cokelat panas. Dengan langkah terpaksa kudekati Mas Rio.
"Apa kabar, Mas?"
"Buruk setelah kamu pergi."
"Setidaknya tidak semua pergi darimu. Riska masih ada untukmu sekalipun dia sudah mengucapkan janji setia pada Pak Surya."
"Mau temani aku ngopi sore ini?"
"Hmm... Kalau aku menolak juga kamu akan memaksaku kan?"
Mas Rio membukakan pintu mobilnya untukku.
"Terima kasih, Mas."
"Mau kemana Mas? Jangan jauh-jauh. Aku capek."
"Ya. Dekat sini ada kedai kopi yang lumayan enak, kok. Mau?"
"Boleh."
Tak lama kemudian kami sampai di sebuah kedai kopi yang tampak nyaman.
Setelah memesan, Mas Rio mengajakku duduk di salah satu sudut.
"Kenapa lihatin aku gitu?" tanyaku setelah menyadari ia menatapku lama.
"Gimana kabarmu dek?"
"Baik. Setidaknya mencoba menjadi lebih baik."
"Masih ada kesempatan untukku, dek?"
"Pernah kukasih kan ya? Tapi mas menyia-nyiakannya, bahkan meyakinkanku kalau mas akan bersikap adil padaku dan dia. Kadang, kesempatan tidak datang dua kali, Mas. Pun saat ini, kesempatan mas sudah tertutup."
Tak seperti biasanya, kali ini Mas Rio hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Kupandang wajahnya, tampak tirus, dan kuyu. Padahal baru beberapa hari saja kami tak bertemu namun perubahannya sangat tampak.
"Mas sakit?"
"Iya. Aku baru saja keluar rumah sakit."
"Oh... Maaf aku nggak tau. Semoga lekas pulih. Jangan telat makan, jangan tidur larut malam."
"Kamu menolak memberiku kesempatan, namun perhatianmu menunjukkan hal yang berbeda, dek."
"Anggap saja ini perhatian dari seorang teman, Mas." kucoba berikan senyumku.
"Ternyata hanya kamu yang kucintai, dek."
"Sudah mas. Jangan banyak berdusta. Nggak baik untuk kesehatan."
"Kita mulai dari awal ya dek?"
"Sudah selesai mas. Akan sama-sama lebih nyaman bagi kita, memulai lembar baru dengan orang baru daripada harus mengulang lagi di atas kepercayaan yang sudah ternodai. Aku akan capek karena terus dipenuhi rasa curiga sementara mas juga akan capek kucurigai terus. Kita berteman saja."
Lalu kami sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak satupun dari kami yang memulai pembicaraan.
"Dek, ternyata kamu disini sama dia."
Sebuah suara yang sangat kukenal terdengar sangat jelas.
"Aa kok disini?"
"Iya, diajak teman, malah kebetulan ketemu kamu, ya? Dewa mana?"
"Katanya cinta tapi kok nggak tahu Dewa disembunyikan dimana."
Belum sempat kujawab, Mas Rio sudah mendahului menjawab.
"Wah sudah jadi juru bicaranya Nala? Maaf saya nggak ada urusan dengan anda."
"Jelas jadi urusan saya karena Nala sebentar lagi akan menikah dengan saya."
"Ohya? Kita lihat saja nanti."
"Sebenarnya ada apa sampai anda terus mengejar Nala?"
"Bukan urusan anda."
"Karena Dewa? "
"Ya, karena Dewa adalah anak saya."
"A'a!!!! Udah cukup!!!"
"Kalau Dewa anak anda, seharusnya anda melarang saat Nala menitipkannya di Panti Asuhan!!!"
"Mas Rio!! Cukup!!!"
Kusambar tasku, lalu berlari keluar tanpa mempedulikan mereka yang masih bersitegang. Mas Rio mengejarku sampai ke tempat parkir.
"Dek, maaf. Aku hanya ingin mendapat jawaban tentang Dewa."
"Siapapun ayahnya Dewa, itu bukan urusan Mas. Tolong pergi dari hidupku. Aku capek."
"Maaf dek."
Untung letak kedai kopi tak jauh dari pangkalan ojek. Segera kulambaikan tangan untuk memanggilnya.
"Mas, tolong antar saya, nanti saya beritau jalannya."
"Baik mbak."
Kuterima helm dari tangan pengemudi ojek dan segera kunaiki motornya lalu kutinggalkan dua pria egois tanpa berpamitan.