
Dinda membawa Gibran kembali ke ruangan milik nya dsn menyuruh sang suami duduk di kursi tamu ruangan itu, lalu membuka sebuah kotak yang Dinda bawa tadi.
Kota yang berisi makanan kesukaan sang suami, Dinda letak kan di meja pas di depan Gibran, lalu Dinda mengambil sebotol air minum dan gelas darinkulkas kecil ruangan itu.
Dinda tidak mengeluar kan kata-kata apa pun, sampai sang suami mulai tenang dengan emosi terpendang nya.
Dinda memberi sang suami minum lalu mulai memberi kan kotak yang berisi makanan kesukaan Gibran tersebut.
beberapa menit saling diam kin baru lah Gibran tersenyum kecil kepada sang istri dan melihat itu Dinda membalas dengan senyuman yang tak kalah cantik dsn menarik hati Gibran, mantan guru Dinda dulu.
"Sayang aku sangat kesal dengan wanita tadi, dia dengan sangat berani masuk ke ruangan ku dengan tampilan seperti anak komodo itu"ucp Gibran sambil menyuap kan makanan itu ke dalam mulut nya.
"Iya aku tau itu mas, tapi cara mu menghukum nya cukup berlebihan, walau oun menimbul kan efek jera pada wanita tadi, aku salut mas sama kamu, tapi itu terlalu sadis, jika saja tadi aku telat datang dan tidak melihat itu. mungkin suami ku yang tampan dan berwiba ini, sudah menghilang kan nyawa orang lain" ucap Dinda menatap mata sang suami yang kehilangan kendali saat marah pada orang lain.
Akan ku coba tidak terlalu sadis sayang, jika saja dia tidak mengeluar kan kata yang menbuat tensi ku naik hingga ubun-ubun, mungkin hidup wanita tadi tidak akan semengeri itu. nak ini dia dengan Pede nya mendekat pada ku.
seakan dia memang sedang ingin menjemput kematian nya." Jawab Gibran kesal dengan ekspresi manja sambil menyender ke bahu Dinda yang kini duduk di sebelah tubuh nya.
"Iya sayangg kamu hampir saja mencabut nyawa wanita tadi dan juga keluarga wanita itu yang tidak tau menahu tentang apa yang di lakukan anak nya di luar rumah, sehingga harus ikut mengancam diri mereka yang sedang di rumah..." ucap Dinda membuat sang suami berpikir cerdas atas berlikir bahwa yang di lakukan tadi sangat salah.
Bisa saja bukan, Gibran melapor kan saja ke polisi atau juga bisa mengeluar kan wanita itu dengan tidak hormat memberi wanita itu sedikit ancaman agar dia jerah dan takut.
Sayanggg... habisin gik makanan nya, aku mau istrahat dulu ya, cukup capek karena masih banyak tugas yang harus aku selesai kan dengan baik, agar bisa lukus dengan baik juga, biar bisa cepat-cepat bisa melayani semua kebutuhan kamu" ucap Dinda dengan raut muka cukup lelah menuju tempat tidur di belakang ruangan Gibran itu.
"Iya sayang, aku habisin ya makanan nya" ucap Gibran melanjut kan menghabis kan makanan itu.
Gibran mengambil hp milik nya, lalu menelpon untuk membawa kan beberapa makanan enak, dan cake dan juga es krim untuk sang istri untuk memperbaiki mood lelah nya...
beberapa menit kemudian semau pesanan Gibran sudah datang dengan sekretaris pria Gibran membawa semua itu.
"Pak... ini semua pesanan bapak tadi, mau di letak kan di mana pak??" Tanya sang sekretaris yang masih betah berdiri menunggu perintah dari sang bos besar.
"Letak kan di situ saja," ucap Gibran menunjuk kursi tamu yang terletak di ruangan tersebut
"Baik pak.. kalau gitu, saya permisi keluar pak" ucap sang sekretaris keluar dari ruangan tersebut.
"Ya, trimakasih" ucap sang bos saat sekretaris hampir melewati pintu keluar.
Aku harus menjaga kesehatan istri ku dulu, dia pasti juga mengaharap kan perhatian seperti ku" gumam Gibran mengambil bungkusan pesanan makanan yang cukup banyak itu, lalu membawa ke sebuah ruangan di mana Dinda sedsng beristirahat.
"Sayang..!!" ucap Gibran menghampiri Dinda yang sedang berbaring namun tidsk tidur, dia sibuk meng otak atik Hp mahal milik nya itu.
Mendengar suara sang suami yang mendekat ke arah nya, Dinda menoleh ke arah sang suami dsn tersenyum melihat banyak bungkusan besar di tangan Gibran, dsn semau itu Bisa Dinda tebak, jika isi nya adalah makanan...
"Ini sayang, coba lihat dan bukak dulu, yang mana kamu suka??" tanya Gibran membantu membuka dan mengeluar kan makanan itu dari bungkusan plastik tersebut.
"Wooooww ada cake dan es krim, Mas aku mau makan yang ini dulu ya" ucap Dinda duduk di ranjang luas itu sambil mulai membuka es krim dan cake untuk Dinda makan secara bersamaaan.
"Iya sayang... makan lah, yang mana kamu suka, dan habis kan, biar mas bantuin bukak dan suapin ya, yang mana lagi nanti istri ku ini suka." ucap Gibran menemani sang istri sambil menatap nya tersenyum.....
Gibran menemani snag Istri dengan sabar, karena untuk menghabisi semua makanan yang banyak itu tidak habis waktu satu jam saj,namun berjam-jam, Karena Dinda cukup santai memakan semua itu...
"Mas... rasanya mood ku membaik memakan semua ini" ucap Dinda beberapa jam berlalu dsn makanann itu hampir habis dan Dinda merasa cukup kekenyangan hingga Dinda sendawa tanpa merasa malu di depan Sang suami.
Sang suami hanya menanggapi dengan menegerut kan kening nya dengan tingkah istri nya yang kadang bikin Gibran kesal....
"Kenapa si mas, kayak jijik gitu, kenapa sudsh mulai ilfil sama sifat aku yang gak mandang tempat dan lihat orang dulu untuk sendawa, kalau gitu, mending mas pergi sana, gak usah di sini" ucap Dinda cemberut sambil mendorong sang suami yang tadi terlihat mengerut kan kening nya, saat Dinda sendawa...
"Gak gitu sayang, kan cuma ekspresi masl yang gak terduga jika istri mas akan sendawa begitu, kan istri mas jarang melakukan itu di depan mas, bukan nya ilfil kok sayang,serius deh" ucap Gibran mengelus kepala sang istri lalu mencium kening Dinda.
"Beneran begitu, gak bo'ong kan" selidik Dinda menatap lekat dan dekat ke wajah sang suami guna memasti kan kejijuran sang suami.
Bukan nya mencari kebenaran dari wajah sang suami, Dinda malah terpesona dengan ketampanan suami nya, melihat itu, membuat sang suami tersenyum tampan. dannn...
"Cup..." Gibran memcium bib ir istri nya sekilas dan ciu man itu membuat Dinda kagrt dan sadar dari keterpanaan menatap wajah tampan sang suami.
"Ihhhh... mas!, apaan sih, malah nyuru-nyuri gitu"ucap Dinda manja
Hal itu membuat Gibran semskin gemes dan malah menerkam sang istri di ranjang itu.
Namun Dinda mengelak dan berlari keluar dari ruangan tersebut...
Saat Dinda di luar, sebuah telpon masuk dan berdering di meja kerja sang suami, Dinda pun menghampiri meja kerja suami nya, lalu mengangkat telpon tersebut.
"Ya hallo..!???" Ucap Dinda mengangkat telpn tersebut.
"Ok baik lah, suruh saja dia masuk ke sini" ucap Dinda kembali, ntah apa isi percakapan di telpon tersebut yang membuat Dinda memutus kan buat hal tersebut datang ke ruangan sang suami.
"Mas..mas..." ucap Dinda masuk ke ruangan tempat dia beristirahat tadi, melihat snag suami tertidur di sana dengan cukup oulas, padahal sang suami baru beberapa menit saja dia tinggal.
"Biarin saja deh, dia tidur sebentar, bukan hal yang penting juga harus membangun kan dia, biar aku saja yang menyelesai kan ini, kan tadi aku yang memutus kan semua nya" gumam Dinda duduk di kursi kebesaran sang suami, seperti dia bos besar itu...
Namun yang terlihat lucu saat Dinda duduk di kursi kebesaran sang suami, Dinda terlihat kecil dsn mungil di kursih itu, karena kursih itu memang untuk pria besar dsn tinggi, bukan untuk wanita mungil seperti Dinda.
Beberapa menit berlalu,
"Tok..tok..tok" suara ketukan dari laur membuyar kan rasa nyaman saat Dinda bersandar di kursi besar dan empuk itu.
"Ehemmm...masuk!!!!" ucap Dinda duduk dengan angun bak seorang bos besar itu, dan mengubah raut muka menjadi serius.
Pintu ruangan itu terbuka, lalu masuk lah dua orang, satu asistent Gibran dsn satu lagi seorang wanita, wanita yang tadi di seret keluar dari kantor ileh bodygurd Gibran.
"Buk" panggil wanita yang tadi di tolong Oleh Dinda saat wanita itu hampir menjadi makanan buaya.
"Ya masuk lah, duduk lah" ucap Dinda mempersilah kan wanita itu duduk.
Wnaita tapi yang berpenampilan sangat seksi fan menor, kini semua itu tidak tersisa sama sekali, hanya muka sembab dan berpakain serba besar serta muka yang polos tanpa bedak sedikit pun.
Sekarang hanya keputusan Dinda yang bisa menyelamat kan wanita itu, dan wanita itu juga terlihat ketakutan saat berhadapan lagsung dengan Dinda yang memasang muka serius nya itu.
"Buk saya!!" ucap wanita itu dengan suara bergetar dan langsung terputus oleh ucapan Dinda yang langsung merubah raut muka wanita itu sedikit senyuman dan harapan.
"Saya tidak bisa memasti kan kamu tidak bisa bekerja di perusaan ini lagi, dan kamu bisa melamar di tempat lain..Ini kesempatan yang saya beri kan kepada kamu untuk melanjut kan hidup yang lebih baik.
Dan jangn kamu ulangi di tempat lain, itu belum tentu kamu mendapat kan kesempatan lagi seperti hari ini.
Dan jangan guna kan lagi tubuh mu untuk mencari pekerjaan, guna kan otak dan ahlak mu" ucap Dinda tegas dan juga memberi sedikit nasehat kepada wanita itu.
Wanita itu benar-benar terlihat menyesal karena di beri kan kesempatan hidup oleh ibuk bos besar perusaan itu.
"Oya... untuk pesangon kamu, akan di kirim kan secepat mya, saat kamu mulai mengurus surat penguduran Diri dengan baik dari perusaahan kami, dan mulai saat ini kamu di keluar kan dari kantor ini" ucap Dinda yang di anggukin oleh wanita itu, lalu berterimakasih dengan segenap rasa sukur yang Wanita itu rasa kan...
Walau pun wanita itu sudah di keluar kan dari perusahaan Gibran saat itu juga, tetap saja wanita itu harus membuat surat penguduran diri sendiri untuk menjaga cintra perusahaan.
Dan jauh dari gosip dan citra buruk, agar tidak ada cela bagi lawan bisnis menjatuh kan perusahaan itu...
"Baik buk, dwn trimakasih banyak atas bantuan besar ibuk, jika tidsk ada ibuk mungkin keluarga ku sudah ikut merasakan akibat dari ulah ku ini" ucap wanita tersebut.
Lalu Dinda mempersila kan Wanita itu untuk segerah kekuar dsn berkemas untuk pulang ke rumah nya. dan tidak akan pernah lagi ada di perusahaan ternama ini....
Identitas wanita itu di jaga dan sembunyi kan oleh perusahaan milik Gibran, dan seakan tidak terjadi kasus seperti tu di dalam perusahaan.