GURU ES KU

GURU ES KU
PERUBAHAN SIKAP DINDA


Kini pagi menjelang, sinar pagi menyinari ruangann kamar luas Dinda masuk di antara sela-sela Kaca kamar yang tak tertutup gorden itu..


Mengeliat di pagi hari menjadi kebiasaan Baru Dinda, mengawali Dinda saat membangun kan diri nya dari nikmat nya ranjang empuk nan luas itu...


"emmmhhh..." Ucap Dinda mulai membuka mata dan mencari Hp milik nya untuk melihat jam, walau alrm berbunyi, kadsng Dinda tidsk telalu yakin, takut nya waktu masih terlalu pagi untuk bangun dari ranjang itu...


Dinda melihat jam yang menampak kan pukul enam pagi, Dinda pun mulai menduduk kan tubuh nya lalu perlahan turun dari ranjang, menuju kamar mandi milik nya, guna kangsung menguyur tubuh penat nya dengan hanymgat nya air di pagi hari.


"Dinda..!!! kamu harus semangat dan melupak kan semua nya berawal dari pagi ini, hilang kan perasaan suka mu yang tumbuh itu dsn kenangan bersama nya, harus di buang sepenuh nya, jangan berharap apa pun lagi, dan jangan menanggapi ucapan-ucapan ambigu yang sering keluar dari mulut mais seorang Pria" ucap Dinda sambil mengguyur tubuh di bawah shower kmar mandi milik nya, dan mengangkat satu tangan untuk semangat pagi nya..


Dinda sudah selesai dengan ritual pagi nya, kini mulai berganti seragam dan bersiap dengan rapi dan dan cantik..


Dinda turun untuk sarapan bersama kedua orang tua nya.


"Tak..tak..takk" suara hentakan sepatu Dinda yang penuh semanagat di pagi tu dan turunn dari tangga menungu meja makan.


"Pagiiiii, mama..Ayahhhh...!!! ucap Dinda penuh semangat menghampiri kedua orang tua nya...


"Pagi juga sayang" ucap kedua orang tua Dinda bersamaaan, melihat sang putri mereka menyapa dengan riang nya di pagi itu.


Dinda duduk dengan senyuman yang riang dan sang mama menyiap kan sarapan untuk Dinda seperti biasa..


"Nak bawak bekal ya" ucap sang mama menoleh kepada Dinda..


"Iya ma, aman itu, apapun akan Dinda bawak, apa lagi untuk sahabat-sahabat Dinda yang cangok-cangik terhadap makanan, terutama masakan mama" ucap Dinda tersenyum sambil memakan sarapan nya....


"Kalau gitu mama akan masakin banyak setiap papi, untuk Dinda makan bersama sahabat Dinda" ucap sang mama yang masih melanjut kan makan, lalu datang mbok Darmi dari arah dapur membawa kan kotak bekal untuk Dinda.


"Ini nin, mbok tarik sini ya, jangan lupa nanti bekal nya" ucap mbok Darmi meletak kan di ujung meja makan, bekal yang akan Dinda bawak nantinya.


"Iya mbok, tidak akan Dinda lupa kok" jawab Dinda dengan tersenyum.


Sarapan telah usai, Dinda pun melanjut kan kegiatan untuk berangkat ke sekolah yang di antar oleh sang mama setiap pagii nya dan pulang sekolah.


Beberpaa menit kemudian...


Kini Dinda sudsh berads di lingkungan sekolah dengan bekal yang ada di tangan nya..


Sahabat-Sahabat Dinda menunggu seperti biasa di area oarkiran, hingga Dinda terlihat.


Sahabat-sahabat Dinda tersenyum bahagia melihat Dinda datang dan lebih tepat nya melihat bekal yang ada di tangan Dinda.


"Pagi Dinda sayang" ucap sahbat dinda yang satu nya dsn yang lain oun tak tinggal diam.


"Pagi Dinda cantik" yang lain menyambung untuk menyapa Dinda.


Sahabat Dinda yang satu nya menyambar bekal di tangan Dinda yang di sambut semyuman oleh Dinda


"Benar-benar saahabat yang pengertian" ucap Dinda berlalu mendahului sahabat-sahabat nya...


"Ayokkk..." ucap Dinda saat menoleh ke belakang, sahabat nya belum bergerak sedikit pun dari tempat nya, sibuk melihat dsn mengintip bekal yangbada di tangan sahabat nya saat ini..


"Okkk Dinda" sahut mereka menyusul Dimda yang telah berlalu.


"Wahhh enak bangettt, masih lama lagi jam istirahat kita,, semoga ada jam kosong, padahal udah sarapan, liat dan mencium bekal Dinda jadi laper lagi" ucap Sahabat Dinda yang begitu ingin mencicipi bekal itu..


"Yeeeeeh dasar cangok" sindir sahabat-sahabat Dinda kepada sahabat yang satu nya.


"Sahabat Dinda cemberut lalu mendahului mereka, sambil mengejar Dinda....


Yang lain pun menyusul.


"Dinnn, mereka menyebelin, padahal aku cuma mau makan dan cicip bekal nya" ucap sahabat Dinda mengadu kepads Dinda.


"Cup..cup..cup.. sayanggg, sabar ya tunggu jam istirahat, kamu yang pertama buka dsn makan bekal nya nanti" ucap Dinda membela sahabat nya itu dari bulyan kecil sahabat Dinda yang lain nya...


Yehhhh..., gikiran makannn aja, kamu ngaduh sama Dinda" saut yang lain nya.


"Biarinnnnnm... weeeekk" balas sahabat Dinda menjulur kan lidah membalas mereka.


Dan mereka oun masuk ke kelas dan mulai bercerita sambil menunggu bel masuk, geng Dinda memang jarang beraktifitas atau bercerita di kuar kelas saat pagi hari, Karena lebih enak di kelas, selain tempat duduk yang enak, ngomongin orang tidak akan terdengar atau pun telihat ekspresi aneh dsri wajah-wajah mereka yang suka mgomongin orang.


"Din kata nya si Aldo kamu laporin polisi kemarin ya, dan dia berusaha meleceh kan kamu di ruang lingkup sekolah" ucap sahabt Dinda, ntah dapat kabar dari mana hal itu...


"Haaaahhh..!!!! yang benar Din, Sahut yang lain ,karena tidak tau sama sekali, karena memang tidak pernah Dinda kata kan kepada siapa pun tentang hal itu, tapi ntah kenapa sahabat Dinda yang satu uni mengetahui nya. namun Dinda tidak terlalu peduli, itu berita tersebar dari mana.


"Iya... waktu kmarin aku kan pulang belakangan tu, jadi kejadian deh, untung pak Gibran bantuin dsn langsung aja serahin ke polisi atas sikap nya, biar dia jerah dengan sikap kePeDean nya itu.." jawab Dinda membenar kan pertanyaan dari sahabat nya itu.


"Waduhhh kok si Do..Do itu nekat banget Ya Din, emang Oantas si dia trima itu, bisa-bisa nya bersikap kurang ajar kepada Dinda, Rasain tu, biar gak kepedean lagi" sahut sahabat Dinda yang juga geram dengan perlakuan Aldo saat Dinda sendiri...


"Jadi Tersangka dong si Aldo yang kata nya pangeran sekolah ini, Waduhhh kalau pada tau semua siswi di sekolah ini, apa gak kecewa mereka sama si Do...Do.. itu,Saut yang lain nya mengomentari sikap kurang bijaknseorang Aldo...


"Jangann sampai terdengar sekolah deh, nanti takut nya Dinda yang di musuhin" belah yang lain nya, takut Dimda yang di salahin dan jadi bulan-bulanan para penggemar Do..do.. itu


"Ntah lah, yang pasti nya reputasi nya sebagai siswa teladan hancur di mata guru, karena bukan cuma kelaut dari omongan ku, taoi juga ada Bukti dari Cctv sekolah, itu bukti nyata yang bisa di lihat dan nilai oelh semua nya, kecuali fans bucin Aldo yang menutup mata dan hati untuk melihat kebenaran itu'?" ucap Dinda yang memperjelas keadaan yang sebenar nya saat ini.


"Iya juga ya Din.." saut sahabat Dinda.


"teng..teng..teng" bel tanda masuk telah terdengar di ruangan kelas Dinda dan mereka mulai bersiap dsn menghenti kan cerita mereka sambil menunggu sang guru tiba di kelas mereka.


"Pagi semua nya" ucap sang guru tampan mengawali pelajaran di pagi hari di kelas Dinda.


"Pagi juga pak" sahut mereka bersama...


Dsn sang guru mulai membuka materi yang akan mereka bahas pagi ini, sang guru tamoan itu mengawali nya dengan menyebut nama Dinda.


"Din coba ke depan dan kamu baca kan bebrapa materi yang kita bahas" ucap sang guru.


Dinda langsung merespon itu dan langsung ke depan.


"Yang mana pak" tanya Dinda dengan muka serius tanpa ekspresi canggung seperti biasa nya.


Sang guru menjawab dan memberi penjelasan yang mana saja yang harus si sampai kan kepada teman sekelas dengan sedikit mendekat ke arah Dinda dan sedikit menyentuh bagian tangan Dinda.


Dinda tidak merespon malah menhindari sentuhan kecil itu dengan menanya kan beberapa kata.


"Pak yang ini saja kan" ucap Dinda menanya kan kepada pak Gibran sambil menoleh kepada pak Gibran.


"Iya yang ini saja, seperti biasa jika sudah selesai kan, kumpul kan kepada bapak ke kantor dan kumpul kan kepada Dinda, Biar Dinda bawak kan ke ruangan Bapak" ucap sang guru.


Para murid di kelas secara bersamaan mengata kan...


"Baik pak" ucap mereka paham maksud dari sang gutu tampan itu...


Dinda oun memulai menerang kan pelanjaran itu, tanpa melihat kembali sang guru, yang membuat sang guru sesikit bingung, Dinda tidsk terlihat gugup seperti biasa nya, sepwrti saat-saat kemarin dia mendekati Dinda.


Jika kemarin-kemarin saat sang guru mendekat Dinda Dinda terlihat gugup dengan telinga me merah dsn wajah pun begitu, dsn tidsk ingin secara lama menatap mata sang guru, namun kali ini, Dinda benar-benar telihat biasa, dsn tidak merasa gugup sama sekali.


"Kenapa dengan nya, apa karena kemarin, dia tidsk bersikap seperti biasa nya, dia tidsk terlihat marah atau pun benci pada ku,malah terlihat biasa saja dan seperti tidak punya rasa lagi terhadap ku"ucap sang guru saat sudah berada di ruangan milik nya...


"Akan ku coba tes nanti saat dia sudsh datang ke ruangan ku" gumam sang guru itu...


Satu jam berlalu, kini jam sang guru tamoan bernama Gibran itu sudsh habis, tugas-tugas yang dia beri kan kepada para murid-murid di kelas Dinda pun sudah usai.


Terlihat dari seorang siswi bernama Dinda itu membawa setumpuk buku ke arah Ruangan sang guru tampan.


"Tok...tokk...tokkk..." Suara ruangaan pak Gibran di ketuk, Dsn pak Gibran yang biasa nya menunggu di kursi kekuasaan nya, kini membantu membuka kan Dinda pintu untuk masuk


"Kriiieeettt" pintu ruangan seorang pak Gibran yang agak berisi saat di buka, karena menimbul kan suara deretan..


"Masukk..!!!" ucap sang guru merintah Dinda memasuki ruangan milik nya itu.


"Baik pak" sahut Dinda memasuki ruangan Pak Gibran dsn tanpa bertanya dahulu, Dinda meletak kan buku-buku itu di atas meja sang guru, karena biasa nya sang guru menyuruh Dinds untuk meletak kan buku di meja itu..


"Apa yang kamu lakukan..??" tanya pak Gibran yang melihatt Dinds meletak kan buku di atas meja milik nya.


"La..!!!, bukan nya buku-buku ini, di tarok di sini biasa nya pak" ucap Dinda sanati, namun bedah dengan sang guru yang tidsk santai hari ini.


"Itu biasa nya,hari ini bedah lagi" ucap Gibran sedikit meninggi kan suara nya.


"Oh ma'af pak, harus nya Dinda tarok di mana ya pak..??" tanya Dinda dengan ramah kepada sang guru.


"Maka nya sebelum meletak kan sesuatu ke ruangan bapak, tanya dulu kepada bapak mau tarok di mana" ucap nya semakin meninggi kan suara nya.


"Iya pak, ma'af pak, saya harus tarok di mana buku-buku ini pak" TanyaDi da lagi dengan sangat ramah dsn seperti murid dang guru pada umum nya.. sambil mengangkat kembali buku-buku di atas meja pak Gibran


Melihat keanehan pada Dinda, sang guru sedikit merasa bersalah, karena Dinda tak memarahi atau melawannucapan nya seperti biasa nya, dan itu membuat guru tamoan itu merasa bersalah kepada diri sendiri yang terus membentak Dinda namun Dinda masih bersikap ramah...


"Kamu kenapa Dinda,..?"tanya sang guru mendekat...


Melihat sang gru mendekati nya, Dinda sedikit mundur dan menunduk.


"Ma'af pak, buku-buku ini, harus Dinda tarok di mana" ucap Dinda tidak menghirau kan pertanyaan sang guru. yang selama ini Dinda kagumi dan sukai..


"Melihat Dinda yang semakin mundur, Sang guru berhenti Lalu mengeluar kan perintah.


"Tarok saja di atas meja tamu, dan kamu boleh kembali ke kelas" ucap sang guru tampan itu melepas Dinda kali ini, namun tidak lain kali.


"Sinda yang mendengar itu, segerah menarok buku-buku Itu di atas meja lalu permisi untuk keluar dari ruangan sang guru.


"Dinda tidak merasa was-was atau deg-degkan seperti biasa nya, Namun Dinda kali ini sangat biasa dan bersikap biasa saja, Dinda akhir nya mulai bisa melakukan hal yang ingin dia lupa kan itu.


Namun tidak dengan sang guru yang berusaha untuk mendekati seorang Dinda. murid cantik yang selama ini menyimpan rasa pada nya, namun hari ini dia berubah dan tampak sangat berbeda dari biasa nya.


Biasa nya terlihat malu-malu jika dekat dengann diri nya dan sering memandang Dia dari kejauhan, mau di kelas atau pun di mana pun Dinda melihat dirinya. namun hari ini tidsk terlihat seperti biasa nya, malah acuh dan cuek,seperti seorang murid menghargai guru pada umum nya.


Dinda kembali ke kelas dengan muka biasa saja, tidsk terlihat kesal seperti biasa nya saat keluar dari ruaangan pak Gibran, Dia Duduk dsn menunggu pergantian jam untuk pelajarann berikut nya.


Beberapa menit berlalu...


Kini jam pelajaran berikut nya di kelas Dinda telah di mulai, seisi kelas itu penuh keheningan dan mengikuti pelajaran dengan hikmat dengan guru mata pelajaran tersebut...


Dinda seperti nya mulai menata hidup nya. dan mulai menghilang kan perasaan-perasaan tidak jelas, agar lebih fokus belajar dan lulus dengan nilai yang membangga kan nanti nya.


Dinda juga ingin melanjut kan pendidikan lebih tinggi dengan prestasi-prestasi