
Dalam perjalanan Dinda berusaha menelpon nomor yang dia ingat, namun memang tidak ada satu pun yang mengangkat telpon dari Dinda, membuat Dinda cemas dan banyak oikiran buruk memenuhi kepala nya.
Apa yang terjadi sih sebenar nya, kenapa malah kyak gini" ucap Dinda sambil memijit kepala nya dan bulir bening mulai mengalir di pipi cantik nya.
Hampir setengah jam berlalu, kini sampai lah Dinda di rumah mewah nya dan langsung masuk, sambil mengajak sang guru ikut maauk ke rumah itu untuk menemani nya, takut terjadi apa-apa pada keluarga besar nya dan para ART yang bekerja pada nya. kini Dinda sudah berada si dalam rumah bersama sang guru.
"Ma...mama...., Yahh..yahh..yahh...Ayahh, Mbok Darmi" hingga nama-nama Art lain ntmya semua Dinda sebut, namun rumah besar itu tampak sepi dan tidak berpenghuni sama sekali...." Dinda semakin takut dan cemas, takut keluarga nya di apa-apa kan okeh orang jahat...
Dinda kesana-Kemari, mencari, dan berlari, membuka setiap Pintu dan juga kamar para ART nta Namun tidak ada orang. dan tidak ada satu pun penghuni rumah itu.
"Pakkkk, gimna ini, kemana keluarga ku" ucap Dinda mendekat ke arah sang guru dan menagis terseduh.
"Kita lapor polisi aja ya.biaar ada titik terang dan jelas semua ini" jawab sang guru yang prihatin melihat Dinda menangis terseduh ke arah nya.
"Pak ayok ikut" Ajak Diinda naik ke lantai atas dan melihat ke kamar nya.
Dinda pun membuka nya.
"Perepepet...perepepet..." Suara trompet memenuhi gelendang telinga Dinda dan sang guru...membuat mereka kaget bukan kepalang.
"Selamat ulang tahun Dinda......" ucap mereka riuhhh dan Dinda hampir melemas dan terjatuh, untung sang guru segera menangkap Dinda...
"Ya ampunnn...Dinda ...." teriak mereka semua melihat Dinda yang lemas hampir jatuh itu...
"Nak ksmu kenapa??" ucap sang Ayah dan mama yang ingin menyambut Dinda...namun di tahan oleh ucapan Dinda ..
"Jangan menyentuh ku..."ucap nya berusaha tegak di bantu oleh sang guru...
"Kalian kira ini lucu, merayakan dan memberi ku kejutann ulang tahun di siang hari, Kalian tau gak, aku hampir saja mati kaget oleh ulah kalian, mematikan semua telpon, tidak menjemput ku, membuat suasana rumah seakan tidak berpenghuni, kalian jahat tau gak, kalian gak mikirin prasaan aku dulu" ucap Dinda tersedu menangis di depan semua nya, dan semua nya terdiam termask kedua orang tua Dinda.
Yang tidak bisa memeluk sang putri karena di tolak oleh Dinda.
"Untung guru aku yang berniat ajak Dinda nebeng dan bantuinn Dinda nyari kalian semua, Dinda Kira kalian di rampok dan di bunuh di rumah ini, tau gak kalian, aku Benci hari ulang tahun, karena bagi hidup ku perayaan ulang tahun itu tidak penah ada, orang tua yang tidak pernah hadir, kecelakaan, dan juga hari ini, tidak ada orang yang meraya kan hari ulang tahun di siang hari" ucap Dinda keluar dari kamar milik nya.
kedua orang tua Dinda tercengang dengan ucapan Dinda, yang membuat mereka ikut sedih mendengar nya, mereka salah sesalah salah nya.
Saat ingin mengejar, sang guru menahan mereka, m'af buk pak, untuk sementara biar kan Dinda tenang dan saya yana akan membujuk nya, ma'af buksn ingin ikut campur tapi saya orang yang sudah lama dekat dengan Dinda, bahkan sebelu kecelakaan terjadi" ucap sang guru berlalu dan kedua orang tua Dinda menyetujui nya.
Apa lagi ayah Dinda yang demen dengan sang guru tamoan itu menjadi menantu nya.
"Iya nak, silakan tenang kan Inda" setuju sang ayah dan mempersilakan Sang guru mengejar Dinda.
Sang guru mencari keberadaan Dinda sambil memanggil nama Dinda.
"Din...Dinn...Dinnn?" panggil sang guru kepada murid nya yang saat ini belum terlihat sosok hmgadis cantik itu.
"Iya pakkk, Dinda di sini"Saut suara yang berasal dari kolam renang luas nan mega itu..
"Dinn ngpain kamu di sini??" tanya sang guru menghampiri Dinda yang duduk di oinggir kolam renang, dengan melepas sepatu nya, lalu memasuk kan kaki tanpa alas itu ke kolam renang, dengan air kolam rebang yang mengalir dari atas seperti ada mata air nya.
"Ya menenang kan pikiran la pak, kesal Dinda sama orang tua begitu, masa ukang tahu di kasih kejutan siang hari, malah ukang tahun Dinda tun nanti malam pak, bekum sekarang" ucap Dinda yang masih beta duduk di pinggiran kolam renang dengan sang guru berdiri di samping nya.
"Duduk dong pak, bairin aja mereka merenung kan kesalahan fatal mereka itu, yang membuat Dinda hampir mati, gara-gara ulah mereka yang tidak masuk akal.
ketahuann banget orangbGua Dinda tidsk pernah merayakan ulang tahun, Mbok Darmi lagi pake acara diam aja, gak bilang apa sama majikan yang kurang pengetahuan gitu" omel Dinda.
Dan ternyata orang tua Dinda mengikuti sang guru dan mendengar percakapan di kolqm renang.
Dan cukup tenang, karena Dinda tidak terlalu marah hanya saja Dinda kesal dengan ulah aneh yang di lakukan mereka, Mereka berdua pun pergi perlahan agar tidak ketahuan oleh Dinda, klau tidak bisa di omelin habis-habisan orang tua nya yang buat Dinda cemar bukan kepalang itu.
"Pak mkasih udah mau antar dan bantuin Dinda hari ini, Bapak mau pulang dulu juga gak papa. ucap Dinda yang menjizin kan sang guru pulang.
Kamu ngusir bapak karena kamu mau meraya kan ulang tahun dan tidak ingin lagi meraya kan nya bersama ku" ucap sang guru yang tidak lagi pake embel-embel pak.
"Apaan sih pak ngomong gitu, gak lucu" ucap Dinda dengan muka serius...
"Memang aku lagi tidak melucu Din dan aku belum mau pulang sekarang biar aku makan di sini saja" ucap sang guru.
"Besok kamu ujian dan jangan lupa belajar.lupa kan masalah hari ini, dan habis ujian aku akan ajak kamu ke suatu tempat untuk merayakan ulang tahun mu, sebagai hadiah ulang tahun mu" ucap Pak Gibran.
"Pak, cuma satu yang mau Dinda sampai kan kepada bapak" dan akan Dinda sampai kan hingga akhir dan jangan memotong nya." ucap Dinda yang ingin mecerita kan serius tentang apa yang selama ini dia pendam...
"Ok kata kan, aku akan dengar kan kamu hingga selesai" jawab sang guru mendekat ke arah Dinda yang juga berniat memasuk kan kaki ke kolam renang itu, dengan melepas sepatu nya..
"Mau ngapain bapak?" tanya Dinda yang melihat sang guru melepas sepatu dan menyingsing kan kaki celana panjang milik nya..
"Beneran bapak mau dengar" tanya Dinda kepada sang guru tqmpan itu.
"Iya beneran, memang kenapa?" tanya kembali ang guru yang kini belum juga duduk.
"Ok, kita jangan di sini cerita nya, ayok ikut!!" ucap Dinda menarik tangan sang guru ke halaman belakang yang terlihat cukup terpencil namun terpisah dari halaman belakang lain nya, terlihat seperti tempat rahasia dengan melewati pintu taman itu sendiri, tanpa melewati taman kuas yang di luar sana.
"Duduk" uca Dinda mempersilakan sang guru duduk di satu buah pohon cukup besar dengan di bawah nya beralas kan tikar terbuat dari bambu namun di modif lebih mewah dan benar-benar indah tempat itu.
"Ini tempat rahasia kamu?" tebak sang guru yang melihat sekwliling, memang agak tertutup dsn tidak ada yang bisa mengintip atau oun masuk secara tiba-tiba ke sana, dengan ointu yang hanya bisa di buka oleh orang tertentu.
"Iyaaa" ucap Dinda,lalu ke sebuah kotak besar, dan dia membuka nya tenyata ada tempat makanan juga di sana dan juga minuman, lebih tepat nya seperti kukkas namun terdapat makanna hangat di sana..
Dinda membawa semua isi kotak itu, lalu meletak kan di atas tempat duduk mereka, dengan bermacam-macam makanan.
lalu Dinda pun ikut duduk.
"Kita akan cerita sambil makan pak, karena Dinda cukup lapar, dan satu lagi pak, tolong jangan bahas masalah pacar bapak di sini oke, hanya Dinda yang cerita, bapak mendengar kan semua nya" ucap Dinda mulai membuka makanan dsn mwlahap nya.
"Pacar??"Tanya sang guru singkat.
"Iya pacar bapak yang waktu dulu datang ke rumah bapak waktu masih bertetangga sma Dinda, dsn masak setip hari buat bapak, dan bapak mencium kening pacar bapak deoan Dinda tanpa rasa bersalah itu" curhat Dinda agak kesal dengan memasuk kan makanan itu ke mulut nya dengan banyak, tanpa menatap ke arah sang guru.
Namun sang guru menatap dalam ke arah Dinda sambil tersenyum.
"Kamu cemburu??" Tnya sang guru masih dengan tatapan dalam nya.
"Dimda tidak punya hak untuk cemburu pak, Dinda hanya murid bapak. dsn sekarang Dinda mulai melupa kan itu semua, dan fokus kepada pendidikan seperti kata bapak dulu, karena remaja seumuran kamu masih sangat rentan dengan nama nya perasaan.dan juga belum menuju serius, karena perjalanan kami masih panjang, jadi kenangan dan rasa yeng pernah singgah, harap di hilang kan walau pun cukup sulit." ucap Dinda yang terus melahap makanna itu.
"Kamu berhak cemburu pada ku, aku suka itu" ucap jujur sang guru, membuat Dinda menoleh dengan makanan yang masih penuh di mulut nya dan terlihat mengelembung.
"Apa maksud bapak" ucap Dinda sambil mengunya makann di mulut nya...
"Karena sebelum kecelakaan bapak punya rasa yang beda sama kamu, lebih tepat nya rasa seorang pria dewasa terhadap wanita yang dia sukai, dsn tentang perasaan rentan itu, Karena Aku tidak ingin kamu menyukai pria lain, apa lagi murid-murid di sekolah, dulu bapak Lihat Aldo yang menyimpan rasa itu pada mu, dsn bapak merasa tersaingi, namun sejak Aldo punya kasus, perasaan was-was itu hilang." ucap jujur sang guru tampan itu.
Yang sangat sulit Dinda percaya, seorang guru yang menjadi tipe ideal seorang Dinda, menyimoan rasa sedalam itu terhadap dirinya, yang selama ini hanya bisa membayang kan lewat hayalan Dinda saja...
"Ha ..ha..ha.." tawa Dinda yang benar-benar tidak percaya dengan itu. dan mengagap sang guru bercanda terhadap nya, karena srlama ini sang guru mungkin tau dia menyukai nya, jadi sang guru memoermain kan oerasaan gadis muda yang belum pernah pacaran itu, apa lagi yang Dinda tau sang guru sudah punya kekasih yang cantik dan mudah..
"Pak tolong jangan bercanda pada ku terlalu seperti ini" ucap Dinda Merasa sang guru terlalu mereme kan diri nya.
pak Gibran mengeluar kan hp dari saku nya, lalu membuka Galeri hP mikik nya lalu memoerlihat kan keoada Dinda beberapa buah foto.
"Ini, coba lihat" ucap pak Gubran memberi hp milik nya kepada Dinda.
"Hahhh jadi cewek itu juga masih SMA dan sudah pernah foto bareng keluaga bapak, jadi bapak sudah sedekat itu, malah bilang suka sama Dinda tanpa rasa malu" ucap Dinda mukai memukul sang guru.
Sang Guru menahan tangan Dinda agar tidak berlarut memukul dan menyalakan dia, dengan tuduhan yang belum jelas dan belum menjelas kan dengan sebenar nya.
"Dinda dengar dulu penjelasan ku" ucap sang guru menahan tangan Dinda agar tidak terus memukul nya.
"Apa ..apa yang mau bapak jelas kan, di sini malah lebih jelas bukti nya" jawab Dinda tak mau kala dan tidak ingin mendengar kan penjelasan dari guru tampan itu...
"Dinda..!!! itu adik kandung aku, calon adik ipar kamu, ngerti" ucap sang guru mnegas kan dan membuat jantung Dinda deg degkan.
"Ap..apa..?? Adik ip.p..par" ucap Dinda Gugup, dan membuang pandangan nya kembali ke makanan dan memskan makanan itu sampai tersedak.
"Uhukk..uhukkk...???"Dinda menepuk-nepuk dada nya dan ungin mengambil air.
Sang guru pun dengan sigap mengambil air minum dan tisu untuk Dinda.
"Hati-hati Din, bahaya loh tesedak makanan, ucap sang guru mengelus punggung Dinda.
"Bapak sih, pake bikin acara Dinda tersedak, dengan ucapan bapak.
"La kenapa aku sih Din... kan cuma ngomongin adik ipar, kan nanti akan jadi ipar kamu kalau kita nikah" ucap PeDe sang guru sambil tersenyum menggoda Dinda yang muka nya mulai memerah.
"Apaan sih pak, kayak Dinda mau aja nikah sama Bapak" ucap Dinda bercanda, namun sang guru merasa di tolak oleh Dinda, dan raut muka ssng guru tampan itu terlihat cukup sedih dan diam..
Dinda menoleh dan melihat ekspresi itu dan menyentuh tangan sang guru yang kini mulai memenuhi setiap ruang Di hati Dinda..
"Heiii" sentuh Dinda lembut kepada sang calon kekasih.
"Memang aku terlalu tua dan tidak pantas ya Din menjadi pasangan mu lagi, karena masih banyak pria-pria kaya di luar sana yang pasti nya menubggu dan mengejar mu nanti nya, apa lagi kamu anak orang kaya, masa depan mu jelas Din, sedang kan aku hanya seorang guru dan tidak punya apapun seperti kamu" ucap sang guru dengan muka sedih nya.