
Dengan penuh kecangungan mereka membawa mangkok dsn piring ke meja makan sang guru, lalu Dinda membuka dan menuang kan ke dalam piring tersebut...
"Kenapa belum duduk pak, biar Dinda yang saipin makanan nya, bapak makan aja" ucap Dinda..
"Makan nya enak gak pake sendok kan" saut sang guru, dan Dinda pun pergi ke arah dapur kembali mengambil air untuk sang guru mencuci tangan nya...
Dinda melayani sang guru, seperti seorang istri yang baik. mereka menyadari itu, Saat Dinda sibuk modar mandir mengabil persiapan sang guru untuk makan, dan Pak gibran duduk manis di meja makan tersebut...
Mereka semakin canggung saat menyadari itu kedaan mereka sekarang.
"Ayo kita makan" ucap sang guru menawar kan Dinda yang sibuk melayani dia...
Gak usah pak, biar Dinda makan di rumah aja, itu memang khusus untuk bapak kok" jawab Dinda, menatap sang guru yang mulai menikati hidangan tersebut sendir,
"Kamu mau,?? buruan ambil piring nya biar bisa makan, kalau nanti, ya nanti aja kamu pikir kan lagi" ucap pak Gibran yang melihat Dinda menatap nya makan..
" Kakau gak mau makan duduk aja dulu sini" ucap sang huru menepuk kursi di sebelah dia.
Tnapa mengeluar kan suara apa-apa, Dinda pun langsung duduk di samping sang guru dengan cukup canggung...
"Nih..." pak Gibran dengan sengaja mengangkat satu suapan ke depan Dinda Dan Dinda menggeleng namun dia masih menaatap makanan di tangan sang guru yang masih betah di depan mulut nya...
"Happp..." Dinda langsung melahap habis nasi di tangan pak Gibran dengan lahap nya.
Sang guru tersenyum yang melihat Dinda tersenyum malu dengan apa yang mereka lakukan...
"Enak kan makanan nya" tanya sang guru menatap Dinda yang lahap memakan dan mengunya nasi itu..
"Iya enak pak" ucap Dinda menatap piring sang guru yang masih banyak isi nya itu..
Sang guru sadar kalau Dinda masih ingin makan dan Kembali sang guru menyuapi gadis kecil dan begitu cantik itu.
Pak Gibran mungin sudsh lupa dengan status guru dan sikap dingin dan angkunnya, sampai-samoai guru tersebut, begitu asik menyuapi murid nya yang menerima perlakuann romantis dari guru nya tersebut..
Kini mereka sudah selesai dengan acara makan-makan dan suap-suapan nya, dan Dinda membersi kan bekas makan mereka dengan di bantu kan oleh pak Gibran...
"Sering-sering aja bawak kan bapak makan , biar gak masak," ucap dengan nada candaan namun serius dari sang guru...
"Beneran pak, kalau gitu biar Dinda bawak kan tiap hari ya pak" jawab Dinda semangat dan berharap bisa melakukan itu tiap hari.
"Tidak usah Din, bapak cuma bercanda aja kok, ada kok yang biasa masak ke sini untuk bapak" ucap sang guru dengan serius" Tapi Dinda menangkap maksud lain dari ucapan sang guru.
"Ada yang masak tiap hari ke sini buat bapak" tanya Dinda dengan mengerut kan alis nya penasaran,
"Iya ada, sebenar lagi juga dia datang, biasa nya dia lebih awal datang taoi hari ini bapak bilang kalau ada yang bawain bpak makanan, jadi dia ahak terlambat datang" ucap sang guru, membuat Dinda sedikit penasaran siapa gerangan yang biasa memasak untuk sang guru tersebut...
Saat kebingungan melanda hati Dinda satubsuara mengejut kan Dinda...
"Ting..tong..ting..tong..." Dan pintu pun terbuka dengan sediri nya, tanpa sang guru yang membuka nya, seorang gadis mudah yang pernah Dinda lihat dulu, bersama sang guru, yang pernah datang ke sekolah, dsn sang guru begitu terlihat bahagia bersama Dia....
"Haiiii... aku Alin... Kamu Dinda murid nya cowok tampan ini kan" ucap gadis itu membuat Dinda merasa di oermai kan dsn di manfaatin sang guru.
"Iya...saya murid nya, Ohhhh ternyata Bapak sudah memberi tahu ands tentang saya," ucap Dinda kurang menyenang kan, Kakau gitu, karena anda sudah datang, saya permisi." ucap Dinda tanoa menoleh kepada sang guru lalu keluar dari rumah itu tanpa membawa tempat makanan tadi...
Saat Dinda sudah berada di luar rumah, Dinda menetes kan bulir bening dari mata nya, ternyata hanya dia yang selama ininterlalu berharap dan merasa sang guru punya perasaannpada nya, ternyata semua salah, Dinda tidak lain hanya seorang murid Biasa yang membantu membawa kan makanan Untuk sang guru.
Dinda kembali ke rumah dengan mata yang sedikt sembab lalu masuk ke kamar milik nya, tanpa menyapa menoleh kepada kedua orang Tua nya yang kini berada di ruang tamu, Mereka Tidsk juga memanggil Dinda, karena orang Tua Dinda merasa Tidak ada yang aneh dengan putri mereka, sudah biasa bersikap cuek seperti itu kepada orang tua nya.
Dinda sudah berada di kamar mewah milik nya lalu membaring kan tubuh di ranjang mewah nan luas itu namun pikiran nya kemana-mana, tentang kehadiran sang gadis mudah yang selaku menjadi Aldalan sang guru untuk memasak makanan untuk nya, malah tiap hari...
"Dinda...!!! berhenti lah memikir kan itu, bukan nya dari dulu juga kamu pernah melihat gadis itu dekat dengan pak Gibran, lalu apa lagi yang kamu cari tau, jelas-jelas pak Gibran memeluk dan mencium gadis itu dengan lembut di depan kamu, sudah pasti itu gadis special untuk nya dan yang pasti bukan kamu" Gumam Dinda, membolak-balik kan tubuh nya di atas ranjang itu.
Dinda saat ini bemar-benar merasa kalau Tidak ada harapan apa pun untuk hati nya, Karena sang guru sudah punya pasangan, dan dia harus berhenti berharap dengan semua itu, dan juga harus fokus dengan belajar menghadapi ujian akhir.
"Benar kata pak gibran itu dulu, jangan terlalu memikir kan tentang-tengang cinta, karena akan menganggu fokus belajar dan saat ini harus melupa kan tentang cinta-cintaan dan konsent, belajar dan melulus kan pendidikan setinggi mungkin, dan perhatian dan kata-kata ambigu yang dulu aku dengar dari pak Gibran itu,cuma salah paham dan salah cara ku mengarti kan nya, karena mengira pak Gibran punya rasa yang lebih pada ku." ucap Dinda bangunn dari ranjang nya dan masuk ke kamar mandi
Dan membersikan tubuh nya, langsung mandi, untuk menyegar kan otak Dinda yang cukup penat itu, karena tidak mudah menghilang kan perasaan yang lama hidup di hati nya namun bertepuk sebelah tangan tersebut...
Di rumah Pak Giran, gadis yang bernama Alin itu, bernyanyi dengan gembira, dan kesana ke mari mengambil beberapa bahan untuk memasak, sebagai pesiapaan makan malam sang kakak tampan nya, Ya... gadis mudah yang Dinda cemburuin itu adalah adik bungsu, dari seorang Guru tampan yang di kagumi Dinda, Mungki sang adiik ingin mengetes Dinda, dan perasaan gadis mudah yang dekat dengan kakak nya itu.
Dia dengan asik memasak, karena di sekolah dia masuk ke bidang masak me masak, Jadi memasak adalah slah satu kegemaran gadis mudah nan cantik itu..
Satu jam berlalu, semau masakan sudah siap dan si simpan di tempat pemanasan makanan di rumah sang kakak, agar makanan selalu hangat untuk di nikmati, dan ada juga beberapa kue dsn vemilan yang dia siap kan untuk kakak tersayang, agar tidak kelaparan, dan jajan sembarangan di luar, atau sekedar makan mie instan atau memesan makanan yang belum tentu kehegenisan nya.
"Kak" oanggil Alin, kepada sang kakak yang duduk santai sambil membaca buku di ruang Tamu.
"Ya ada apa sayang" ucap sang kakak yang tak menoleh kepada Alin yang berdiri di depan nya.
Tadi yang ke sini itu, gadis yang kakak ceritain pernah ada di masa lalu kakak saat kecelakaan bukan" tanya nya.
"Iya.. kenpa emag," tanya balik Gibran kepada adik nya.
"Memang kakak Tidsk menyadari ekspresi wajah cemburu nya saat Kakkk meluk dan cium Alin tadi, dsn dia langsung oulang tanpa menatap kakak kan" tanya sang adik..
"Iya kakak menyadari itu, dsn ingin melihat lebih jauh tentang perasaan dia yang sebenar nya" ucap Gibran menatap sang adik dengan serius,...
"Emang sudah siap makanan nya, bawak sini dong, kakak mau cicip" ucao Gibran, lalu sang adik Gibran yang masih duduk di kelas satu SMA itu pergi ke dapur untuk mengambil beberapa potong kue untuk kakak nya...
"ini... coba di cicip dulu dan pastinya sangat enak seperti biasa" ucap sang adik sambil meletak kan kue itu, dan langsung di sambut oleh tangan besar kaakak nya dan langsung melahap satu kue yang masih cukup hangat itu...
Satu Hari berlalu, Kini malam mulai menampak kan sinar rembulan yang terang, menerangi bumi yang penuh dengan kegelisaan hati umat manusia nya, tak terkecuali Dinda dan sang guru tampan yang terlihat santai namun terikir kan tentang Dinda yang cemburu, seperti kata sang adik nya tadi.
"Apa Dinda benar-benar terlihat cemburu tadi, sebenar nya aku memang sengaja melakukan itu di depan nya, mau melihat ekspresi nya, tapi aku malah tidak sempat melihat itu dan terlalu Fokus pada Alin yang datang, jauh-jauh untuk ku, dsn memasak untuk kaakak nya ini" gumam Oria dewasa yang duduk di ranjang luas nya saat ini..
"Aku penasaran melihat ekspresi nya besok" ucap Sang guru dengan muka serius itu.