
Dua bulan berlalu, kini hari-hati menuju pernikahan Dinda dan Gibran, seorang anak pengusaha terbesar dsn terkaya kota itu, Dan Gibran termasuk pengusaha termudah di kota itu, nama nya mulai di kenal banyak kalangan pengusaha.
Dan pasti nya di kalangan anak-anak gadis yang mengincar pria kaya nan tampan.
.Seperti di negri dongeng, kabar pernikahan Dinda seorang anak gadis berusia tujuh belas tahun, dan baru tamat SMA.
Menikah dengan seorang pengusaha kaya raya di kota itu, dan seorang sarjana S2, tampan dan mapan itu.
Banyak yang memuji pernikahan mereka dan banyak juga yang tidak suka karena Gibran menikahi gadis yang masih sangat mudah itu.
Banyak mengata kan bahwa Dinda yang mengoda Gibran duluan dan merayu Gibran supaya bisa menikah dengan nya, dsn juga banyak yang memuji Dinda, karena dia gadis baik sehingga sangat wajar mendapat kan pria baik, tampan dan mapan itu...
Banyak nya kabar yang beredar membuat Dinda sedikit terganggu namun tak berniat menanggapi itu, dan Dinda hanya konsent dengan persiapan pernikahan nya yang terhitung beberapa hari lagi itu.
Namun berbeda dengan Gibran yang tidak menerimah komntar negatif tentang calon istri yang sangat di cintai itu.
Sehingga Gibran membuat sayembara kecil, bagi orang yang bisa menemukan para penyebar Gosip tentang istri nya, akan di beri kan beberapa uang untuk hadiah...
Mendengar itu, banyak yang berlomba-lomba mencari siapa penyebab gosip-gosip itu beredar, Dan tanpak nya sayembara itu sangat berguna. membuat gosip yang selama ini menyebar cepat, Kini mulai meredup dsn mwnjelang pernikahan mereka, gosip iyu lenyap tak tersisa.
Media-media yang yang pernah ikut menyebar gosip itu oun kini ikut lenyap tak tau kemana.
Memang ketika uang yang berkata, semua hal yang tidak di sukai bisa lenyap begitu gampang nya.
Dan ini hari di mana Dinda dan Gibran melangsung kan pernikahan mereka dengan sakral. dsn janji suci mereka telah di uvap kan di depan tuhan, dengan hikmat..
Acara itu punn berlangsung dengan sangat meriah dengan kemewahan dari dua bwlah oiahk membuat mereka tidak merasa rugi atau berhutang hanya untuk acara anak kesayangan mereka.
Dinda dan Gibran tersenyum bahagia, dan terus memancar kan sinar bahagia di wajah dua insan ini....
Acara mereka berlangsung sangat meria dsn di hadiri banyak kalangan bisnis kedua orang Tua Dinda dan Gibran, dan juga dari teman sekolah serta kerabat kantor mereka..
Acara berlangsung selama satu minggu, sampai-samapai Mereka menyiap kan menginapan hotel mewah untuk undangan yang datang, dan tidak ingin pulang, karena acara meriah itu cukup lama di ada kan..
Hari-kehari acara itu semakin meria dan banyak hadiah-hadiah mewah yang tersediah bagi tamu yang datang ke acara pernikahan Dinda dan Gibran...
Kini seminggu berlalu acara pernikahan Dinda dsn Gibran akhir nya usai juga, dan keluarga mereka cukup kelelahan. samapi-samapi harus beristirahat cukup lama. di rumah masing-masing.
Begitu juga dengan Dinda dan Gibran, yang belum memikir kan tentang atau merencana kan malu bulan madu kemana, dan pasti nya untuk malam pertama pun, mereka belum melakukan apa pun.
Mungkin sekitar tiga hari, mereka harus memulih kan tenaga dan kesehatan yang cukup terkuras dengan acara yang mereka ada kan selama seminggu itu.....
Pagi yang cerah, Dinda bangun lebih awal dari dua hari sebelum nya, Karena kondisi tubuh Dinda sudah cukup kuat.
Dinda menoleh ke belakang punggung nya, ingin melihat wajah sang suami yang masih tertidur pulas dan penasaran dengan wajah sang suami jika tidur.
Karena sudah Dua malam ini, Dinda selau bangun siang hari dan Gibran sudah bangun duluan dengan tampang segar Gibran.
Dinda menoleh pelan berharap sang suami masih terlelap tidur.
Namunnn, saat Dinda bangun dan menoleh ke arah sang suami, ternyata Gibran sudah lama bangun dan menatap Dinda sudah cukup lama dan sangat dekat dengan dada telan jang nya...
Dinda kaget, karena wajah nya menabrak dada telan jang milik suami nya. kemudian menatap sang suami yang sangat dekat dengan nya.
Wajah cantik Sinda langsung memerah dan ingin bangunndari ranjang itu untuk menghindari sang suami.
.Namunn saat Dinda baru membalik kan tubuh ke arah Lain, Gibran menarik Tangan Dinda lalu meni ndih Dinda, dengan kedua tangan Dinda di tarok di atas kepala Dinda.
"Greppop" tangkapan pas pada lengan Dinda yang di lakukan oleh sang suami dan langsung menin dih tubuh sintal milik Dinda.
"Ahhh.. mas kamu apa-apaan sih" ucap Dinda yang tidak berani menatap mata Sang suami.
"Tatap aku sayang" ucap Gibran dengan napas besar dan seperti ada yang tertahan di dalam sana..
Dinda masih saja beta dengan menatap ke arah lain untuk menghindari kontak mata Sang suami dan juga mengalih kan rasa gugup yang Dinda rasa kan saat ini.
Gibran tak putus asa, dia menarik pelan dagu sang istri untuk menoleh pada nya. namun Dinda masih berusaha tidak menatap sang suami begitu saja, dengan wajah yang tambah memerah.
Namun Sang suami tidak kehilangan akal untuk bisa membuat sang istri menatap diri nya secara langsung tanpa Gibran memaksa nya.
Denagn masih menahan tangan Dinda dengan satu tangan besar nya, Gibran menurun kan tangan satu nya menuju pakaian tidur dinda, lakj memasuk kan tangan ke dalam baju tipis milik sang istri.
Karena merasa sang suami punya cara lain, Dinda langsung menoleh dan berkata, "apa yang kamu lakukan mas" ucap Dinda mengagkat wajah menatap sang suami.
Dan sang suami tak memberi Dinda kesempatan untuk berbicara lebih banyak.
Satu sambaran luma tan bib ir Gibran sangat cepat, sehingga Dinda tidak ada persiapan apa pun dan hanya menerima ***** an itu dengan melotot kan mata.
Dan membuat tubuh Dinda bergerak tidak karuan, Karena tangan sang suami yang sudsh mulai aktif di da lam baju milik Dinda.
Tangan besar itu seperti nya mencari buah segar yang tumbuh di perkarangan itu.
Sang suami sudah menemu kan Buah yang tumbuh cukup besar dan subur itu lalu berusaha menggapai buah yang belum pernah di jama manusia tersebut..
Sang suami mulai meraba dan mere mas buah itu dan memilin put ing buah tersebut.
Ehhhhh..ehhhh..ehhhh.." di sela-sela ***** an Bib ir dari sang suami Dinda merengek manja, seakan memanggil pentungan besar milik Gibran Untuk mencari sarang yang tepat.
Melihat reaksi Dinda yang pas srah terhadap perlakuan sang suami, Sang suami pun semakin bersemangat untuk merem asa buah segar yang tumbuh segar di perkarangan Dinda dan melepas kan lum atan di bib ir sang istri... .
Ma..masss..!!! Emmmm.. hen.. henti kan" ucap Dinda dengan rengekan manja seperti memanggil sang suami agar semakin gencar menjamah buah segar di perkarangan Dinda.
Sang suami menatap sayu mata sang intri saat Sang suami masih aktif beraktifitas....
Melihat reaksi seksi Dinda, sang suami semskin gencar dan terus melakukan pengecekan oada buah segar yang tumbuh subur di perkarangan Dinda itu.
Dengan Tidsk sabaran sang Suami, Dia mengangkat baju sang istri hingga da da. dan membuat sang suami semakin tertutup akal sehat nya dan mela hap buah segar itu sesegerah mungkin.
Hal yang di lakukan Gibran terhadap tub huh Dinda, membuat Dinda mendongak kan kepala nya ke ata dengan menutup mata dan mukut Dinda sedikit terbuka...
"Ahhhh... ahhhh..." Saat put ing sus u Dinda sudah berada di dalam mulut Gibran. dengan em utan dan hisa pan yang cukup membuat degup jantung Dinda semakin berdegup kencang...
Cukup lama itu berlangsung, dan nafas mereka terengah-engah karena merasa sedikit lelah, dengan aktifitas baru mereka...
"Sayang kamu sudsh merasa lelah, padahal ke inti yang sebenar nya" bisik Gibran membuat Dinda semakin malu, namun rasa malu itu tidak berguna lagi saat sang suami sudah mengecek semua area kepunyaan Dinda...
Hanya bagain sawah yang basah saja yang belum Gibran Lakukan pengecekan.
Karena Gibran tidak ingin langsung dan tidak mau sang istri kaget dengan aktifitas pertama mereka itu...
Gibran ingin mengajari dulu sang istri kecil nya secara perlahan agar sang istri terbiasa dan tidak terlalu takut jika mereka sudah siap bersatu nanti......
Mendengar bisikan nak kal suami nya, Dinda mebalik kan tubuh membelakangi Sang suami dsn menarik kembali ke bawah baju yang tadi terangkat hingga dad ah...
Namun karena sang suami masih belum pu as
.., Gibrannmendekat kan dan merapat kan tubuh kekar nya ke tubuh sang istri dan menekan-nekan pentungan besar yang sudah membesar it, Karena aktifitas mereka tadi.
Dan juga rengekan man njha sang istri kecil nya...
"Mas...." ucap Dinda pelan, saat merasakan pentungan besar itu menabrak-nabrak Pan tat mon thok milik Dinda.
"Iya sayang ada apa" ucap sang suami seakan tidak tau kenapa Dinda memanggil nya tersebut...
"Ada apa sih???" ucap kembali Gibran sambil merayap kan tangan di dalam selimut tebal milik mereka, mengelitik perut rata milik sang istri...
"Ihhhh mass... apa-apaan si kamu, glitik-gkitikin aku" ucap Dinda berusaha menghindar dan melepas kan tangan bessar itu dari perut rata milik nya...
Dan Dinda memaaksa kanndiri untuk bangun dari ranjang itu menghindari sikap sang suami yang begitu nakal pagi ini...
Saat sang suami ingin menangkap Dinda, Dinda sudah terbirit-birit lari dan menjauh dari jangkaun sang suami...
Dinda mendekat ke arah pintu kamar mandi lalu mengejek sang suami...
"Dasar Pria mes um, pria gatal, pria nakal..... Wekkkkk" ucap Dinda mengejek dsn menjukur kan lidah pada sang suami dari pintu kamar mandi mereka.
Melihat sikap istri kecil nya yang mengejek dari kejauhan, membuat Gibran gemes dan ingin segerah memakan Dinda saat ini juga.
Gibran ikut berdiri dan ingin menangkap Dimda, Namun Dinda dengan sigap masuk ke kmara mandi dsn menutup pintu kamar mandi tersebut dengan cepat..
Melihat itu, Gibran tersenyum miring.
"Ohhh sayang, aku benar-benar tidak bisa membuka pintu kamar mandi ini, tapi aku begitu sangat ingin memakan mu saat ini juga" ucap Gibran mendekat ke arah Pintu kamar mandi dan bersandar di sana, hanya dengan memakai celana pendek dan ketat, memperlihat dengan jelas isi dari celana ketat itu, yang sangat besar...
Mendengar ucapan sang suami dari luar, membuat Dinda berpikir, apa kah kamar mandi ini bisa di buka dari luar dan punya kunci lain, tapi pintu kamar mandi itu terkunci dengan kunci manual, dan tidak akan bisa di buka jika bukan Dinda yang membuka nya dari luar.
Dinda pun kembali ke pikiran jernih nya, bahwa pintu tersebut tidak mungkin bisa di buka dari luar, dan sang suami mungkin hanya bergurau dengan sindiran nya itu.
Dinda cuek lalu menghadap ke wastafel untuk mencuci muka di sana.
Beberapa detik saja Dinda mencuci muka, lalu ada suara" Tek...!!!" namun Dinda tidak perduli dengan suara itu dan tidsk berpikir apa pun, dia masih saja asik mencuci muka nya..
"Kreeekkk..." pintu kamar mandi terbuka dengan dengan Gibran yang masuk ke sana. dan "Kreekk..!!" Pintu kamar mandi kembali di tutup dan di kunci
membuat Dinda menelaah suara itu berasal dari mana, dan saat ini muka Dinda masih di penuhi busa sabun muka...
"Suara apaan sih" uca Dinda mulai membilas muka nya, dan melihat kangsung dari kaca bahwa sang suami sudah berada di belakang pan Tat nya..
"Greppp..." Gibran langsung memeluk sang istri dari belakang dengan cukup mesrah..
"Ahhhhhkkkk" teriak Dinds yang kaget, kenapa sang suami ads di dalam kamar mandi itu juga padahal semua sudsh di kunci...
Dan Gibran kangsung mebalik kan tubuh sang istri menghadap diri nya.
"Mas...mas... mas..., lepasin deh" ucap Dinda bergerak kecil saat tubuh nya sudah di hadap ken ke arah Sng suami..
"Ohh... gitu kalau sudah dapat, seakan tidak merasa bersalah karena sudah mengata-ngatain suami mu tadi" ucap sang suami tambah erat memeluk Dinda hingga gubuh mereka rapat dan Dinda bisa merasakan pentungan besar tersebut menempel ke arah perut Dimda...
"Igghhhh" teriak Dinda geli dengam pentungan besar itu lalu berusaha melepas kan dekapan sang suami.
"Masss lepasin aku pengap nih, gak bisa nafas, bohong Dinda dan ingin terlepas dari pelukan sang suami...
Mendengar ucapan istri nya, Gibran segerah melepas kan pengangan erat dari tubuh sang istri dan tidak mau istri nya sampai kehabisan nafas, karena pelukan dia yang cukup erat tersebut.
Terlepas dari pelukan sang suami, agar tidak kembali di peluk, Dinda belura-pura menarik nafas sebyak-bnyak nya. agar sang suami tidak lagi memekuk diri nya.
"Ma'af sayang, mungkin karena terlalu bersemangat hingga aku tidak menyadari jika kamu sesak tadi. sungguh ma'af kan aku tidak bisa mengotrol" ucap Gibran kepada sang istri dan Dinda pun yesenyum nendengar ucapan sang suami yang sunggu-,suggu itu.