
Kini Dinda sudah berada Di rumah mewah miliknya, dengan di dampingi kedua otang tua dan juga mbok Darmi.., kedua orang Tua Dinda memapah sang putri untuk naik ke kamar di lantai Dua..
"Sayang.. mama temenin Dinda ya, mama kangen banget sama Dinda" ucap mama Dinda yang membantu Dinda duduk lalu membaring kan tubuh Dinda di ranjang luas miliknya...
"Dinda masih membisu seribu bahasa, tak berniat membalas atau pun menatap kedua orang tuanya...... kini beberapa jam berlalu, Saat mau kemana-mana pun Dia selalu memanggil Mbok Darmi..
Walau mamanya selalu mengekor Mbok Darmi dsn Dinda..
mbok Dsrmi benar-benar tidsk enak hati dengan dirinya sendiri, karena anak majikannya lebih memerlu kan Dia dari pada kesua orang Tua yang berada di sampingnya sekarang...
Namun mbok Darmi sangat mengerti akan sangat kecewanya Dinda yang di perlakukan oleh kedua orang tuanya sejak dulu, Hanya uang yang sampai di tangan Dinda, Tidak dengan perhatian dan kehadiran mereeka..
Mungkin Dinda bisa mengerti dengan pekerjaan orang tuanya, Jika saja orang Tua Dinda menyempat kan diri hadir di momen-momen penting anak nya Namun tidak pernah terjadi.
Setiap tahun tidak pernah ada di dekat Dinda dan kini Dinda membeku seperti es, dan memperlakukan orang tuanya seperti tidsk pernah ada..
Orang tua Dinda dan mbok Darmi pun tidak bisa berbuat banyak atas sikap Dinda, Karena itu di sebab kan oleh orang tua Dinda sl Dinda sendiri, Kini mereka merasakan akibat dari ulah mereka sendiri...
Hampir 4 bulan berlalu, Dinda tidak pernah menganggap mereka ada, walau sang mama selalu tidur di samping Dinda, memberi dan memasak terkusus untuk Dinda, Dinda tetap memakan masakan mamanya.. hanya bicara dan menatap mereka Dind tidak pernah lakukan...
Dalam beberapa bulan ini Pun Dinda mencari keberadaan sang guru yang tak pernah terlihat di ruamah biasanya dan juga di sekolah..
Dinda memang sudah masuk sekolah kembali, walau masih di bantu oleh sang mama dan mbok Darmi pastinya yang selalu Dinda andal kan..
Dinda sering menanyakann keberadaan sang guru kepada sahabat-sahabatnya, namun memang informasi tentang sang guru tidak pernah terdengar oleh sekolah tempat dia mengajar...
"Sebenar nya di mana pak Gibran berada, kenapa sangat sulit mendapat informasi dari manapun...Seberapa tertutupnya keluarga pak Gibran tentang kesehatannya, Apa pak Gibran sudah....????, Ah.. tidak mungkin, apa yang kamu oikir kan Dinda, " ucap Dinda bergumam dan bertanya pada diri sendiri tentang gurunya yang sampai sekarang tidak pernah ada kabar sedikit pun
Kini Ujian semester awal di mulai, Karena Dinda dan sahabat-sahabat Dinda sudah kelas tiga, mereka konsentrasi pada ujian yang ingin mereka hadapi... selama Enam bulan ini, Dinda berusaha melupakan sang gurundan tidak berharap lagi,
Hubungan Dinda dan orang Tuanya sampai saat ini masih seperti biasanya ,Walau kesua orang tua Dinda selalu sempat membagi waktu untuknya dan selalu pulang kerumah, Namun Dinda tidak semudah itu menghilang kan rasa sakit dan kecewa dari luka yang di berikan Orang tuanya...
Bukan Dinda tidak senang, akan sikap orang tuanya tapi Dinda memang belum bisa melupakan rasa sakitnya...
Dinda ingin semua berubah secara natural, tanpa paksaan dari siapa pun,begitu juga sikap orang tuanya, sangat natural dsn tidsk pernah memaksa Dinda bersikao baik padanya..
Karena mereka sekarang sangat memahami luka yang di simpan anaknya, yang dari kecil tidak pernah tersentuh kasih sayang, hanya uang...uang... dan uang saja yang datang kepada Dinda...
Saat hari libur Dinda selalu di ajak jalan-jalan dan pastinya mbok Darmi tidak pernah tinggal saat pagi hari sang mama selalu ada, memasak makanan kesukaan Dinda. dan Saat pulang dan pergi sekolah Dinda selalu di antar jemput mamanya...
Mama dan papa Dinda berusaha berinteraksi langsung, walau tidak ada respon dari sang putri, mereka tetap sabar, Karena kesabaran putri mereka selama tujuh belas tahun tidak akan bisa mereka tukar..
Sedang kan mereka baru beberapa bulan menghadapi sikap Dinda yang tidak menganggap mereka ada...
Walau sang sopir sudah kembali bekerja, namun sang mama ingin mengantar langsung outrinya setiap berangkat dan pulang sekolah..
Kini pak udin di jadikan sopir oleh sang ayah untuk pergi bekerja..
Beberapa hari ini menjelang ujian, Dinda sibuk belajar dan sang mama menemani dan memberi semanagat dan juga menjaga Dinda jika mengantuk, menyiap kan cemilan-cemilan kecil untuk sang putri.
Walau tidak ada respon dalam berbicara, Namun apapun yang mamanya siap kan tetap Dinda makan dan hargai itu, itu membuat sang mama sudsh bahagia... Setidaknya Dinda tidak benar-benar menganggapnya hilang dari rumah tersebut......
Pagi pun menjelang, kini sarapan dan buku-buku serta pakaian sekolah dan yang lain, sudsh sang mama siap kan untuk Dinda, untuk mengadapi ujuan mulai hari ini...
Saat sudah siap, Dinda di antar oleh sang mama, dan Tidak lupa mama memberi dia semangat menghadapi ujian dan mengajak Dinda mengobrol... Saat Dinda turun dari mobil, satu kata dari aang mama yang membuat Dinda mengeluar kan Suara emasnya
"Ma'af kan mama Dinda, sungguh ma'af kan Mama, Tidak apa Dinda tidak menganggap mama ada, tapi tolong nak, ma'af kan atas kesalahan dan dosa besar yang tak terma'af kan oleh hati mu nak, samapai mati pun mama akan tetap berusaha untuk Dinda dan berada di dekat kamu nak, tidak akan lagi meninggal kan Dinda seperti dulu..." ucap sang mama sungguh-sungguh dengan isak tangis pilu...
"Pulang lah dan hati-hati" ucap Dinda menutup pintu mobil tanpa menatap sang mama yang sedang menangis...
Mendengar Dinda mengeluarkan suara untuk pertamanya saat Sang mama pulang, Membuat mama Dinda semakin terisak dengan tangis nya.
tangis itu bukan tangis sedih lagi, tapi luapan bahagia, Karena Dinda berkenan mengeluar kan suara emasnya Demi sang mama yang selalu mengecewakan Dirinya...
Dinda menuju kelas melewati lorong sekolah dengn menunduk, Karena Dinda saat ini sedang sedih melihat sang mama menangis terseduh dan meminta ma:af padanya..
Dinda menunduk kan kepala tanpa konsen dengan jakan yang ia lewat kan, beberapa siswa-Siswi yang di tabrak Dinda, namun dia tidak perduli...dan langsung berlalu...
"Jduggg..." Dinda terasa menabrak seseorang yang tinggi dan badan yang keras, Sampai-sampai Dinda jatuh ke lantai, Dinda merintik namun namun dia mengangkat kepala, karena terlihat dari pakian seseorang yang dia tabrak, itu bukan siswi, namun oetugas sekolah atau guru...
"Awwww..." ucap Dinda mengosok-gosok lutut dan kemudian jidatnya, lalu menatap siapa gerangan seseorang Dia tabrak barusan...
Saat melihat wajah orang tersebut, Dinda melotot kaget dan....!!!!!!!...
"Pa..pakkk Gibrannnm..." Sorak Dinda lalu menutup sedikit mulutnya yang cukup keras memanggil sang guru... Dinda langsung berdiri dsn tak lagi menghirau kan rasa sakit di badan nya..
"Pak, Baoak kemana aja selama ini, tenyata bapak masih hi...!!! maksud Dinda bapak sehat dan baik-baik saja..." ucap Dinda tersenyum bahagia.
"apa kamu punya hak sok akrab dengan guru, apa kamu kira semua guru mengenal muridnya," ucap Oak Gibran berlalu dan Dinda masih dengan muka shok dan lesu mendengar ucapan barusan yang keluar dari mulut sang guru, yang selama ini mereka cukup dekat...
"Apa Pak Gibran pura-pura tidak mengenal ku, atau dia tidak mau terlihat mengenal ku waktu di sekolah, apa lagi tadi sikap ku berlebihan, mungkin Dia takut mengundang banyak kecurigaan terhadap kami" gumam Dinda masih dengan beroikir positif lalu berlalu ke kelas untuk menghadapi ujian pertamanya, dengn lutut sedikit memar dan jidat sedikit sakit....
"Dinda....." Panggil sahabat-sahabat Dinda yang satu ruangan ujian bersama Dinda...
"Haiii jugaaa, Semangattt" ucap Dinda bersorak....
"Din, katanya pak Gibran sudsh kembali mengajar di sekolah kita, Tapi berita sedihnya, kabar-kabar yang terendus, Pak Gibran kehilangam ingatannya, dan dia kembali mengajar Di sini benar-benar seperti guru baru, tidak mengenal siapa pun" ucap sahabat Dinda.
Dinda saat ini benar-benar merasa sedih, tadi mungkin masih berpikir positif, tapi sekarang pikiran itu sirnah...
"Pantas tadi pak Gibran tidak mengenal ku, ternyata di kehilangan ingatannya, Tapi dia sudah sangat sehat" ucap Dinda lesu...
"Ia Din, kabarnya seperti itu.Sudsh lah Din, biar kan saja," ucap sahabat Dinda.
"Kini jam ujian sudah di mulai, perasaan was-was cukup meghinggapi Dinda dan para sahabat, Wlaupun baru semester awal,tapi Dinda dan shabat tetap tidak ingin memiliki Nilai jelek untuk ujian pertamanya ini...
Sang pengawas pun masuk sekitar dua orang, yang terlihat satu guru wanita dan satu guru laki-laki..
Dan guru laki-laki itu adalah Pak Gibran, dengan gaya yang kaku dan pandangan tajam dan garang itu, membuat semua murid tak berani berkutik, Karena semua murid tau kalau pak Gibran kehilangan ingatan nya, dan pastinya dia menganggap hari ini hari pertama dia masuk sekolah dan mengenal para murid, pastinya sangat tegas seperti dulu yang tidak pandang bulu untuk menghukum murid-murid yang bandel....
Pak Gibran mulai membagi kan kertas ujian, lalu memeriksa setiap meja muridnya, agar tidak ada kecurangan-kecurangan yang di lakukan mereka...
"Semua nya sudah dapat kertas ujian nya, mulai sekarang kerja kan,"Ucap sang guru tampan itu.
.Semua murid konsetrasi dengan ujian mereka tidak ada satu pun yang berani menoleh atau minta petujuk teman sekelas mereka...
Guru tampan itu berkeliling di dalam kelas, terus memantau dan mengawasi ujian tersebut...
Satu jam berlalu, para siswa siswi mulai satu persatu mengumpul kan hasil ujian mereka, tak tinggal dengan Dinda dan sahabat-sahabat Dinda....
"Din...ternyata pak Gibran kembali ke sikap dia yang dulu ya, malah kayak lebih kaku dari yang dulu..." ucap sahabat Dinda saat jam istirahat...
"Ntah lah, kita tidak perlu membahas Dia lagi, toh di tidak akan kenal dengan kita rerutama aku yang sepat dengan sebagai teman" ucap Dinda dengan nada lesuh....
tapi aku bersukur aja, pak Gibran masih hidup dan sekarang dia baik-baik aja....aku gak nyangka dia selamat, habis dari rumah sakit aku terus mencari tau kabar dia, karena memang kabar pak Gibran hilang seperti di telan bumi,kini tiba--tiba bertemu malah tidak kenal siapa-siapa, dan dia juga tidak perna telihat di rumah itu lagi" ucap Dinda panjang lebar, kepada sahabat -sahabatnya...
"gimana si Din awal mula kecelakaan itu, bukan nya pak Gibran selalu hati-hati dan pelan saat membawa mobil" tanya sahabat Dinda yang baru ingin tau sekarang kejadian itu...
"Memang sangat hati-hati, tapi sore itu pak Gibran mengajak ku untuk menikmati matahari terbenam, untuk merayakan ulang tahun ku... karena selama ini aku sangat ingin melihat itu... dan dia pun mengajak ku sore itu tanpa rencana, dan aku pun tidak ada persiapan apapun.. karena saat itu aku sedih orang tua ku tak pernah hadir di ulang tahun ku, aku membakar kado dari mereka tanpa membuka itu, aku sedih, jadi gitu deh...
Dan kami pulang dari pantai belum terlalu gelap sih, tapi kami mampir makan dulu, kemudian pulang agak malam dari tempat makan, karena pak Gibran tidak ingin orang rumah khawatir, dia membawa mobil cukup ngebut, dari situlah kejadian na'as itu menimpah kami...." ucap Dinda menjelas kan dari awal mula pergi sampai kecelakaan itu terjadi.
Kini jam ujian selanjutnya Dinda dan sahabat-sahabatnya bersiap dengan isi otak masing-masing, karena pengawas mereka cukup ketat...
satu jam berlalu.....
"Teng...teng...teng.... Tanda waktu sudah habis dan jam pulang sudah di depan mata..
Dinda dan sahabat-sahabat mulai bersiap untuk keluar dari ruangan menuju parkiran, menghampiri jemputan masing-masing...
saat mereka berada di parkiran, Dinda melihat seorang gadis mudah menjemput gurunya, dengan tersenyum bahagia, berbeda Saat ketemz dengan Dinda tadi dengan tampang kaku khas seorang pak Gibran Dulu...
" Din ayokkk masuk mobil nak" panggil mama Dinda yang melihat anak nya melamun di parkiran dan seperti melihat sesuatu yang menyedih kan....
Karena tidak merespon, sang mama menghampiri Dinda
"Din kamu lihat apa nak," tanya mama Dinda lembut...
"Hahhh......!!!!" kaget Dinda yang baru menyadari sang mama di dekatnya...
"Dinda lihat apa" tanya kembali oleh mama Dinda
"Tidak lihat apa-apa ma, ayok pulang, Dinda berlalu memasuki mobil, sang mama yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut anaknya, membuat di tersenyum bahagia
" Dinda mwmanggil mama, ohhh trimakasih tuhan" ucap sang mama lalu mengikuti sang anak yang sudah duluan masuk mobil...
"Siap ya wanita tadi, aoa saudaranya atau kekasihnya, gumam Dinda bersandar di kursi mobil, terpikir tentang pak Gibran..
Saat di jalan oun sang mama Dinda selalu berbicara, namun tidak ada respon, mama Dinda tidak permasalah kan hal itu, karena sudah biasa di cuekin Dinda seperti itu...
Namun kenyataan nya bukan mengabaikan, tapi Dinda sedang memikir kan sesuatu yang bukan urusan nya